Perubahan Itu Ada di Tangan Kita! #SayNoToGolput


Bertolt Brecht

Buta Politik

Beberapa hari yang lalu saya sempat membaca artikel berbahasa Inggris tentang pemilu, kondisi bangsa, dan kritik kedua kandidat yang diusung menjadi presiden. Artikelnya sangat bagus. Narasumbernya adalah seorang akademisi cerdas yang—dari jawaban-jawabannya—tahu serta mengerti dengan keadaan bangsa saat ini. Akan tetapi, semua berubah ketika negara api menyerang di akhir wawancara dia ditanya akan memilih siapa untuk menjadi presiden. Sambil tertawa, dia menjawab kalau dia golput karena di matanya tidak ada kandidat yang pantas untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapi bangsa ini.

Seketika, saya langsung merasa telah menyia-nyiakan waktu saya untuk membaca artikel tersebut. Semua jawaban-jawaban keren dan bernas yang dia berikan sebelumnya langsung berubah menjadi omong-kosong belaka. Oh ya, dia memang tahu dan mengerti dengan keadaan bangsa, tapi ternyata dia tidak mau tahu dengan bangsa ini. Ibarat melihat ada kebakaran, dia tahu apa penyebab kebakaran di depan matanya, juga tahu bagaimana cara-cara yang bisa diambil untuk memadamkannya. Tapi, dia memilih untuk tidak melakukannya. Dia memilih untuk diam dan mengamati saja.

Kemudian, di salah satu media sosial, salah satu teman saya memposting gambar satiris yang menyindir kalau siapa pun presidennya, tidak akan ada banyak pengaruh pada kehidupan pribadi. Saya lebih kaget lagi ketika mendapati kalau ternyata banyak juga teman saya yang memilih untuk golput.

Seriously guys? Hari gini masih golput?

 

Golput atau “Golongan Putih” biasa diasosiasikan sebagai golongan orang-orang yang tidak menggunakan hak suaranya saat pemilu. Pada masa Orde Baru, golput merupakan bentuk perlawanan pada rezim. Toh, pada zaman itu, kita memberikan suara atau tidak hasilnya sama saja. Tetap Soeharto yang akan naik sebagai presidennya.

Tapi, sekarang zaman sudah beda. Reformasi sudah berjalan lebih dari 15 tahun. Oke lah, di awal-awal masa reformasi, kita masih cemen sehingga sistem reformasi kita masih berantakan. Tapi, masa sih kita pengen cemen terus-terusan?

Jadi, buat saya pribadi, sekarang golput itu bukan lagi bentuk perlawanan melainkan bentuk ketidakpedulian. Bagi saya, orang yang masih bisa bilang “siapa pun presidennya, hidup gue nggak bakal banyak berubah” itu adalah orang egois yang cuma memikirkan dirinya sendiri. Terlebih, apa orang-orang seperti mereka tidak sadar kalau setiap pemimpin memberi pengaruh pada rakyatnya?

Contoh saja, seorang pemimpin memutuskan untuk menaikkan harga BBM. Harga bensin naik, ongkos kendaraan umum naik, ongkos distribusi naik, harga-harga keperluan sehari-hari naik, dan gaji kita pun semakin sebentar mampir ke rekening dan dompet. Itu baru BBM, belum hal-hal yang lainnya.

Dulu, saya juga sempat skeptis seperti itu. Di saat orang-orang pada berteriak protes harga premium naik menjadi Rp 6.500, saya sempat berkata dengan sombongnya “Ah, baru juga naik dua ribu. Nggak ada pengaruhnya.” Ternyata saya salah besar. Tuhan “menyentil” kesombongan saya itu dengan menangguhkan rezeki saya. Alhasil, sekarang saya ingin sekali menangis meraung-raung karena uang saya seringkali hanya pas-pasan untuk membeli bensin 2 liter. Dulu, saya bisa membeli 2 liter bensin dengan uang Rp 9.000. Sekarang, mana bisa?

Masih tidak ada pengaruhnya dengan kehidupan kita? Look closer, guys!

Kalau kita memilih pemimpin yang salah, bukan mustahil harga BBM akan naik lagi. Dan, sebagai seorang penulis—percaya atau tidak—harga BBM juga berpengaruh pada saya. Harga bensin naik, ongkos cetak naik, ongkos distribusi naik, harga buku naik, minat baca dan minat beli masyarakat turun, dan nasib penulis seperti saya pun semakin memprihatinkan. Sekarang saja, di mana harga buku saya cuma Rp 30.000-an, sudah banyak orang-orang yang minta buku secara gratisan! Apa kata dunia, kalau harga buku saya naik misalnya sampai Rp 90.000-an?

Itu cuma contoh kecil saja. Masih banyak contoh-contoh lainnya. Yang jelas, kebijakan-kebijakan pemimpin pasti ada pengaruhnya terhadap masyarakat luas. Kebijakan yang salah dari pemimpin yang salah cuma akan menyengsarakan kita semua.

