[RESENSI] KISAH LUNETTA SI ANAK NAKAL


Resensi Beautiful Liar karya Dyah Rinni yang saya muat di A Dham Good Book. Recommended!

A Dham Good Book

Beautiful Liar - Dyah Rinni (GagasMedia, 2014) Beautiful Liar – Dyah Rinni (GagasMedia, 2014)

Lunetta tidak suka sewaktu harus tinggal bersama ibunya. Apalagi sampai harus sekolah di Olympia High. Dia lebih suka tingga bersama ayahnya, meski itu artinya mereka harus sering berpindah-pindah tempat sebab ayahnya adalah seorang penipu ulung. Tinggal bersama ibu dan ayah tirinya bak tinggal di sangkar emas bagi Lulu—panggilan Lunetta. Dia tidak lagi sebebas dulu.

Marah, Lulu pun mencoba memberontak, supaya bisa dikembalikan kepada sang ayah. Dia mulai berulah di sekolah barunya itu. Untung bagi Lulu, Olympia High adalah sekolah megah, mewah, dan isinya anak-anak orang kaya semua. Lulu—yang memiliki darah seorang penipu—bak kancil di ladang mentimun. Dia pun menunjukkan kemampuannya, menipu sana-sini demi keuntungannya sendiri.

Namun, langkahnya itu tidak mudah sebab ada Miss Nadine, guru yang memiliki intuisi tajam sehingga selalu bisa menggagalkan rencana Lulu. Tak hanya itu, Lulu pun diadang “badai” besar begitu bertemu Badai, murid badung yang tidak pernah memercayai Lulu…

View original post 421 more words

[Resensi Film] Tabula Rasa (2014) – Adriyanto Dewo


Tabula Rasa

Tabula Rasa

TABULA RASA: MERACIK RASA, MENIKMATI KEBERSAMAAN

 

Berkat bakatnya dalam bermain bola, Hans direkrut oleh tim sepakbola di Jakarta. Maka merantaulah pemuda asal Serui, Papua, ini ke ibukota dengan sejuta harapan dan mimpi indah. Namun, kenyataan tidaklah seindah mimpi. Gara-gara cedera kaki, Hans didepak dari timnya dan hidup menggelandang di Jakarta.

Hidupnya begitu mengenaskan hingga dia terpaksa tinggal di rumah kardus sebelah rel kereta dan rela memungut beras supaya bisa makan. Tak tahan, Hans berniat bunuh diri. Tapi untungnya dia ditolong oleh Mak pemilik rumah makan Padang. Iba dengan kondisi Hans, Mak memberinya makan gulai kepala ikan yang langsung disantap dengan penuh syukur.

Tak tega membiarkan Hans menggelandang lagi, Mak akhirnya meminta Hans untuk bantu-bantu dengan bayaran makan dan tempat tinggal. Keputusan Mak membuat Natsir dan Uda Parmanto—pekerja di rumah makan Mak—keberatan. Pasalnya, rumah makan mereka sedang kesulitan ekonomi karena sepi pengunjung plus harga bahan-bahan masakan semakin melambung. Mana sanggup mereka membayar Hans. Dari sanalah konflik film kuliner pertama di Indonesia ini bermula.

Film ini memang tentang hubungan antarmanusia—dan makanan yang menyatukan mereka. Jadi, tak heran apabila film ini menyoroti para tokoh-tokohnya. Untungnya, keempat tokoh sentralnya bermain bagus semua. Inilah salah satu kelebihan utama film ini.

Jimmy Kobogau sebagai Hans yang malang tapi mau bekerja keras dan berusaha diakui. Dewi Irawan sebagai Mak yang berhati mulia namun bisa juga keras dan tegas, memadukan kekuatan serta kerapuhan seorang wanita tengah baya dengan kesederhanaannya yang enak disaksikan. Yayu Unru sebagai Uda Parmanto yang selalu resah, berkhianat, tapi kita sebagai penonton tidak diberi kesempatan untuk membencinya. Lalu Ozzol Ramdan sebagai Natsir si pencari suasana dengan rentetan punchline-nya yang tajam tapi jenaka.

 

“Dapur kita aneh. Lebih banyak bertengkarnya ketimbang masaknya.” – Natsir

 

Sungguh sedap sekali menyaksikan chemistry para tokohnya yang sangat kuat, sehingga interaksi mereka mengalir secara alami. Keempatnya menambah kedalaman rasa dalam film ini. Hebatnya lagi, mereka asyik memasak dan melontarkan dialog-dialog Minang dengan fasih (berkat latihan berbulan-bulan sebelum syuting).

