Saya dan Supernova


20160218_131457

One of my proudest achievement as an editor so far 😀

Saya masih ingat kali pertama membaca Supernova, yaitu di tahun 2003, ketika saya masih duduk di kelas 2 SMA. Waktu itu, saya main ke rumah teman saya, Rido, di daerah Pagelaran, Bogor. Rido yang tahu saya suka membaca kemudian merekomendasikan sebuah novel untuk saya. Judulnya Supernova: Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh karya Dee.

“Bagus nih. Lo pasti suka.” Begitu katanya. Saat itu, saya belum mengenal siapa itu Dewi “Dee” Lestari. Jadi, saya tidak punya ekspektasi apa-apa sewaktu meminjam buku tersebut. Namun, begitu saya baca, saya langsung terpukau! Ini benar-benar novel yang berbeda. Saya belum pernah membaca novel Indonesia seperti ini sebelumnya. Benar-benar bikin candu!

Alhasil, setelah selesai membaca KPBJ, saya segera menagih ke Rido untuk dipinjamkan lanjutannya: Akar dan Petir. Lagi-lagi, saya terpesona. Membaca seri Supernova seperti masuk dan ikut ke dalam sebuah petualangan yang mengasyikkan. Saya pun segera menjadikan Dee Lestari sebagai salah satu penulis Indonesia favorit saya. Dan, selama bertahun-tahun, gaya menulis Mbak Dee pun banyak memengaruhi gaya menulis saya. Gaya yang lugas, jernih, cerdas, dan seru. Ah, pokoknya saya jatuh cinta! Saya tak sabar untuk menantikan seri lanjutannya.

Jadi, saya pun menunggu, menunggu, menunggu, menunggu, dan menunggu. Tapi, Partikel tak kunjung datang. Saya mulai resah, jangan-jangan Mbak Dee tidak akan melanjutkan seri ini. Mungkin, karena seri ini terlalu awesome bahkan Mbak Dee pun tak tahu bagaimana cara menyudahinya. Begitulah pikir saya. Alhasil, yang bisa saya lakukan hanyalah menarik napas sedih dan kecewa.

Lanjutan yang dinanti baru datang 8 tahun kemudian (CMIIW). Terus terang, waktu itu, saya sudah kadung kecewa dengan Mbak Dee. Ibaratnya, sudah terlanjur move on dari Supernova dan lebih memilih untuk membaca buku lainnya (ceritanya sih ngambek. Hahaha). Bahkan sampai Gelombang tiba pun saya masih ngambek.

Namun, pada akhirnya, rasa CLBK itu datang menyerang. Saya, yang sudah lama kepincut dengan desain cover seri Supernova edisi republish yang keren itu, memutuskan untuk memberi Mbak Dee kesempatan satu kali lagi (emangnya siapa elo, Dham?). Saya pun membeli KPBJ, Akar, dan Petir untuk koleksi.

Lalu, saya mendapat kesempatan untuk bekerja di Bentang Pustaka. Saat itu, saya tahu kalau saya harus mengejar ketinggalan dengan membaca Partikel dan Gelombang, karena cepat atau lambat Inteligensi Embun Pagi pasti akan tiba di meja redaksi. Yah, waktu itu sih niat saya membaca Partikel dan Gelombang adalah supaya bisa lebih menikmati IEP, kalau seri pamungkas tersebut sudah terbit. Itu saja. Saya cukup tahu diri. Mustahil editor baru seperti saya diserahkan naskah sepenting IEP. Saya yakin, editor lainnya yang lebih senior-lah, seperti Mbak Dhewiberta, yang akan menangani naskah tersebut.

Saya membaca Partikel di atas kereta, waktu mudik ke Bogor. Di sana, saya seperti menemukan kembali kerinduan akan cerita-cerita Supernova yang dulu pernah mengajak saya ikut berpetualang ke dalamnya. Saya jatuh cinta lagi dan memaafkan Mbak Dee (sekali lagi, emangnya siapa elo, Dham?) yang sudah membuat saya menunggu selama bertahun-tahun. Malah, kalau saya pikir-pikir sekarang, seharusnya saya bersyukur karena Partikel pending selama 8 tahun. Kenapa? Akan saya ceritakan alasannya sebentar lagi.

Singkatnya, hari itu pun tiba. Hari di mana naskah IEP masuk ke meja redaksi … dan diserahkan ke saya. Saya sempat melongo. Lebih-lebih sewaktu diminta untuk menyunting naskah tersebut. Serius nih? Beneran? Saya nggak lagi dikerjain, kan? Maksud saya, yang benar saja! Saya kan cuma editor baru!

Tapi, setelah mengonfirmasi kalau sayalah yang betul-betul ditunjuk untuk mengedit naskah ini, saya girang sekali … sekaligus grogi bukan main. Wajar, soalnya saya harus ekstra teliti dan ekstra hati-hati dalam menangani naskah yang satu ini. Meski demikian, hal tersebut tidak serta-merta bikin saya tertekan. Saya justru merasa tertantang dan bersemangat. Apalagi sewaktu harus berkorespondensi dan berdiskusi dengan Mbak Dee!

OH MY GOD! CAN YOU BELIEVE IT?

Oke, maaf, saya harus lebay di sini! Soalnya, saya yang cuma fans ini malah mendiskusikan soal naskah Supernova IEP dengan penulisnya langsung? How crazy is that? That’s beyond my wildest dream!

Bekerja bersama Mbak Dee pun sangat menyenangkan. Kendati sudah memiliki nama besar, Mbak Dee adalah tipe penulis yang masih mau mendengarkan saran serta masukan dari orang lain. Dari pengalaman saya sebagai editor di beberapa penerbit, masih ada lho penulis yang keukeuh naskahnya tidak mau diedit, karena khawatir si editor akan “menghilangkan nyawa” dari tulisannya tersebut.

Nah, Mbak Dee berbeda! Meski Supernova IEP adalah karya dan anaknya yang paling dia sayangi (rasanya wajar-wajar saja kalau Mbak Dee keberatan naskahnya diotak-atik, sebab dialah yang paling tahu tentang Supernova itu sendiri), Mbak Dee tetap membuka pintu bagi saran-saran perbaikan, yang kiranya bisa memperbagus karyanya tersebut.

Iya, termasuk mendengar saran-saran sepele dari saya.

Saya rasa, itu adalah salah satu kualitas dari Mbak Dee yang perlu diteladani oleh penulis-penulis muda lainnya, termasuk saya.

Yang jelas, proses mengedit Supernova sangat menyenangkan. Saya betul-betul berterima kasih pada Mbak Dee serta kawan-kawan di Bentang Pustaka yang mau membantu, membimbing, memercayakan, serta memberi kesempatan pada editor amatiran seperti saya ini untuk menangani naskah IEP. Pengalaman berharga ini tidak akan saya lupakan!

Ssekarang, saya bersyukur karena Partikel sempat delay selama 8 tahun. Karena dengan begitu, saya berkesempatan untuk ambil bagian dalam perjalanan pamungkas Supernova. Kalau saja Partikel dan Gelombang diterbitkan satu tahun lebih cepat, mustahil saya bisa mendapat kesempatan gila seperti ini! Bahkan, saking gilanya, maka saya akan tertawa terbahak-bahak kalau ada yang berkata: “Percaya nggak, kalau ada remaja SMA cupu—yang dulu baca Supernova KPBJ sambil tengkurep di kasurnya—sekarang malah ikut membidani terbitnya Supernova IEP?”

I mean, it sounds so surreal. But, apparently, life itself is so surreal.

Tanpa saya sadari, tampaknya saya telah terjebak dan tak bisa lepas dari jejaring Supernova sejak tahun 2003. Malah, berkat campur tangan semesta, saya berkesempatan untuk menjadi salah satu pengunjung pertama wahana IEP. Dan, percayalah, wahana tersebut sangat menyenangkan.

Bagi teman-teman yang juga ingin merasakan serunya wahana IEP, jangan lupa, besok wahana akan dibuka secara umum.

Selamat menikmati pengalaman serta perjalanan terakhir Supernova.

100+ Prestasi Jokowi


Daripada kampanye hitam dan bikin dosa di bulan puasa, mending kita kampanye positif aja yuk!

Buat teman-teman yang belum menentukan pilihan, nih ada 100 lebih prestasi-prestasi yang selama ini sudah diraih oleh Pak Jokowi. Kita cari tahu rekam jejaknya selama ini. Siapa tahu bisa membantu teman-teman menentukan akan memilih siapa tanggal 9 Juli 2014 nanti. Ingat, #SayNoToGolput karena golput bukan jawaban!

