Petualangan Adham Menerbitkan Bukunya—Bagian 2: Rahasia di Balik Penerbit


Baca kisah sebelumnya: Rahasia di Balik Galau.

 

Saya bangun keesokan harinya dengan antusiasme tinggi, cenderung norak. Mirip pemuda canggung yang hendak pergi ke kencan pertama dengan pacar pertamanya. Mandi bersih sampai wangi, pakai body lotion yang selama ini awet sampai dua tahun tidak habis-habis karena jarang banget dipakai, pakai minyak wangi bokap yang mahal, dan lain sebagainya.

Bahkan motor pun saya cuci bersih, padahal kecil kemungkinan editor akan memerhatikan motor saya, apalagi membicarakan soal naskah sambil dibonceng. Tapi, ya sudahlah. Biar kelihatan kinclong. Maka, pukul sebelas pun saya berangkat ke Jagakarsa. Untungnya saya cukup hafal daerah di sana, sehingga tidak terlalu kesulitan menemukan kantor Mokamedia yang ngumpet di balik pagar tanaman yang rimbun. Kantornya yang seperti rumah pun bisa jadi mengecoh banyak orang, mengira itu rumah tinggal biasa.

Setelah memarkirkan motor di halamannya yang luas dan asri, saya langsung masuk untuk menemui Mbak Dyah Rinni, editor Mokamedia yang kemarin mengontak saya via e-mail. Iya, kalian tidak salah baca! Mbak Dyah Rinni yang itu! Yang bukunya Unfriend You hobi mejeng di rak Best Seller toko buku itu! I know! How cool is that, right?

Selain dengan Mbak Dyah, saya pun berkenalan dengan editor lainnya, seperti Mbak Fisca, Mas Dedik, dan Mas Dea (yup, “Mas”, so please stop call him “Mbak”).

Di luar dugaan, para editor dan staf Mokamedia konyolnya minta ampun. Saya bahkan sempat dikerjain oleh Mas Dedik. Dia bertanya apa saya kenal A.S. Laksana. Saya jawab, saya tahu nama A.S. Laksana. Tapi, saya kaget sewaktu Mas Dedik bilang “Tuh orangnya,” sembari menunjuk ke arah meja Pimred. Di sana—duduk dalam diam, ngumpet di balik mejanya yang memang agak terhalang partisi—ada Mas A.S. Laksana.

Saya langsung malu luar biasa karena tadi membicarakan tentang beliau ternyata orangnya sudah ada di belakang saya, mesem-mesem, sementara editor lainnya tertawa melihat ekspresi saya.

Untungnya, setelah itu saya tidak dikerjain lagi—dan akhirnya selalu waspada jika Mas Dedik ada di dekat saya. Saya dan Mbak Dyah segera asyik mendiskusikan naskah saya Rahasia di Balik Hujan. Rasanya menyenangkan mendapat feedback dari orang lain, apalagi dari seorang editor. Banyak sekali komentar serta saran-saran yang diberikan.

Awalnya, saya banyak memasukkan adegan-adegan cinta ala remaja di naskah itu. Namun, setelah mendapat masukan, porsi adegan-adegan tersebut saya pangkas, supaya ada ruang untuk memperkuat chemistry antartokoh, serta membangun intensitas konflik agar klimaksnya lebih nendang lagi. Mbak Dyah juga menyarankan agar saya membaca buku atau menonton film yang ceritanya senada dengan cerita saya itu.

Tanpa terasa, dua jam kami bercengkerama. Sebenarnya masih ingin berlama-lama di sana, mengobrol soal buku, penulis, dan lain sebagainya. Tapi tidak apalah. Saya pulang dengan gembira, membawa oleh-oleh revisi naskah yang perlu diperbaiki. Saya diberi deadline sebulan.

Sebenarnya saya percaya diri bisa menyelesaikan revisi sebelum tenggat waktu yang ditentukan. Nyatanya, proses gonta-ganti adegan, bongkar-pasang dialog, dan tambal-sulam cerita menyita waktu lebih lama dari dugaan saya. Malah, saya memakan waktu satu bulan lebih beberapa hari untuk menyelesaikannya.

