Saya dan Supernova


20160218_131457

One of my proudest achievement as an editor so far 😀

Saya masih ingat kali pertama membaca Supernova, yaitu di tahun 2003, ketika saya masih duduk di kelas 2 SMA. Waktu itu, saya main ke rumah teman saya, Rido, di daerah Pagelaran, Bogor. Rido yang tahu saya suka membaca kemudian merekomendasikan sebuah novel untuk saya. Judulnya Supernova: Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh karya Dee.

“Bagus nih. Lo pasti suka.” Begitu katanya. Saat itu, saya belum mengenal siapa itu Dewi “Dee” Lestari. Jadi, saya tidak punya ekspektasi apa-apa sewaktu meminjam buku tersebut. Namun, begitu saya baca, saya langsung terpukau! Ini benar-benar novel yang berbeda. Saya belum pernah membaca novel Indonesia seperti ini sebelumnya. Benar-benar bikin candu!

Alhasil, setelah selesai membaca KPBJ, saya segera menagih ke Rido untuk dipinjamkan lanjutannya: Akar dan Petir. Lagi-lagi, saya terpesona. Membaca seri Supernova seperti masuk dan ikut ke dalam sebuah petualangan yang mengasyikkan. Saya pun segera menjadikan Dee Lestari sebagai salah satu penulis Indonesia favorit saya. Dan, selama bertahun-tahun, gaya menulis Mbak Dee pun banyak memengaruhi gaya menulis saya. Gaya yang lugas, jernih, cerdas, dan seru. Ah, pokoknya saya jatuh cinta! Saya tak sabar untuk menantikan seri lanjutannya.

Jadi, saya pun menunggu, menunggu, menunggu, menunggu, dan menunggu. Tapi, Partikel tak kunjung datang. Saya mulai resah, jangan-jangan Mbak Dee tidak akan melanjutkan seri ini. Mungkin, karena seri ini terlalu awesome bahkan Mbak Dee pun tak tahu bagaimana cara menyudahinya. Begitulah pikir saya. Alhasil, yang bisa saya lakukan hanyalah menarik napas sedih dan kecewa.

Lanjutan yang dinanti baru datang 8 tahun kemudian (CMIIW). Terus terang, waktu itu, saya sudah kadung kecewa dengan Mbak Dee. Ibaratnya, sudah terlanjur move on dari Supernova dan lebih memilih untuk membaca buku lainnya (ceritanya sih ngambek. Hahaha). Bahkan sampai Gelombang tiba pun saya masih ngambek.

Namun, pada akhirnya, rasa CLBK itu datang menyerang. Saya, yang sudah lama kepincut dengan desain cover seri Supernova edisi republish yang keren itu, memutuskan untuk memberi Mbak Dee kesempatan satu kali lagi (emangnya siapa elo, Dham?). Saya pun membeli KPBJ, Akar, dan Petir untuk koleksi.

Lalu, saya mendapat kesempatan untuk bekerja di Bentang Pustaka. Saat itu, saya tahu kalau saya harus mengejar ketinggalan dengan membaca Partikel dan Gelombang, karena cepat atau lambat Inteligensi Embun Pagi pasti akan tiba di meja redaksi. Yah, waktu itu sih niat saya membaca Partikel dan Gelombang adalah supaya bisa lebih menikmati IEP, kalau seri pamungkas tersebut sudah terbit. Itu saja. Saya cukup tahu diri. Mustahil editor baru seperti saya diserahkan naskah sepenting IEP. Saya yakin, editor lainnya yang lebih senior-lah, seperti Mbak Dhewiberta, yang akan menangani naskah tersebut.

Saya membaca Partikel di atas kereta, waktu mudik ke Bogor. Di sana, saya seperti menemukan kembali kerinduan akan cerita-cerita Supernova yang dulu pernah mengajak saya ikut berpetualang ke dalamnya. Saya jatuh cinta lagi dan memaafkan Mbak Dee (sekali lagi, emangnya siapa elo, Dham?) yang sudah membuat saya menunggu selama bertahun-tahun. Malah, kalau saya pikir-pikir sekarang, seharusnya saya bersyukur karena Partikel pending selama 8 tahun. Kenapa? Akan saya ceritakan alasannya sebentar lagi.

Singkatnya, hari itu pun tiba. Hari di mana naskah IEP masuk ke meja redaksi … dan diserahkan ke saya. Saya sempat melongo. Lebih-lebih sewaktu diminta untuk menyunting naskah tersebut. Serius nih? Beneran? Saya nggak lagi dikerjain, kan? Maksud saya, yang benar saja! Saya kan cuma editor baru!

Tapi, setelah mengonfirmasi kalau sayalah yang betul-betul ditunjuk untuk mengedit naskah ini, saya girang sekali … sekaligus grogi bukan main. Wajar, soalnya saya harus ekstra teliti dan ekstra hati-hati dalam menangani naskah yang satu ini. Meski demikian, hal tersebut tidak serta-merta bikin saya tertekan. Saya justru merasa tertantang dan bersemangat. Apalagi sewaktu harus berkorespondensi dan berdiskusi dengan Mbak Dee!

OH MY GOD! CAN YOU BELIEVE IT?

Oke, maaf, saya harus lebay di sini! Soalnya, saya yang cuma fans ini malah mendiskusikan soal naskah Supernova IEP dengan penulisnya langsung? How crazy is that? That’s beyond my wildest dream!