 

Jokowi di Majalah Fortune & Globe

Jokowi di Majalah Fortune & Globe

PENGHARGAAN KEPEMIMPINAN

1. 10 Tokoh di tahun 2008 oleh majalah Tempo.
2. Bintang Jasa Utama dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
3. Juara 3 Walikota Terbaik di dunia.
4. The Leading Global Thinkers 2013 Award dari majalah Foreign Policy.
5. Walikota Terbaik bulan Februari 2013 dari The City Mayors Fondation di London.
6. Universitas Negeri Sebelas Maret Surakarta Award.
7. Bung Hatta Anticorruption Award (2010).
8. Charta Politica Award (2011).
9. Walikota Teladan dari Kementerian Dalam Negeri (2011).
10. Nomor 37 di daftar The World’s 50 Greatest Leader majalah Fortune.

 

Jokowi, Juara 3 Walikota Dunia

Jokowi, Juara 3 Walikota Dunia

PRESTASI WALIKOTA SURAKARTA / SOLO

11. 900 PKL diajak berunding sambil makan agar mau pindah ke tempat yang disediakan dan berhasil.
12. Membangun pasar tradisional Solo sehingga menjadi bagus dan bergengsi.
13. Membuat trotoar lebar 3 meter sepanjang 7 km di jalan-jalan utama Surakarta.
14. Revitalisasi Taman Belakambang, Sriwedari, dan membangun Solo Techno Park.
15. Membuat regulasi dilarang menebang pohon sembarangan di kota Solo.
16. Mencitra ulang kota Solo dengan moto “The Spirit of Java” hingga dihargai dan disorot dunia internasional.
17. Mempromosikan Solo menjadi kota sentral di pulau Jawa.
18. Mempopulerkan budaya inspeksi langsung ke lapangan atau blusukan di Solo.
19. Melarang keluarga dan saudaranya ikut tender dalam proyek pemerintah kota Solo agar tidak terjadi tindak kolusi.
20. Peduli terhadap kesehatan masyarakat.
21. Transportasi publik di Solo seperti railbus.
22. Menolak suap dan korupsi.
23. Menambah pasar-pasar tradisional yang bagus dan menekan jumlah mal di Solo.
24. Kota dengan Tata Ruang Terbaik ke 2 di Indonesia.

 

PENGHARGAAN YANG DIRAIH SELAMA MENJADI WALIKOTA SOLO

25. Piala dan Piagam Citra Bhakti Abdi Negara dari Presiden Republik Indonesia (2009) untuk kinerja kota dalam penyediaan sarana Pelayanan Publik, Kebijakan Deregulasi, Penegakan Disiplin, dan Pengembangan Managemen Pelayanan.
26. Piala Cipta bidang Pelayanan Prima Tingkat Nasional oleh Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Republik Indonesia (2009).
27. Penghargaan dari Departemen Keuangan berupa dana hibah sebesar Rp 19,2 miliar untuk pelaksanaan pengelolaan keuangan yang baik (2009).
28. Penghargaan UNICEF untuk Program Perlindungan Anak (2006).
29. Indonesia Tourism Award 2009 dalam kategori Indonesia Best Destination dari Departemen Kebudayaan dan Pariwisata RI bekerja sama dengan majalah SWA.
30. Penghargaan Kota Solo sebagai inkubator bisnis dan teknologi (2010) dari Asosiasi Inkubator Bisnis Indonesia (AIBI).
31. Grand Award Layanan Publik Bidang Pendidikan (2009).
32. Meraih Anugerah Wahana Tata Nugraha sebanyak 5 kali (2006-2011).
33. Penghargaan Tata Tertib Lalu Tintas dan Angkutan Umum.
34. Penghargaan Manggala Karya Bhakti Husada Arutala dari Departemen Kesehatan (2009).
35. Kota Terfavorit Wisatawan 2010 dalam Indonesia Tourism Award 2010 yang diselenggarakan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata.
36. Pemerintah Kota Solo meraih penghargaan Kota / Kabupaten Pengembang UMKM Terbaik versi Universitas Sebelas Maret Award 2012.
37. Penghargaan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai salah satu Kota Terbaik Penyelenggara Program Pengembangan Mewujudkan Kota Layak Anak (KLA) 2011.
38. Penghargaan Langit Biru 2011 dari Kementerian Lingkungan Hidup untuk kategori Kota dengan Kualitas Udara Terbersih.
39. Penghargaan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam Bidang Pelopor Inovasi Pelayanan Prima (2010).

 

Eh, masih nggak yakin kalau itu semua merupakan pencapaian Pak Jokowi selama beliau menjabat sebagai Walikota Solo? Kalau begitu, silakan tonton video beliau saya mempresentasikan sekaligus mempromosikan Kota Solo di event Indonesian Young Changemaker Summit (IYCS) berikut ini:

 

 

Eits, tunggu dulu! Itu baru sebagian kecil prestasi yang pernah diraih beliau. Masih banyak lagi pencapaian-pencapaian yang pernah beliau lakukan.

 