Dan, kalian tidak akan bisa mencegah “pemimpin yang salah” melakukan kebijakan yang salah, kalau kalian membiarkannya untuk menjadi pemimpin. Mana bisa kita menciptakan perubahan kalau kalian tidak terlibat untuk mengusahakannya? Mana bisa kita menciptakan perubahan kalau kita cuma menonton saja, cuma berharap dan berdoa tapi tidak melakukan apa-apa?

Percaya deh! Sekarang suara kalian ada pengaruhnya. Suara kalian ciptakan perbedaan. Siapa pun yang kalian pilih nanti, bukan Soeharto lagi yang akan naik jadi Presidennya. Siapa pun pemimpin yang kalian pilih, pilihan kalianlah yang punya kesempatan untuk bekerja membawa perubahan. Apalagi sekarang kandidatnya cuma dua. Satu suara dari kita pasti berpengaruh dan menentukan arah masa depan bangsa.

 

Ah, tapi gue skeptis, Dham. Presiden A cuma bisa wacana, presiden B kerja belum kelar udah mau jadi presiden. Kayaknya ngecewain dua-duanya.

Ya elah, bro. Masih muda aja lo udah skeptis dan pesimis. Di dunia ini, mana ada manusia yang sempurna? Kandidat calon presiden juga tidak sempurna. Mereka punya kelemahan dan kelebihan masing-masing. Tinggal lo pilih aja yang menurut lo lebih berpotensi membawa negara ini ke arah kemajuan yang lebih baik.

Lalu kalau soal kecewa, semua orang pasti akan kecewa, dikecewakan, dan mengecewakan orang lain. Kecewa itu biasa. Tapi, masa kita takut dengan kecewa?

Berani taruhan, lo pasti pernah dikecewain pacar. Namun, apa cuma gara-gara dikecewain pacar lantas kita putus asa dan tidak percaya lagi pada kekuatan cinta? #Tsaah *Fitrop mode on*

Jawabannya tidak, kan?

Oke, serius lagi nih. Kita boleh kok merasa kecewa dengan kandidat yang ada. Tapi setidaknya kita berani untuk melawan rasa takut akan kekecewaan tersebut dengan memilih. Memilih untuk kemajuan Indonesia, sekecil apa pun kemajuan itu. Itu lebih baik ketimbang tidak berbuat apa-apa, cuma mau nonton doang, serta kelak cuma bisa ngomong dan ngeluh soal keadaan bangsa. Apa bedanya kita dengan si akademisi yang jawabannya cerdas tapi ternyata omong-kosong belaka?

Kelak mungkin kita juga akan dikecewakan oleh pemimpin pilihan kita. Wajar dan boleh-boleh saja. Toh pemimpin kita juga manusia yang tidak mungkin mampu menyenangkan semua pihak. Namun, jangan sampai hal itu membuat kita patah arang dan putus asa sehingga berhenti untuk berusaha memberikan sedikit sumbangsih untuk kemajuan negeri, sekecil apa pun itu. Kecewa itu biasa. Berani kecewa itu luar biasa.

 

Iya deh, iya. Nanti gue nyoblos. Tapi gue masih belum nentuin siapa yang mau gue pilih. Pas di TPS gue itung kancing aja deh.

Oi! Ini buat masa depan bangsa, lho! Masa mau main-main? Apa lo mau kalo masa depan lo juga hasil pilihan main-main? Misalnya, mau nggak kalo jodoh lo kelak itu hasil pilihan main-main? Hasil itung-itung kancing? Nggak, kan?

Jangan sampai kita salah pilih presiden. Pilih presiden tuh bukan kayak pilih pacar, yang kalau nggak cocok bisa diputusin bulan depan! Memangnya kalian mau menderita sampai 5 tahun ke depan? Tidak, kan?

 

Jadi, pilihlah presiden yang punya visi misi yang jelas, bukan sekadar punya wacana belaka. Pilih presiden yang track record-nya jelas bukan yang pencitraan belaka. Pilih presiden yang amanah, yang benar-benar pro-rakyat, benar-benar dari rakyat, bukan yang cuma mengatasnamakan rakyat. Pilih presiden yang siap memimpin demi bekerja untuk rakyat bukan yang cuma ingin kekuasaan. Pilih presiden yang memang mau bekerja bukan yang bilang mau bekerja tapi hanya retorika belaka.

Yang terpenting: pilih sesuai hati nurani. Jangan mendustakan nurani. Jangan sampai ada beban moral sewaktu memilih. Dan, jangan pula sampai terpengaruh oleh fitnah, kampanye hitam, atau bahkan kampanye-kampanye di timeline Facebook maupun Twitter saya. Hahaha. Yang jelas, tanggal 9 Juli 2014 nanti, datang ke TPS, gunakan suara kita semua, dan jangan lupa berdoa sebelum memilih. Ingat, golput bukan jawaban!

