Anies Baswedan’s Great Speech: Kenapa Memilih Jokowi?


Pada tanggal 18 Juni 2014, Anies Baswedan menyampaikan pidatonya di Soehana Hall, Energy Building, SCBD, Jakarta tentang mengapa dia memilih Jokowi. Buat saya, pidato beliau adalah salah satu pidato paling menggugah yang pernah saya saksikan. Kalau boleh jujur, saya tidak ingat kapan terakhir saya mendengar pidato yang inspiratif dari figur bangsa, di luar mimbar khotbah Jumat.

Bukan sekadar berkampanye mendukung calon presiden nomor urut 2, beliau juga banyak menyampaikan tentang mindset masyarakat. Dengan bahasa yang ringan, beliau tidak menggurui melainkan mengajak kita supaya memiliki pola pikir dan cara pandang yang bijak. Berikut adalah videonya:

 

 

Ya, durasinya memang cukup panjang, yakni sekitar 34 menit. Ya, bagi teman-teman yang memiliki koneksi internet lambat seperti di rumah saya, memang perlu bersabar untuk bisa menyaksikannya.

Tapi, bagi teman-teman yang tak sabar untuk mengetahui isi pidato Pak Anies tersebut, saya mencoba mencatat seluruh pidato beliau di bawah ini. Seperti kata Pak Anies, kita harus sama-sama turun tangan dan terlibat dalam menentukan masa depan bangsa. Saya—yang merasa tidak dapat berbuat banyak—mungkin hanya bisa melakukan hal ini. Dan tidak, saya tidak dibayar untuk melakukannya, meski saya termasuk penulis yang matre. Hahaha.

Catatan: saya mencatat sembari mendengarkan pidato beliau. Saya berusaha untuk setia dalam mencatat ucapan beliau kata per kata. Tapi, tentu saja ada perbedaan antara kalimat lisan dan tulisan. Oleh karena itulah, ada bagian-bagian yang saya edit tanpa mengubah inti serta esensi kalimat beliau. Beberapa istilah bahasa Inggris juga saya terjemahkan, supaya pidato beliau dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat.

Pada beberapa bagian, saya berikan pula keterangan tanda kurung “(…)” untuk menjelaskan konteks kalimat lisan—yang disertai gesture serta gerak tubuh Pak Anies, agar dapat tersampaikan maksudnya dalam kalimat tulisan. Juga, ada beberapa bagian yang tidak saya catat—misalnya saat beliau berinteraksi dengan host, bercanda dengan penonton, dan lain-lain. Yang saya catat adalah murni bagian pidato beliau.

Oleh karena itulah, saya anjurkan teman-teman untuk sekaligus menonton videonya, agar teman-teman dapat memaknai pidato beliau dengan lebih baik. Apabila ada pemaknaan yang keliru dalam tulisan saya, mohon hubungi saya melalui Facebook atau Twitter. Ya, siapa tahu Pak Anies Baswedan sendiri yang bersedia mengoreksi (ge’er parah). Hahaha.

Selamat menyaksikan, selamat membaca, dan salam dua jari.

 

***

 

MENGAPA PILIH JOKOWI?

 

Anies Baswedan

Tidak terlalu sulit untuk mengambil pilihan ketika kita punya pilihan Prabowo dan Jokowi. Nggak sulit sama sekali. Dan, saya selalu katakan, tidak sedikit pun punya beban moral untuk bilang “Saya pilih Jokowi.” Titik. Nggak ada sulitnya.

Jadi, ini menurut saya, kita perlu turun tangan sama-sama dan syukuri perkembangan. Perbaiki kekurangan dan siap turun tangan. Kebanyakan dari kita, jika ada masalah maka kita semua mendiskusikannya, sembari mengharapkan ada perubahan, dan sambil berasumsi ada orang lain yang berbuat. Kalau tidak ada orang lain yang berbuat, kita terus memproduksi keluhan. Itu namanya urun angan. Republik nggak berubah dengan urun angan. Kita harus turun tangan.