Hasil revisi saya kirim lagi ke surel Mbak Dyah. Seminggu kemudian, saya mendapat surel balasan lagi, kali ini dari Mbak Fisca yang akan menjadi editor saya. Ketika saya bertandang kembali ke kantor Mokamedia untuk membahas kelanjutan proses editingnya, pahamlah saya mengapa Mbak Fisca yang dipilih untuk mengurus naskah saya. Dia fans berat novel-novel thriller dan misteri sehingga dia yang paling tepat untuk membidani naskah saya ini.

 

Selfie Session with J. Fisca

Selfie Session with J. Fisca

 

Diskusi kedua saya di kantor Mokamedia berlangsung lebih seru, karena sekarang saya membicarakan naskah dengan dua editor sekaligus. Mbak Fisca yang sekarang menjadi editor saya, sekaligus Mbak Dyah yang sebelumnya memberi masukan-masukan berarti. Lebih-lebih, kami juga membahas soal menyenangkan lainnya, seperti konsep desain kover.

Asyiknya lagi, kali ini saya pun bisa berlama-lama di kantor Mokamedia karena hujan turun. Alhasil, saya malah menggerecoki para editor yang seharusnya bekerja. Dan, saya pikir, Mas A.S. Laksana sedang keluar namun rupanya tidak. Saya kaget begitu melihat dia nongol dari balik meja, menutup jendela di sebelah meja, kemudian tidur lagi di belakang mejanya.

Saya sampai terbengong-bengong dibuatnya. Itu… tadi… pemandangan yang absurd.

Tapi, itu belum apa-apa. Saya benar-benar dibuat terpana oleh beliau pada pertemuan kami berikutnya. Penasaran? Tunggu bagian selanjutnya, ya?

 

Bersambung

Next: Epic discussion with A.S. Laksana. Plus, an epic selfie session with editors! Don’t you dare to miss it!

@AdhamTFusama

 

 

The Day The Surprise Makes Me Stood Still


Sering kali dalam hidup kita berpapasan dengan sesuatu yang tak terduga. Entah karena kita tidak mengharapkannya, atau memang tidak memikirkannya. Itulah yang terjadi pada saya kemarin. Saat sedang asyik-asyiknya membaca resensi buku di Goodreads, saya mendapat notifikasi Twitter dari teman saya. Dia bilang, saya menjadi salah satu juara favorit Lomba Menulis Novela yang diadakan Gramediana.com.

Jantung saya mencelos membacanya. Untuk sepersekian detik saya bingung, saya menenangkan apa? Barulah saya sadar kalau saya pernah mengirimkan novela untuk mengikuti lomba itu. Saya malah sedikit lupa pernah mengirimkannya. Hahaha.

Masih setengah percaya, saya segera mengakses internet lewat komputer. Ternyata benar. Saya langsung lemas dibuatnya. Bagaimana tidak? Bagi orang yang jarang sekali memenangkan sesuatu, saya sudah kadung akrab dengan yang namanya kekalahan. Lomba terakhir yang saya menangkan barangkali Juara 3 Pidato Bahasa Inggris di SMP. Itu pun saya tidak ingat apakah saya menang atau tidak. Kalau tidak, artinya lomba terakhir yang saya menangkan adalah Juara 1 Menggambar se-Kecamatan saat SD. Itu pun gara-gara disuruh berlaku curang oleh guru sendiri. Hahahaha.

Jadi, siapalah saya yang menginginkan kemenangan itu? Bulan lalu, saya mengirimkan naskah novela ke panitia dengan semangat iseng-iseng berhadiah. Pengharapan untuk mendapat juara benar-benar hanya secuil di hati saya. Apalagi banyak teman-teman saya yang ikut serta. Tapi, rupanya Tuhan berkehendak lain.

Lagi-lagi, saya diberi hadiah yang menyenangkan oleh-Nya. Padahal, baru kemarin saya diberi hadiah berupa penerbitan novel kedua. Entah kenapa, saya sedikit ngeri karena mendapat anugerah yang bertubi-tubi seperti ini. Bukan apa-apa, saya takut terlalu terlena oleh nikmat yang diberikan sehingga lupa bersyukur. Naudzubillah.

