The Liebster Award 2014


The Liebster Award is Coming to get You! Roar!

The Liebster Award is Coming to get You! Roar!

Wah tahun ini kena “getah” Liebster Award lagi. Hahaha. Terima kasih Hardy Zhu dan Ajen Angelina. Berikut adalah ketentuan dari Liebster Award.

 

  1. Setelah mendapat award ini, kamu harus posting juga di blog kamu.
  2. Ucapkan terima kasih dan beri backlink orang yang telah memberi award ini.
  3. Share 11 hal tentang dirimu.
  4. Jawab 11 pertanyaan dari orang yang sudah memberi award ini ke kamu.
  5. Pilih 11 blogger yang mau kamu beri award ini dan beri 11 pertanyaan juga.

 

Berikut adalah 11 hal tidak penting dari diri saya.

  1. Adham T. Fusama adalah nama pena.
  2. Seorang penulis, editor, dan guru bahasa Inggris.
  3. Novel pertama yang diterbitkan berjudul Dead Smokers Club.
  4. Insya Allah akan segera menerbitkan novel kedua berjudul Rahasia Hujan terbitan Moka Media.
  5. Secara mengejutkan menjadi salah satu pemenang favorit di Lomba Menulis Novela 2014.
  6. Insya Allah novela berjudul Dead Delivery Service akan diterbitkan oleh Gramediana.com.
  7. Penulis favoritnya adalah Roald Dahl, J.K. Rowling, Dee, Quentin Tarantino, Wes Anderson, dan Eiichiro Oda.
  8. Buku favoritnya adalah seri Harry Potter, seri Supernova, To Kill a Mockingbird, The Godfather, dan masih banyak lagi.
  9. Film favoritnya adalah Pulp Fiction.
  10. Band favoritnya adalah Yeah Yeah Yeahs.
  11. Makanan dan minuman favoritnya adalah pempek, cokelat, dan teh.

 

Berikut jawaban pertanyaan dari Hardy Zhu:

  1. Alasan menjadi blogger? Salah satunya adalah supaya punya media promosi buku di dunia maya. Hahaha.
  2. Apa yang paling kamu benci? Banyak sih. Hahaha.
  3. Pengorbanan apa yang pernah kalian lakukan? Umm… apa ya? Saya yakin pernah melakukan pengorbanan sebelumnya tapi seringkali saya tidak pernah mempermasalahkan hal itu. Jadi tidak ingat deh. Hahaha.
  4. Sebutkan satu kesalahan yang pernah kalian lakukan? Ini juga banyak. Mau list-nya? Hahaha.
  5. Bagaimana pendapat kalian tentang blogmu? Hadeuh, si Hardy narsis. Hehehe. Bagus tapi kurang terasa personal touch-mu di tampilan blognya.
  6. Sebutkan satu kata yang menggambarkan dirimu! Whimsical.
  7. Jika rumahmu kebakaran, apa yang pertama kali kamu selamatkan selain diri sendiri? Keluarga.
  8. Apa cita-citamu? Penulis sukses, terkenal, dan berpengaruh; editor profesional; wirausahawan sukses; guru yang inspiratif. Banyak, ya? Hahaha.
  9. Film apa yang berada di peringkat satu di dalam hati dan pikiranmu? Pulp Fiction.
  10. Bagaimana ciri-ciri pasangan idealmu? Seiman dan saleha—cantik luar dalam. Hehehe.
  11. Apa harapanmu untuk ke depan? Selalu berusaha yang terbaik, belajar dari kegagalan juga kesalahan, dan terus mau belajar serta berusaha.

 

Berikut jawaban dari Ajen Angelina:

  1. Apa yang kamu tuangkan dalam blog kamu? Seperti tagline blog ini: books, movies, musics and beyond. Beyond di sini adalah apa pun yang saya suka.
  2. Adakah buku yang kamu baca lebih dari dua kali? Buku apakah itu? Dan kenapa? Banyak. Salah satunya adalah seri Harry Potter yang boleh jadi memberi pengaruh pada gaya menulis saya.
  3. Kalau dikasih uang 1 miliar apa yang kamu lakukan? Zakatkan dan buat modal usaha.
  4. Lebih suka Twitter atau Facebook? Dua-duanya. Twitter lebih efektif dan lebih viral untuk mempromosikan buku. Facebook lebih asyik buat hangout bersama teman-teman di dunia maya.
  5. Negara yang ingin kamu tinggalin selain Indonesia? Ini pertanyaannya membingungkan karena sebenarnya saya tidak berniat meninggalkan Indonesia. Hahaha. Mungkin maksudnya negara yang ingin menjadi tempat tinggal kedua selain Indonesia kali, ya? Kalau itu pertanyaannya, jawaban saya Inggris.
  6. Apa yang kamu lakukan untuk mengembalikan mood jika stres? Makan, nonton, jalan-jalan.
  7. iPhone, Android, atau Blackberry? Android, karena saya penggunanya.
  8. Kamu lebih memilih buang galau di laut atau gunung? Gunung. Lebih dingin. Saya gampang berkeringat kalau di tempat panas. Yang ada makin galau deh.
  9. Kalau kamu di kasih mesin waktu, ke masa lalu yang mana yang ingin kamu sambangi? Hari pemilu 2009.
  10. Menurut kamu tidur siang itu penting atau tidak sih? Penting banget! Saya ini tukang molor. Hahaha.
  11. Apa pekerjaan kamu sekarang sesuai dengan cita-cita masa kecilmu? Ya dan tidak. Cita-cita masa kecil saya banyak sih. Hahaha.