Bekerja bersama Mbak Dee pun sangat menyenangkan. Kendati sudah memiliki nama besar, Mbak Dee adalah tipe penulis yang masih mau mendengarkan saran serta masukan dari orang lain. Dari pengalaman saya sebagai editor di beberapa penerbit, masih ada lho penulis yang keukeuh naskahnya tidak mau diedit, karena khawatir si editor akan “menghilangkan nyawa” dari tulisannya tersebut.

Nah, Mbak Dee berbeda! Meski Supernova IEP adalah karya dan anaknya yang paling dia sayangi (rasanya wajar-wajar saja kalau Mbak Dee keberatan naskahnya diotak-atik, sebab dialah yang paling tahu tentang Supernova itu sendiri), Mbak Dee tetap membuka pintu bagi saran-saran perbaikan, yang kiranya bisa memperbagus karyanya tersebut.

Iya, termasuk mendengar saran-saran sepele dari saya.

Saya rasa, itu adalah salah satu kualitas dari Mbak Dee yang perlu diteladani oleh penulis-penulis muda lainnya, termasuk saya.

Yang jelas, proses mengedit Supernova sangat menyenangkan. Saya betul-betul berterima kasih pada Mbak Dee serta kawan-kawan di Bentang Pustaka yang mau membantu, membimbing, memercayakan, serta memberi kesempatan pada editor amatiran seperti saya ini untuk menangani naskah IEP. Pengalaman berharga ini tidak akan saya lupakan!

Ssekarang, saya bersyukur karena Partikel sempat delay selama 8 tahun. Karena dengan begitu, saya berkesempatan untuk ambil bagian dalam perjalanan pamungkas Supernova. Kalau saja Partikel dan Gelombang diterbitkan satu tahun lebih cepat, mustahil saya bisa mendapat kesempatan gila seperti ini! Bahkan, saking gilanya, maka saya akan tertawa terbahak-bahak kalau ada yang berkata: “Percaya nggak, kalau ada remaja SMA cupu—yang dulu baca Supernova KPBJ sambil tengkurep di kasurnya—sekarang malah ikut membidani terbitnya Supernova IEP?”

I mean, it sounds so surreal. But, apparently, life itself is so surreal.

Tanpa saya sadari, tampaknya saya telah terjebak dan tak bisa lepas dari jejaring Supernova sejak tahun 2003. Malah, berkat campur tangan semesta, saya berkesempatan untuk menjadi salah satu pengunjung pertama wahana IEP. Dan, percayalah, wahana tersebut sangat menyenangkan.

Bagi teman-teman yang juga ingin merasakan serunya wahana IEP, jangan lupa, besok wahana akan dibuka secara umum.

Selamat menikmati pengalaman serta perjalanan terakhir Supernova.

Behind the Screen: Menyingkap Rahasia Hujan


Alhamdulillah novel kedua saya yang berjudul Rahasia Hujan telah beredar di seluruh toko buku di Indonesia (terakhir mendapat kabar dari teman saya kalau Rahasia Hujan juga sudah membanjiri toko buku di Ambon). Beberapa acara launching dan promosi juga sudah dilakukan (dan akan terus dilakukan!). Alhamdulillah, sejauh ini saya banyak mendapat feedback positif dari teman-teman yang sudah membaca Rahasia Hujan. Terima kasih banyak!

Dulu, saya sudah pernah menceritakan tentang bagaimana naskah Rahasia Hujan bisa bertemu dengan jodoh penerbitnya. Sekarang saya akan ceritakan tentang behind the screen dan proses penulisan Rahasia Hujan. Siapa tahu ada yang penasaran. Hehehe.

Nah! Ini dia behind the screen Rahasia Hujan!

Behind the screen. Ba dum tss!

Behind the screen. Ba dum tss!

.

.

.

Okaaay… that’s not funny at all. Sorry. Hahaha.

Ini dia behind the screen yang sebenarnya!

 

Judul sebelum Rahasia Hujan

Judul sebelum Rahasia Hujan. Dat Font!

THE TITLE

Judul “Rahasia Hujan” akhirnya dipilih sebagai judul novel ini setelah beberapa kali proses pergantian judul. Saat pertama kali menulis, saya menggunakan judul “Teru-Teru Bozu”. Tapi, saya merasa kurang sreg sebab judulnya terlalu Jepang dan terlalu generik.

Judul “Rahasia di Balik Hujan” akhirnya saya pakai sampai proses penulisan selesai. Dengan judul ini jugalah saya ajukan naskah saya ke penerbit. Judul “Rahasia di Balik Hujan” bahkan sempat ditetapkan sebagai judul final sebelum naskah naik cetak. Tapi kemudian, Mas Sulak menyarankan judul “Rahasia Hujan” sebagai judul final supaya lebih catchy dan gampang diingat.

FYI: Saya juga sempat menggunakan judul “Rahasia, Hujan, dan Teru-Teru Bozu” sewaktu mengirimkan naskah saya ke penerbit lain… yang kemudian ditolak. Hahaha.

 

THE CHARACTERS

Saya akan bahas empat karakter utama dalam novel Rahasia Hujan, yakni Pandu, Anggi, Nadine, dan Mamet.