Dan, karena saya seorang Muslim, izinkan saya mengutip firman Tuhan, yang saya rasa sangat cocok untuk situasi saat ini:

 

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kamu, kecuali kamu itu sendiri yang mengubah apa-apa yang ada pada diri mereka.” Q.S. Ar-Raad: 11

 

Perubahan itu ada di tangan kita. Insya Allah niat baik kita untuk mengubah nasib bangsa ke arah yang lebih baik tidak akan sia-sia. Akan selalu ada harapan buat Indonesia, buat kita semua. Remember, hope is a good thing, maybe the best of things, and no good thing ever dies. – The Shawshank Redemption.

 

@AdhamTFusama

Kandidat

#Kamisan: My Wishy-Washy Thoughts: Politic, Black Campaign and Maturity Process


Wishy-washy: not having or showing strong ideas or beliefs about something; weak and not able or not willing to act (Merriam-Webster dictionary)

 

Wishy Washy

Sejak pemilu legislatif selesai, kondisi politik di Indonesia semakin “seru”. Pesta demokrasi untuk menentukan pemimpin baru negeri ini terasa panas karena hanya ada dua kandidat yang maju menjadi kandidat presiden selanjutnya. Sontak, Indonesia pun seolah terbagi menjadi 3 kubu: kubu pendukung capres A, kubu pendukung capres B, dan kubu yang netral / belum menentukan pilihan / golput / apatis / tidak peduli. Kubu pendukung capres A dan B lah yang membuat kondisi politik di Indonesia menjadi ngeri-ngeri sedap.

Karena hanya ada dua kubu yang berseteru, maka kedua pendukung pun berlomba-lomba mengampanyekan prestasi dan kehebatan capres mereka, serta sesekali (atau malah seringkali) berusaha menjegal capres lawan dengan bersenjatakan negative and black campaign. Nyaris tiap hari saya dapat temui postingan orang-orang yang tanpa ragu menyebar fitnah dan kata-kata kotor untuk menjatuhkan capres lawan. Bahkan, saking kotornya, sampai-sampai saya tidak percaya kalau mereka adalah saudara sebangsa yang barangkali tinggal bersisian dengan rumah saya.

Saya sendiri adalah salah satu pendukung kubu capres yang ada. Ini sebenarnya merupakan hal baru bagi saya. Pada pemilu-pemilu sebelumnya, saya memang menjadi pendukung capres tertentu tapi tidak secara terang-terangan. Pilihan saya tetap menjadi rahasia saya. Namun, anehnya, tahun ini saya tidak bisa bersikap seperti itu. Mungkin karena saya merasa ada sedikit harapan bagi kemajuan dan perubahan Indonesia sehingga ada keinginan untuk ikut berpartisipasi menjaga api harapan tersebut tetap hidup. Terdengar seperti pemikiran naïf barangkali, tapi silakan Anda berpikir seperti itu.

Sebagai pendukung salah satu kubu, saya memang sering menjadi juru kampanye dadakan yang tidak dibayar, dengan memposting berita-berita tentang capres pilihan saya itu. Saya berusaha menghindari black campaign. Saya tidak pernah menjelek-jelekkan capres lawan dengan kata-kata kotor, sebutan-sebutan kurang ajar, atau menyebar fitnah yang berkaitan dengan SARA. Saya yakin, saya telah bersikap demikian. Tapi, apakah saya benar-benar bersih dari black campaign? Untuk pertanyaan yang satu ini, saya ragu untuk menjawabnya.

Secara sadar, saya berusaha mencegah diri saya dari kampanye hitam. Hanya saja, saya—sadar maupun tidak sadar—pernah memposting atau share berita yang isinya “menyerang” atau “menyakiti hati” kubu lawan. Seringkali saya temui berita-berita yang gurih-gurih enyoy (bahasa apa ini?) tentang capres oposisi sehingga tangan ini gatal untuk mengklik tombol share.

Beberapa hari yang lalu, saya sempat tertampar oleh artikel-artikel yang mengkritisi negative and black campaign. Dan, dari sana pula saya menyadari kalau saya ternyata belum dewasa dalam berpolitik. Tak hanya dalam berpolitik sih sebenarnya, dalam hal lain pun saya sering merasa kalau saya belum dewasa. Saya akui masih memiliki jiwa kekanak-kanakan. Sebagai penulis, saya memang sengaja memelihara jiwa tersebut agar tetap bisa berpikir imajinatif, kreatif, dan memiliki rasa penasaran seperti anak kecil.

 

Tampar aku, Mas! Tampar!

Tampar aku, Mas! Tampar!

Tampaknya, saya masih harus berusaha menyeimbangkan kadar keduanya. Saya masih mesti belajar kapan saya harus bersikap dewasa, serta kapan saya boleh mengeluarkan jiwa kekanak-kanakan saya. Hal tersebut tidak mudah. Yang jelas, sampai saat tulisan ini diposting, bolehlah dikatakan kalau saya masih plin-plan dalam bersikap.