Tapi, yah, mustahil kalau saya menolak rezeki seperti ini, kan? Dan, hanya hamdallah yang bisa saya ucapkan berkali-kali, berharap rezeki ini adalah rezeki yang baik buat saya serta keluarga. Itulah sekecil-kecilnya yang bisa saya lakukan untuk mensyukuri pemberian dari Tuhan.

Nah, berikut adalah daftar para pemenang lainnya. Nama saya nyempil di antara nama-nama keren 7 orang peraih Juara Favorit.

 

Lomba Novela

 

Eh, kenapa? Nama saya nggak ada? Ada kok. Tuh! Coba deh baca lebih teliti.

Nggak ada juga? Nggak ada nama “Adham T. Fusama” di sana?

Ya iyalah, wong yang ditulis di sana adalah nama asli saya. Bwahahahaha. #Ditabok

Terus, siapa dong nama asli saya? Hayo ditebak, biar seru! Hahahaha! #DiamukMassa

Yah, tidak perlu memusingkan nama asli saya. Lebih baik nantikan novelanya terbit, ya. Jangan lupa dibeli! Kalau perlu diborong sekalian, buat hadiah Lebaran ke sanak keluarga dan sahabat. Hehehe.

Anyway, saya jadi teringat akan sesuatu. Bagi sebagian orang, barangkali kemenangan saya ini tidaklah istimewa—apalagi saya bukan pemenang pertamanya. Tapi, saya tidak begitu peduli apakah saya juara 1 atau tidak. Bagi saya, lomba ini sedikit spesial, karena pada satu kesempatan ini, saya bisa “mengalahkan” Teteh Langit Amaravati.

Saya berkenalan dengan Teh Langit jauh sebelum dia menggunakan nama pena kece tersebut. Dulu dia masih menggunakan nama pena Sky-whatever. Hahaha. Perkenalan kami terjadi 3-4 tahun yang lalu di sebuah situs komunitas kepenulisan. Dulu, saya yang sedikit lebih muda (sekarang masih tetap muda dan awet muda) begitu percaya diri dengan kemampuan menulis saya. Cerpen-cerpen saya banyak menuai pujian dari teman-teman saya.

Teh Langit adalah orang pertama yang bersikap brengsek dengan memberi kritikan pedas pada karya-karya yang saya posting di situs tersebut. Semua kelemahan tulisan saya dibeberkan sampai ke dasarnya, mulai dari typo, EYD yang berantakan, plot yang buruk, logika cerita yang meleset, hingga keamatiran saya yang lebih mementingkan style over substance dalam cerita.

Intinya, Teh Langit itu orang yang lancang. Belum juga kenalan sudah ngoceh soal kesalahan-kesalahan orang lain. Awalnya, sudah tentu ada rasa panas dan kesal di dalam hati. Baru kali ini ada orang yang tidak memuji karya saya. Tapi… baru kali ini juga ada orang yang mau bersusah-payah membedah karya saya hingga ke tulang-tulangnya.

Dari yang marah karena dikritik seperti itu, saya malah jadi kerajingan berlatih menulis. Bahkan dalam beberapa kesempatan, saya sengaja menulis hanya supaya bisa dibilang “bagus” oleh Teh Langit. Dari sanalah hubungan kami kemudian terjalin. Entah bagaimana menamakan hubungan kami tersebut. Sesekali rekan, seringkali guru-murid, lebih sering lagi sebagai partner cela-celaan, dan yang pasti nggak ada mesra-mesraan.

Kendati hubungan kami cukup dekat, nyatanya sampai sekarang jarang sekali saya mendapat pujian dari dia. Tapi, ah, mungkin memang kalibernya juga berbeda. Saya cuma penulis debutan, sementara Teh Langit sudah meraih titel salah satu Selected Ubud Writer di event UWRF 2013.

Singkatnya, dibandingkan dengan Teh Langit, saya masih jauuuh di belakangnya. Tak peduli seberapa cepat saya berlari, Teh Langit selalu ada di depan. Jadi, sewaktu Teh Langit ikut mengirim novelanya ke Lomba Menulis Novela—bahkan novelanya juga ber-genre thriller—saya bersedia bertaruh kalau Teh Langit akan mendapatkan satu kursi juara.

