#Kamisan – Kartu Pos dari Lampung


Akhir minggu kemarin, saya berkesempatan untuk liburan ke pantai. Sudah cukup lama saya tidak ke pantai, jadi rasanya sangat menyenangkan bisa menikmati udara laut yang payau. Pantai mana yang saya kunjungi? Jelas bukan Kuta, Sanur, Anyer, atau Pangandaran yang sangat mainstream itu. Bukan pula Phuket atau Bondi karena jelas isi kantong saya tidak mungkin sanggup membiayai perjalanan ke sana.

 

From Lampung with Love

From Lampung with Love

Saya beserta teman-teman meninggalkan pulau Jawa dan menyambangi Lampung. Di sana, kami menuju ke Pantai Laguna di daerah Kalianda, Lampung Selatan. Itulah kali pertama saya menjejakkan kaki ke pulau Sumatra. Waktu kecil saya memang pernah tinggal di Kepulauan Riau tapi baru kemarin saya berkesempatan untuk merasakan tanah pulau terbesar keenam di dunia tersebut.

Ah, tentu saja kami ke sana tidak menyewa kamar hotel atau cottage. Pft. Itu terlalu mainstream. Kami berencana untuk berkemah di pinggir pantai! Memang sih, kami jadi repot karena perlu membawa lebih banyak barang seperti tenda atau peralatan masak dan makan. But hey, it’s so much fun! Sesekali merasakan escapism total. Tak hanya pergi liburan ke tempat yang jauh dari rumah, namun juga merasakan bagaimana hidup tanpa kemewahan seperti tempat tidur, selimut, lemari es, televisi, atau koneksi internet yang mahal tapi lambat—selambat proses move on-mu dari sang mantan.

 

Laguna Beach

Laguna Beach

Sebagai gantinya, Pantai Laguna memberi kami apa yang tidak kami miliki di Bogor: bentangan pantai berpasir putih yang seksi, hamparan laut biru yang menawan, dan tanah yang bebas macet sepanjang mata memandang. Memang sih, hujan sempat menyapa tak lama setelah kami datang—membuat tenda kami kebasahan—seolah tahu kami berasal dari Kota Hujan, dan sudah merupakan takdir kami untuk berjumpa dengan hujan. Untung, setelahnya cuaca kembali sempurna. Benar-benar surga kecil di kaki pulau Sumatra.

 

(No) Stranger by the Beach

(No) Stranger by the Beach

Terlebih, berbeda dengan pantai di Jawa yang ramai dan sesak, Pantai Laguna tempat kami berlibur sepi sekali. Tidak ada penjual makanan, tidak ada penjaja pop mie atau es kelapa muda, bahkan nyaris tidak ada pengunjung lainnya sama sekali. Di sana hanya ada kami dan beberapa orang manajemen cottage rumah-rumah panggung. Kami merasa seperti memiliki pulau dan pantai pribadi. Jadi, tidak ada yang melarang kami untuk langsung berteriak-teriak girang dan berlari-lari norak ke arah laut untuk menceburkan diri ke sana.

 

Y.O.L.O.

Y.O.L.O.

Intinya, kami bebas melakukan apa saja. Dipermainkan gelombang, berguling-guling di pasir pantai, atau mengubur salah satu teman kami di pasir—menambahkan dua gundukan bulat di bagian dada dan satu gundukan lonjong-mungil di bagian bawah perut. Saat sudah lelah berbuat tolol, kami memilih duduk diam di pasir, memandang diam keindahan alam di hadapan kami. Atau, berjalan menyusuri bibir pantai, membiarkan telapak kaki setengah tenggelam di pasir basah yang dijilat-jilat debur ombak. Bayangkan betapa romantisnya adegan senja itu kalau yang menemani adalah seorang wanita, bukan pria sebaya dengan lingkar pinggang yang menyaingi lingkar pinggang saya.

 

Lomba Ganti Sempak

Lomba Ganti Sempak

Soal kenyamanan memang tidak usah dibicarakan. Untuk membersihkan diri dari air laut yang asin dan lengket saja rasanya penuh perjuangan. MCK yang kurang memadai serta air tanah yang payau membuat mandi di rumah laksana spa mewah. Makan pun kami perlu sabar menunggu karena kami cuma bawa kompor satu. Lauknya sederhana, mirip menu mahasiswa di akhir bulan. Soal rasa tidak pernah kami permasalahkan. Segigih apa pun nasi yang tersedia, selembek apa pun mi yang dihidangkan, segosong apa pun telor ceplok yang ada, kami melahapnya dengan suka cita. Sambil mengobrol dan bercanda, bahagia adalah milik kami malam itu.