Tidak apalah. Saya tanggapi secara positif saja. Artinya saya masih punya kesempatan untuk belajar dan memperbaiki diri. Saya patut bersyukur untuk itu. Semoga usaha untuk mendewasakan diri ini tidak berakhir dengan kata syukur saja, tapi benar-benar saya implementasikan ke depannya.

Terakhir, karena masih dalam rangka pesta demokrasi: semoga usaha untuk memajukan Indonesia ini bukan sekadar wacana wishy-washy belaka, tapi benar-benar dapat diwujudkan secara nyata. Peace.

 

@AdhamTFusama

Tentang #Kamisan

[Resensi Buku] Dua Sosok Guru: Sebuah Pengalaman Belajar


Creative Writings

Judul                           : Creative Writing: Tip dan Strategi Menulis Cerpen dan Novel

Penulis                        : A.S. Laksana

Penerbit                     : Gagasmedia

Hlm. + Ukuran        : vi + 210 hlm; 14 x 21 cm

Terbit                          : 2013 (cetakan pertama, edisi revisi)

ISBN (13)                   : 978-979-780-681-1

Genre                          : Panduan menulis

 

Judul                           : Creative Writing: 72 Jurus Seni Mengarang

Penulis                        : Dra. Naning Pranoto, MA

Penerbit                     : PT. Primamedia Pustaka

Hlm. + Ukuran        : 168 hlm; 14 x 22 cm

Terbit                          : 2006 (cetakan kedua)

ISBN (13)                   : 978-979-696-224-2

Genre                          : Panduan menulis

 

DUA SOSOK GURU: SEBUAH PENGALAMAN BELAJAR

 

Saya adalah penulis autodidak yang belajar menulis sendiri, dengan banyak membaca, dan banyak mencoba. Selama bertahun-tahun, rumus menulis saya hanya itu. Sampai pada akhirnya di tahun 2006 saya dihadiahi sebuah buku oleh ayah saya, Judul buku itu adalah Creative Writing: 72 Jurus Seni Mengarang karya Naning Pranoto.

Bisa dibilang, buku tersebut membuka paradigma dan pengetahuan menulis saya. Saya seolah menemukan seorang guru. Di sana terangkum banyak sekali tip dan trik menulis, dimulai dari bagaimana cara mulai menulis hingga bagaimana cara mengedit karya. Ditambah pula beberapa contoh proses kreatif penulis kelas dunia, mulai dari Nadine Gordimer hingga Pearl S. Buck. Sungguh menginspirasi. Apalagi selama ini saya tidak kenal nama-nama mereka.

Jadi, bolehlah dikatakan kalau sejak saat itu, buku tersebut selalu menjadi panduan bagi saya. Lebih-lebih, buku tersebut tidak sekadar membahas bagaimana menulis karya fiksi namun juga menulis karya nonfiksi. Sejak membaca buku itu, saya ketagihan belajar dan mulai mencari-cari buku serupa. Akan tetapi, sayangnya, saya lebih banyak kecewa. Buku-buku panduan menulis lainnya terasa seperti buku teori kering belaka. Isinya tidak berbeda bahkan tidak memberi sesuatu yang baru.

Alhasil, selama bertahun-tahun cuma buku itu yang menjadi pegangan saya, sampai saya menemukan buku yang judulnya nyaris sama—Creative Writing—karya A.S. Laksana. Semula saya kurang begitu tertarik untuk memilikinya, berpikir “Ah paling isinya sama saja.” Tapi, lama kelamaan, minat saya untuk membeli semakin kuat karena banyak yang merekomendasikannya.

Saya akhirnya menyerah dan membeli buku tersebut. Begitu saya membaca isinya, saya seperti menemukan guru kedua. Sebagian isinya mungkin tidak jauh berbeda: bagaimana memulai menulis, saat menulis teruslah menulis tidak perlu mengedit dulu, bagaimana cara mengedit tulisan, disiplin dalam menulis, dan rajin membaca. Bedanya, buku panduan A.S. Laksana ini lebih memfokuskan diri pada teknik-teknik menulis fiksi, sehingga bahasannya lebih dalam dan mendetail.

Bedanya lagi, jika Naning Pranoto “mengajari” kita dengan pendekatan yang persuasif, dengan memberi contoh-contoh inspiratif dari penulis luar misalnya; maka pendekatan A.S. Laksana lebih lugas dan tegas. Misalnya saja pada bab mengatasi mood atau writer block—penyakit yang paling umum diderita penulis, terutama penulis pemula. Agar dapat terlepas dari kebuntuan, Naning Pranoto menyarankan supaya kita melakukan hal-hal yang kita sukai, seperti menonton, mengobrol, jalan-jalan, dll. Setelah mumet hilang, barulah kita menulis lagi (bab Lima Cara Mengatasi Kebuntuan). Beda dengan A.S. Laksana yang menganggap writer block itu hanya “alasan kemalasan” dan satu-satunya cara untuk mengatasinya adalah dengan disiplin menulis (bab Menulis Cepat).