Jadi, ketika kita lihat politik di Indonesia, ada banyak sekali masalah. Dan, orang-orang yang kira-kira memiliki hati rasanya jarang mau masuk ke wilayah politik. Di kampus, saya pernah bertanya pada mahasiswa:

“Nanti selesai kuliah mau ke mana?

“Rencananya bisnis, Pak.”

“Nggak berminat ke politik?”

Wajahnya (si mahasiswa) itu berubah. Dia melihat rektornya kayak mau bilang “You are so wrong.” Kok bisa rektornya bertanya seperti itu?

“Kenapa bisnis? Kenapa nggak ke politik?”

“Politik itu kotor, Pak.”

Jadi saya jawab balik, “Kalau bisnis bersih, ya?”

Bersih atau kotor itu cara kita menjalani, bukan soal sektor. Sektor mana pun bisa bersih dan kotor. Tapi cara menjalaninya menunjukkan integritas yang kita miliki. That’s the answer.

Nah, orang-orang baik di Republik ini banyaknya luar biasa! Tapi jika orang baik hanya mau menjadi pembayar pajak yang baik, lalu siapa yang mengurusi uang pajak kita? That is a simple question? Siapa? Semua yang berada di ruangan ini, jika tadi siang Anda bekerja, maka Anda bayar pajak secara rutin. Dan jumlah pajaknya impresif! Makin hari porsi pajak kita dalam APBN luar biasa besar.

Pertanyaannya: siapa yang me-manage itu jika orang baik hanya mau menjadi pembayar pajak yang baik? Sayangnya, iklan-iklan yang ada adalah: jadilah warga negara yang baik dengan menjadi pembayar pajak yang baik. Tidak ada iklan yang bilang jadilah pengelola pajak yang baik. Nah, kita semua harus memikirkan ulang akan hal ini. Sebagian dari kita harus ambil keputusan, bukan saja untuk menjadi pembayar pajak tapi juga untuk menjadi pengelola uang pajak kita semua. Harus.

Nah, orang-orang yang baik-baik ini ketika mereka memilih masuk dunia politik biasanya menghadapi masalah. Misalnya, dosen baik-baik, pengajar baik-baik dan berintegritas, lalu namanya muncul sebagai caleg, maka orang-orang sekampus mendiskusikan. “Sakit apa dia sampai mau jadi caleg? Apa yang terjadi sehingga dia mau jadi caleg?” Itu mindset kita. Kita cenderung mempermasalahkan orang yang tidak bermasalah yang masuk ke dunia politik. Tapi jika orang yang bermasalah masuk politik kita justru tidak mempermasalahkan. Ini masalahnya!

Jadi, kalau ada orang yang bermasalah masuk politik, kita berpikir ya sudah seharusnya. Gitu, kan? Tapi, kalau ada orang yang tidak bermasalah lalu mau masuk ke dunia politik, justru kita tahan. That will never change our politic! That could never change!

Karena itu, kita justru harus mendorong orang-orang baik untuk masuk politik. Tidak semua orang harus masuk politik. Tapi kalau ada orang baik yang mau masuk politik, bantu! Kalau ada orang baik yang mau masuk politik, ikutlah terlibat! Kenapa? Kalau ada orang baik memilih untuk mengambil tanggung jawab mengurusi masalah politik, dia akan kalah jika orang baik lainnya memilih diam dan mendiamkan. Pasti!

Jadi, ketika ada orang baik menyatakan, “Saya siap mau ikut tanggung jawab!”, bantuin! Dukung dia! Karena the only way he will lose is all of us standing by and watching.

Dan, banyak dari kita yang cuma mengamati dia, kita saksikan sebagai subjek percobaan. Kita doakan menang. Tapi kalau kalah, kita malah bilang “Tuh kan, bener! Jangan masuk politik!” Banyak dari kita yang cuma menyaksikan. Tapi, no, no, no, no, kita harus terlibat.