 

Pandu

Ini dia konsep awal sang tokoh utama yang saya catat sebelum saya mulai menulis novel Rahasia Hujan:

Konsep: 16 tahun. Ketua kelas sekaligus satu-satunya teman dekat Anggi. Pacar Nadine. Siswa yang aktif, baik, sopan, cerdik, supel, periang, disukai banyak orang. Salah satu anggota ekstrakulikuler musik. Pandai bermain gitar dan bernyanyi. Hobi main futsal. Anak yatim, membantu ibunya menjaga toko.

Before and after: Ada sedikit perbedaan antara Pandu saat di konsep dan Pandu saat di naskah. Dikarenakan tidak terlalu penting dalam perkembangan cerita, maka kesukaan dan kepandaian Pandu bermain gitar tidak terlalu ditonjolkan di novel. Bahkan, saya tidak sempat menyebut-nyebut Pandu sebagai anggota ekskul musik.

Kegemaran main futsalnya juga tidak ditonjolkan. Di naskah awal, ada adegan dia bermain futsal namun dalam proses editing, adegan tersebut diganti menjadi menonton futsal (sebab sepertinya aneh kalau Pandu dan Mamet bisa asyik mengobrol padahal seharusnya mereka fokus bermain futsal). Malah, yang lebih menonjol justru adegan Pandu bermain basket.

Kepribadian Pandu juga mengalami pergeseran. Saat menulis, saya ingin menonjolkan kebaikan hati dan kesederhanaanya. Dengan demikian, dampak klimaks cerita ini bisa lebih terasa. Pada draft awal, Bang Ewin Suherman—salah satu pembaca awal—mengatakan kalau tokoh Pandu terlalu Mary Sue, alias terlalu baik. Di draft awal, saya memang menulis Pandu sebagai tokoh yang lebih saleh. Dia enggan menyontek dan rajin beribadah. Berkat saran Bang Ewin, saya mengubah tokoh Pandu menjadi lebih remaja masa kini. Ada badung-badungnya juga.

Dan, lagi-lagi tokoh Pandu mengalami perbaikan sewaktu proses revisi. Atas saran Mbak Dyah Rinni, tokoh Pandu dibuat lebih heroik, terutama di bagian klimaks. Meskipun demikian, dia juga tidak kehilangan sisi rapuhnya. Dia tetap manusiawi, bukan seorang pahlawan yang berjalan keren ke arah kamera dengan adegan ledakan di belakangnya. Dia tetap remaja adorable yang (semoga) bisa disukai pembaca, atau setidaknya mendapat simpati dari mereka.

About the name: Nama “Pandu” saya pilih karena saya ingin karakter yang baik hati, gagah, dapat diandalkan, dan sederhana. Saya rasa nama “Pandu” sangatlah cocok dengan image tersebut.

 

Anggi

Tokoh Anggi merupakan yang paling banyak mengalami perubahan, penyesuain, bahkan pergantian latar belakang. Berikut konsep awalnya:

Konsep: 16 tahun. Siswa pindahan yang sempat tinggal di Jepang selama 2 tahun. Anak yang pemalu, pendiam, dan sulit bergaul.

Before and after: Meskipun banyak mengalami penyesuaian, namun sifat introver dan pemalu Anggi tidak ada perubahan. Dia tetap menjadi tokoh yang misterius. Hanya saja, awalnya saya tidak mengonsep Anggi suka menggambar. Kegemarannya tersebut baru ada sewaktu saya menulis untuk memberi tambahan bumbu misteri.

Gaya bicara Anggi yang kasual-semiformal pun baru saya putuskan sewaktu menulis. Saya ingin Anggi memiliki kesan sopan, pintar, dan “tidak biasa” ketimbang remaja-remaja SMA kebanyakan. Gaya bicaranya yang semula agak ke-Jepang-Jepang-an tidak dipakai karena saya tidak ingin novel ini terlalu Jepang sehingga menutupi “kearifan lokal” kota Bogor (chauvinist mode on!). Hahaha.

About the name: Sebenarnya ada alasan mengapa saya memilih nama “Anggi”. Tapi, karena ada perubahan cerita dan tidak ingin membocorkan ending-nya, saya biarkan saja tetap rahasia. Mwehehehe.

 

Nadine

Dibandingkan tokoh-tokoh lainnya, Nadine adalah yang paling sedikit mengalami perubahan konsep. Ini dia konsep awal Nadine:

Konsep: 16 tahun. Pacar Pandu. Siswi cantik yang sederhana. Rambutnya bob pendek dengan ujung mencuat ke depan. Parasnya ayu seperti putri-putri keraton. Anggun, bersahaja, pintar, dan santun. Tidak terlalu popular tapi dikagumi banyak orang.

Before and after: Ya, semula saya memang ingin Nadine tidak begitu populer. Tapi, semua berubah sejak negara api menyerang sewaktu saya putuskan Nadine untuk terlibat dalam ekskul majalah dinding.

Semula, saya malah mengonsep Nadine punya hobi dan ketertarikan di dunia mode karena ibunya punya butik. Namun, hal tersebut tidak terealisasi sebab tidak ada pengaruhnya ke cerita. Adegan-adegan yang berkaitan dengan Nadine dan fashion pun dipangkas dalam proses revisi.

