Saya dan La Sastra 5


Saya masih teringat dengan keputusan nekat saya untuk menjadi anggota OSIS SMAN 5 Bogor saat duduk di kelas 2 SMA (sekarang kelas 11). Itu karena saya ingin lebih membuka diri dan menikmati masa remaja yang katanya masa terindah dalam hidup. Sebelumnya, di kelas 1 SMA, saya termasuk siswa yang tertutup. Teman pun cuma kenal segelintir. Niat untuk bergabung dengan OSIS adalah salah satu keputusan paling berani yang pernah saya ambil saat SMA, dan keputusan tersebut tidak pernah saya sesali setelahnya.

Meski harus berjuang mati-matian dalam tes masuk, saya benar-benar menikmati masa SMA begitu menjadi anggota OSIS. Saya jadi banyak kawan, melatih potensi diri, belajar banyak soal organisasi, dan belajar mengadakan acara-acara sekolah, salah satunya La Sastra 5.

La Sastra 5 adalah singkatan dari Lomba Bahasa dan Sastra SMAN 5 Bogor. Sebagai siswa yang hobi menulis sejak kecil, bagi saya La Sastra 5 adalah acara paling keren yang pernah diadakan sekolah saya. Waktu itu, saya menganggap La Sastra 5 itu seperti OzFest dunia literasi. The bad ass literary event I’ve ever involved with. Hahaha.

Kalau tidak salah, La Sastra 5 pertama kali diselenggarakan tahun 2000, namun sempat vakum dan baru diadakan lagi pada saat saya menjadi anggota OSIS. Acaranya meliputi lomba resensi novel, lomba menulis puisi, lomba membaca puisi, dan lain sebagainya.

My old self: si culun yang berharap menang lomba di La Sastra 5

My old self: si culun yang berharap menang lomba di La Sastra 5

Dulu, karena saya panitia, saya tidak bisa mengikuti lomba-lomba yang ada. Padahal, saya ingin sekali ikut lomba meresensi novel meski belum pernah meresensi apa pun. Di mata saya, lomba itu sangat menantang, bahkan sulit, mungkin sama sulitnya dengan menulis skripsi.

Tapi, ada acara yang paling saya sukai di La Sastra 5, yakni bincang-bincang dengan bintang tamunya. Saya tidak tahu bagaimana rekan panitia saya melakukannya, tapi mereka berhasil mengundang sastrawan Imam Soleh dan penulis Fira Basuki.

Foto bersama Imam Soleh dan Fira Basuki. Tebak saya yang mana! :D

Foto bersama Imam Soleh dan Fira Basuki. Tebak saya yang mana! 😀

Saya masih ingat bagaimana terkesimanya saya melihat Imam Soleh membacakan puisi di atas panggung. Semangatnya menggelora, suaranya lantang menggetarkan, entakan kakinya mungkin bisa saja merobohkan panggung. Yang jelas, Imam Soleh baru saja menampilkan pembacaan puisi paling keren yang pernah saya lihat seumur hidup. Bahkan setelah beliau selesai pun rahang saya masih sulit dikatupkan. Sungguh menggetarkan.

Dan, saya juga ingat betapa cantiknya Mbak Fira Basuki. Bisa jadi dia adalah penulis paling cantik yang pernah saya kenal waktu itu. Datang dengan pakaian nyentrik, Mbak Fira menunjukkan kalau dia memang penulis yang smart and witty. Sejak saat itu, saya jadi kerajingan membaca buku-bukunya. Jendela-Jendela, Atap, Pintu, Biru, dan Rojak saya baca semua.

Ada momen sedih ketika sesi tanya jawab dengan Mbak Fira. Saya yang dengan semangat mengacungkan tangan rupanya tidak cukup untuk menarik perhatian Mbak Fira. Padahal, saya ingin menanyakan apa-apa saja yang perlu dilakukan oleh siswa culun seperti saya untuk bisa menjadi penulis hebat sepertinya. Barangkali pertanyaan tersebut tidak akan pernah saya dapatkan jawabannya dari beliau. Hahahaha.