Saya melihat Indonesia sekarang tumbuh luar biasa. Generasi kita—semua yang berada di ruangan ini—have benefit so much from the republic. Let’s pay back! Yuk, kita bayar balik! Dan, bayar baliknya dengan cara apa? Dengan cara menentukan arah Indonesia. Dan, kalau ada orang baik di sana, jangan diam!

Nah, hari ini, jelas-jelas ada orang baik. Namanya Jokowi. Udah jelas kan dia orang baik?

Saya kebetulan sudah kenal dengan Pak Jokowi dari dulu. Saya kenal Pak Jokowi ketika beliau masih menjadi Walikota Solo periode pertama. Dan, ketika bertemu pertama kali, I wasn’t really sure that he was a mayor—saya tidak yakin dia itu walikota (karena penampilannya yang sederhana).

Ya, Pak Jokowi mungkin nggak ingat. Waktu itu ada pernikahan keluarga—kebetulan keluarga saya di Solo—dan pak walikotanya datang, jadi saya diberitahu, “Anies, tolong sambut, walikotanya datang.” Jadi, saya ke depan dan mencari-cari mana walikotanya. I could not find him. Tapi, akhirnya, saya bertemu juga dengan Pak Jokowi. Kami pun mengobrol, berdiskusi.

Jika selama ini kita menyaksikan kemunculan calon yang mengatasnamakan rakyat, maka kali ini muncul seorang calon yang benar-benar dari rakyat Indonesia. Truly.

Jadi, kalau Pak Jokowi berdiri di mana pun, dia akan terlihat: he is one of us. Jadi ketika kita bilang “Jokowi Adalah Kita”, it is so true! Saya lihat itu sendiri ketika berkenalan pertama kali dengan Pak Jokowi. Setelah itu kami banyak berinteraksi. This guy is very interesting. Dia merupakan suatu antitesis atas apa yang terjadi selama ini. Dia menawarkan kebaruan.

Saya dari dulu, ketika ngobrol di Gerakan Turun Tangan: yang harus kita tawarkan bukan kemudaan, karena ini bukan urusan umur. Tua-muda itu bukan masalah hitungan tahun. Hitungan tahunnya boleh tinggi, tapi kalau yang dipikirkannya tetap masa depan, maka sebenarnya dia masih muda. Sebaliknya, kalau ada orang yang hitungan tahunnya kecil tapi yang diceritakannya adalah masa lalu… he is so old. Sebenarnya orang itu sudah sangat tua.

Nah, yang kita butuhkan itu kebaruan. Saya ingat di awal banyak sekali kritik. Why? Because political process. Saya katakan, jalani ini dengan cara yang benar, bersama orang-orang yang baik. Masuk dengan kepala tegak, keluar dengan kepala tegak. If you do it the right way, maka kita bisa menjalani itu dengan baik. Karena di ujung, begitu kita selesai proses konvensi, sekarang kita punya pilihan di depan kita: ada Pak Prabowo, ada Pak Jokowi. Ditunggu sampai tanggal 9 Juli pun tidak nambah calonnya.

Begitu sudah jelas keputusannya dua calon, decide early! Putuskan segera! Kenapa? Karena ini bukan oportunistik. Kalau oportunistik nunggu hasil survei. Ada tuh yang nunggu hasil survei baru memutuskan. Ada lho!

Saya melihat, hal ini begitu sederhana. Saya sempat menyampaikan hal ini di MetroTV, yakni: apa tantangan Indonesia? Kita sudah 15 tahun lebih reformasi tapi masih ada banyak hal yang mandek. Kita perlu orang yang bisa melakukan terobosan. Membongkar yang sekarang berbelit-belit. Melakukan tindakan-tindakan yang outside the box. Dan itu hanya bisa dilakukan jika dia bukan bagian dari masalah.