Menanggapi kurangnya rasa percaya diri saya itu, Teh Langit cuma bilang “Setiap naskah punya jodohnya masing-masing. Siapa tahu kali ini justru naskah lo yang ketemu jodohnya.” Saya sih cuma terkikik menanggapinya. “Pft, yeah right. Dengan lo sebagai salah satu peserta, kans gue sama aja dengan nol, Teh. Hahaha.”

Hanya saja, kali ini Teh Langit benar lagi. Setiap naskah memang punya jodoh (penerbit) masing-masing. Kemarin, naskah saya lah yang bertemu dengan jodohnya, membuat saya terkaget-kaget. Terlebih saat tahu kalau nama Teh Langit justru tidak ada di sana.

Itulah alasan kenapa momen kemarin begitu spesial bagi saya. Bukan karena hadiahnya, melainkan pada kesempatan kali ini, bolehlah kiranya saya mengatakan kalau pada akhirnya saya bisa melampaui “guru” saya tersebut pada lomba menulis.

Kepada Teteh Langit Amaravati, kali ini, izinkan saya terbang meninggalkanmu di belakang. Pada kesempatan lain, mungkin saya akan kembali mengagumi punggungmu dari belakang.

 
@AdhamTFusama

Petualangan Adham Menerbitkan Bukunya—Bagian 1: Rahasia di Balik Galau


Sebulan belakangan ini saya jadi hobi bertandang ke kantor Mokamedia di Jagakarsa, Jakarta. Itu karena naskah saya yang berjudul Rahasia di Balik Hujan rencananya akan diterbitkan oleh mereka dalam waktu dekat. Terus terang, sampai sekarang pun saya masih tidak percaya kalau naskah saya yang satu ini mendapat peruntungan untuk diterbitkan dalam waktu yang relatif singkat.

Saya masih ingat beberapa bulan sebelumnya saya patah hati gara-gara cinta, yang akhirnya membuat saya hiatus di sosial media selama beberapa bulan (ya, silakan tertawa sepuasnya 😀 ). Saya hidup bagaikan biarawan yang lebih banyak menyepi dari dunia maya ketimbang meng-update status atau membanjiri Twitter dengan kicauan-kicauan tak berarti.

Akhirnya, demi mengisi waktu luang, saya mulai menulis lagi. Dalam waktu tiga bulan saja saya berhasil merampungkan Rahasia di Balik Hujan—memecahkan rekor pribadi sebagai waktu tersingkat untuk menyelesaikan sebuah novel. Ceritanya sendiri tentang seorang murid baru bernama Anggi yang terobsesi pada si tokoh utama, Pandu, yang baik hati, ramah, dan perhatian. Obsesi ini tidak berjalan mulus sebab Pandu sudah memiliki seorang pacar, yakni Nadine.

Masa-masa dilanda galaunya cinta saya manfaatkan untuk menuangkan cerita yang bittersweet ke novel ini, meski tentu saja novel ini hanyalah fiksi belaka, sama sekali tidak ada kaitannya dengan kisah cinta saya (ini perlu dicatat). Kendati demikian, setelahnya, semua beban di hati jadi lebih enteng sebab saya sudah menumpahkan segalanya ke medium tulisan. Saya pun akhirnya bisa kembali ke ranah sosial media untuk menyapa teman-teman di sana.

Setelah menyelesaikan draf cerita, saya masuk proses pengeditan. Sembari melakukannya, saya menawarkan beberapa teman saya untuk menjadi pembaca pertama. Salah satunya adalah Umroh “Ummi Hinata” Sihaloho, yang ternyata merupakan anggota Dewan Pertimbangan Naskah di Mokamedia. Dia menyukai naskah saya itu dan menyarankan saya untuk mengirim ke sana. Saya menurut saja, siapa tahu rezeki, walau saya sudah mengirimkan naskah itu ke beberapa penerbit.

Selanjutnya adalah permainan menunggu dan meneror. Selagi menunggu kepastian dari penerbit yang satu, saya meneror penerbit yang lainnya dengan menawarkan naskah saya. Saya ingat waktu itu hari Rabu, 26 Maret 2014. Hari itu saya berniat mencetak naskah untuk saya kirimkan. Sialnya, kompleks rumah malah kebagian giliran pemadaman listrik. Padahal, saya tinggal mentransfer file naskah di komputer ke USB, di tengah proses malah mati lampu. Alhasil proses pun gagal, membuat saya uring-uringan.