Jadi, ibarat guru, Naning Pranoto adalah ibu guru yang baik hati dan penuh welas asih, sedangkang A.S. Laksana adalah bapak guru yang tegas dan seringkali disalahpahami sebagai guru galak atau “killer”.

Naning Pranoto membuat saya percaya bisa menulis dengan baik. A.S. Laksana membuat saya menyadari kekurangan-kekurangan saya. Saya bahkan sering kali merasa tersentil oleh kata-kata A.S. Laksana, seolah dia sendirilah yang sedang menyindir saya karena masih sering malas, tidak disiplin, dan lebih mementingkan style ketimbang substance di tulisan saya.

Tapi, memang begitulah gayanya. Tidak neko-neko, blak-blakan, dan seluruh yang disampaikan merupakan rangkuman pengalaman-pengalamannya sebagai penulis. Di lain pihak, Naning Pranoto menuangkan ilmunya tak cuma dari pengalaman pribadi melainkan juga hasil belajar dari pendidikan formal creative writing di luar negeri.

Buat saya, kombinasi keduanya begitu sempurna. Membuat saya merasa seperti memiliku dua sosok guru yang saling melengkapi. Buku keduanya jelas akan menjadi panduan saya sampai bertahun-tahun lamanya. Dan, saya yakin mereka akan tetap menjadi panduan saya meski kelak saya bertemu lagi dengan “guru-guru” baru di sepanjang perjalanan saya menjadi penulis.

 

Tanda Tangan A.S. Laksana

 

Penilaian:

Creative Writing: Tip dan Strategi Menulis Cerpen dan Novel: 4/5

Creative Writing: 72 Jurus Seni Mengarang: 4/5

@AdhamTFusama

 

Petualangan Adham Menerbitkan Bukunya—Bagian 3: Laksana Menyelam Bersama A.S. Laksana


Baca kisah sebelumnya: Rahasia di Balik Penerbit.

 

Saya sama sekali tidak menyangka bisa duduk berhadap-hadapan dengan Mas A.S. Laksana—atau Mas Sulak, begitulah orang-orang biasa memanggil beliau—untuk mendiskusikan soal naskah saya. Saya sempat menyangka kalau saya sedang berhalusinasi waktu mendapat message BBM dari Mbak Fisca yang bilang Mas Sulak mau bicara dengan saya. Bagaimanapun—dan dari sudut mana pun—membayangkan sastrawan sekaliber Mas Sulak rela meluangkan waktu untuk membaca dan membicarakan naskah ecek-ecek saya itu rasanya tetap saja seperti mimpi.

Jadi, bisa dibayangkan bagaimana gugupnya saya ketika menuju ke kantor Mokamedia untuk yang ketiga kalinya. Saya terus mewanti-wanti diri saya untuk tidak terlihat konyol di hadapan beliau. Saya tidak mau Mas Sulak malah menyesal karena sudah bersedia menerima naskah saya untuk diterbitkan. Saya pun tahu, kalau Mas Sulak dan tim editornya punya agenda untuk memperbaiki naskah saya. Maka, saya datang ke Mokamedia dengan mental mau belajar, mau mendengarkan saran dan kritik, serta bersedia untuk menerima perbaikan-perbaikan.

Nyatanya, sulit sekali bersikap tidak konyol di depan beliau. Saya sempat mengalami star struck. Otak saya berteriak-teriak heboh, “OMG! OMG! OMG! DHAM! Lo ngobrol ama Mas Sulak! Sastrawan yang itu lho! Minta tanda tangan! Minta tanda tangan!” Untungnya saya tidak sampai berlaku norak seperti para Twiboy saat bertemu Cherrybelle.

Begitu sesi diskusi dimulai, tanpa basa-basi Mas Sulak mengomentari konsep naskah saya. Beberapa bagian dikritiknya karena tidak perlu, sebagian disarankan untuk diubah. Saya sempat gelagapan (inilah noraknya saya) karena saya masih dalam kondisi star struck tapi tiba-tiba langsung disuguhi komentar-komentar lugas. Juga karena banyak komentar-komentar beliau yang begitu di luar dugaan saya sebelumnya.

Kendati saya datang dengan kemauan untuk belajar dan menerima saran, tetap saja muncul sifat defensif untuk membela konsep cerita saya. Mungkin inilah yang dinamakan ego penulis. Apalagi saat penulis menganggap karyanya sebagai anak sendiri, pasti ada keinginan untuk membela si anak meski dia punya banyak kelemahan.