Kalau dia bagian dari masalah, there is no way he will fix it. Kita sudah melihat selama beberapa tahun ini. Karena itu, jangan cari orang yang merupakan bagian dari masalah. Di sini maka terlihat, Pak Jokowi is a clear choice. Dia datang membawa kebaruan.

Ada muncul pertanyaan, kalau wakilnya orang lama. Pak JK—Jusuf Kalla. Usianya 72 tahun, it’s rather old.  Tapi, kalau dihitung stamina, dia sangat energetik. Saya pun kenal Pak JK secara pribadi dan kebetulan cukup sering berinteraksi dengan dia. Dan, selama Pak JK menjadi wakil presiden (di era SBY), dia selalu diasosiasikan dengan terobosan. And that’s what we need.

Jadi, (duet Jokowi-JK) ini merupakan kombinasi yang menarik. Yang satu baru—kira-kira belum tahu lanskapnya seperti apa, di sisi lain ada yang senior—tetapi diiringi dengan terobosan. Kalau senior tapi tidak pernah terasosiasi dengan terobosan, barangkali dia akan menjadi baggage atau beban yang berat.

Di sisi lain, ada Pak Prabowo. Ya, dia juga baru. Bagian dari Orde Baru. Sementara yang satunya adalah seseorang yang sudah 15 tahun memimpin—dari mulai Menristek, Menteri Perhubungan, Mensesneg, sampai menjadi Menko Ekuin—dan sebagian yang dikritik Pak Prabowo adalah yang dikerjakan oleh wakilnya.

Saya terus terang kasihan kalau membicarakan soal “bocor”. Kenapa? Karena kelebihan 0 saja sudah dahsyat efeknya. Bagi orang yang tahu angka, 0 is a big different. Contoh, Rene (host dan moderator) punya anak 3, tambahin 0 satu saja di belakangnya, jadinya 30! That’s a big responsibility! Jadi, kalau dari 700 menjadi 7000, that’s a big different!

Tapi, menurut saya, bukan soal angka itu saja. Begini, Anda harus memiliki comprehensive understanding tentang angka. Ini penting! Kalau mau menjadi CEO sebuah perusahaan, you really need to know the size of your company. Jadi ketika mendengar laporan, you can make sense of it—Anda bisa melihatnya secara logis. Misalnya, GDP kita ini 10.500, lalu ada yang bilang bocor 7.000… you really need to make sense of it. Maksudnya, gimana bisa GDP kita bisa bocor sebanyak itu? Ditambah lagi, APBN-nya cuma 1.800. Lho, terus, bocornya yang mana? Kebayang, kan?

Ini, menurut saya, it uncovered the other side. Bahwa sebenarnya di balik retorika itu adakah pengetahuan yang mendalam? That’s the question.

Kembali ke masalah sebelumnya, saya lihat yang satu menawarkan kebaruan, yang satu lagi justru bagian dari yang lama. Lima tahun ke depan adalah 5 tahun yang mendasar buat Indonesia. Bukan cuma karena new first term (presiden baru), tapi juga karena mulai tahun depan kita masuk di ASEAN Economic Community. We’re part of that community. Transisi 5 tahun ini menentukan. Dan, kekuatan untuk kita bisa berhadapan dengan ASEAN, bukan di Deplu, bukan di Departemen Perdagangan, tapi di kekuatan manusia Indonesia di dalam negeri. That’s the answer.

Nah, di sini kemudian saya melihat perbedaan yang lebih jauh lagi. Pak Jokowi selalu mengatakan manusia Indonesia merupakan kunci. Saya juga kebetulan mempromosikan hal itu. I’m promoting that so much. Dan, selama ini saya juga mengatakan pada teman-teman di Gerakan Turun Tangan: yang kita bawa bukan cita-cita meraih sesuatu. Yang kita bawa adalah misi. Dan, misi itu adalah untuk di-deliver, untuk dicapai. That’s the mission. Dan, kalau kita tidak mendapatkan amanat untuk mencapainya, maka misi itu bisa kita titipkan pada orang lain (Jokowi) untuk menjalankannya.