PRESTASI GUBERNUR DKI JAKARTA

40. Efisiensi Anggaran Pelantikan. Anggaran berhasil dikurangi dari Rp 1,05 miliar hingga Rp 500 jutaan.
41. Menghilangkan gaya kepemimpinan yang protokoler dan tidak menggunakan voorijder dalam aktivitas keseharian saat blusukan menginspeksi masalah lapangan.
42. Lebih banyak menginspeksi ke lapangan ketimbang duduk di belakang meja. Jokowi langsung berkeliling untuk melihat secara langsung permasalahan di tengah masyarakat, mulai dari kondisi perkampungan, sungai-sungai, dan lain-lain.
43. Membuka Kantor Balai Kota untuk rakyat sehingga mereka bisa dengan leluasa menyampaikan keluhan.
44. Inspeksi mendadak ke kelurahan-kelurahan untuk mendisiplinkan kinerja aparat yang selama ini sangat tidak disiplin dan banyak melakukan pungutan liar.
45. Tegas dalam kepemimpinan dalam menghadapi birokrasi yang berbelit-belit. Terbukti dengan perombakan jajaran dinas di Pemprov DKI Jakarta, menggantikan orang-orang yang kurang disiplin dengan orang-orang yang mau bekerja.
46. Memberi tambahan honor Rp 500.000 bagi RT dan RW, plus bonus prestasi bagi mereka yang mampu menciptakan terobosan dalam pekerjaannya.
47. Mengangkat budaya dan kearifan lokal Betawi dengan mewajibkan PNS untuk memakai pakaian adat Betawi pada hari Jumat yang sekarang diganti menjadi hari Rabu. Tak hanya itu, Pemprov DKI menekankan supaya bangunan di Jakarta harus bisa menampilkan karakter kebetawiannya.
48. Melakukan efisiensi dengan menyatukan kantor dinas dan balai kota.
49. Mereformasi SATPOL PP dengan menanggalkan pentungan dan menginstruksikan untuk tidak lagi melakukan tindak kekerasan tanpa kehilangan ketegasan.
50. Efisiensi acara pelantikan pejabat daerah secara sederhana dan merakyat.
51. Melakukan gebrakan transparasi rapat anggaran yang disiarkan lewat media Youtube, sehingga rakyat bisa melihat dan turut mengoreksi besar anggaran dan peruntukannya.
52. Digitalisasi program dengan bekerjasama dengan Telkom, untuk memudahkan operasional dan juga menghemat anggaran hingga Rp 20 miliar tanpa harus mengelola sendiri.
53. Memberlakukan sistem pajak online sehingga penyelewengan pajak dapat ditekan.
54. Pemberlakuan Kartu Jakarta Sehar (KJS) dan Kartu Jakarta Pintar (KJP).
55. Penambahan fasilitas-fasilitas kesehatan di rumah sakit dan puskesmas, juga penambahan dokter untuk mengimbangi lonjakan jumlah pasien.
56. Menaikan upah buruh Propinsi DKI Jakarta hingga 30%.
57. Mulai melakukan tahapan peremajaan dan penambahan transportasi umum dengan menambah ratusan bus TransJakarta dan Kopaja.
58. Memberlakukan e-Ticketing dengan sistem digital ticket untuk mempermudah pelayanan transportasi umum.
59. Mereformasi Dinas Pendidikan yang seringkali melakukan pungutan liar. Hal ini ditindaklanjuti dengan pencopotan kepala sekolah SMA MH Thamrin.
60. Mereformasi Dinas Kebersihan dan Pekerjaan Umum yang kemudian menetapkan agar masalah kebersihan dikelola oleh satu dinas sehingga tidak terjadi tumpang-tindih pekerjaan dan saling lempar tanggung jawab.
61. Terobosan untuk membersihkan aparat pemerintdah dari tindak korupsi dan narkotika dengan bekerja sama penuh dengan KPK dan BNN yang dipelopori oleh Pemprov DKI.
62. Jokowi terjun langsung ke lapangan dan memandori secara langsung saat jebolnya tanggul Latuharhari.
63. Sukses menginstruksikan BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi) untuk merekayasa hujan supaya turun ke laut. Dengan demikian, intensitas hujan yang dapat menyebabkan banjir bisa dicegah.
64. Lelang jabatan untuk keluarahan, kecamatan, sampai walikota. Dengan demikian, aparat-aparat pemalas bisa diganti dengan orang-orang yang kompeten.
65. Menyediakan transportasi air untuk warga di kawasan Marunda.
66. Relokasi warga bantaran kali ke rumah susun di Marunda tanpa konflik.
67. Pemberian isi rumah susun berupa lemari es, lemari, tempat tidur, dan TV kepada penghuni menggunakan dana CSR.
68. Mulai menata Pedagang Kaki Lima (PKL). Sebanyak 36 PKL mendapat gerobak gratis. Shelter tempat mereka berjualan juga diperbaiki. Pedagang juga diberi Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP) secara gratis.
69. Mulai disiapkan ruang terbuka hijau yang juga menjadi sarana olahraga stadion BMW sebagai stadion berkelas internasional.
70. Uji Publik. Pertama kali dalam sejarah di Indonesia diadakan Public Hearing atau Uji Publik untuk menerima saran, masukan, dan keluhan warga.
71. Membangun rumah sakit apung di kawasan perairan Kali Adem, Muara Angke, Jakarta Utara. Rumah sakit ini dilengkapi ruang periksa, kamar bedah, ruang rontgen, laboratorium, dan ruang rawat pasien.
72. Memberikan KTP kepada ribuan warga Rawabadak Koja, Jakarta Utara, yang selama ini tidak punya KTP.
73. Menaikkan gaji sopir bus TransJakarta 3,5 kali dari UMP.
74. Berani menentang World Bank yang dengan pinjamannya ingin terlalu mengintervensi program Jakarta Baru dengan berbagai ketentuan yang menyulitkan.
75. Melawan JICA (Japan International Cooperation Agency) yang melalui proyek MRT sengaja menekan pihak Indonesia khususnya Jakarta dengan berbagai kebijakan dan aturan pelaksanaan proyek yang memberatkan.
76. Taman vertikal di kawasan Tugu Tani untuk menghijaukan Jakarta.
77. Memasang 340 bangku taman di Jalan Sudirman hingga Jalan Medan Merdeka Barat.
78. Mengeruk sampah-sampah di pintu air Manggarai.
79. Pengembalian Pekan Raya Jakarta dari Kemayoran ke Monas sebagai bentuk perlawanan kepada kapitalisasi JIEXPO.
80. Penghapusan rumah dinas untuk lurah dan camat yang dialihfungsikan untuk kantong-kantong PKL dan RTH.
81. Nasionalisasi PALYJA sebagai perusahaan air minum yang selama ini dikuasai asing.
82. Disiapkan dokter keluarga untuk melayani kesehatan warga di masing-masing wilayah untuk mengurangi membludaknya jumlah pasien di puskesmas.
83. Pasar murah untuk menekan laju kenaikan harga akibat kenaikan BBM menjelang bulan puasa.
84. Mengadakan pesta rakyat pada saat Ulang Tahun Jakarta, dengan menyediakan 16 panggung gratis bagi warga dan seniman lokal.
85. Pemutaran drama kolosal “Ariah” dengan tiket hanya Rp 2.000 untuk membangkitkan kembali budaya dan kearifan lokal Betawi.
86. Pembangunan 300 tower rumah susun sebagai fasilitas relokasi.
87. Relokasi warga Waduk Pluit tanpa konflik.
88. Normalisasi Sungai Pakin yang dilengkapi daerah resapan air, fasilitas publik, area pejalan kaki, bahkan teater terbuka.
89. Rampungnya rumah deret di kelurahan Tanah Tinggi, Kecamatan Johar Baru, Jakarta Pusat, untuk warga yang menjadi korban kebakaran.
90. Pengembalian luasan Waduk Pluit yang sebelumnya dikuasai mafia dan oknum pemerintah.
91. Dimulainya proyek MRT yang sudah direncanakan puluhan tahun sebagai upaya untuk mengurangi kemacetan.
92. Dimulai pula proyek Monorel yang pada masa gubernur sebelumnya sempat dihentikan karena masalah dana.
93. Membangun fasilitas teater terbuka di kawasan Waduk Pluit.
94. Pengerukan sungai-sungai di DKI.
95. Normalisasi Kali Ciliwung di Masjid Istiqlal.
96. Penambahan Pintu Air Manggarai untuk mewujudkan Kali Ciliwung Bersih.
97. Peningkatan penerimaan pajak DKI semester pertama sebesar Rp 10 triliun, naik 25% dari periode sebelumnya.
98. Perubahan rute jalur transportasi di Pasar Senen untuk mengurai kemacetan.
99. Pembersihan lokasi Pasar Minggu dari PKL.
100. Menginstruksikan Dishub untuk membuat sarana busway yang ramah bagi para penyandang cacat.
101. Peresmian Busway koridor 12.
102. Mendesak PGN untuk menyuplai BBG (Bahan Bakar Gas) untuk pemenuhan kebutuhan bahan bakar bersih TransJakarta.
103. Meninggikan separator busway dan mendesak semua aparat untuk menerapkan disiplin lalu lintas.
104. Dibuka akses pelaporan warga kepada para pengguna jalan untuk melaporkan mobil-mobil pribadi yang masuk jalur busway.
105. Merampungkan sengketa Mbah Priok sebagai upaya pengembangan pelabuhan Tanjung Priok.
106. Mulai dilakukannya persiapan pembangunan masjid raya terbesar di wilayah Duri Kosambi, Jakarta Barat, yang dijadikan masjid terbesar di Indonesia melebihi Masjid Istiqlal.
107. Penataan pasar embrio di Kampung Makassar dan renovasi total Pasar Meruya.
108. Transparansi APBD DKI yang dapat diakses secara umum oleh masyarakat.
109. Pembangunan 8 blok rumah susun di Daan Mogot dan 8 tower rumah susun di Muara Baru.
110. Perubahan peraturan daerah tentang persyaratan Suka Sarana Kesehatan.
111. Menambah tunjangan bagi guru Madrasah hingga mencapai Rp 1.000.000.
112. Pengerukan kali dan penertiban bangunan liar di Kali Jelangkeng dan Kali Opak tanpa kekerasan.
113. Penertiban PKL di Sunda Kelapa dan Kota Tua. Penjual juga diberikan tenda, gerobak, dan seragam gratis agar tertib.
114. Mengambil alih Blok A Pasar Tanah Abang dari PT. PDI ke PD. Pasar Jaya, karena selama ini mengakibatkan Pemprov DKI Jakarta mengalami kerugian hingga ratusan miliar rupiah.
115. Membangun jembatan penghubung antara Blok F dan Blok G di Pasar Tanah Abang.
116. Relokasi PKL Pasar Tanah Abang ke Blok G.
117. Disiapkannya show room industri kreatif bawah tanah di kawasan Monas yang akan menjadi show room terbesar di Asia khusus untuk industri kreatif dalam rangka mewujudkan ekonomi kerakyatan.

 

Drama kolosal "Ariah" di Monas (no. 85)

Drama kolosal “Ariah” di Monas (no. 85)

Banyak banget ya, prestasi-prestasi serta pencapaian-pencapaian yang sudah diraih Pak Jokowi. Dari daftar di atas kita telah membuktikan kalau Pak Jokowi memiliki track record yang jelas, meyakinkan, dan terbukti. Pak Jokowi tidak melakukan pencitraan belaka dan tidak pula memberi janji-janji. Beliau benar-benar bekerja, berusaha menuntaskan masalah, dan mencari solusi. Beliau memimpin dengan hati.

 

  • Beliau adalah pemimpin yang bisa diteladani, diakui di Indonesia bahkan hingga mancanegara (poin 1-10).
  • Beliau terbukti antikorupsi (poin 7, 19, 22).
  • Beliau tegas dalam mereformasi serta melakukan efiesiensi birokrasi yang selama ini berbelit-belit dan menyusahkan (poin 41-45, 48-53, 60).
  • Beliau mau mendengarkan rakyat (poin 11, 18, 43, 70).
  • Beliau terbukti tegas membela kepentingan rakyat di dalam negeri dari intervensi pihak asing (poin 74, 75).
  • Beliau terbukti memikirkan kesejahteraan rakyat dan meningkatkan perekonomian rakyat (poin 12, 23, 66-68, 113-116).
  • Beliau terbukti peduli pada dunia anak dan pendidikan (poin 28, 37, 54, 59, 111).
  • Beliau terbukti peduli pada kesehatan rakyat (poin 20, 34, 54, 55, 69, 71, 82)
  • Beliau terbukti peduli pada lingkungan hidup dan tata kota (poin 14, 15, 24, 38, 95, 98, 112).
  • Beliau terbukti peduli pada masalah transportasi (poin 13, 21, 33, 100-104).
  • Beliau terbukti peduli pada seni, budaya, industri kreatif, dan pariwisata (poin 16, 17, 29, 35, 47, 85, 117).

 

Saya punya 100+ alasan untuk memilih Jokowi. Bagaimana dengan kamu? Yuk, kita sama-sama ikut ambil bagian dalam menentukan masa depan bangsa!