Tapi, selain itu, tidak banyak perubahan konsep yang dialami Nadine, termasuk soal hubungannya dengan Pandu. Sejak awal saya memang mengonsep hubungan mereka sebagai hubungan yang menyenangkan. Tidak diganggu oleh galau-galau yang menyebalkan atau cemburu-cemburu yang bikin gatal. Saya menganggap Nadine dan Pandu lebih dari sekadar pacaran tapi sudah jadi soul mate yang sudah saling percaya dan memahami satu sama lain.

About the name: Nama “Nadine” pernah saya gunakan sebagai nama salah satu tokoh di novel saya yang tak pernah dipublikasikan. Karena saya suka dengan nama tersebut, akhirnya nama “Nadine” saya pakai lagi. Alhamdulillah, kali ini nama tersebut bisa eksis di novel yang berhasil dipublikasikan. 😀

 

Mamet

Sama seperti Nadine, tokoh Mamet juga tidak banyak mengalami perubahan konsep:

Konsep: 16 tahun. Sahabat dekat Pandu. Class clown yang sangat jenaka, kocak, dan periang. Rambutnya kribo. Meski sering dianggap remeh karena kekocakannya, dia adalah orang yang sangat jeli dan bijak.

Before and after: Mamet memang tidak mengalami perubahan konsep tapi dia justru mengalami penambahan konsep. Kegemaran Mamet akan film sama sekali tidak saya pikirkan sebelumnya. Hal tersebut baru saya tambahkan sewaktu merevisi naskah untuk memperdalam misteri.

Why so afro: Oke, saya akui, saya suka sekali dengan rambut afro! It’s so bizarre and fluffy and fuzzy and, ironically, I can’t have a hairdo like that! Makanya, karena tidak bisa merealisasikan rambut kribo di dunia nyata, saya realisasikan saja di dalam novel. Terlebih, sudah lama saya ingin punya tokoh afro dan baru sekarang bisa kesampaian.

Dan, saya rasa rambut kribo ini cocok dengan Mamet. Rambut afro itu lucu namun berkarakter. Jadi, mirip dengan Mamet yang memang kocak sekaligus berkepribadian. Kocak sebagai class clown, tapi bukan sekadar tokoh konyol-konyolan. Dia punya keberanian dan rasa kesetiakawanan yang kuat.

Penggunaan rambut kribo ini semakin sempurna sewaktu ada masa perubahan yang dialami Mamet di akhir cerita. Jadi, buat saya, kribo Mamet tidak cuma kribo tapi ada filosofi di baliknya. #Halaah! 😀

About the name: Semula saya mau menggunakan nama “Memet”. Namun karena tidak ingin nama itu diplesetkan, saya ganti jadi “Mamet”. Alasan saya pilih “Memet” / “Mamet”? Saya tidak tahu. Spontan muncul begitu saja di pikiran saya. Hahaha.

 

S**t like this really happen

S**t like this really happen

THE PLOT

Barangkali sudah banyak yang tahu kalau saya menulis Rahasia Hujan dalam keadaan galau. Jadi, wajar jika naskah awal Rahasia Hujan kental sekali aroma romance-nya. Akan tetapi, sewaktu berdiskusi dengan editor, saya disarankan untuk memperkental unsur thriller-nya. Maka, banyak adegan yang saya ganti, termasuk adegan duet Pandu dan Nadine saat pensi.

Penasaran dengan delete scenes tersebut? Kalau begitu, tungguin ya, sebab saya berniat akan memposting adegan-adegan yang dibuang tersebut di blog ini!

 

Demikianlah Behind the Screen Rahasia Hujan. Buat yang masih penasaran, sila beli novelnya yang sudah tersedia di toko-toko buku terdekat. Atau, dapatkan diskon 15% plus tanda tangan penulis jika memesannya di @mokabogor. Jangan lupa beli, ya! Mumpung masih awal bulan! Hehehe.

Terima kasih!

 

Rahasia Hujan: Good Friends, Good Time, Good Book

Rahasia Hujan: Good Friends, Good Time, Good Book

@AdhamTFusama

Perubahan Itu Ada di Tangan Kita! #SayNoToGolput


Bertolt Brecht

Buta Politik

Beberapa hari yang lalu saya sempat membaca artikel berbahasa Inggris tentang pemilu, kondisi bangsa, dan kritik kedua kandidat yang diusung menjadi presiden. Artikelnya sangat bagus. Narasumbernya adalah seorang akademisi cerdas yang—dari jawaban-jawabannya—tahu serta mengerti dengan keadaan bangsa saat ini. Akan tetapi, semua berubah ketika negara api menyerang di akhir wawancara dia ditanya akan memilih siapa untuk menjadi presiden. Sambil tertawa, dia menjawab kalau dia golput karena di matanya tidak ada kandidat yang pantas untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapi bangsa ini.

Seketika, saya langsung merasa telah menyia-nyiakan waktu saya untuk membaca artikel tersebut. Semua jawaban-jawaban keren dan bernas yang dia berikan sebelumnya langsung berubah menjadi omong-kosong belaka. Oh ya, dia memang tahu dan mengerti dengan keadaan bangsa, tapi ternyata dia tidak mau tahu dengan bangsa ini. Ibarat melihat ada kebakaran, dia tahu apa penyebab kebakaran di depan matanya, juga tahu bagaimana cara-cara yang bisa diambil untuk memadamkannya. Tapi, dia memilih untuk tidak melakukannya. Dia memilih untuk diam dan mengamati saja.