Hanya saja, orangtua yang baik tahu kapan harus membela si anak, kapan harus merelakan si anak untuk “diperbaiki”. Kalau si anak memang memiliki kesalahan, ikhlaskanlah dia untuk menerima perbaikan, kendati prosesnya tidak menyenangkan bahkan kadang menyakitkan. Dan saya ingin menjadi orangtua yang baik. Saya tidak mau kalau kelak anak saya menjadi anak yang buruk, yang dicemooh oleh pembaca yang kecewa. Mereka sudah mengeluarkan uang tapi malah mendapat cerita yang biasa-biasa saja.

Diskusi kami memang dipenuhi tarik-ulur. Tapi untungnya Mas Sulak mau bersabar menghadapi penulis yang masih hijau seperti saya. Pada akhirnya, kami mencapai kata mufakat. Dibantu pula dengan Mbak Fisca, saya beruntung karena sekarang saya merasa yakin anak saya bisa tumbuh menjadi anak yang baik. Apalagi di akhir diskusi, Mas Sulak bilang ke saya, “Jangan khawatir. Kami pastikan naskah kamu jadi bagus.”

Ah, luar biasa! Sepertinya saya memang tidak perlu mencemaskan naskah saya tersebut.

Diskusi kami akhrinya selesai, membuat saya sedih karena berakhir pula sesi mencuri ilmu dari Mas Sulak. Melalui obrolan singkat kami tersebut, saya mendapat banyak oleh-oleh dari beliau. Bagaimana cara mempertajam konsep, bagaimana memperjelas hubungan sebab-akibat, memperkuat chemistry antartokoh, mengeliminasi bagian-bagian yang tidak penting, dan lain sebagainya.

Bahkan sampai saya pulang, saya masih memikirkan dan menyerap hasil diskusi kami hari itu. Berdiskusi dengan Mas Sulak seperti diajak menyelam ke dasar laut. Saya, seperti layaknya penulis debutan lainnya, masih suka berenang-renang di permukaan, merasa sudah cukup senang bermain-main di sana. Padahal, saat kita mau menyelami sampai ke dasarnya, ada banyak hal yang bisa kita temukan. Ada banyak ilmu baru yang bisa kita dapatkan. Ada banyak inspirasi tak terduga yang bisa kita raih.

Nah, itulah yang Mas Sulak lakukan. Dengan membawa saya menyelam ke dasar, beliau ingin saya lebih memahami naskah saya. Membumikan cerita sehingga cerita saya itu tidak sekadar terapung-apung di permukaan. Dengan begitu, konsep yang saya usung pun bisa lebih tajam dan jelas.

Awalnya memang saya sedikit gelagapan dibawa menyelam seperti itu. Tapi dengan sabar, Mas Sulak membujuk saya untuk terus turun. Hasilnya luar biasa. Saya berdecak kagum begitu menemukan pemandangan baru yang menakjubkan, yang hanya bisa saya dapati jika saya menyelam ke bawah sana.

Sungguh sebuah pengalaman yang menyegarkan. Meski singkat tapi saya benar-benar senang. Semoga di lain kesempatan saya diajak menyelam lagi oleh Mas Sulak. Masih belum puas rasanya jika cuma berdiskusi 1-2 jam saja. Apalagi kalau sudah ketagihan. Hahaha.

Tak apalah. Usai bertemu dengan Mas Sulak, saya masih bisa bersenang-senang dengan editor lainnya. Malah, sebelum saya memulai sesi diskusi dengan beliau, saya sempat menyaksikan keisengan para editor Mokamedia. Dikomandoi Mas Dedik sebagai dalangnya, beberapa editor menjahili Dea yang sedang tertidur pulas. Kencang sekali tawa mereka begitu Dea masuk ke dalam perangkap, meminum kopinya yang sudah dicampur saos cabe.

Saya sampai terheran-heran, Dea itu beneran salah satu selected writer UWRF? Kok polos banget sih?

 

The Ultimate Selfie

The Ultimate Selfie. LOL. 😀

Seru-seruan berlanjut. Sebelum saya pamit, saya mengajak para editor untuk selfie bareng, berupaya untuk mengalahkan Oscar selfie yang tersohor itu. Moga-moga selfie kami juga mendapat banyak retweet. Hahaha.

 

Book Signing

Book Signing

Terakhir, saya memanjakan hasrat norak dalam diri dengan meminta tanda tangan Mas Sulak. Kebetulan saya membawa bukunya yang berjudul Creative Writing: Tip dan Strategi Menulis Cerpen dan Novel. Maka, komplit sudah oleh-oleh yang bisa saya bawa pulang.

 

OMG! OMG!

OMG! OMG!

Sekarang, saya tinggal menunggu novel saya diterbitkan. Dan, menurut kabar terakhir, judul novel saya itu diganti, dari yang semula berjudul RAHASIA DI BALIK HUJAN menjadi RAHASIA HUJAN. Saya sih tidak keberatan. Lucunya, Rahasia Hujan sebenarnya merupakan judul awal yang saya pakai. Saya mengganti judulnya menjadi Rahasia di Balik Hujan sewaktu mengirimkan naskah itu ke Mokamedia.

