Deleted Scene Rahasia Hujan #5: Nothing Here but Love


Halo halo! Saya datang lagi nih untuk mem-posting deleted scene di naskah Rahasia Hujan yang gagal muncul di novel. Akhirnya, kita memasuki adegan Amazing Thirty! Pada proses editing, adegan-adegan ini dibuang supaya cerita di novel tidak bertele-tele.

Catatan: adegan berikut berasal dari draft awal yang tidak mengalami proses editing sehingga mungkin sekali terdapat kesalahan EyD, typo, dan lain sebagainya. Harap menjadi maklum!

Selamat menikmati!

 

***

 

Jackie Kennedy

Jackie Kennedy

Ujian tengah semester datang juga bagai awan mendung bagi sebagian besar siswa yang mencemaskan nilai-nilai mereka. Seolah memahami perasaan kami, langit Bogor menyetel cuaca yang serupa. Hujan yang tidak menentu melambangkan kebimbangan kami terhadap masa depan. Hujan deras menggantikan air mata yang ingin sekali kami tumpahkan setelah ujian matematika selesai.

Akan tetapi, laksana pepatah ada terang setelah badai, ada cerah pula setelah ujian berakhir. Beban selama seminggu seolah lenyap begitu saja. Malam-malam panjang menghapal rumus dan membuat contekan selesai sudah. Nilai-nilai buruk yang barangkali akan kami dapatkan bisa menunggu, karena Pensi Amazing Thirty akhirnya menyapa.

Suka cita terpancar sedemikian kuatnya hingga mampu mengusir awan-awan hitam, sekaligus mengundang matahari untuk muncul. Para siswa datang ke Pensi dengan pakaian ragam warna. Peserta lomba menggambar, melukis, dan lomba-lomba lainnya—yang tidak perlu tampil di panggung—hadir dengan busana kasual. Pakaian sehari-hari. Berbeda dengan mereka yang akan unjuk gigi di hadapan banyak orang.

Aku salah satunya. Aku hadir dengan pakaian yang telah dipersiapkan Nadine tempo hari. Dibalik jas, aku mengenakan kemeja jingga pucat dengan dasi kupu-kupu. Setelah dipikir-pikir, aku keren juga. Teman-temanku memberikan reaksi beragam, tapi setidaknya penampilanku menjadi bahan perbincangan.

Yang mengejutkan justru penampilan Mamet.

“Lho, bukannya lo mau ikut lomba nyanyi, Met? Simpel amat penampilan lo,” tanggapku, melihat Mamet datang mengenakan kaos dan celana cargo 3/4, “Gue kira lo bakal tampil gila-gilaan.”

“Oh, so pasti. Tapi, gue pakai kostum nanti aja, pas mau tampil. Gue mau ngasih kejutan, mau bikin BOPER geger hari ini.”

Dan, aku percaya dia akan melakukannya. Aku tidak tahu apa yang akan dia kenakan nanti, tapi aku yakin dia akan mencengangkan. Kendati demikian, itu urusan nanti. Untuk sekarang, orang yang penampilannya paling mencengangkan adalah… pacarku sendiri.

Jujur, aku sampai terperangah melihat penampilannya. Di belakangku, Mamet dan yang lainnya memberikan komentar serta siulan takjub. Aku yakin Nadine mendapat bantuan dari Tante Siska dan butiknya, sebab pagi ini dia menjelma menjadi Jacqueline Kennedy masa kini.

Rambut pendeknya disasak, menyerupai gaya rambut sang mantan istri mendiang presiden John F. Kennedy itu. Namun, sasakannya lebih sederhana dan modern. Ada pula bando putih yang bertahta di sana.

Bajunya adalah gaun A-line warna pink salmon sepanjang lutut, dipadu cargidan warna gading. Dia juga mengenakan sarung tangan putih, stocking warna senada setinggi lutut, serta sepatu pump krem muda. Dan, ada bros chrysanthemum di cardigans-nya.

“Hei, Panpan. Gimana menurut kamu?” tanya Nadine.

Aku yang ditanya malah menoleh ke belakang kanan dan ke belakang kiriku. “Ma-Maaf, Nona Cantik berbicara dengan saya?”