Kemudian, di salah satu media sosial, salah satu teman saya memposting gambar satiris yang menyindir kalau siapa pun presidennya, tidak akan ada banyak pengaruh pada kehidupan pribadi. Saya lebih kaget lagi ketika mendapati kalau ternyata banyak juga teman saya yang memilih untuk golput.

Seriously guys? Hari gini masih golput?

 

Golput atau “Golongan Putih” biasa diasosiasikan sebagai golongan orang-orang yang tidak menggunakan hak suaranya saat pemilu. Pada masa Orde Baru, golput merupakan bentuk perlawanan pada rezim. Toh, pada zaman itu, kita memberikan suara atau tidak hasilnya sama saja. Tetap Soeharto yang akan naik sebagai presidennya.

Tapi, sekarang zaman sudah beda. Reformasi sudah berjalan lebih dari 15 tahun. Oke lah, di awal-awal masa reformasi, kita masih cemen sehingga sistem reformasi kita masih berantakan. Tapi, masa sih kita pengen cemen terus-terusan?

Jadi, buat saya pribadi, sekarang golput itu bukan lagi bentuk perlawanan melainkan bentuk ketidakpedulian. Bagi saya, orang yang masih bisa bilang “siapa pun presidennya, hidup gue nggak bakal banyak berubah” itu adalah orang egois yang cuma memikirkan dirinya sendiri. Terlebih, apa orang-orang seperti mereka tidak sadar kalau setiap pemimpin memberi pengaruh pada rakyatnya?

Contoh saja, seorang pemimpin memutuskan untuk menaikkan harga BBM. Harga bensin naik, ongkos kendaraan umum naik, ongkos distribusi naik, harga-harga keperluan sehari-hari naik, dan gaji kita pun semakin sebentar mampir ke rekening dan dompet. Itu baru BBM, belum hal-hal yang lainnya.

Dulu, saya juga sempat skeptis seperti itu. Di saat orang-orang pada berteriak protes harga premium naik menjadi Rp 6.500, saya sempat berkata dengan sombongnya “Ah, baru juga naik dua ribu. Nggak ada pengaruhnya.” Ternyata saya salah besar. Tuhan “menyentil” kesombongan saya itu dengan menangguhkan rezeki saya. Alhasil, sekarang saya ingin sekali menangis meraung-raung karena uang saya seringkali hanya pas-pasan untuk membeli bensin 2 liter. Dulu, saya bisa membeli 2 liter bensin dengan uang Rp 9.000. Sekarang, mana bisa?

Masih tidak ada pengaruhnya dengan kehidupan kita? Look closer, guys!

Kalau kita memilih pemimpin yang salah, bukan mustahil harga BBM akan naik lagi. Dan, sebagai seorang penulis—percaya atau tidak—harga BBM juga berpengaruh pada saya. Harga bensin naik, ongkos cetak naik, ongkos distribusi naik, harga buku naik, minat baca dan minat beli masyarakat turun, dan nasib penulis seperti saya pun semakin memprihatinkan. Sekarang saja, di mana harga buku saya cuma Rp 30.000-an, sudah banyak orang-orang yang minta buku secara gratisan! Apa kata dunia, kalau harga buku saya naik misalnya sampai Rp 90.000-an?

Itu cuma contoh kecil saja. Masih banyak contoh-contoh lainnya. Yang jelas, kebijakan-kebijakan pemimpin pasti ada pengaruhnya terhadap masyarakat luas. Kebijakan yang salah dari pemimpin yang salah cuma akan menyengsarakan kita semua.

Dan, kalian tidak akan bisa mencegah “pemimpin yang salah” melakukan kebijakan yang salah, kalau kalian membiarkannya untuk menjadi pemimpin. Mana bisa kita menciptakan perubahan kalau kalian tidak terlibat untuk mengusahakannya? Mana bisa kita menciptakan perubahan kalau kita cuma menonton saja, cuma berharap dan berdoa tapi tidak melakukan apa-apa?

Percaya deh! Sekarang suara kalian ada pengaruhnya. Suara kalian ciptakan perbedaan. Siapa pun yang kalian pilih nanti, bukan Soeharto lagi yang akan naik jadi Presidennya. Siapa pun pemimpin yang kalian pilih, pilihan kalianlah yang punya kesempatan untuk bekerja membawa perubahan. Apalagi sekarang kandidatnya cuma dua. Satu suara dari kita pasti berpengaruh dan menentukan arah masa depan bangsa.

 

Ah, tapi gue skeptis, Dham. Presiden A cuma bisa wacana, presiden B kerja belum kelar udah mau jadi presiden. Kayaknya ngecewain dua-duanya.

Ya elah, bro. Masih muda aja lo udah skeptis dan pesimis. Di dunia ini, mana ada manusia yang sempurna? Kandidat calon presiden juga tidak sempurna. Mereka punya kelemahan dan kelebihan masing-masing. Tinggal lo pilih aja yang menurut lo lebih berpotensi membawa negara ini ke arah kemajuan yang lebih baik.

Lalu kalau soal kecewa, semua orang pasti akan kecewa, dikecewakan, dan mengecewakan orang lain. Kecewa itu biasa. Tapi, masa kita takut dengan kecewa?