That’s mission! Kalau cita-cita, Anda tidak bisa menitipkannya pada orang lain. Cita-cita untuk Anda raih sendiri, untuk diri Anda sendiri.

Nah, Pak Jokowi membicarakan tentang manusia sementara Pak Prabowo lebih banyak membicarakan soal sumber daya alam. Dan, saya selalu mengingatkan—ini bukan cuma saya katakan sekarang saja—kalau kita berbicara dengan retorika yang nasionalistis tapi yang dibicarakan hanya sumber daya alam, maka sebenarnya kita meneruskan tradisi berpikir kaum kolonial.

Kenapa? Karena kaum kolonial itu datang ke Indonesia sama sekali tidak memikirkan manusianya. Yang mereka pikirkan adalah extraction of resources—menyerap sumber daya alam.  Anda lihat peta rel kereta api di Jawa? Peta itu mencerminkan pusat-pusat eksploitasi sumber daya alam.

Di Sumatera Barat ke mana rel kereta apinya menuju? Ke Sawahlunto, karena ada batu bara. Di Sumatera Selatan ada kereta api ke Tanjung Enim (karena di situ ada batu bara juga). Semua tempat-tempat yang ada sumber daya alam di situ dilakukan pembangunan infrastruktur, tapi tidak dipikirkan manusianya.

Indonesia membutuhkan presiden yang memikirkan manusianya bukan cuma sumber daya alamnya. Jadi, menurut saya, dari situ saja sudah terbayang seperti apa fokusnya.

Nah, ini kalau bicara soal fokus. Kalau bicara soal style, menurut saya Pak Jokowi itu hidupnya sangat sederhana. Kalau ditanya apakah dia mampu hidup lebih dari sekarang? O yes he can afford it—dia mampu. Tapi style-nya (tetap sederhana). Tadi ada yang bercerita soal Pak Jokowi pernah tinggal di Kampung Melayu. Ada pejabat yang kalau disuruh jalan sendirian ke pasar, kikuknya nggak keruan. Dia tidak tahu what to do. Harus ngomong apa? Interaksinya apa?

Kenapa demikian? Karena selama ini dia bukan bagian dari interaksi dengan rakyat. Nah, sekarang kita bicara style yang tidak bisa ditiru. You have to experience it, you have to do it. Anda harus mengalami dan melakukannya. Karena Pak Jokowi itu tumbuh bersama rakyat, pasti terbiasa berinteraksi dengan mereka. Dan, nggak ada beban untuk melakukan itu.

Dan, yang menarik adalah cara Pak Jokowi menghadapi masalah, dia tuliskan pada buku catatan [Pak Anies menggunakan alat bantu buku catatan untuk menyampaikan maksud beliau]. Sementara yang banyak terjadi pada pemimpin kita adalah” kalau ada kritik atas suatu masalah, dianggap “that criticism is about me”. Sementara Pak Jokowi tidak. Jika ada masalah, dia diskusikan bersama-sama.

Ini mindset yang penting sekali.

Nah, kenapa (Jokowi) harus jadi presiden? Ya, yang nomor satu karena sudah dicalonkan. Tapi, yang tidak kalah penting, tadi saya sudah pertanyakan di depan (sebelum acara): apa yang berubah dari Jakarta?

Teman-teman, ketika ada orang baik, yang terpercaya, menjadi pemimpin di sebuah wilayah, apa yang terjadi di wilayah itu? Muncul perasaan kalau ada orang yang bertanggung jawab yang sedang bekerja di sana.

Apakah orang itu akan menyelesaikan sebuah masalah? Tidak. Apakah orang itu akan menyelesaikan masalah dalam waktu sesingkat-singkatnya? Tidak. Tapi ketika ada problem-problem baru, maka rakyat tidak mengeluh karena dia tahu pemimpinnya sedang bekerja.