Nadine terkikik mendengar kelakarku sementara Mamet dan yang lainnya menepak belakang kepalaku, mengataiku “Norak!”, dan membuatku tertawa.

“Kamu cantik banget,” ucapku sungguh-sungguh seraya mengusap-usap belakang kepala. “Stunning.”

“Terima kasih.”

Tanpa basa-basi, aku menyodorkan lenganku. Nadine menggamitnya dan kami berjalan ke dalam sekolah diiringi sorakan sirik teman-teman kami.

Penampilan Nadine memang mengundang decak kagum. Semua memuji gayanya yang berbeda dari siswi lainnya. Dia tak terduga. Berbeda dengan Yuni—misalnya—yang sudah jelas berpenampilan ala girlband Korea.

Pukul sembilan, Pensi Amazing Thirty dimulai. Pak Hafiz—kepala sekolah kami—memberi sambutan di panggung lapangan utama. Beliau juga membuka acara secara resmi. Setelahnya, para peserta menyebar ke tempat perlombaan yang telah disediakan. Lomba menyanyi akan diadakan di lapangan utama, lomba modern dance di gedung olahraga, dan lomba lainnya di ruang-ruang kelas.

Aku dan Nadine mendapat urutan tampil tidak begitu jauh. Jadi, kami memilih untuk menyaksikan penampilan para peserta sebelum kami. Ada yang bernyanyi solo, ada pula yang hadir bersama band masing-masing. Yang duduk di kursi juri ada Bu Reni, Mas Rian—guru kesenian, dan Bu Ajeng—guru bahasa Inggris.

Penampilan teman-teman kami banyak yang bagus. Nadine tampak cemas sehingga menyarankanku untuk berlatih dulu sebentar. Namun, aku menggenggam dan menepuk-nepuk pelan tangannya. “Gapapa. Kamu pasti bisa kok. Tenang aja. Apa pun hasilnya nanti, yang penting kita bergembira,” bisikku padanya.

Nadine tersenyum mendengarnya. Setelah itu, dia jadi jauh lebih tenang.

Nomor urut kami pun dipanggil. Kami bangkit dan naik ke panggung diiringi tepuk tangan meriah. Sambutan yang membantu Nadine mendapatkan kembali kepercayaan dirinya. Kami mengambil posisi masing-masing: Nadine berdiri di depan mic, aku berdiri membawa gitar di sebelahnya. Ada mic bertiang rendah di depan gitarku.

“Selamat pagi teman-teman SMAN Bogor Persada!” sapa Nadine ke penonton, yang dibalas dengan meriah oleh mereka. “Pagi ini kami akan mencoba menghibur teman-teman dengan sebuah tembang cinta. Tapi, lagu ini bukan cuma untuk kalian yang sudah punya pacar saja. Lagu ini juga ditujukan buat kalian yang memiliki sahabat, buat guru-guru kita, juga buat sekolah kita tercinta.”

Penonton bertepuk tangan. Nadine menoleh ke arahku dan aku mengangguk tanda siap. “Baiklah kalau begitu. Tidak perlu berlama-lama lagi, inilah Nothing Here but Love dari Lenka. Semoga kalian terhibur.”

Aku memetik gitar dan Nadine bernyanyi.

 

Lying under setting sun

The day is done, my heart is won

We hold each other, friends or lovers

High above, there’s nothing here but you and me.

 

Suara Nadine yang lembut cocok sekali menyanyikan lagu bernada dan berlirik manis itu. Sambil bernyanyi, dia menggoyangkan badannya ke kanan dan ke kiri sesuai irama. Goyangan sederhana tersebut mengingatkanku pada grup vokal wanita era 60-an.

Barulah aku memahami konsep yang diusung Nadine. Ternyata, dia memang sudah merencanakan semuanya, memikirkan semuanya. Aku menggeleng takjub. Pacarku memang hebat. Aku yang bodoh ini malah sempat memprotesnya. Dasar tidak tahu diri.

 

We’ll never end, we’re innocent, we’re heaven-sent

We’re born together, die together

Live forever, there’s nothing here but love.”

 

Tanda dikomando, para penonton ikut menyanyikan reff lagu. Mereka juga ikut bergoyang seperti Nadine.

 

Sweet love

It’s all we know, so can I show you love?