Tanda tangan Fira Basuki

Tanda tangan Fira Basuki

Tapi, saya tidak bersedih. Saya mendapat kesempatan buat berfoto bersama Imam Soleh dan Fira Basuki, plus mendapat tanda tangan Mbak Fira yang masih saya simpan sampai sekarang. Intinya, meski La Sastra 5 tahun itu selesai, momen-momen menyenangkan tersebut tetap saya ingat sampai sekarang.

Bahkan, saya sempat punya mimpi muluk untuk cepat-cepat jadi penulis biar kelak bisa diundang ke acara La Sastra 5. Waktu saya bilang, “nanti gue pengen jadi bintang tamu di La Sastra 5, ah!” teman saya cuma tertawa kecil dan menepuk punggung saya—antara mengamini perkataan saya sekaligus menaruh rasa iba pada saya yang terlalu sering mengalami delusi. Hahaha.

Tapi, siapa yang menyangka kalau mimpi muluk tersebut ternyata bisa menjadi kenyataan?

Setelah bertahun-tahun gagal menjadi penulis, setelah daftar penerbit yang pernah menolak naskah saya bertambah panjang, setelah melewati pahit-manisnya menerbitkan novel sendiri, akhirnya saya berhasil juga menjadi penulis yang novelnya diterima penerbit besar.

Saya masih ingat waktu mendapat 10 eksemplar buku lepas yang khusus diberikan penerbit untuk penulisnya, saya langsung menyisihkan 1 eksemplar Rahasia Hujan buat perpustakaan SMAN 5 Bogor. Tahun sebelumnya saya juga menyumbangkan novel pertama saya untuk sekolah tercinta.

Guru-guru saya dan Rahasia Hujan

Guru-guru saya dan Rahasia Hujan

Kalau tidak salah, hari Jumat saya mampir ke SMA saya itu dengan niat menyumbangkan buku sekaligus silaturahmi dengan guru-guru saya di sana. Kata orang, silaturahmi membuka pintu rezeki. Hari itu, saya membuktikan kebenaran kalimat tersebut. Tak disangka, guru-guru saya begitu antusias mengetahui kalau saya menerbitkan novel. Mungkin jarang sekali alumni SMAN 5 Bogor yang menjadi penulis.

Bahkan, waktu itu Bu Maria—guru bahasa Inggris saya—sempat berceletuk, “Eh, bentar lagi kan ada La Sastra 5. Kamu aja yang dateng (jadi bintang tamu)!”

Saya kaget mendengarnya tapi cuma tertawa kecil saja. Saya, yang sudah terbiasa mengalami kegagalan dan kekecewaan, hanya bisa mengamini. I always wish and pray for the best but also prepare for the worst. Saya akan senang sekali kalau benar-benar diundang menjadi bintang tamu di La Sastra 5, kendati tidak mau terlalu banyak berharap.

Tapi, Alhamdulillah, kali ini saya tidak perlu kecewa. Suatu sore saya mendapat telepon yang mengaku siswa SMAN 5 sekaligus panitia La Sastra 5, menanyakan apakah saya mau jadi bintang tamu di sana. Jelas saya terkejut tapi tetap berusaha kalem biar bisa jaga image di hadapan adik kelas. Hahahaha. Saya menjawab, saya bersedia jadi bintang tamu. Setelah telepon ditutup, barulah saya berjingkrak-jingkrak kegirangan.

La Sastra 5 tahun 2014

La Sastra 5 tahun 2014

Saya sendiri masih tak percaya kalau mimpi kecil saya dulu bisa terealisasi… dan cuma butuh waktu sepuluh-sebelas tahun kemudian. Apalagi, pada saat La Sastra 5 nanti, saya akan hadir bersama nama-nama hebat lainnya seperti Donny Dhirgantoro, band Tangga, dan Babe Cabiita.

Saya akan menjadi bintang tamu di acara La Sastra 5 tahun 2014 pada hari Rabu, 29 Oktober 2014 setelah makan siang. Bagi teman-teman yang mau hadir, saya datang kehadirannya, ya!

Saya yakin, La Sastra 5 tahun ini akan sangat hebat.

 

@AdhamTFusama

 

Advertisements