#9Juli nanti #SayNoToGolput #AkhirnyaMilihJokowi dan #TegasPilih2

 

Jokowi: One of the World's 50 Greatest Leaders

Jokowi: One of the World’s 50 Greatest Leaders

@AdhamTFusama

 

*Daftar di atas di ambil dari Majalah Pelayan Rakyat edisi khusus Jokowi.

15 Film Indonesia Terfavorit (2000-2014)


The Raid: Berandal

Perkembangan perfilman Indonesia dewasa ini semakin menggembirakan. Sejak bangkit dari mati surinya di tahun 2000-an, industri perfilman Indonesia terus menggeliat ke arah yang bisa dibanggakan. Memang masih ada film-film yang dibikin asal-asalan cuma untuk meraih sedikit keuntungan. Namun akhir-akhir ini film semacam itu semakin tergusur. Itu menandakan kalau masyarakat sudah bosan dan menginginkan film yang benar-benar bisa memuaskan mereka.

Tak hanya itu, film-film Indonesia pun sudah semakin banyak dilirik oleh masyarakat internasional. Terbukti telah banyak film karya anak bangsa yang dirilis bahkan bertarung di festival-festival film kelas dunia.

Sebagai bentuk dukungan serta tribute bagi film Indonesia, saya rangkum 15 film Indonesia favorit saya sejak tahun 2000.

Caution: this list may contain spoiler!

 

Comic 8

15. Comic 8 (2014—komedi)

Sutradara: Anggy Umbara. Pemain: Indro Warkop, Ernest, Cak Lontong, Mongol

Delapan orang masing-masing memiliki motif berbeda dalam melakukan perampokan bank. Ada yang karena iseng, hobi, bahkan galau. Sewaktu mereka terkepung polisi, kekonyolan pun semakin menjadi-jadi.

Laugh out loud: Apa jadinya jika para comicstand-up comedian—berkumpul bersama dalam satu film? Harapkan sebuah film yang mengocok perut dari awal hingga akhir. Dan, bersiaplah mulas-mulas setelah menonton, karena harapan tersebut benar-benar terpenuhi.

Chicken on the loose: Kejadian-kejadian kocak juga mengiringi perjalanan Dennis mengejar ayam untuk maskot perusahaan kecap ayahnya. Maskot (2006) adalah salah satu film komedi paling underrated di Indonesia.

 

Merantau

 

14. Merantau (2009—drama, aksi)

Sutradara: Gareth Evans. Pemain: Iko Uwais, Sisca Jessica

Yuda, pemuda asal Sumatera Barat baru saja sampai ke Jakarta tapi malah sudah terlibat masalah. Niat hati membantu Astrid an Adit, Yuda malah berurusan dengan organisasi human trafficking. Bermodal silat, dia menghadapi semua musuh yang ada.

Silat goes international: Inilah film yang mengenalkan silat ke layar lebar Indonesia bahkan dunia! Juga membuka pintu bagi Gareth dan Iko untuk berkolaborasi menghasilkan The Raid yang fenomenal. Adegan aksinya seru, kisah dramanya mencekam sekaligus menyentuh. Uda Yuda, tambo ciek!

From West Sumatera with love: Kisah para santri Pondok Madani yang bercita-cita besar dan akhirnya bisa menjelajah hingga Amerika, Eropa, hingga Afrika. Man jadda wajada, temukan “mantra”-nya di Negeri 5 Menara (2012).

 

Nagabonar 2

13. Nagabonar Jadi 2 (2007—drama, komedi)

Sutradada: Deddy Mizwar. Pemain: Deddy Mizwar, Tora Sudiro

Berkutat pada hubungan ayah-anak antara Nagabonar—mantan pejuang zaman penjajahan Jepang—dan anaknya Bonaga yang sekarang menjadi pengusaha sukses. Bonaga mendapat proyek pembangunan resort dari perusahaan Jepang. Sialnya, lokasi resort adalah lahan kebun kelapa sawit milik ayahnya.

Like father, like son: Salah satu keunggulan film ini terletak pada chemistry ayah-anaknya yang begitu hidup. Penampilan Deddy Mizwar yang tak diragukan lagi dapat diimbangi dengan baik oleh Tora Sudiro. Nilai-nilai nasionalisme juga dapat disampaikan secara subtil berkat skenarionya yang lucu, segar, sekaligus efektif.

Apa kata dunia? Saksikan kehebatan akting Deddy Mizwar dalam film Nagabonar (1987) tentang mantan pecopet yang akhirnya berjuang mengusir penjajah dari Jepang. A masterpiece!

 

Rumah Dara

12. Rumah Dara / Macabre (2009—horror, gore, slasher)

Sutradara: Mo Brother. Pemain: Shareefa Danish, Julie Estelle.

Niat membantu perempuan yang jadi korban perampokan, 6 orang sahabat malah terjebak di sebuah rumah yang dihuni oleh keluarga kanibal. Dan mereka lapar.

Enak, kaaan? Akhirnya! Sebuah film horor Indonesia yang benar-benar bisa membuat takut, bukan berisi hantu-hantu kacangan dengan plot cerita yang menggelikan. Saya masih ingat betapa senangnya saya sewaktu keluar dari gedung bioskop. Menegangkan, mengerikan, berdarah-darah!

Feast your fear: Gara-gara bermain jelangkung, sekelompok anak muda mulai diteror setan. Mereka pun melakukan perjalanan untuk menghentikan kutukan Tusuk Jelangkung (2003).

 

Quickie Express

11. Quickie Express (2007—dark comedy)

Sutradara: Dimas Djajadiningrat. Pemain: Tora Sudiro, Aming, Lukman Sardi

Tiga orang gigolo—Jojo, Marley, dan Piktor—siap memuaskan hasrat Anda sekaligus mengocok perut Anda. Namun, apa jadinya kalau Jojo malah dicintai 3 orang sekaligus?

I bring the sexy back: Film komedi yang berani dan segar. Meski premisnya terdengar vulgar namun tidak ada adegan eksplisit yang membuat kita menutup mata. Dengan akting yang bagus, penyutradaraan dan skenario yang apik, tensi cerita yang terjaga, serta adegan aksi yang komikal, tak berlebihan jika Quickie Express merupakan salah satu film komedi terlucu di Indonesia.

Undercover life: Demi bertahan hidup di Jakarta, Viki terpaksa menjadi penari striptis di kelab malam. Dia terpaksa kabur membawa Ara, adiknya yang autis, ketika Ara tanpa sengaja menyaksikan aksi pembunuhan yang dilakukan Haryo, seorang anak pejabat. Lupakan soal bukunya, Jakarta Undercover (2006) adalah film drama aksi yang seru.

 

AADC

10. Ada Apa dengan Cinta? (2002—roman remaja)

Sutradara: Rudi Soedjarwo. Pemain: Dian Sastrowardoyo, Nicholas Saputra

Cinta yang jago menulis puisi kaget ketika yang menang lomba puisi adalah Rangga, siswa tampan yang dingin, ketus, dan misterius. Meski di awal hubungan mereka seperti air dan api, lama kelamaan benih cinta tumbuh di hati mereka.

I’m in love: Siapa yang tak kenal AADC? Siapa yang tak kenal dengan Rangga-Cinta yang sudah seperti Romeo-Juliet versi Indonesia? Film ini begitu fenomenal, hingga menjadi salah satu film pemicu movie rush di Indonesia. Hampir semua aspek di film ini menjadi fenomena di masanya. Mulai dari posternya, puisi-puisi Chairil Anwar, lagu-lagu Melly Goeslaw, hingga karier para pemain dan filmmaker-nya yang melejit gila-gilaan.

Another Romeo-Juliet: Cinta tak dapat dimungkiri oleh Cina dan Anissa kendati etnis dan agama membedakan mereka. Samaria Simanjuntak mengisahkannya dengan subtil dalam Cin(t)a (2009).

 

Janji Joni

9. Janji Joni (2005—romantic comedy)

Sutradara: Joko Anwar. Pemain: Nicholas Saputra, Mariana Renata

Demi berkenalan dengan seorang gadis cantik, Joni—seorang pengantar rol film—berjanji akan mengantarkan rol film tepat waktu. Namun, janji sulit ditepati ketika Joni malah terjebak pelbagai masalah tak terduga.

Pinky promise: Dengan taburan bintang-bintang terkenal sebagai cameo, vibe vintage yang asyik, dan ceritanya yang ringan namun adorable, menjadikan Janji Joni sebagai alah satu film romcom terbaik di Indonesia.

Jomblo’s promise: Empat orang mahasiswa jomblo sedang mencari cinta dalam film Jomblo (2006) yang diangkat dari novel berjudul sama karya Adhitya Mulya.