Sweet love, take time to grow

There’s nothing here but love.”

 

Senyumku mengembang. Sambutan penonton yang hangat membuat kami berdua semakin bersemangat. Mereka bernyanyi dan menari bersama. Bahkan Anggi turut menonton aksi kami. Dia melihat ke arahku, ikut melafalkan lirik “So, can I show you love?” bersama yang lain.

 

Take me where the days are fun

Where everyone knows everyone

We’ll love together, live together

We will never be let down.”

 

Eh, tunggu! Bukankah Anggi seharusnya sedang mengikuti lomba menggambar? Lalu, kenapa dia ada di sini? Aku langsung mencari sosoknya lagi. Mataku memindai liar ke arah penonton. Tidak ada. Aku tidak menemukan sosoknya.

Apa aku tadi salah lihat?

 

Oh you will see, it’s meant to be

We’re living life, we’re wild and free

We’re falling under, right from under

Oh, my darling there’s nothing here but love.”

 

Nadine mencopot mic dari tiangnya, sebelum berjalan ke bibir panggung. Saat akan sampai ke bagian reff lagi, dia mengayunkan tangan, memberi kode supaya penonton bernyanyi bersama.

 

Sweet love

It’s all we know, so can I show you love?

Sweet love, take time to grow

There’s nothing here but love.”

 

Nadine mundur kembali ke posisi semula. Kemudian, dia melakukan improvisasi. Dia mencondongkan badannya ke samping, miring ke arahku. Telapak tangan kirinya diletakkan di bagian belakang telinga, lalu dia melafalkan lirik berikut:

 

Can you whisper into my ear

The words that I love to hear?”

 

Aku ikut-ikutan berimprovisasi. Kuhentikan petikan gitarku, membuat penonton heran. Kucondongkan tubuhku ke depan mic. Dan, dengan sepenuh hati kuucapkan…

I love you, Nadine…”

Sontak penonton menggila. Mereka tidak menyangka. Sorak-sorai pun membahana. Bahkan para juri memberi tepuk tangan pada kami.

Nadine terkejut sekaligus tersipu malu. Dia menempelkan tiga jari ke bibir, lantas menempelkan jemarinya itu ke pipiku.

Sekali lagi, kami membuat penonton berseru histeris.

Aku merapatkan diri di depan mic bersama Nadine. Selanjutnya, kami bernyanyi bersama. Penonton juga.

 

Love, sweet love

It’s all we know, so can I show you love?

Sweet love, take time to grow

There’s nothing here but love

Sweet love

It’s all we know, so can I show you love?

My love, take time to grow

There’s nothing here but love

Love…

There’s nothing here but love

Love…

 

Dan, kami pun selesai. Detik berikutnya, kami diterpa gemuruh apresiasi yang menggetarkan. Aku tersenyum dan membungkuk bersama Nadine. Napasku terhela lega. Setidaknya kami sudah memberikan yang terbaik.

“Terima kasih teman-teman semuanya,” kata Nadine, memberikan penutup, “Selamat ulang tahun buat SMAN Bogor Persadar tercinta. Semoga tetap amazing di tahun-tahun berikutnya. Terima kasih!”

Tepuk tangan masih terus terdengar sewaktu kami turun dari panggung. Di bawah, Mamet langsung menarikku, menjepit kepalaku dengan lengan, lantas memberiku jitakan-jitakan gemas. “Anjrit lo, Pan! Lo keren banget! Bangke! Lo keren banget, brengsek! Temen gue hebat banget! Syaiton nirrodjim maneh!”

Aku berseru meminta ampun di tengah derai tawa. Nadine sendiri terkikik melihat ulah kami. Akhirnya Mamet melepaskanku, sebelum mengucapkan, “Congrats ya, Pan. Setan. Tadi itu hebat banget. Sialan. Sirik gue.”

“Hahaha. Makasih banyak ya, Met. Sukses buat penampilan lo nanti.”

 

***

 

Alasan diganti: pada awalnya, Rahasia Hujan merupakan naskah romance yang mengandung sedikit unsur thriller. Namun, dalam proses revisi, penerbit menyarankan supaya unsur thriller-nya diperkuat. Jadi, banyak adegan romansa di naskah Rahasia Hujan yang diganti dengan adegan-adegan yang berfungsi untuk memperkuat unsur thriller-nya. Salah satu yang paling signifikan adalah dibuangnya adegan-adegan di Amazing Thirty.