Selain akting, film ini juga terbantu dengan sinematografinya yang apik, memberi kehangatan di adegan-adegan memasak, dan memberi kesejukan pada adegan-adegan di luar ruangan. Skenarionya pun ringan, mengalir, enak untuk diikuti.

Sayangnya, ceritanya tidak memiliki lonjakan yang berarti. Drama perpecahannya kurang pedas dan klimaksnya pun terasa sedikit hambar. Barangkali karena terlalu banyak bumbu-bumbu yang ditebar tapi tidak diolah dengan mantap sehingga banyak hal yang tidak tergali. Alhasil klimaks dan penutupnya pun kurang berhasil dibangun dengan gurih.

Meskipun begitu, Tabula Rasa tetaplah sebuah tontonan yang bagus. Terasa sekali film ini dibuat dengan hati dan cinta, dengan keinginan untuk menyajikan sebuah hiburan yang sarat nilai moral tanpa harus menggurui, kaya dengan kearifan lokal, serta tentu saja ingin mempromosikan kuliner nusantara yang lezat. Film ini akan membuat kita semakin mensyukuri nikmatnya makan saat bersama, dan nikmatnya kebersamaan saat makan. Seperti kata tagline-nya: makanan adalah itikad baik untuk bertemu.

Yang jelas, ini adalah film Indonesia pertama yang membuat saya lapar dan punya keinginan untuk makan rendang setelah menontonnya. Bravo untuk Tabula Rasa.

 

Sheila Timothy & Adham T. Fusama

Sheila Timothy & Adham T. Fusama

Tabula Rasa (2014)

Sutradara: Adriyanto Dewo

Produser: Sheila Timothy

Penulis: Tumpal Tampubolon

Pemain: Jimmy Kobogau, Dewi Irawan, Yayu Unru, Ozzol Ramdan

Durasi: 107 menit

Produksi: Lifelike Picture, Indonesia

Penilaian: 3,5/5

 

Bersama Jimmy dan Vino G. Bastian

Bersama Jimmy dan Vino G. Bastian

@AdhamTFusama

Undangan Peluncuran Novel Rahasia Hujan


Launching Rahasia Hujan

Launching Rahasia Hujan

Hi guys!

Kalian diundang lho untuk datang ke acara peluncuran novel Rahasia Hujan terbitan Moka Media.

Acaranya akan diadakan pada hari Sabtu, tanggal 6 September 2014, di Rumah Makan Ayam Semmes, Margonda Depok.

Selain dihadiri oleh gue, acaranya nanti juga bakal dihadiri oleh editor gue, Mbak Fisca, dan editor Moka Media lainnya, Bang Dedik.

Pastiin kalian datang ya! GRATIS!

Bakal ada merchandise dan paket buku dari Moka Media buat kalian yang beruntung.

Di sana kalian bisa dapetin novel Rahasia Hujan dengan diskon menarik. Dan bisa sekalian minta tanda tangan penulisnya. Hehehe. *ge-er*

Plus, sambil ikutin acara kalian juga bisa nikmatin menu-menu sedap di Ayam Semmes. Ada ayam bakar, ayam goreng, bebek bakar, bebek goreng, tinggal pilih!

Jadi, ditunggu banget ya kedatangan kalian semua di sana!

Untuk info lebih lanjut atau reservasi, kalian bisa hubungin Zacky 081932797313.

See you there! *hug and lots of kisses!*

 

@AdhamTFusama

A Dham Good Book


A Dham Good Book

 

Hi, guys! Saya mau memperkenalkan blog baru yang sekaligus menjadi “lini baru” (#tsaah!) dari blog Adhamology nih!

Nama blog barunya A Dham Good Book.

Sesuai namanya, di blog tersebut saya akan memposting segala hal tentang buku, terutama resensi buku.

Jadi, mulai sekarang, semua tulisan tentang buku akan saya posting di sana. Tapi, tenang saja, tulisan-tulisan di sana akan saya reblog juga ke blog ini, jadi kalian tetap bisa membacanya di blog ini.

Jangan lupa mampir di A Dham Good Book ya! Truly the place for A DAMN GOOD BOOK!