Bagaimana tidak? Rencana saya menge-print naskah gagal seketika. Apalagi listrik padam sampai setengah empat sore. Hari saya semakin buruk sewaktu mendapat e-mail dari salah satu penerbit yang menolak naskah saya. Saya hanya bisa menarik napas membacanya. Satu lagi penolakan, batin saya, membuat penerbit tersebut resmi masuk ke dalam daftar “penerbit major yang kelak akan menyesal karena pernah menolak naskah saya”. Hahaha.

Namun, dengan segera saya melupakan e-mail itu. Karena sudah kebal oleh penolakan, saya tidak ambil pusing dan kembali menunggu pihak PLN berbaik hati mengalirkan listrik ke rumah. Begitu listrik menyala, saya buru-buru mengambil file lalu ngebut ke daerah Kampus Dalam, IPB Dramaga. Saya memang biasa menge-print naskah di salah satu tempat print di sana. Alasannya karena tempat print di kawasan kampus jauh lebih murah.

Saya berhasil sampai sebelum tempatnya tutup. Naskah selesai di-print, saya pulang, dan hujan pun turun. Saya sampai rumah dalam keadaan lepek dan muka kusut, mirip kucing yang kesal karena dibanjur air. Untungnya hardcopy naskah tidak kebasahan.

 

Angry Wet Cat

 

Baru saja masuk ke dalam rumah, smartphone saya berdering, memberitahu kalau ada e-mail yang masuk. Lagi-lagi e-mail dari penerbit, kali ini dari Mokamedia. Lagi-lagi penolakan naskah, begitu pikir saya.

Namun, saya salah. Saya sampai terbelalak dan perlu membaca isi surel itu dua-tiga kali untuk memastikan kalau saya tidak salah baca. Bagaimanapun juga, saya tidak mau ke-ge’er-an. Tetapi, berkali-kali dibaca pun isinya tetap sama.

 

Email Moka

 

Saya tidak percaya! Ada juga penerbit yang cukup gila menerima naskah saya! Keselak apa editornya sampai sudi mengirimkan kabar suka seperti itu? Apalagi, baru bulan lalu saya mengirimkan naskah itu kepada mereka, dan saya sudah mendapat jawabannya? Mimpi apa saya kemarin? Padahal, biasanya saya perlu menunggu sampai 4-5 bulan. Bahkan pernah saya menunggu 9 bulan tapi tidak hamil-hamil juga hanya untuk mendapat kabar penolakan nan pahit. Ini beneran? Bukan penipuan, kan?

Saya perlu menenangkan diri, tidak mau loncat-loncat seperti ABG dengan hormon yang sedang menggelegak. Hanya saja, saya tidak bisa menahan senyum gembira di wajah. Sambil mesem-mesem jelek, saya membalas e-mail tersebut, bilang saya siap datang kapan saja. Kalau perlu, besok pun saya sambangi kantor Mokamedia karena sudah tidak sabar untuk mengetahui nasib naskah saya yang sebenarnya.

Ya, bisa saja kan saat saya sudah sampai di sana lalu editornya bilang “Naskah kamu jelek, kami tolak ya!” lantas dia tertawa kencang seperti bos mafia di film-film Hongkong? Oke, itu memang pikiran buruk saya, tapi siapa tahu, kan?

Meski demikian, tetap saja, malam itu saya tak ubahnya remaja yang sedang jatuh hati. Ke mana-mana senyam-senyum sendirian, membuat adik-adik saya memberi tatapan was-was dan curiga. E-mail itu saya buka-buka lagi, saya baca-baca lagi, bikin saya ketawa-ketawa lagi. Saya membacanya di kamar, di toilet, di ruang makan, di rumah tetangga, di mana-mana. Rasanya, surel itu menjadi candu sehari bagi saya.

Apa pun yang terjadi keesokan harinya, setidaknya malam itu saya sedang bahagia….

 

Bersambung.

Berikutnya: petualangan saya ke kantor Mokamedia (Plus foto-foto narsis bareng editor). 

@AdhamTFusama