Nantikan deleted scene terakhir Rahasia Hujan ya!

 

@AdhamTFusama

Advertisements

Workshop #KreatiFiksi


Teman-teman yang suka menulis dan ingin menambah ilmunya, boleh banget lho datang ke acara berikut ini. Gratis lho! Kapan lagi?

Lokasi Workshop #KreatiFiksi

Lokasi Workshop #KreatiFiksi

Klub Buku Bogor mempersembahkan:

“Workshop #KreatiFiksi bersama Moka Media”

Workshop menulis fiksi dengan menghadirkan:

  1. Pemateri: A.S. Laksana – Pemimpin Redaksi penerbit Moka Media, penulis kumcer Bidadari yang Mengembara (Buku Sastra Terbaik 2004 versi Majalah Tempo), dan pendiri Jakarta Writing School.
  2. Talkshow: Adham T. Fusama – Penulis novel Rahasia Hujan terbitan Moka Media.

Pelaksanaan:

  • Hari / tgl : Minggu, 23 November 2014
  • Waktu : 13.00 – selesai
  • Tempat : Aula Dinas Pendidikan & Kebudayaan Kota Bogor, Jl. Pajajaran no. 125 (seberang rumah makan Gurih 7)

Kegiatan:

  • Workshop menulis,
  • Talkshow,
  • Lomba menulis,
  • Konsultasi naskah dengan para editor Moka Media,
  • Drop box naskah,
  • Hiburan, dan
  • Games.

Dan, tentunya, semua acara ini GRATIS!

Pendaftaran:

SMS dengan format: Datfar KreatiFiksi (spasi) nama lengkap (spasi) no. hp (spasi) alamat e-mail.

Kirim ke: 0812 9092 9748

Info lebih lanjut:

  • Andri: 0857 18 48 58 28
  • Ilmi: 0878 1923 3108
Me and A.S. Laksana

Me and A.S. Laksana

 @AdhamTFusama

Cerita-Cerita dari LaSastra 5: Hari Kedua


With my funky English teacher, Mrs. Isti

With my funky English teacher, Mrs. Isti

Sebelumnya: Cerita-Cerita dari LaSastra 5 Hari Pertama

Pada hari kedua LaSastra 5, 30 Oktober 2014, saya datang lagi. Tapi, kali ini saya datang sebagai tamu sekaligus pedagang buku, menjajakan Rahasia Hujan di baazar acara. Jadi, di hari ini saya lebih santai, tidak perlu gugup memikirkan soal naik panggung atau lain sebagainya. Saya juga bisa berinteraksi dengan siswa-siswi SMAN 5 Bogor, atau siswa-siswi dari sekolah lain yang datang sebagai peserta. Mereka membeli buku, ngobrol, sampai dipaksa selfie dengan saya. Hahaha. Senangnya lagi, ternyata adik kelas saya waktu masih di SMAN 5, Raidinal Aliffahrana, juga menyempatkan diri untuk hadir.

Dengan siswi-siswi kece

Dengan siswi-siswi kece penggemar Rahasia Hujan. Hihihi.

Selfie

Selfie

Pada hari itu, bintang tamu yang datang jauh lebih mentereng ketimbang “alumni yang jadi penulis lalu diundang ke LaSastra 5”. Tak tanggung-tanggung, yang datang adalah Donny Dhirgantoro, penulis novel mega best seller 5 CM, dan band Tangga (yang sekarang ganti nama jadi band Dekat). Tentu saja saya tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk bertemu mereka.

Masih memiliki sedikit privilege sebagai alumni dan bintang tamu kemarin sore, saya diizinkan panitia bertemu mereka. Pertama, saya bertemu dengan Bang Donny Dhirgantoro. Saya memperkenalkan diri dan memberi novel Rahasia Hujan untuk dia. Mungkin karena sama-sama penulis akhirnya kami mengobrol cukup lama. Bang Donny bilang dia sedang ada proyek untuk membuat film. Dan, surprise-nya lagi, dia juga minta saya untuk mengirimkan novel pertama saya (yang kebetulan tidak saya bawa waktu itu). Terakhir, sebelum pamit, saya minta foto bersama dengan Bang Donny.