Republik ini membutuhkan suasana itu. Lihat saja, pada saat Jakarta banjir. Memangnya sewaktu Pak Jokowi datang lantas banjir berhenti? Tidak. Tapi coba lihat di Twitter, apakah gubernurnya menjadi sasaran complain? Tidak. Karena orang tahu, he’s working out there. He’s working to fix the problem—dia bekerja untuk memperbaiki masalah.

Lihat lagi di Bandung. Kang Emil (Ridwan Kamil) terpilih menjadi Walikota Bandung. Apa yang terjadi? Masyarakat merasa, “Nih ada orang benar yang mau bekerja buat kita.” Orang baik itu ada di sana untuk membereskan masalah. Ketika masih ada masalah, ngomong sama Kang Emil.

Pak Jokowi juga begitu. Indonesia membutuhkan suasana baru. Hadirkan pemimpin baru itu. Itu yang menurut saya penting.

Jadi, nanti ketika ada yang bicara tentang Revolusi Mental, this is what we have been said all along. Ini yang selama ini kita katakan! Mengubah perspektif, dari pesimis menjadi optimis. Kita punya semua syarat untuk optimis. Karena itu perlu hadir orang yang bisa dijadikan contoh. Bisa dijadikan teladan dan membuat kita punya suasana yang baru. Dan, Jokowi memberikan itu.

Dulu, waktu saya kecil, orangtua saya memberikan buku-buku biografi tokoh-tokoh Indonesia, macam Sjahrir, Hatta, Nasir, Soekarno, dan lain-lain. Setelah dibaca, saya berpikir, mereka tuh apa sih profesinya? Politikus, kan? Tapi orangtua menjadikan mereka sebagai teladan di rumah-rumahnya. Nah, hari ini coba lihat TV, ada nggak orangtua yang bilang, “Nak, tiru ya mereka (para politikus).”? Ada nggak sekarang yang seperti itu? It’s a problem!

Karena itu, hadirkan yang terbaik, hadirkan orang bersih di puncak, dan biarkan dia menular, memunculkan ratusan, ribuan, jutaan orang baik di Indonesia.

 

LALU, APA YANG HARUS KITA LAKUKAN SEKARANG?

 

What do we do? What do we need to do? Apa yang harus kita kerjakan?

Pak Jokowi, pergi ke mana pun, adalah magnet. Makanya sekarang dia sedang sibuk berkeliling. Dan di mana pun dia berkunjung, orang-orang ramai mendatanginya. Tapi jangan kita lupa, yang dibutuhkan Pak Jokowi bukan orang yang berombongan dan beramai-ramai mendekati dia. Yang dibutuhkan sekarang adalah banyak sekali relawan, di mana pun juga. Yang harus dijadikan fokus bukanlah untuk mendatangkan Jokowi. Yang harus dijadikan fokus adalah memenangkan Jokowi.

Jadi, cara memenangkan Jokowi itu bukan dengan cara mendatangkan Jokowi. Kasihan betul Pak Jokowi harus keliling ke mana-mana. Perjalanan kita masih panjang. Yang perlu dikerjakan: ingat tanggal 9 Juli, kampanyekan untuk meyakinkan orang lain. Kita bisa melakukannya sendiri. Ada “10 Alasan Memilih Jokowi”, teman-teman bisa print out itu, lalu saat teman-teman naik kendaraan umum, tinggalkan print out itu sambil tersenyum. Nggak usah kampanye lisan karena itu sensitif.

Intinya, Anda lihat apa yang bisa Anda kerjakan untuk membantu mengenalkan, menjelaskan, dan kita tunjukkan bahwa semua orang yang mendukung Jokowi-JK juga merupakan perwakilan Jokowi-JK. Artinya kata-kata kita, ekspresi kita, tulisan kita is on their behalf—kita mewakili mereka.

Di situ sebabnya relawan-relawan Jokowi itu betul-betul relawan. Kenapa saya katakan demikian? Karena untuk menulis fitnah diperlukan motif yang luar biasa (seperti uang). Karena itu, relawan-relawan di sini bukan tipe-tipe yang bisa menghasilkan fitnah. Anda adalah orang-orang baik, nggak mungkin menghasilkan fitnah. Kita bisa ekspresikan ketidaksetujuan tapi tidak menghasilkan fitnah.