 

Sang Penari

8. Sang Penari (2011, drama)

Sutradara: Ifa Isfansyah. Pemain: Prisia Nasution, Oka Antara

Kisah cinta Srintil, seorang penari ronggeng dari Dukuh Paruk, dan Rasus mengalami banyak lika-liku. Diangkat dari novel klasik Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari, kisah mereka yang penuh tragedi digarap secara indah oleh Ifa Isfansyah.

The dancer: Jelas merupakan salah satu film terbaik di tahunnya, mendapat banyak penghargaan termasuk Film Terbaik di FFI, dan diikutsertakan untuk bertanding di ajang Oscar. Semua aspek di film ini digarap dengan apik, mulai dari akting, penyutradaraan, artistik, hingga sinematografi. A beautifully crafted movie.

The dance: Garin Nugroho menggunakan kisah Ramayana sebagai patokan cerita Opera Jawa (2006). Sebuah film yang lebih mirip pertunjukan seni yang penuh enigma.

 

Gie

7. Gie (2005—drama, autobiografi)

Sutradara: Riri Riza. Pemain: Nicholas Saputra, Wulan Guritno

Nicholas Saputra adalah Soe Hok Gie, seorang mahasiswa, demonstran, dan pecinta alam yang kritis serta idealis. Gie diangkat dari buku Catatan Seorang Demonstran yang ditulis oleh Soe Hok Gie sendiri, menceritakan tentang masa muda Gie hingga dia meninggal dunia.

The rebel: Bagi saya, Gie adalah salah satu pencapaian terbaik dari Riri Riza dan Mira Lesmana. Akting pemainnya yang luar biasa—terutama Nico sebagai Gie, skenario yang digarap baik, artistik dan sinematografi yang menawan, menjadikan film ini banyak menuai pujian. Gie diganjar 3 Piala Citra termasuk Film dan Aktor Terbaik.

The legends: Ario Bayu adalah proklamator sekaligus presiden pertama Indonesia di film Soekarno (2013) garapan Hanung Bramantyo. Atau, saksikan penampilan Reza Rahardian sebagai B.J. Habibie muda dalam Habibie & Ainun (2012).

 

Petualangan Sherina

6. Petualangan Sherina (2000—musikal, petualangan)

Sutradara: Riri Riza. Pemain: Sherina Munaf, Derby Romero

Sherina, gadis periang dan pemberani, pindah ke Bandung dan berkenalan dengan Sadam yang sombong dan belagu. Yang semula merupakan musuh bebuyutan, mereka akhirnya berkawan setelah Sherina menolong Sadam yang diculik.

The sound of music: Ini dia salah satu film yang ikut membangkitkan perfilman Indonesia dari “mati suri”. Sebuah film anak dan keluarga yang hangat, menghibur, dan memorable. Siapa yang bisa melupakan keceriaan Sherina, Sadam, dan lagu serta musiknya?

Kid on screen: Seorang anak terpaksa ke jermal untuk mencari ayahnya, Jermal (2008) adalah film yang mengharukan sekaligus menyayat hati.

 

Arisan!

5. Arisan! (2005—drama, komedi)

Sutradara: Nia Dinata. Pemain: Tora Sudiro, Cut Mini, Surya Saputra, Aida Nurmala

Arisan menjadi ajang kaum sosialita ibukota untuk berkumpul dan memamerkan kemapanan hidup mereka di usia yang masih relatif muda. Namun, di balik gemerlap, mereka menyimpan banyak masalah, dari masalah perkawinan hingga kegamangan orientasi seksual.

Bold and brass: Ini adalah sebuah film yang berani, karena merupakan film Indonesia pertama yang mengangkat topik LGBT. Diceritakan dengan jujur, terbuka, namun tetap ringan dan jenaka. Arisan! jelas merupakan masterpiece Teh Nia Dinata.

Love for share: Setelah mengangkat isu LGBT, Teh Nia Dinata kembali memproduksi film dengan tema berani Berbagi Suami (2006) menyoroti isu poligami dengan jenaka tapi tetap menyentil.

 

The Raid 2

4. The Raid 2: Berandal (2013—action, crime)

Sutradara: Gareth Evans. Pemain: Iko Uwais, Arifin Putra, Tio Pakusadewo

Langsung melanjutkan kisah dari film pertamanya, sekarang Rama harus masuk penjara demi berteman dengan Uco, anak konglomerat sekaligus ketua mafia bernama Bangun. Tujuannya hanya satu: supaya Rama dapat menumpas para gangster itu dari dalam.

Sh*t just got real: Skala film pertama benar-benar dipompa hingga 2 kali lipat di film ini. Adegan kebut-kebutan di jalanan Jakarta akan membuat seri The Fast and The Furious tidak ada apa-apanya. Dan, final battle-nya benar-benar mengekploitasi silat hingga maksimal. Gareth brings the action like nobody’s business!

The infamous “brother”: Di tahun yang sama, Killers garapan Mo Brothers dirilis dan sama-sama menuai pujian seperti The Raid 2 pada ajang Sundance Festival.

 

The Raid

3. Serbuan Maut / The Raid (2011—action, crime)

Sutradara: Gareth Evans. Pemain: Iko Uwais, Ray Sahetapi

Rama, seorang anggota polisi, ikut dalam misi berbahaya menyergap sarang gangster milik Tama, seorang gembong narkoba yang kejam. Dia dan rekan-rekannya terjebak dan harus bertahan hidup melawan puluhan anak buah Tama yang kejam.

The hell unleashed: Akhirnya! Sebuah film aksi garapan anak bangsa yang membuat saya menangis haru! Pertama kali menonton, saya tak percaya kalau film Indonesia bisa sekeren ini! Bahkan lebih keren dari film aksi Hollywood kebanyakan. Seru, menengangkan, mengasyikkan, memompa adrenalin tanpa selama henti 90 menit nonstop! Salah satu film action terbaik yang pernah saya saksikan.

Kick ass: Joko Anwar mempersembahkan Kala: Death Time (2007), sebuah film noir pertama di Indonesia yang dianggap salah satu lompatan tertinggi dalam sejarah perfilman Indonesia oleh para kritikus.

 

Pintu Terlarang

2. Pintu Terlarang (2009—thriller)

Sutradara: Joko Anwar. Pemain: Fachri Albar, Marsha Timothy

Hidup Gambir terlihat sempurna. Karier sebagai pematung yang sukses dan memiliki istri cantik bernama Talyda. Namun, dibalik kesempurnaan itu ada rahasia kelam yang berusaha ditutup rapat oleh Talyda. Apa pun yang terjadi, Gambir tak boleh membuka pintu berwarna merah di ruang bengkel seninya.

The forbidden door: Diangkat dari novel berjudul sama karya Sekar Ayu Asmara, Pintu Terlarang boleh dibilang sebagai film thriller terbaik di Indonesia. Ceritanya cerdas, nuansa jazzy-nya berkelas, misterinya terjaga hingga akhir, tensinya dibangun dengan baik, dan ending-nya begitu mengejutkan. Arguably the best Indonesian movie of this decade.

Mindf**k: Satu lagi persembahan Sekar Ayu Asmara, sebuah film berjudul Belahan Jiwa (2005). Berkisah tentang empat orang wanita dengan empat masalah berbeda yang saling terkait dengan seorang wanita misterius bernama Cempaka. Barangkali, Belahan Jiwa adalah film thriller Indonesia paling underrated sampai saat ini.

 

Laskar Pelangi

1. Laskar Pelangi (2008—drama)

Sutradara: Riri Riza. Pemain: Cut Mini, Ikranegara

Diangkat dari novel fenomenal berjudul sama karya Andrea Hirata, Laskar Pelangi mengisahkan tentang sebelas siswa di sebuah sekolah sederhana di Belitong. Kendati sederhana, mereka tetap giat menuntut ilmu berkat guru mereka yang isnpiratif.

Childhood memory: Inilah film Indonesia favorit saya karena alasan yang sederhana: kisahnya mengingatkan pada masa kecil saya di Pulau Bintan, Kepulauan Riau. Alhasil, film ini terasa begitu personal. Saya bahkan tak malu mengakui kalau saya menangis sewaktu menontonnya gara-gara merindukan teman-teman masa kecil saya. Menyentuh, hangat, sekaligus indah. Terima kasih Andrea Hirata, Riri Riza, dan Mira Lesmana.

The dream chaser: Kegigihan guru inspiratif juga dapat disaksikan di film Sokola Rimba (2013), diangkat dari pengalaman Butet Manurung yang mengajarkan anak-anak Orang Rimba di Jambi.

 

Anggota Laskar Pelangi

Itulah daftar film-film favorit saya karya anak bangsa. Maju terus perfilman Indonesia!

 

@AdhamTFusama

Anies Baswedan’s Great Speech: Kenapa Memilih Jokowi?


Pada tanggal 18 Juni 2014, Anies Baswedan menyampaikan pidatonya di Soehana Hall, Energy Building, SCBD, Jakarta tentang mengapa dia memilih Jokowi. Buat saya, pidato beliau adalah salah satu pidato paling menggugah yang pernah saya saksikan. Kalau boleh jujur, saya tidak ingat kapan terakhir saya mendengar pidato yang inspiratif dari figur bangsa, di luar mimbar khotbah Jumat.