With Donny Dhirgantoro

With Donny Dhirgantoro

Mangsa selanjutnya adalah personel band Tangga. Mereka baru selesai makan dan sedang bersiap-siap. Saya datang untuk menghadiahkan Rahasia Hujan dan SKSD (sok kenal sok dekat) sebentar sebelum mengganggu mereka untuk berfoto bersama. Untungnya, mereka sangat ramah sehingga saya tidak perlu diusir oleh security karena telah mengganggu Tata yang masih makan. Yang jelas, saya sudah senang dan puas sudah bertemu mereka. Tinggal menunggu kehadiran mereka di atas panggung.

With Kamga, Chevrina, and Tata

With Kamga, Chevrina, and Tata

E ciyee di-mention

E ciyee di-mention

Yang pertama muncul di panggung adalah Bang Donny, disambut hangat oleh peserta. Rasanya tak ada orang di bawah tenda LaSastra 5 yang belum membaca novel atau menonton film 5CM. Dia pun segera menceritakan pengalamannya menerbitkan buku hingga memberi saran, tip, dan trik dalam menulis. Meski tidak ada sesi tanya jawab ke peserta, tapi sepertinya peserta cukup puas.

Lalu giliran Tangga, yang benar-benar ditunggu. Bahkan panitia sampai kelimpungan untuk menjaga panggung. Akhirnya peserta diperbolehkan untuk mendekati panggung tapi mereka harus duduk (mungkin supaya enggak ricuh dan mengakibatkan Tata harus lari dari kejaran ABG-ABG putri yang kesengsem dengan jenggot Seneca Crane-nya).

Dan, Tangga pun memberi pertunjukan yang terus memproduksi mass hysteria dengan lagu-lagu mereka yang catchy, familiar, dan vokal yang apik. Mereka mengakhiri pertunjukan dengan lagu “Hebat” yang sangat cocok sekali untuk menutup acara LaSastra 5. Lagu itu seolah ingin bilang ke peserta kalau mereka semua hebat karena telah mengikuti lomba dengan sebaik-baiknya. Juga seperti ingin bilang ke panitia kalau mereka semua hebat sebab sudah mampu mengadakan acara sekaliber LaSastra 5.

Dan… dan, mungkin saja mereka ingin bilang hebat ke saya karena sudah bisa menjadi seorang novelis #kegeeran #blush. Hahahaha 😀

Intinya—mengambil istilah anak-anak remaja zaman sekarang—LaSastra 5 pecah serunya! Kegembiraan terus berlangsung sewaktu para pemenang lomba diumumkan. Setelahnya, maka berakhir sudah acara LaSastra 5. Para panitia berkumpul di depan panggung dan mereka merayakan kesuksesan dengan berfoto dan menyanyikan theme song LaSastra 5. Saya pun tak mau kalah, dengan tidak tahu malu melakukan ultimate selfie dan foto bareng bersama para panitia.

LASASTRA 5 SELESAI!

LASASTRA 5 SELESAI!

Suasananya begitu menggugah. Mereka bernyanyi-nyanyi lantang, melonjak-lonjak gembira, lega karena acara yang telah mereka rencanakan 3 bulan sebelumnya berhasil dilaksanakan dengan sukses dan lancar. Suasana haru pun terlihat, membuat saya teringat kembali pengalaman yang sama sewaktu selesai mengadakan LaSastra 5 satu dekade silam. Terlihat sekali adik-adik kelas saya itu telah berusaha keras demi menyukseskan LaSastra 5, dan sore itu segala jerih payah mereka terbayar tuntas.

Wajah lega Bu Dini, Ketua Panitia, dan siswa-siswinya

Wajah lega Bu Dini, Ketua Panitia, dan siswa-siswinya

Melihat mereka, saya jadi tersenyum sendiri. Saya memang selalu senang melihat remaja-remaja yang aktif dan mengisi hari-hari mereka dengan kegiatan positif. Di tengah ramainya berita negatif tentang citra remaja di negeri ini, ternyata masih jauh lebih banyak remaja-remaja yang menyibukkan diri untuk menempa potensi diri dan berprestasi seperti mereka-mereka yang ada di depan saya.