 

Berikut 11 orang yang saya anugerahkan Liebster Award 2014:

  1. Shelly FW
  2. Renee Keefe
  3. Aria Anggara
  4. Hujan Kirana
  5. Cikie Wahab
  6. Adji Nugroho
  7. David Hukom
  8. Nia Fajriani
  9. Mbak Ria
  10. Devi Booboojuri
  11. Febi Febonk

Sebelas pertanyaan dari saya adalah:

  1. Apa kenangan masa kecil yang paling berkesan buatmu?
  2. Siapa karakter fiktif favoritmu? (Boleh dari film, buku, dll)
  3. Kalau kamu bisa jadi superhero, kekuatan apa yang ingin kamu miliki dan apa nama superhero yang kamu pilih?
  4. Apa guilty pleasure terbesarmu?
  5. Apa phobia yang kamu derita?
  6. Apa adiksi yang kamu derita?
  7. Apa fetish yang kamu derita?
  8. Bagian tubuh manusia mana yang menurutmu paling sensual?
  9. Kalau kamu hendak merampok bank lalu kabur dengan keren dengan mobil sport ala film-film Hollywood, lagu apa yang akan kamu setel sebagai pengiringnya?
  10. Kalau kamu ditangkap kemudian dijebloskan ke penjara tapi boleh membawa satu judul buku, buku apa yang akan kamu bawa?
  11. Kesalahan terbesar apa yang pernah kamu lakukan dalam hidupmu—selain membuang-buang waktu untuk mengikuti award ini?

 

Selamat menikmati! 😀

@AdhamTFusama

 

Advertisements

The Day The Surprise Makes Me Stood Still


Sering kali dalam hidup kita berpapasan dengan sesuatu yang tak terduga. Entah karena kita tidak mengharapkannya, atau memang tidak memikirkannya. Itulah yang terjadi pada saya kemarin. Saat sedang asyik-asyiknya membaca resensi buku di Goodreads, saya mendapat notifikasi Twitter dari teman saya. Dia bilang, saya menjadi salah satu juara favorit Lomba Menulis Novela yang diadakan Gramediana.com.

Jantung saya mencelos membacanya. Untuk sepersekian detik saya bingung, saya menenangkan apa? Barulah saya sadar kalau saya pernah mengirimkan novela untuk mengikuti lomba itu. Saya malah sedikit lupa pernah mengirimkannya. Hahaha.

Masih setengah percaya, saya segera mengakses internet lewat komputer. Ternyata benar. Saya langsung lemas dibuatnya. Bagaimana tidak? Bagi orang yang jarang sekali memenangkan sesuatu, saya sudah kadung akrab dengan yang namanya kekalahan. Lomba terakhir yang saya menangkan barangkali Juara 3 Pidato Bahasa Inggris di SMP. Itu pun saya tidak ingat apakah saya menang atau tidak. Kalau tidak, artinya lomba terakhir yang saya menangkan adalah Juara 1 Menggambar se-Kecamatan saat SD. Itu pun gara-gara disuruh berlaku curang oleh guru sendiri. Hahahaha.

Jadi, siapalah saya yang menginginkan kemenangan itu? Bulan lalu, saya mengirimkan naskah novela ke panitia dengan semangat iseng-iseng berhadiah. Pengharapan untuk mendapat juara benar-benar hanya secuil di hati saya. Apalagi banyak teman-teman saya yang ikut serta. Tapi, rupanya Tuhan berkehendak lain.

Lagi-lagi, saya diberi hadiah yang menyenangkan oleh-Nya. Padahal, baru kemarin saya diberi hadiah berupa penerbitan novel kedua. Entah kenapa, saya sedikit ngeri karena mendapat anugerah yang bertubi-tubi seperti ini. Bukan apa-apa, saya takut terlalu terlena oleh nikmat yang diberikan sehingga lupa bersyukur. Naudzubillah.

Tapi, yah, mustahil kalau saya menolak rezeki seperti ini, kan? Dan, hanya hamdallah yang bisa saya ucapkan berkali-kali, berharap rezeki ini adalah rezeki yang baik buat saya serta keluarga. Itulah sekecil-kecilnya yang bisa saya lakukan untuk mensyukuri pemberian dari Tuhan.

Nah, berikut adalah daftar para pemenang lainnya. Nama saya nyempil di antara nama-nama keren 7 orang peraih Juara Favorit.