Jadi, nantikan novel kedua saya, Rahasia Hujan, di toko-toko buku terdekat! Jangan lupa untuk diborong, ya! Hahaha! Terima kasih untuk dukungan teman-teman semua! #BungkukkanBadan

 

***

 

P.S.: Jangan lupa kunjungi @mokabuku atau page Facebok Moka Media untuk mendapatkan info-info terkini soal novel saya, #RahasiaHujan. Atau, silakan mampir juga ke @AdhamTFusama.

 

#Kamisan – Kartu Pos dari Lampung


Akhir minggu kemarin, saya berkesempatan untuk liburan ke pantai. Sudah cukup lama saya tidak ke pantai, jadi rasanya sangat menyenangkan bisa menikmati udara laut yang payau. Pantai mana yang saya kunjungi? Jelas bukan Kuta, Sanur, Anyer, atau Pangandaran yang sangat mainstream itu. Bukan pula Phuket atau Bondi karena jelas isi kantong saya tidak mungkin sanggup membiayai perjalanan ke sana.

 

From Lampung with Love

From Lampung with Love

Saya beserta teman-teman meninggalkan pulau Jawa dan menyambangi Lampung. Di sana, kami menuju ke Pantai Laguna di daerah Kalianda, Lampung Selatan. Itulah kali pertama saya menjejakkan kaki ke pulau Sumatra. Waktu kecil saya memang pernah tinggal di Kepulauan Riau tapi baru kemarin saya berkesempatan untuk merasakan tanah pulau terbesar keenam di dunia tersebut.

Ah, tentu saja kami ke sana tidak menyewa kamar hotel atau cottage. Pft. Itu terlalu mainstream. Kami berencana untuk berkemah di pinggir pantai! Memang sih, kami jadi repot karena perlu membawa lebih banyak barang seperti tenda atau peralatan masak dan makan. But hey, it’s so much fun! Sesekali merasakan escapism total. Tak hanya pergi liburan ke tempat yang jauh dari rumah, namun juga merasakan bagaimana hidup tanpa kemewahan seperti tempat tidur, selimut, lemari es, televisi, atau koneksi internet yang mahal tapi lambat—selambat proses move on-mu dari sang mantan.

 

Laguna Beach

Laguna Beach

Sebagai gantinya, Pantai Laguna memberi kami apa yang tidak kami miliki di Bogor: bentangan pantai berpasir putih yang seksi, hamparan laut biru yang menawan, dan tanah yang bebas macet sepanjang mata memandang. Memang sih, hujan sempat menyapa tak lama setelah kami datang—membuat tenda kami kebasahan—seolah tahu kami berasal dari Kota Hujan, dan sudah merupakan takdir kami untuk berjumpa dengan hujan. Untung, setelahnya cuaca kembali sempurna. Benar-benar surga kecil di kaki pulau Sumatra.

 

(No) Stranger by the Beach

(No) Stranger by the Beach

Terlebih, berbeda dengan pantai di Jawa yang ramai dan sesak, Pantai Laguna tempat kami berlibur sepi sekali. Tidak ada penjual makanan, tidak ada penjaja pop mie atau es kelapa muda, bahkan nyaris tidak ada pengunjung lainnya sama sekali. Di sana hanya ada kami dan beberapa orang manajemen cottage rumah-rumah panggung. Kami merasa seperti memiliki pulau dan pantai pribadi. Jadi, tidak ada yang melarang kami untuk langsung berteriak-teriak girang dan berlari-lari norak ke arah laut untuk menceburkan diri ke sana.

 

Y.O.L.O.

Y.O.L.O.

Intinya, kami bebas melakukan apa saja. Dipermainkan gelombang, berguling-guling di pasir pantai, atau mengubur salah satu teman kami di pasir—menambahkan dua gundukan bulat di bagian dada dan satu gundukan lonjong-mungil di bagian bawah perut. Saat sudah lelah berbuat tolol, kami memilih duduk diam di pasir, memandang diam keindahan alam di hadapan kami. Atau, berjalan menyusuri bibir pantai, membiarkan telapak kaki setengah tenggelam di pasir basah yang dijilat-jilat debur ombak. Bayangkan betapa romantisnya adegan senja itu kalau yang menemani adalah seorang wanita, bukan pria sebaya dengan lingkar pinggang yang menyaingi lingkar pinggang saya.

 

Lomba Ganti Sempak

Lomba Ganti Sempak

Soal kenyamanan memang tidak usah dibicarakan. Untuk membersihkan diri dari air laut yang asin dan lengket saja rasanya penuh perjuangan. MCK yang kurang memadai serta air tanah yang payau membuat mandi di rumah laksana spa mewah. Makan pun kami perlu sabar menunggu karena kami cuma bawa kompor satu. Lauknya sederhana, mirip menu mahasiswa di akhir bulan. Soal rasa tidak pernah kami permasalahkan. Segigih apa pun nasi yang tersedia, selembek apa pun mi yang dihidangkan, segosong apa pun telor ceplok yang ada, kami melahapnya dengan suka cita. Sambil mengobrol dan bercanda, bahagia adalah milik kami malam itu.