Berani taruhan, lo pasti pernah dikecewain pacar. Namun, apa cuma gara-gara dikecewain pacar lantas kita putus asa dan tidak percaya lagi pada kekuatan cinta? #Tsaah *Fitrop mode on*

Jawabannya tidak, kan?

Oke, serius lagi nih. Kita boleh kok merasa kecewa dengan kandidat yang ada. Tapi setidaknya kita berani untuk melawan rasa takut akan kekecewaan tersebut dengan memilih. Memilih untuk kemajuan Indonesia, sekecil apa pun kemajuan itu. Itu lebih baik ketimbang tidak berbuat apa-apa, cuma mau nonton doang, serta kelak cuma bisa ngomong dan ngeluh soal keadaan bangsa. Apa bedanya kita dengan si akademisi yang jawabannya cerdas tapi ternyata omong-kosong belaka?

Kelak mungkin kita juga akan dikecewakan oleh pemimpin pilihan kita. Wajar dan boleh-boleh saja. Toh pemimpin kita juga manusia yang tidak mungkin mampu menyenangkan semua pihak. Namun, jangan sampai hal itu membuat kita patah arang dan putus asa sehingga berhenti untuk berusaha memberikan sedikit sumbangsih untuk kemajuan negeri, sekecil apa pun itu. Kecewa itu biasa. Berani kecewa itu luar biasa.

 

Iya deh, iya. Nanti gue nyoblos. Tapi gue masih belum nentuin siapa yang mau gue pilih. Pas di TPS gue itung kancing aja deh.

Oi! Ini buat masa depan bangsa, lho! Masa mau main-main? Apa lo mau kalo masa depan lo juga hasil pilihan main-main? Misalnya, mau nggak kalo jodoh lo kelak itu hasil pilihan main-main? Hasil itung-itung kancing? Nggak, kan?

Jangan sampai kita salah pilih presiden. Pilih presiden tuh bukan kayak pilih pacar, yang kalau nggak cocok bisa diputusin bulan depan! Memangnya kalian mau menderita sampai 5 tahun ke depan? Tidak, kan?

 

Jadi, pilihlah presiden yang punya visi misi yang jelas, bukan sekadar punya wacana belaka. Pilih presiden yang track record-nya jelas bukan yang pencitraan belaka. Pilih presiden yang amanah, yang benar-benar pro-rakyat, benar-benar dari rakyat, bukan yang cuma mengatasnamakan rakyat. Pilih presiden yang siap memimpin demi bekerja untuk rakyat bukan yang cuma ingin kekuasaan. Pilih presiden yang memang mau bekerja bukan yang bilang mau bekerja tapi hanya retorika belaka.

Yang terpenting: pilih sesuai hati nurani. Jangan mendustakan nurani. Jangan sampai ada beban moral sewaktu memilih. Dan, jangan pula sampai terpengaruh oleh fitnah, kampanye hitam, atau bahkan kampanye-kampanye di timeline Facebook maupun Twitter saya. Hahaha. Yang jelas, tanggal 9 Juli 2014 nanti, datang ke TPS, gunakan suara kita semua, dan jangan lupa berdoa sebelum memilih. Ingat, golput bukan jawaban!

Dan, karena saya seorang Muslim, izinkan saya mengutip firman Tuhan, yang saya rasa sangat cocok untuk situasi saat ini:

 

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kamu, kecuali kamu itu sendiri yang mengubah apa-apa yang ada pada diri mereka.” Q.S. Ar-Raad: 11

 

Perubahan itu ada di tangan kita. Insya Allah niat baik kita untuk mengubah nasib bangsa ke arah yang lebih baik tidak akan sia-sia. Akan selalu ada harapan buat Indonesia, buat kita semua. Remember, hope is a good thing, maybe the best of things, and no good thing ever dies. – The Shawshank Redemption.

 

@AdhamTFusama

Kandidat

The Liebster Award 2014


The Liebster Award is Coming to get You! Roar!

The Liebster Award is Coming to get You! Roar!

Wah tahun ini kena “getah” Liebster Award lagi. Hahaha. Terima kasih Hardy Zhu dan Ajen Angelina. Berikut adalah ketentuan dari Liebster Award.

 

  1. Setelah mendapat award ini, kamu harus posting juga di blog kamu.
  2. Ucapkan terima kasih dan beri backlink orang yang telah memberi award ini.
  3. Share 11 hal tentang dirimu.
  4. Jawab 11 pertanyaan dari orang yang sudah memberi award ini ke kamu.
  5. Pilih 11 blogger yang mau kamu beri award ini dan beri 11 pertanyaan juga.

 

Berikut adalah 11 hal tidak penting dari diri saya.

  1. Adham T. Fusama adalah nama pena.
  2. Seorang penulis, editor, dan guru bahasa Inggris.
  3. Novel pertama yang diterbitkan berjudul Dead Smokers Club.
  4. Insya Allah akan segera menerbitkan novel kedua berjudul Rahasia Hujan terbitan Moka Media.
  5. Secara mengejutkan menjadi salah satu pemenang favorit di Lomba Menulis Novela 2014.
  6. Insya Allah novela berjudul Dead Delivery Service akan diterbitkan oleh Gramediana.com.
  7. Penulis favoritnya adalah Roald Dahl, J.K. Rowling, Dee, Quentin Tarantino, Wes Anderson, dan Eiichiro Oda.
  8. Buku favoritnya adalah seri Harry Potter, seri Supernova, To Kill a Mockingbird, The Godfather, dan masih banyak lagi.
  9. Film favoritnya adalah Pulp Fiction.
  10. Band favoritnya adalah Yeah Yeah Yeahs.
  11. Makanan dan minuman favoritnya adalah pempek, cokelat, dan teh.