Habis makan malam, saya memilih untuk tidur di luar tenda menggunakan sleeping bag. Ini adalah pengalaman pertama saya tidur di udara terbuka… and it was spectacular. Strangely, it feels so liberating.  Juga membuat bersyukur karena bisa menikmati secuil keindahan serta kebahagiaan ini. Masuk angin adalah harga yang murah untuk menikmati seluruh pengalaman yang menggugah seperti itu.

Kami melupakan sejenak seluruh beban pikiran atau kesemrawutan pekerjaan di kota. Di sana, bahagia itu begitu sederhana.  Bisa tidur di geladak ferry, bisa tertawa setelah digulung-gulung ombak, tercucuk karang, dicapit kepiting, berkumpul mengelilingi api unggun, atau membersihkan butir-butir pasir genit dari lipatan sempak… sering kali kita lupa kalau hal-hal kecil seperti itu pun bisa memberi kebahagiaan.

Begitu waktunya pulang, saya jadi merindukan itu semua. Makanya, saya berusaha untuk menikmati detik-detik perjalanan pulang semaksimal mungkin. Saat berangkat, saya tidak sempat menikmati apa-apa karena kami bertolak dari Bogor pada pukul dua belas malam. Saya memang sempat menikmati suasana pelabuhan Merak di dini hari. Apalagi, itu adalah pengalaman pertama saya menaiki ferry besar. Juga pengalaman pertama saya menaiki kapal laut setelah bertahun-tahun lamanya. Akan tetapi, selain itu, saya lebih banyak tertidur. Bangun-bangun, kami sudah berada di Lampung.

 

Hijaunya Lampung

Hijaunya Lampung

Saya baru bisa menikmati jalanan-jalanan Lampung Selatan yang lengang, bersisian dengan lahan-lahan hijau nan luas, ketika bus melaju ke pelabuhan Bakauheni. Di geladak, saya sempat menikmati momen-momen tatkala ferry kami bertolak dari pelabuhan. Perlahan-lahan, Lampung mengecil di mata kami hingga akhirnya tak terlihat lagi. Ah, entah kapan lagi saya bisa menjejakkan kaki di Pulau Sumatra.

 

Pelabuhan Bakauheni

Pelabuhan Bakauheni

Ferry kami membelah Selat Sunda laksana pisau. Saya dibuat teringat kembali oleh kegembiraan di atas kapal laut, seperti waktu saya masih kecil. Dulu, kami sekeluarga menuju ke Kepulauan Riau menggunakan kapal laut. Kegiatan paling menyenangkan selama tiga hari di kapal tentu saja menjelajahi tiap-tiap bagiannya bersama Ayah. Kenangan itu merekah kembali beberapa hari yang lalu. Saya hampir melupakan asyiknya berlayar, berlari-lari di dek, menaiki tangga-tangga besi, atau sekadar menikmati angin laut yang berembus mengacak-acak rambut.

 

Narsis di Geladak

Narsis di Geladak

Saya jadi kepikiran, barangkali inilah yang dirasakan oleh para penjelajah zaman dulu. Menyeberangi samudra biru dengan hasrat untuk menemukan tempat-tempat baru yang belum terpetakan. Menunggangi gelombang seperti itu memang menyenangkan.

 

Back to Java

Back to Java

Alhamdulillah, kami akhirnya berlabuh kembali ke Pulau Jawa dengan selamat. Meski badan ini lelah di perjalanan, hati kami dipenuhi kegembiraan. Sungguh perjalanan yang mengasyikkan serta membuat ketagihan. Tak hanya itu, beberapa hari di alam bebas membuat kami sadar kalau banyak hal di dalam hidup yang patut kami syukuri. Bisa mandi air hangat, bisa mengenakan pakaian yang bersih, bisa tidur di kasur yang empuk, di balik selimut yang nyaman, membuat kami bersyukur karena hidup berkecukupan.

So, bagi teman-teman yang ingin sesekali menjajal total escapism, atau sekadar berlibur ke pantai, atau ingin merasakan jatuh sakit akibat sunburn gara-gara kelamaan tanning seperti teman saya, cobalah sesekali bermain ke Lampung, atau ke pantai-pantai yang jarang dijelajahi sebelumnya. There are a lot of surprises waiting for you. Guarantee!

 

Goodbye Lampung

Goodbye Lampung

Akhir kata, terima kasih Lampung untuk keindahan alamnya. Semoga tetap lestari dan semoga kita bisa berjumpa lagi suatu hari nanti. 🙂

 

@AdhamTFusama

Tentang #Kamisan

Advertisements