Bukan sekadar berkampanye mendukung calon presiden nomor urut 2, beliau juga banyak menyampaikan tentang mindset masyarakat. Dengan bahasa yang ringan, beliau tidak menggurui melainkan mengajak kita supaya memiliki pola pikir dan cara pandang yang bijak. Berikut adalah videonya:

 

 

Ya, durasinya memang cukup panjang, yakni sekitar 34 menit. Ya, bagi teman-teman yang memiliki koneksi internet lambat seperti di rumah saya, memang perlu bersabar untuk bisa menyaksikannya.

Tapi, bagi teman-teman yang tak sabar untuk mengetahui isi pidato Pak Anies tersebut, saya mencoba mencatat seluruh pidato beliau di bawah ini. Seperti kata Pak Anies, kita harus sama-sama turun tangan dan terlibat dalam menentukan masa depan bangsa. Saya—yang merasa tidak dapat berbuat banyak—mungkin hanya bisa melakukan hal ini. Dan tidak, saya tidak dibayar untuk melakukannya, meski saya termasuk penulis yang matre. Hahaha.

Catatan: saya mencatat sembari mendengarkan pidato beliau. Saya berusaha untuk setia dalam mencatat ucapan beliau kata per kata. Tapi, tentu saja ada perbedaan antara kalimat lisan dan tulisan. Oleh karena itulah, ada bagian-bagian yang saya edit tanpa mengubah inti serta esensi kalimat beliau. Beberapa istilah bahasa Inggris juga saya terjemahkan, supaya pidato beliau dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat.

Pada beberapa bagian, saya berikan pula keterangan tanda kurung “(…)” untuk menjelaskan konteks kalimat lisan—yang disertai gesture serta gerak tubuh Pak Anies, agar dapat tersampaikan maksudnya dalam kalimat tulisan. Juga, ada beberapa bagian yang tidak saya catat—misalnya saat beliau berinteraksi dengan host, bercanda dengan penonton, dan lain-lain. Yang saya catat adalah murni bagian pidato beliau.

Oleh karena itulah, saya anjurkan teman-teman untuk sekaligus menonton videonya, agar teman-teman dapat memaknai pidato beliau dengan lebih baik. Apabila ada pemaknaan yang keliru dalam tulisan saya, mohon hubungi saya melalui Facebook atau Twitter. Ya, siapa tahu Pak Anies Baswedan sendiri yang bersedia mengoreksi (ge’er parah). Hahaha.

Selamat menyaksikan, selamat membaca, dan salam dua jari.

 

***

 

MENGAPA PILIH JOKOWI?

 

Anies Baswedan

Tidak terlalu sulit untuk mengambil pilihan ketika kita punya pilihan Prabowo dan Jokowi. Nggak sulit sama sekali. Dan, saya selalu katakan, tidak sedikit pun punya beban moral untuk bilang “Saya pilih Jokowi.” Titik. Nggak ada sulitnya.

Jadi, ini menurut saya, kita perlu turun tangan sama-sama dan syukuri perkembangan. Perbaiki kekurangan dan siap turun tangan. Kebanyakan dari kita, jika ada masalah maka kita semua mendiskusikannya, sembari mengharapkan ada perubahan, dan sambil berasumsi ada orang lain yang berbuat. Kalau tidak ada orang lain yang berbuat, kita terus memproduksi keluhan. Itu namanya urun angan. Republik nggak berubah dengan urun angan. Kita harus turun tangan.

Jadi, ketika kita lihat politik di Indonesia, ada banyak sekali masalah. Dan, orang-orang yang kira-kira memiliki hati rasanya jarang mau masuk ke wilayah politik. Di kampus, saya pernah bertanya pada mahasiswa:

“Nanti selesai kuliah mau ke mana?

“Rencananya bisnis, Pak.”

“Nggak berminat ke politik?”

Wajahnya (si mahasiswa) itu berubah. Dia melihat rektornya kayak mau bilang “You are so wrong.” Kok bisa rektornya bertanya seperti itu?

“Kenapa bisnis? Kenapa nggak ke politik?”

“Politik itu kotor, Pak.”

Jadi saya jawab balik, “Kalau bisnis bersih, ya?”

Bersih atau kotor itu cara kita menjalani, bukan soal sektor. Sektor mana pun bisa bersih dan kotor. Tapi cara menjalaninya menunjukkan integritas yang kita miliki. That’s the answer.

Nah, orang-orang baik di Republik ini banyaknya luar biasa! Tapi jika orang baik hanya mau menjadi pembayar pajak yang baik, lalu siapa yang mengurusi uang pajak kita? That is a simple question? Siapa? Semua yang berada di ruangan ini, jika tadi siang Anda bekerja, maka Anda bayar pajak secara rutin. Dan jumlah pajaknya impresif! Makin hari porsi pajak kita dalam APBN luar biasa besar.

Pertanyaannya: siapa yang me-manage itu jika orang baik hanya mau menjadi pembayar pajak yang baik? Sayangnya, iklan-iklan yang ada adalah: jadilah warga negara yang baik dengan menjadi pembayar pajak yang baik. Tidak ada iklan yang bilang jadilah pengelola pajak yang baik. Nah, kita semua harus memikirkan ulang akan hal ini. Sebagian dari kita harus ambil keputusan, bukan saja untuk menjadi pembayar pajak tapi juga untuk menjadi pengelola uang pajak kita semua. Harus.

Nah, orang-orang yang baik-baik ini ketika mereka memilih masuk dunia politik biasanya menghadapi masalah. Misalnya, dosen baik-baik, pengajar baik-baik dan berintegritas, lalu namanya muncul sebagai caleg, maka orang-orang sekampus mendiskusikan. “Sakit apa dia sampai mau jadi caleg? Apa yang terjadi sehingga dia mau jadi caleg?” Itu mindset kita. Kita cenderung mempermasalahkan orang yang tidak bermasalah yang masuk ke dunia politik. Tapi jika orang yang bermasalah masuk politik kita justru tidak mempermasalahkan. Ini masalahnya!

Jadi, kalau ada orang yang bermasalah masuk politik, kita berpikir ya sudah seharusnya. Gitu, kan? Tapi, kalau ada orang yang tidak bermasalah lalu mau masuk ke dunia politik, justru kita tahan. That will never change our politic! That could never change!

Karena itu, kita justru harus mendorong orang-orang baik untuk masuk politik. Tidak semua orang harus masuk politik. Tapi kalau ada orang baik yang mau masuk politik, bantu! Kalau ada orang baik yang mau masuk politik, ikutlah terlibat! Kenapa? Kalau ada orang baik memilih untuk mengambil tanggung jawab mengurusi masalah politik, dia akan kalah jika orang baik lainnya memilih diam dan mendiamkan. Pasti!

Jadi, ketika ada orang baik menyatakan, “Saya siap mau ikut tanggung jawab!”, bantuin! Dukung dia! Karena the only way he will lose is all of us standing by and watching.

Dan, banyak dari kita yang cuma mengamati dia, kita saksikan sebagai subjek percobaan. Kita doakan menang. Tapi kalau kalah, kita malah bilang “Tuh kan, bener! Jangan masuk politik!” Banyak dari kita yang cuma menyaksikan. Tapi, no, no, no, no, kita harus terlibat.

Saya melihat Indonesia sekarang tumbuh luar biasa. Generasi kita—semua yang berada di ruangan ini—have benefit so much from the republic. Let’s pay back! Yuk, kita bayar balik! Dan, bayar baliknya dengan cara apa? Dengan cara menentukan arah Indonesia. Dan, kalau ada orang baik di sana, jangan diam!

Nah, hari ini, jelas-jelas ada orang baik. Namanya Jokowi. Udah jelas kan dia orang baik?

Saya kebetulan sudah kenal dengan Pak Jokowi dari dulu. Saya kenal Pak Jokowi ketika beliau masih menjadi Walikota Solo periode pertama. Dan, ketika bertemu pertama kali, I wasn’t really sure that he was a mayor—saya tidak yakin dia itu walikota (karena penampilannya yang sederhana).

Ya, Pak Jokowi mungkin nggak ingat. Waktu itu ada pernikahan keluarga—kebetulan keluarga saya di Solo—dan pak walikotanya datang, jadi saya diberitahu, “Anies, tolong sambut, walikotanya datang.” Jadi, saya ke depan dan mencari-cari mana walikotanya. I could not find him. Tapi, akhirnya, saya bertemu juga dengan Pak Jokowi. Kami pun mengobrol, berdiskusi.

Jika selama ini kita menyaksikan kemunculan calon yang mengatasnamakan rakyat, maka kali ini muncul seorang calon yang benar-benar dari rakyat Indonesia. Truly.