 

Lomba Novela

 

Eh, kenapa? Nama saya nggak ada? Ada kok. Tuh! Coba deh baca lebih teliti.

Nggak ada juga? Nggak ada nama “Adham T. Fusama” di sana?

Ya iyalah, wong yang ditulis di sana adalah nama asli saya. Bwahahahaha. #Ditabok

Terus, siapa dong nama asli saya? Hayo ditebak, biar seru! Hahahaha! #DiamukMassa

Yah, tidak perlu memusingkan nama asli saya. Lebih baik nantikan novelanya terbit, ya. Jangan lupa dibeli! Kalau perlu diborong sekalian, buat hadiah Lebaran ke sanak keluarga dan sahabat. Hehehe.

Anyway, saya jadi teringat akan sesuatu. Bagi sebagian orang, barangkali kemenangan saya ini tidaklah istimewa—apalagi saya bukan pemenang pertamanya. Tapi, saya tidak begitu peduli apakah saya juara 1 atau tidak. Bagi saya, lomba ini sedikit spesial, karena pada satu kesempatan ini, saya bisa “mengalahkan” Teteh Langit Amaravati.

Saya berkenalan dengan Teh Langit jauh sebelum dia menggunakan nama pena kece tersebut. Dulu dia masih menggunakan nama pena Sky-whatever. Hahaha. Perkenalan kami terjadi 3-4 tahun yang lalu di sebuah situs komunitas kepenulisan. Dulu, saya yang sedikit lebih muda (sekarang masih tetap muda dan awet muda) begitu percaya diri dengan kemampuan menulis saya. Cerpen-cerpen saya banyak menuai pujian dari teman-teman saya.

Teh Langit adalah orang pertama yang bersikap brengsek dengan memberi kritikan pedas pada karya-karya yang saya posting di situs tersebut. Semua kelemahan tulisan saya dibeberkan sampai ke dasarnya, mulai dari typo, EYD yang berantakan, plot yang buruk, logika cerita yang meleset, hingga keamatiran saya yang lebih mementingkan style over substance dalam cerita.

Intinya, Teh Langit itu orang yang lancang. Belum juga kenalan sudah ngoceh soal kesalahan-kesalahan orang lain. Awalnya, sudah tentu ada rasa panas dan kesal di dalam hati. Baru kali ini ada orang yang tidak memuji karya saya. Tapi… baru kali ini juga ada orang yang mau bersusah-payah membedah karya saya hingga ke tulang-tulangnya.

Dari yang marah karena dikritik seperti itu, saya malah jadi kerajingan berlatih menulis. Bahkan dalam beberapa kesempatan, saya sengaja menulis hanya supaya bisa dibilang “bagus” oleh Teh Langit. Dari sanalah hubungan kami kemudian terjalin. Entah bagaimana menamakan hubungan kami tersebut. Sesekali rekan, seringkali guru-murid, lebih sering lagi sebagai partner cela-celaan, dan yang pasti nggak ada mesra-mesraan.

Kendati hubungan kami cukup dekat, nyatanya sampai sekarang jarang sekali saya mendapat pujian dari dia. Tapi, ah, mungkin memang kalibernya juga berbeda. Saya cuma penulis debutan, sementara Teh Langit sudah meraih titel salah satu Selected Ubud Writer di event UWRF 2013.

Singkatnya, dibandingkan dengan Teh Langit, saya masih jauuuh di belakangnya. Tak peduli seberapa cepat saya berlari, Teh Langit selalu ada di depan. Jadi, sewaktu Teh Langit ikut mengirim novelanya ke Lomba Menulis Novela—bahkan novelanya juga ber-genre thriller—saya bersedia bertaruh kalau Teh Langit akan mendapatkan satu kursi juara.

Menanggapi kurangnya rasa percaya diri saya itu, Teh Langit cuma bilang “Setiap naskah punya jodohnya masing-masing. Siapa tahu kali ini justru naskah lo yang ketemu jodohnya.” Saya sih cuma terkikik menanggapinya. “Pft, yeah right. Dengan lo sebagai salah satu peserta, kans gue sama aja dengan nol, Teh. Hahaha.”

Hanya saja, kali ini Teh Langit benar lagi. Setiap naskah memang punya jodoh (penerbit) masing-masing. Kemarin, naskah saya lah yang bertemu dengan jodohnya, membuat saya terkaget-kaget. Terlebih saat tahu kalau nama Teh Langit justru tidak ada di sana.

Itulah alasan kenapa momen kemarin begitu spesial bagi saya. Bukan karena hadiahnya, melainkan pada kesempatan kali ini, bolehlah kiranya saya mengatakan kalau pada akhirnya saya bisa melampaui “guru” saya tersebut pada lomba menulis.

Kepada Teteh Langit Amaravati, kali ini, izinkan saya terbang meninggalkanmu di belakang. Pada kesempatan lain, mungkin saya akan kembali mengagumi punggungmu dari belakang.

 
@AdhamTFusama