 

@AdhamTFusama

[Resensi Film] The Grand Budapest Hotel (2014) – Wes Anderson


TGBH

The Grand Budapest Hotel (2014)

Directed by: Wes Anderson

Written by: Wes Anderson

Starring: Ralph Fiennes, Tony Revolori, Saoirse Ronan

Running time: 99 minutes

Country: United Kingdom, Germany

Result: 4,5/5 stars

 

THE BEST EXOTIC GRAND BUDAPEST HOTEL

There are still faint glimmers of civilization left in this barbaric slaughterhouse that was once known as humanity…. He was one of them. What more is there to say?
Mr. Mustafa about Monsieur Gustave H.

 

Selama 19 tahun Monsieur Gustave H. (Fiennes)—concierge berdedikasi di Hotel Grand Budapest—menjadi “favorit” Madam D., seorang wanita tua kaya raya namun kesepian. Saat Madam D. tewas, dia mewariskan lukisan Boy with Apple yang tersohor kepada Gustave, alih-alih kepada anaknya, Dimitri. Tentu saja Dimitri tidak terima. Masalah semakin ruwet saat Gustave malah mencuri lukisan tersebut, dibantu lobby boy-nya yang setia, Zero. Petualangan sinting dan kocak pun dimulai.

Sebagai salah satu penggemar film-film Wes Anderson, The Grand Budapest Hotel merupakan salah satu film yang paling saya tunggu di tahun 2014 ini. Penantian saya tidak sia-sia karena Anderson mempersembahkan film yang unik, stylish, dan segar khasnya. Terlebih, di film ini, dia memberi banyak ekstra yang belum pernah dihadiahkan kepada kita di film-film terdahulunya, seperti misteri, pembunuhan, kabur dari penjara, tembak-tembakan, dan perang.

Ini barangkali merupakan film Wes Anderson yang paling berdarah-darah, dengan adanya adegan “seram” seram seperti kepala terpenggal. Adegan-adegan semacam itu belum pernah ada di film Anderson sebelumnya. Dan, dibandingkan film-film live action-nya selama ini, barangkali The Grand Budapest Hotel adalah yang paling komikal. Lihat saja adegan kejar-kejarannya yang mirip film-film kartun.

Alhasil, film ini menjelma menjadi film komedi dengan adegan-adegan slapstick yang cerdas. Aplaus bagi penampilan Ralph Fiennes yang bisa membawakan komedi di film ini dengan baik dan pas. Tokoh Gustave yang dibawakan Fiennes memiliki karakter paling kuat di film kendati ini bukan penampilan terbaik dalam kariernya.

Sayangnya, selain Gustave—dan Zero—tokoh-tokoh lain hanya seperti sempilan belaka. Berbeda dengan The Royal Tenenbaums di mana tokoh-tokoh pendamping punya porsi cerita tersendiri. Berbeda pula dengan Moonrise Kingdom, yang meski tokoh utamanya “cuma” dua tapi tokoh pendampingnya punya peranan penting, hal serupa tidak terjadi di film ini.

Gerombolan Ludwig misalnya, awalnya saya kira mereka akan menjadi rekan Gustave yang membantunya mengalahkan Dimitri—layaknya para pramuka yang membantu Sam di Moonrise Kingdom—namun ternyata mereka hanya jadi rekan kabur belaka. Untung tidak ada akting yang buruk di film ini, kecuali mungkin penampilan Adrien Brody yang mirip Count Dracula pengar sewaktu mengejar Saoirse Ronan.

Ini salah satu kelemahan The Grand Budapest Hotel selain ceritanya yang juga tipis—bandingkan dengan film-film Anderson di awal kariernya, seperti Rushmore dan The Royal Tenenbaums, yang punya side stories sebagai perekat dan pemerkaya cerita. Kendati demikian, ceritanya terbantu dengan narasi yang memukau serta dialog-dialog yang cerdas dan lucu.

Plus, harus kita akui kemampuan teknis Anderson lebih terpoles di film ini. Shoot-shoot yang dihasilkannya begitu cantik, memadukan banyak warna-warni mencolok, juga menggabungkan latar-latar animasi layaknya lukisan. Sinematografi, tata artistik, hingga musiknya digarap dengan apik, terbaik yang pernah Anderson hasilkan.

Pada akhirnya, semua itu berhasil membantu Anderson membawakan romansa di akhir cerita. Ada kesedihan sekaligus perasaan hangat yang ditawarkan, meninggalkan rasa haru di hati para penontonnya. Sebuah penutup yang membuat kita melupakan semua kekurangan-kekurangan di film ini.

One thing for sure: you are invited to stay, watch and enjoy The Grand Budapest Hotel.

 

@AdhamTFusama