Jadi, kalau Pak Jokowi berdiri di mana pun, dia akan terlihat: he is one of us. Jadi ketika kita bilang “Jokowi Adalah Kita”, it is so true! Saya lihat itu sendiri ketika berkenalan pertama kali dengan Pak Jokowi. Setelah itu kami banyak berinteraksi. This guy is very interesting. Dia merupakan suatu antitesis atas apa yang terjadi selama ini. Dia menawarkan kebaruan.

Saya dari dulu, ketika ngobrol di Gerakan Turun Tangan: yang harus kita tawarkan bukan kemudaan, karena ini bukan urusan umur. Tua-muda itu bukan masalah hitungan tahun. Hitungan tahunnya boleh tinggi, tapi kalau yang dipikirkannya tetap masa depan, maka sebenarnya dia masih muda. Sebaliknya, kalau ada orang yang hitungan tahunnya kecil tapi yang diceritakannya adalah masa lalu… he is so old. Sebenarnya orang itu sudah sangat tua.

Nah, yang kita butuhkan itu kebaruan. Saya ingat di awal banyak sekali kritik. Why? Because political process. Saya katakan, jalani ini dengan cara yang benar, bersama orang-orang yang baik. Masuk dengan kepala tegak, keluar dengan kepala tegak. If you do it the right way, maka kita bisa menjalani itu dengan baik. Karena di ujung, begitu kita selesai proses konvensi, sekarang kita punya pilihan di depan kita: ada Pak Prabowo, ada Pak Jokowi. Ditunggu sampai tanggal 9 Juli pun tidak nambah calonnya.

Begitu sudah jelas keputusannya dua calon, decide early! Putuskan segera! Kenapa? Karena ini bukan oportunistik. Kalau oportunistik nunggu hasil survei. Ada tuh yang nunggu hasil survei baru memutuskan. Ada lho!

Saya melihat, hal ini begitu sederhana. Saya sempat menyampaikan hal ini di MetroTV, yakni: apa tantangan Indonesia? Kita sudah 15 tahun lebih reformasi tapi masih ada banyak hal yang mandek. Kita perlu orang yang bisa melakukan terobosan. Membongkar yang sekarang berbelit-belit. Melakukan tindakan-tindakan yang outside the box. Dan itu hanya bisa dilakukan jika dia bukan bagian dari masalah.

Kalau dia bagian dari masalah, there is no way he will fix it. Kita sudah melihat selama beberapa tahun ini. Karena itu, jangan cari orang yang merupakan bagian dari masalah. Di sini maka terlihat, Pak Jokowi is a clear choice. Dia datang membawa kebaruan.

Ada muncul pertanyaan, kalau wakilnya orang lama. Pak JK—Jusuf Kalla. Usianya 72 tahun, it’s rather old.  Tapi, kalau dihitung stamina, dia sangat energetik. Saya pun kenal Pak JK secara pribadi dan kebetulan cukup sering berinteraksi dengan dia. Dan, selama Pak JK menjadi wakil presiden (di era SBY), dia selalu diasosiasikan dengan terobosan. And that’s what we need.

Jadi, (duet Jokowi-JK) ini merupakan kombinasi yang menarik. Yang satu baru—kira-kira belum tahu lanskapnya seperti apa, di sisi lain ada yang senior—tetapi diiringi dengan terobosan. Kalau senior tapi tidak pernah terasosiasi dengan terobosan, barangkali dia akan menjadi baggage atau beban yang berat.

Di sisi lain, ada Pak Prabowo. Ya, dia juga baru. Bagian dari Orde Baru. Sementara yang satunya adalah seseorang yang sudah 15 tahun memimpin—dari mulai Menristek, Menteri Perhubungan, Mensesneg, sampai menjadi Menko Ekuin—dan sebagian yang dikritik Pak Prabowo adalah yang dikerjakan oleh wakilnya.

Saya terus terang kasihan kalau membicarakan soal “bocor”. Kenapa? Karena kelebihan 0 saja sudah dahsyat efeknya. Bagi orang yang tahu angka, 0 is a big different. Contoh, Rene (host dan moderator) punya anak 3, tambahin 0 satu saja di belakangnya, jadinya 30! That’s a big responsibility! Jadi, kalau dari 700 menjadi 7000, that’s a big different!

Tapi, menurut saya, bukan soal angka itu saja. Begini, Anda harus memiliki comprehensive understanding tentang angka. Ini penting! Kalau mau menjadi CEO sebuah perusahaan, you really need to know the size of your company. Jadi ketika mendengar laporan, you can make sense of it—Anda bisa melihatnya secara logis. Misalnya, GDP kita ini 10.500, lalu ada yang bilang bocor 7.000… you really need to make sense of it. Maksudnya, gimana bisa GDP kita bisa bocor sebanyak itu? Ditambah lagi, APBN-nya cuma 1.800. Lho, terus, bocornya yang mana? Kebayang, kan?

Ini, menurut saya, it uncovered the other side. Bahwa sebenarnya di balik retorika itu adakah pengetahuan yang mendalam? That’s the question.

Kembali ke masalah sebelumnya, saya lihat yang satu menawarkan kebaruan, yang satu lagi justru bagian dari yang lama. Lima tahun ke depan adalah 5 tahun yang mendasar buat Indonesia. Bukan cuma karena new first term (presiden baru), tapi juga karena mulai tahun depan kita masuk di ASEAN Economic Community. We’re part of that community. Transisi 5 tahun ini menentukan. Dan, kekuatan untuk kita bisa berhadapan dengan ASEAN, bukan di Deplu, bukan di Departemen Perdagangan, tapi di kekuatan manusia Indonesia di dalam negeri. That’s the answer.

Nah, di sini kemudian saya melihat perbedaan yang lebih jauh lagi. Pak Jokowi selalu mengatakan manusia Indonesia merupakan kunci. Saya juga kebetulan mempromosikan hal itu. I’m promoting that so much. Dan, selama ini saya juga mengatakan pada teman-teman di Gerakan Turun Tangan: yang kita bawa bukan cita-cita meraih sesuatu. Yang kita bawa adalah misi. Dan, misi itu adalah untuk di-deliver, untuk dicapai. That’s the mission. Dan, kalau kita tidak mendapatkan amanat untuk mencapainya, maka misi itu bisa kita titipkan pada orang lain (Jokowi) untuk menjalankannya.

That’s mission! Kalau cita-cita, Anda tidak bisa menitipkannya pada orang lain. Cita-cita untuk Anda raih sendiri, untuk diri Anda sendiri.

Nah, Pak Jokowi membicarakan tentang manusia sementara Pak Prabowo lebih banyak membicarakan soal sumber daya alam. Dan, saya selalu mengingatkan—ini bukan cuma saya katakan sekarang saja—kalau kita berbicara dengan retorika yang nasionalistis tapi yang dibicarakan hanya sumber daya alam, maka sebenarnya kita meneruskan tradisi berpikir kaum kolonial.

Kenapa? Karena kaum kolonial itu datang ke Indonesia sama sekali tidak memikirkan manusianya. Yang mereka pikirkan adalah extraction of resources—menyerap sumber daya alam.  Anda lihat peta rel kereta api di Jawa? Peta itu mencerminkan pusat-pusat eksploitasi sumber daya alam.

Di Sumatera Barat ke mana rel kereta apinya menuju? Ke Sawahlunto, karena ada batu bara. Di Sumatera Selatan ada kereta api ke Tanjung Enim (karena di situ ada batu bara juga). Semua tempat-tempat yang ada sumber daya alam di situ dilakukan pembangunan infrastruktur, tapi tidak dipikirkan manusianya.

Indonesia membutuhkan presiden yang memikirkan manusianya bukan cuma sumber daya alamnya. Jadi, menurut saya, dari situ saja sudah terbayang seperti apa fokusnya.

Nah, ini kalau bicara soal fokus. Kalau bicara soal style, menurut saya Pak Jokowi itu hidupnya sangat sederhana. Kalau ditanya apakah dia mampu hidup lebih dari sekarang? O yes he can afford it—dia mampu. Tapi style-nya (tetap sederhana). Tadi ada yang bercerita soal Pak Jokowi pernah tinggal di Kampung Melayu. Ada pejabat yang kalau disuruh jalan sendirian ke pasar, kikuknya nggak keruan. Dia tidak tahu what to do. Harus ngomong apa? Interaksinya apa?

Kenapa demikian? Karena selama ini dia bukan bagian dari interaksi dengan rakyat. Nah, sekarang kita bicara style yang tidak bisa ditiru. You have to experience it, you have to do it. Anda harus mengalami dan melakukannya. Karena Pak Jokowi itu tumbuh bersama rakyat, pasti terbiasa berinteraksi dengan mereka. Dan, nggak ada beban untuk melakukan itu.