Habis makan malam, saya memilih untuk tidur di luar tenda menggunakan sleeping bag. Ini adalah pengalaman pertama saya tidur di udara terbuka… and it was spectacular. Strangely, it feels so liberating.  Juga membuat bersyukur karena bisa menikmati secuil keindahan serta kebahagiaan ini. Masuk angin adalah harga yang murah untuk menikmati seluruh pengalaman yang menggugah seperti itu.

Kami melupakan sejenak seluruh beban pikiran atau kesemrawutan pekerjaan di kota. Di sana, bahagia itu begitu sederhana.  Bisa tidur di geladak ferry, bisa tertawa setelah digulung-gulung ombak, tercucuk karang, dicapit kepiting, berkumpul mengelilingi api unggun, atau membersihkan butir-butir pasir genit dari lipatan sempak… sering kali kita lupa kalau hal-hal kecil seperti itu pun bisa memberi kebahagiaan.

Begitu waktunya pulang, saya jadi merindukan itu semua. Makanya, saya berusaha untuk menikmati detik-detik perjalanan pulang semaksimal mungkin. Saat berangkat, saya tidak sempat menikmati apa-apa karena kami bertolak dari Bogor pada pukul dua belas malam. Saya memang sempat menikmati suasana pelabuhan Merak di dini hari. Apalagi, itu adalah pengalaman pertama saya menaiki ferry besar. Juga pengalaman pertama saya menaiki kapal laut setelah bertahun-tahun lamanya. Akan tetapi, selain itu, saya lebih banyak tertidur. Bangun-bangun, kami sudah berada di Lampung.

 

Hijaunya Lampung

Hijaunya Lampung

Saya baru bisa menikmati jalanan-jalanan Lampung Selatan yang lengang, bersisian dengan lahan-lahan hijau nan luas, ketika bus melaju ke pelabuhan Bakauheni. Di geladak, saya sempat menikmati momen-momen tatkala ferry kami bertolak dari pelabuhan. Perlahan-lahan, Lampung mengecil di mata kami hingga akhirnya tak terlihat lagi. Ah, entah kapan lagi saya bisa menjejakkan kaki di Pulau Sumatra.

 

Pelabuhan Bakauheni

Pelabuhan Bakauheni

Ferry kami membelah Selat Sunda laksana pisau. Saya dibuat teringat kembali oleh kegembiraan di atas kapal laut, seperti waktu saya masih kecil. Dulu, kami sekeluarga menuju ke Kepulauan Riau menggunakan kapal laut. Kegiatan paling menyenangkan selama tiga hari di kapal tentu saja menjelajahi tiap-tiap bagiannya bersama Ayah. Kenangan itu merekah kembali beberapa hari yang lalu. Saya hampir melupakan asyiknya berlayar, berlari-lari di dek, menaiki tangga-tangga besi, atau sekadar menikmati angin laut yang berembus mengacak-acak rambut.

 

Narsis di Geladak

Narsis di Geladak

Saya jadi kepikiran, barangkali inilah yang dirasakan oleh para penjelajah zaman dulu. Menyeberangi samudra biru dengan hasrat untuk menemukan tempat-tempat baru yang belum terpetakan. Menunggangi gelombang seperti itu memang menyenangkan.

 

Back to Java

Back to Java

Alhamdulillah, kami akhirnya berlabuh kembali ke Pulau Jawa dengan selamat. Meski badan ini lelah di perjalanan, hati kami dipenuhi kegembiraan. Sungguh perjalanan yang mengasyikkan serta membuat ketagihan. Tak hanya itu, beberapa hari di alam bebas membuat kami sadar kalau banyak hal di dalam hidup yang patut kami syukuri. Bisa mandi air hangat, bisa mengenakan pakaian yang bersih, bisa tidur di kasur yang empuk, di balik selimut yang nyaman, membuat kami bersyukur karena hidup berkecukupan.

So, bagi teman-teman yang ingin sesekali menjajal total escapism, atau sekadar berlibur ke pantai, atau ingin merasakan jatuh sakit akibat sunburn gara-gara kelamaan tanning seperti teman saya, cobalah sesekali bermain ke Lampung, atau ke pantai-pantai yang jarang dijelajahi sebelumnya. There are a lot of surprises waiting for you. Guarantee!

 

Goodbye Lampung

Goodbye Lampung

Akhir kata, terima kasih Lampung untuk keindahan alamnya. Semoga tetap lestari dan semoga kita bisa berjumpa lagi suatu hari nanti. 🙂

 

@AdhamTFusama

Tentang #Kamisan