We are the Part of LaSastra 5!

We are the Part of LaSastra 5!

I need to post this! Katanya waktu SMA w sama gantengnya dengan Tamma :D

I need to post this! Katanya waktu SMA w sama gantengnya dengan Tamma 😀

Pada akhirnya, saya pun pamit ke mereka. Saya sempat menghadiahkan satu eksemplar Rahasia Hujan dan mug ke pihak sekolah dan panitia sebagai kenang-kenangan. Saya pun pulang dengan perasaan sangat senang. Senang karena telah diundang ke acara LaSastra 5, juga senang karena LaSastra 5 sudah jauh lebih besar dan lebih baik.

Kenang-kenangan buat panitia

Kenang-kenangan buat panitia

Untuk adik-adik kelas saya yang telah bekerja keras menyelenggarakan LaSastra 5, saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. Terima kasih telah menjaga tradisi LaSastra 5 dan membuat saya bangga pernah menjadi bagian dari tradisi tersebut. I salute you all! Sukses buat kalian semua.

Foto bareng Ketua OSIS & Ketua Pelaksana

Foto bareng Ketua OSIS & Ketua Pelaksana

 

@AdhamTFusama

Cerita-Cerita dari LaSastra 5: Hari Pertama


The stage is ready

The stage is ready

Tanggal 29 Oktober 2014 kemarin saya berkesempatan untuk hadir di acara LaSastra 5 ke 14. Datang ke acara tersebut membangkitkan kembali kenangan-kenangan indah sewaktu saya masih SMA terutama waktu menjadi panitia LaSastra 5 sepuluh tahun yang lalu. Dan, rasanya senang sekali melihat LaSastra 5 kali ini jauh lebih baik, jauh lebih besar, dan jauh lebih meriah ketimbang sepuluh tahun yang lalu. Artinya, pihak sekolah dan adik-adik kelas saya benar-benar bekerja keras melanjutkan acara yang paling dibanggakan SMAN 5 Bogor ini.

Pada saat LaSastra 5 kemarin, ini pertama kalinya saya diperlakukan layaknya bintang tamu yang benar-benar bintang tamu, karena saya dipersiapkan sebuah ruangan khusus yang besar dan nyaman. Ruangan yang dipakai adalah Lab IPS, letaknya tak jauh dari belakang panggung, dan daerah tersebut diblokade panitia sehingga steril dari para peserta, atau fans yang barangkali menggila waktu tahu idolanya sudah hadir di LaSastra 5.

The problem is… I don’t think I have the fanatic groupies or whatsoever because I’m not a superstar. Jadi, walau ruangan tersebut ada sofa nyamannya, disiapkan makanan, dan ada panitia yang siap melayani kapan saja, saya dengan cepat merasa bosan, akhirnya memutuskan untuk berkeliling, melihat-lihat wajah baru sekolah saya dulu yang sekarang sudah jauh lebih besar. Bahkan SMAN 5 Bogor sudah punya bangunan berlantai tiga, sesuatu yang tidak pernah terbayangkan satu dekade yang lalu. Tentu saja rasanya membanggakan, walau agak iri juga karena dulu saya bersekolah di tempat yang benar-benar dijuluki “Kotak Sabun” saking mungilnya.

Dan, sepertinya saya agak terlalu sering mondar-mandir, sehingga panitia sempat kelimpungan mencari saya. Untuk tingkah saya yang merepotkan dan tidak mau mengikuti SOP panitia, saya mengucapkan mohon maaf pada adik-adik panitia. Mohon dimaklumi Akang kalian yang satu ini masih norak dan belum terbiasa dengan fasilitas-fasilitas ala seleb seperti ini. Maaf yaaa… Ehehehe #garukgarukkepala

Senangnya, saya sempat dikunjungi oleh beberapa guru saya, seperti Pak Ruspita yang melegenda, dan Bu Erlinda serta Bu Marry yang datang langsung protes ke saya, karena beliau baru tahu kalau saya yang menjadi bintang tamu. Semula, beliau mengira saya cuma alumni enggak punya kerjaan yang mondar-mandir di acara LaSastra 5. Hahaha. Selain itu, dua orang teman dari angkatan saya juga menyempatkan diri untuk hadir, yakni Verdika Ismardiansyah dan Noni Astria. Mereka adalah rekan seperjuangan di kepengurusan OSIS. Dan, keduanya sudah berkeluarga bahkan sudah bisa bikin anak-anak yang lucu.