 

Berikut jawaban pertanyaan dari Hardy Zhu:

  1. Alasan menjadi blogger? Salah satunya adalah supaya punya media promosi buku di dunia maya. Hahaha.
  2. Apa yang paling kamu benci? Banyak sih. Hahaha.
  3. Pengorbanan apa yang pernah kalian lakukan? Umm… apa ya? Saya yakin pernah melakukan pengorbanan sebelumnya tapi seringkali saya tidak pernah mempermasalahkan hal itu. Jadi tidak ingat deh. Hahaha.
  4. Sebutkan satu kesalahan yang pernah kalian lakukan? Ini juga banyak. Mau list-nya? Hahaha.
  5. Bagaimana pendapat kalian tentang blogmu? Hadeuh, si Hardy narsis. Hehehe. Bagus tapi kurang terasa personal touch-mu di tampilan blognya.
  6. Sebutkan satu kata yang menggambarkan dirimu! Whimsical.
  7. Jika rumahmu kebakaran, apa yang pertama kali kamu selamatkan selain diri sendiri? Keluarga.
  8. Apa cita-citamu? Penulis sukses, terkenal, dan berpengaruh; editor profesional; wirausahawan sukses; guru yang inspiratif. Banyak, ya? Hahaha.
  9. Film apa yang berada di peringkat satu di dalam hati dan pikiranmu? Pulp Fiction.
  10. Bagaimana ciri-ciri pasangan idealmu? Seiman dan saleha—cantik luar dalam. Hehehe.
  11. Apa harapanmu untuk ke depan? Selalu berusaha yang terbaik, belajar dari kegagalan juga kesalahan, dan terus mau belajar serta berusaha.

 

Berikut jawaban dari Ajen Angelina:

  1. Apa yang kamu tuangkan dalam blog kamu? Seperti tagline blog ini: books, movies, musics and beyond. Beyond di sini adalah apa pun yang saya suka.
  2. Adakah buku yang kamu baca lebih dari dua kali? Buku apakah itu? Dan kenapa? Banyak. Salah satunya adalah seri Harry Potter yang boleh jadi memberi pengaruh pada gaya menulis saya.
  3. Kalau dikasih uang 1 miliar apa yang kamu lakukan? Zakatkan dan buat modal usaha.
  4. Lebih suka Twitter atau Facebook? Dua-duanya. Twitter lebih efektif dan lebih viral untuk mempromosikan buku. Facebook lebih asyik buat hangout bersama teman-teman di dunia maya.
  5. Negara yang ingin kamu tinggalin selain Indonesia? Ini pertanyaannya membingungkan karena sebenarnya saya tidak berniat meninggalkan Indonesia. Hahaha. Mungkin maksudnya negara yang ingin menjadi tempat tinggal kedua selain Indonesia kali, ya? Kalau itu pertanyaannya, jawaban saya Inggris.
  6. Apa yang kamu lakukan untuk mengembalikan mood jika stres? Makan, nonton, jalan-jalan.
  7. iPhone, Android, atau Blackberry? Android, karena saya penggunanya.
  8. Kamu lebih memilih buang galau di laut atau gunung? Gunung. Lebih dingin. Saya gampang berkeringat kalau di tempat panas. Yang ada makin galau deh.
  9. Kalau kamu di kasih mesin waktu, ke masa lalu yang mana yang ingin kamu sambangi? Hari pemilu 2009.
  10. Menurut kamu tidur siang itu penting atau tidak sih? Penting banget! Saya ini tukang molor. Hahaha.
  11. Apa pekerjaan kamu sekarang sesuai dengan cita-cita masa kecilmu? Ya dan tidak. Cita-cita masa kecil saya banyak sih. Hahaha.

 

Berikut 11 orang yang saya anugerahkan Liebster Award 2014:

  1. Shelly FW
  2. Renee Keefe
  3. Aria Anggara
  4. Hujan Kirana
  5. Cikie Wahab
  6. Adji Nugroho
  7. David Hukom
  8. Nia Fajriani
  9. Mbak Ria
  10. Devi Booboojuri
  11. Febi Febonk

Sebelas pertanyaan dari saya adalah:

  1. Apa kenangan masa kecil yang paling berkesan buatmu?
  2. Siapa karakter fiktif favoritmu? (Boleh dari film, buku, dll)
  3. Kalau kamu bisa jadi superhero, kekuatan apa yang ingin kamu miliki dan apa nama superhero yang kamu pilih?
  4. Apa guilty pleasure terbesarmu?
  5. Apa phobia yang kamu derita?
  6. Apa adiksi yang kamu derita?
  7. Apa fetish yang kamu derita?
  8. Bagian tubuh manusia mana yang menurutmu paling sensual?
  9. Kalau kamu hendak merampok bank lalu kabur dengan keren dengan mobil sport ala film-film Hollywood, lagu apa yang akan kamu setel sebagai pengiringnya?
  10. Kalau kamu ditangkap kemudian dijebloskan ke penjara tapi boleh membawa satu judul buku, buku apa yang akan kamu bawa?
  11. Kesalahan terbesar apa yang pernah kamu lakukan dalam hidupmu—selain membuang-buang waktu untuk mengikuti award ini?