Selain campaign, ajak juga (orang-orang) di lingkungan kita. Jangan diam! Targetkan saja misalnya 1 hari 10 orang milih Jokowi. Dan jangan khawatir karena mendukung Pak Jokowi, Anda tidak punya beban moral untuk menjelaskan kenapa Pak Jokowi (pantas menjadi presiden). Karena itulah, biasanya pendukung Pak Jokowi nggak sembunyi-sembunyi. Sementara ada pendukung yang tidak berani berterus terang, takut ditanya soal masa lalu.

Jadi, teman-teman lakukan itu.

Dan, yang kedua, usia bangsa ini masih panjang. Bukan sampai tanggal 9 Juli saja. Begitu banyak kampanye yang dilakukan justru merobek rasa kebangsaan kita. Coba bayangkan, tenun kebangsaan ini dirajut dari etnis yang bervariasi, agama bervariasi, bahasa yang bervariasi. Dan itu tidak boleh robek hanya karena urusan pilpres.

Karena itu, pendukung Jokowi dan JK adalah orang yang berkampanye dan menjaga suasana kebangsaan Indonesia.

Lalu, yang ketiga, di hari pemilihan tanggal 9 Juli, jangan sungkan untuk mengajak tetangga nyoblos. It’s perfectly finenggak masalah. Selesai nyoblos, lihat hasil perhitungan suaranya. Yang bisa mengamankan suara adalah pendukung-pendukung tulusnya Pak Jokowi. Jangan sampai suaranya ada yang hilang. Segala macam kemungkinan bisa terjadi. Dan hal tersebut bisa dicegah jika ada orang yang mengawasi. Kita semua harus turun tangan. Jangan hanya nyoblos lalu nunggu hasilnya di TV. Harus ada yang mau terlibat.

Dan, jika kita melakukan itu, beban moral Pak Jokowi semakin besar. Kenapa? Karena dia didukung oleh orang-orang yang mengatakan “Saya melakukan ini karena saya percaya pada Anda. Saya melakukan ini bukan karena Rupiah, karena harga diri saya tidak bisa dirupiahkan. Anda tidak bisa bayar saya. Tapi saya melakukan ini karena saya percaya pada Anda.”

Sehingga, when he is in power, he’s in-charge, dia memiliki otortitas, maka dia akan bekerja untuk kita.

Apakah semua keputusannya akan membahagiakan? Belum tentu. Kita seringkali kalau kecewa dengan politikus kemudian patah arang. Sementara kita sehari-hari juga kecewa. Kecewa sama pacar, kecewa sama istri, sama suami, bahkan kecewa pada Anies Baswedan.

Tapi, begini teman-teman, dalam mengambil keputusan itu minimal ada empat opsi. Pertama, keputusan yang benar dan baik. Kalau ambil keputusan itu, aman deh, nobody disagree with you. Keputusan yang kedua adalah keputusan yang tidak benar dan tidak baik. Itu harus dihindari. Everyone disagree with you. Nah, yang jadi judgement itu di sini: keputusan yang benar tapi tidak baik. Atau, keputusan yang baik tapi tidak benar.

Sehari-hari kita mengalaminya, kan? Dan pemimpin juga harus mengalami itu. Judgement atau penilaian kita dan dia mungkin beda, tapi satu hal yang pasti: bahwa kalau dia naik bukan karena Rupiah maka dia ambil keputusan bukan karena Rupiah. Dan itu yang kita kerjakan sekarang.

Thank you.

 

***

 

People Power, You Can't Stop It!

People Power, You Can’t Stop It!

Ingat! Tanggal #9Juli nanti #SayNoToGolput dan #TegasPilih2

#Salam2Jari

Share is care!

@AdhamTFusama

Advertisements