Bincang-Bincang di LaSastra 5

Bincang-Bincang di LaSastra 5

Siang hari, tibalah waktunya buat saya untuk naik ke atas panggung. Terus terang agak grogi juga karena ini pertama kalinya saya berbicara di depan ratusan orang seperti ini. Untungnya semua berjalan lancar, di mana adik-adik kelas saya sudah cukup mahir menjadi host. Di akhir acara, saya menghadiahkan buku untuk 3 orang penanya, plus dikasih hadiah juga oleh panitia. Saya mendapat semacam prasasti kenang-kenangan dari panitia LaSastra 5. Bisa dibilang, ini adalah penghargaan pertama yang diberikan sekolah untuk saya. Agak merasa bersalah juga sih sebab zaman SMA dulu saya terbilang miskin prestasi sehingga tidak pernah menyumbangkan piala apa-apa untuk sekolah. Hahaha.

Yang datang ke acara LaSastra 5 rame banget!

Yang datang ke acara LaSastra 5 rame banget!

Nevertheless, saya sangat berterima kasih dan terharu sekali bisa mendapat penghargaan tersebut. Lebih dari itu, saya merasa sangat terhormat bisa diundang ke acara LaSastra 5. Semoga kelak, LaSastra 5 bisa lebih berkembang, maju, dan semakin bergengsi. Akhir kata, saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya buat para guru, panitia, dan seluruh pihak pelaksana LaSastra 5, yang telah sudi mengundang saya untuk datang ke acara yang begitu dekat di hati saya tersebut.

So proud to have this. Thank you SMANLI!

So proud to have this. Thank you SMANLI!

Terima kasih.

 

Bersambung ke Cerita-Cerita LaSastra 5: Hari Kedua

@AdhamTFusama

LaSastra 5 2014 Segera Dimulai!


LaSastra 5 2014

LaSastra 5 2014

Dua hari lagi Lomba Bahasa dan Sastra SMAN 5 Bogor atau yang lebih dikenal sebagai LaSastra 5 akan segera diadakan!

Pada tanggal 29 & 30 Oktober 2014 nanti, sekolah-sekolah di Jadebotabek dan sekitarnya akan berlaga mengikuti pelbagai perlombaan, seperti lomba membaca puisi, menulis puisi, lomba pidato, meresensi novel, menulis reportase, dan lain sebagainya.

Tentu saja, selain lomba-lomba ada juga acara-acara lainnya seperti pertunjukan musik dari band Tangga. Ada pula bincang-bincang dengan bintang tamu, yakni Donny Dirgantoro (penulis novel 5CM) dan… saya sendiri. Hehehe.

Sepertinya saya akan menoreh sejarah tersendiri (tsah!) sebagai bintang tamu pertama di LaSastra 5 yang merupakan alumni sekaligus pernah menjadi panitia LaSastra 5 sepuluh tahun yang lalu. Cukup keren, kan? Hahaha.

Oh ya, di sana kalian juga bisa beli novel Rahasia Hujan dengan harga spesial, dapat tanda tangan saya (kalau mau hahaha), dan berkesempatan untuk dapetin merchandise kece kalau kalian beli novel Rahasia Hujan.

Jadi, jangan lupa datang ya ke acara La Sastra 5. Di mana? Tentu saja di SMAN 5 Bogor, Jl. Manunggal! See you there, guys!

Mug Rahasia Hujan eksklusif buat kamu!

Mug Rahasia Hujan eksklusif buat kamu!

 

Btw, beberapa hari yang lalu sempat mampir ke SMAN 5 Bogor buat ngegerecokin panitianya yang imut-imut. Hahaha. Adik-adik kelas saya keren-keren, ya? 😛

Bersama Ketua OSIS dan Dewan Harian OSIS SMAN 5 Bogor

  Bersama Ketua OSIS dan Dewan Harian OSIS SMAN 5 Bogor

Bersama Panitia La Sastra bagian Humas

Bersama Panitia La Sastra bagian Humas

 

@AdhamTFusama