 

Selamat menikmati! 😀

@AdhamTFusama

 

#Kamisan: My Wishy-Washy Thoughts: Politic, Black Campaign and Maturity Process


Wishy-washy: not having or showing strong ideas or beliefs about something; weak and not able or not willing to act (Merriam-Webster dictionary)

 

Wishy Washy

Sejak pemilu legislatif selesai, kondisi politik di Indonesia semakin “seru”. Pesta demokrasi untuk menentukan pemimpin baru negeri ini terasa panas karena hanya ada dua kandidat yang maju menjadi kandidat presiden selanjutnya. Sontak, Indonesia pun seolah terbagi menjadi 3 kubu: kubu pendukung capres A, kubu pendukung capres B, dan kubu yang netral / belum menentukan pilihan / golput / apatis / tidak peduli. Kubu pendukung capres A dan B lah yang membuat kondisi politik di Indonesia menjadi ngeri-ngeri sedap.

Karena hanya ada dua kubu yang berseteru, maka kedua pendukung pun berlomba-lomba mengampanyekan prestasi dan kehebatan capres mereka, serta sesekali (atau malah seringkali) berusaha menjegal capres lawan dengan bersenjatakan negative and black campaign. Nyaris tiap hari saya dapat temui postingan orang-orang yang tanpa ragu menyebar fitnah dan kata-kata kotor untuk menjatuhkan capres lawan. Bahkan, saking kotornya, sampai-sampai saya tidak percaya kalau mereka adalah saudara sebangsa yang barangkali tinggal bersisian dengan rumah saya.

Saya sendiri adalah salah satu pendukung kubu capres yang ada. Ini sebenarnya merupakan hal baru bagi saya. Pada pemilu-pemilu sebelumnya, saya memang menjadi pendukung capres tertentu tapi tidak secara terang-terangan. Pilihan saya tetap menjadi rahasia saya. Namun, anehnya, tahun ini saya tidak bisa bersikap seperti itu. Mungkin karena saya merasa ada sedikit harapan bagi kemajuan dan perubahan Indonesia sehingga ada keinginan untuk ikut berpartisipasi menjaga api harapan tersebut tetap hidup. Terdengar seperti pemikiran naïf barangkali, tapi silakan Anda berpikir seperti itu.

Sebagai pendukung salah satu kubu, saya memang sering menjadi juru kampanye dadakan yang tidak dibayar, dengan memposting berita-berita tentang capres pilihan saya itu. Saya berusaha menghindari black campaign. Saya tidak pernah menjelek-jelekkan capres lawan dengan kata-kata kotor, sebutan-sebutan kurang ajar, atau menyebar fitnah yang berkaitan dengan SARA. Saya yakin, saya telah bersikap demikian. Tapi, apakah saya benar-benar bersih dari black campaign? Untuk pertanyaan yang satu ini, saya ragu untuk menjawabnya.

Secara sadar, saya berusaha mencegah diri saya dari kampanye hitam. Hanya saja, saya—sadar maupun tidak sadar—pernah memposting atau share berita yang isinya “menyerang” atau “menyakiti hati” kubu lawan. Seringkali saya temui berita-berita yang gurih-gurih enyoy (bahasa apa ini?) tentang capres oposisi sehingga tangan ini gatal untuk mengklik tombol share.

Beberapa hari yang lalu, saya sempat tertampar oleh artikel-artikel yang mengkritisi negative and black campaign. Dan, dari sana pula saya menyadari kalau saya ternyata belum dewasa dalam berpolitik. Tak hanya dalam berpolitik sih sebenarnya, dalam hal lain pun saya sering merasa kalau saya belum dewasa. Saya akui masih memiliki jiwa kekanak-kanakan. Sebagai penulis, saya memang sengaja memelihara jiwa tersebut agar tetap bisa berpikir imajinatif, kreatif, dan memiliki rasa penasaran seperti anak kecil.

 

Tampar aku, Mas! Tampar!

Tampar aku, Mas! Tampar!

Tampaknya, saya masih harus berusaha menyeimbangkan kadar keduanya. Saya masih mesti belajar kapan saya harus bersikap dewasa, serta kapan saya boleh mengeluarkan jiwa kekanak-kanakan saya. Hal tersebut tidak mudah. Yang jelas, sampai saat tulisan ini diposting, bolehlah dikatakan kalau saya masih plin-plan dalam bersikap.

Tidak apalah. Saya tanggapi secara positif saja. Artinya saya masih punya kesempatan untuk belajar dan memperbaiki diri. Saya patut bersyukur untuk itu. Semoga usaha untuk mendewasakan diri ini tidak berakhir dengan kata syukur saja, tapi benar-benar saya implementasikan ke depannya.

Terakhir, karena masih dalam rangka pesta demokrasi: semoga usaha untuk memajukan Indonesia ini bukan sekadar wacana wishy-washy belaka, tapi benar-benar dapat diwujudkan secara nyata. Peace.

 

@AdhamTFusama

Tentang #Kamisan