Dan, yang menarik adalah cara Pak Jokowi menghadapi masalah, dia tuliskan pada buku catatan [Pak Anies menggunakan alat bantu buku catatan untuk menyampaikan maksud beliau]. Sementara yang banyak terjadi pada pemimpin kita adalah” kalau ada kritik atas suatu masalah, dianggap “that criticism is about me”. Sementara Pak Jokowi tidak. Jika ada masalah, dia diskusikan bersama-sama.

Ini mindset yang penting sekali.

Nah, kenapa (Jokowi) harus jadi presiden? Ya, yang nomor satu karena sudah dicalonkan. Tapi, yang tidak kalah penting, tadi saya sudah pertanyakan di depan (sebelum acara): apa yang berubah dari Jakarta?

Teman-teman, ketika ada orang baik, yang terpercaya, menjadi pemimpin di sebuah wilayah, apa yang terjadi di wilayah itu? Muncul perasaan kalau ada orang yang bertanggung jawab yang sedang bekerja di sana.

Apakah orang itu akan menyelesaikan sebuah masalah? Tidak. Apakah orang itu akan menyelesaikan masalah dalam waktu sesingkat-singkatnya? Tidak. Tapi ketika ada problem-problem baru, maka rakyat tidak mengeluh karena dia tahu pemimpinnya sedang bekerja.

Republik ini membutuhkan suasana itu. Lihat saja, pada saat Jakarta banjir. Memangnya sewaktu Pak Jokowi datang lantas banjir berhenti? Tidak. Tapi coba lihat di Twitter, apakah gubernurnya menjadi sasaran complain? Tidak. Karena orang tahu, he’s working out there. He’s working to fix the problem—dia bekerja untuk memperbaiki masalah.

Lihat lagi di Bandung. Kang Emil (Ridwan Kamil) terpilih menjadi Walikota Bandung. Apa yang terjadi? Masyarakat merasa, “Nih ada orang benar yang mau bekerja buat kita.” Orang baik itu ada di sana untuk membereskan masalah. Ketika masih ada masalah, ngomong sama Kang Emil.

Pak Jokowi juga begitu. Indonesia membutuhkan suasana baru. Hadirkan pemimpin baru itu. Itu yang menurut saya penting.

Jadi, nanti ketika ada yang bicara tentang Revolusi Mental, this is what we have been said all along. Ini yang selama ini kita katakan! Mengubah perspektif, dari pesimis menjadi optimis. Kita punya semua syarat untuk optimis. Karena itu perlu hadir orang yang bisa dijadikan contoh. Bisa dijadikan teladan dan membuat kita punya suasana yang baru. Dan, Jokowi memberikan itu.

Dulu, waktu saya kecil, orangtua saya memberikan buku-buku biografi tokoh-tokoh Indonesia, macam Sjahrir, Hatta, Nasir, Soekarno, dan lain-lain. Setelah dibaca, saya berpikir, mereka tuh apa sih profesinya? Politikus, kan? Tapi orangtua menjadikan mereka sebagai teladan di rumah-rumahnya. Nah, hari ini coba lihat TV, ada nggak orangtua yang bilang, “Nak, tiru ya mereka (para politikus).”? Ada nggak sekarang yang seperti itu? It’s a problem!

Karena itu, hadirkan yang terbaik, hadirkan orang bersih di puncak, dan biarkan dia menular, memunculkan ratusan, ribuan, jutaan orang baik di Indonesia.

 

LALU, APA YANG HARUS KITA LAKUKAN SEKARANG?

 

What do we do? What do we need to do? Apa yang harus kita kerjakan?

Pak Jokowi, pergi ke mana pun, adalah magnet. Makanya sekarang dia sedang sibuk berkeliling. Dan di mana pun dia berkunjung, orang-orang ramai mendatanginya. Tapi jangan kita lupa, yang dibutuhkan Pak Jokowi bukan orang yang berombongan dan beramai-ramai mendekati dia. Yang dibutuhkan sekarang adalah banyak sekali relawan, di mana pun juga. Yang harus dijadikan fokus bukanlah untuk mendatangkan Jokowi. Yang harus dijadikan fokus adalah memenangkan Jokowi.

Jadi, cara memenangkan Jokowi itu bukan dengan cara mendatangkan Jokowi. Kasihan betul Pak Jokowi harus keliling ke mana-mana. Perjalanan kita masih panjang. Yang perlu dikerjakan: ingat tanggal 9 Juli, kampanyekan untuk meyakinkan orang lain. Kita bisa melakukannya sendiri. Ada “10 Alasan Memilih Jokowi”, teman-teman bisa print out itu, lalu saat teman-teman naik kendaraan umum, tinggalkan print out itu sambil tersenyum. Nggak usah kampanye lisan karena itu sensitif.

Intinya, Anda lihat apa yang bisa Anda kerjakan untuk membantu mengenalkan, menjelaskan, dan kita tunjukkan bahwa semua orang yang mendukung Jokowi-JK juga merupakan perwakilan Jokowi-JK. Artinya kata-kata kita, ekspresi kita, tulisan kita is on their behalf—kita mewakili mereka.

Di situ sebabnya relawan-relawan Jokowi itu betul-betul relawan. Kenapa saya katakan demikian? Karena untuk menulis fitnah diperlukan motif yang luar biasa (seperti uang). Karena itu, relawan-relawan di sini bukan tipe-tipe yang bisa menghasilkan fitnah. Anda adalah orang-orang baik, nggak mungkin menghasilkan fitnah. Kita bisa ekspresikan ketidaksetujuan tapi tidak menghasilkan fitnah.

Selain campaign, ajak juga (orang-orang) di lingkungan kita. Jangan diam! Targetkan saja misalnya 1 hari 10 orang milih Jokowi. Dan jangan khawatir karena mendukung Pak Jokowi, Anda tidak punya beban moral untuk menjelaskan kenapa Pak Jokowi (pantas menjadi presiden). Karena itulah, biasanya pendukung Pak Jokowi nggak sembunyi-sembunyi. Sementara ada pendukung yang tidak berani berterus terang, takut ditanya soal masa lalu.

Jadi, teman-teman lakukan itu.

Dan, yang kedua, usia bangsa ini masih panjang. Bukan sampai tanggal 9 Juli saja. Begitu banyak kampanye yang dilakukan justru merobek rasa kebangsaan kita. Coba bayangkan, tenun kebangsaan ini dirajut dari etnis yang bervariasi, agama bervariasi, bahasa yang bervariasi. Dan itu tidak boleh robek hanya karena urusan pilpres.

Karena itu, pendukung Jokowi dan JK adalah orang yang berkampanye dan menjaga suasana kebangsaan Indonesia.

Lalu, yang ketiga, di hari pemilihan tanggal 9 Juli, jangan sungkan untuk mengajak tetangga nyoblos. It’s perfectly finenggak masalah. Selesai nyoblos, lihat hasil perhitungan suaranya. Yang bisa mengamankan suara adalah pendukung-pendukung tulusnya Pak Jokowi. Jangan sampai suaranya ada yang hilang. Segala macam kemungkinan bisa terjadi. Dan hal tersebut bisa dicegah jika ada orang yang mengawasi. Kita semua harus turun tangan. Jangan hanya nyoblos lalu nunggu hasilnya di TV. Harus ada yang mau terlibat.

Dan, jika kita melakukan itu, beban moral Pak Jokowi semakin besar. Kenapa? Karena dia didukung oleh orang-orang yang mengatakan “Saya melakukan ini karena saya percaya pada Anda. Saya melakukan ini bukan karena Rupiah, karena harga diri saya tidak bisa dirupiahkan. Anda tidak bisa bayar saya. Tapi saya melakukan ini karena saya percaya pada Anda.”

Sehingga, when he is in power, he’s in-charge, dia memiliki otortitas, maka dia akan bekerja untuk kita.

Apakah semua keputusannya akan membahagiakan? Belum tentu. Kita seringkali kalau kecewa dengan politikus kemudian patah arang. Sementara kita sehari-hari juga kecewa. Kecewa sama pacar, kecewa sama istri, sama suami, bahkan kecewa pada Anies Baswedan.

Tapi, begini teman-teman, dalam mengambil keputusan itu minimal ada empat opsi. Pertama, keputusan yang benar dan baik. Kalau ambil keputusan itu, aman deh, nobody disagree with you. Keputusan yang kedua adalah keputusan yang tidak benar dan tidak baik. Itu harus dihindari. Everyone disagree with you. Nah, yang jadi judgement itu di sini: keputusan yang benar tapi tidak baik. Atau, keputusan yang baik tapi tidak benar.

Sehari-hari kita mengalaminya, kan? Dan pemimpin juga harus mengalami itu. Judgement atau penilaian kita dan dia mungkin beda, tapi satu hal yang pasti: bahwa kalau dia naik bukan karena Rupiah maka dia ambil keputusan bukan karena Rupiah. Dan itu yang kita kerjakan sekarang.

Thank you.

 

***

 

People Power, You Can't Stop It!

People Power, You Can’t Stop It!

Ingat! Tanggal #9Juli nanti #SayNoToGolput dan #TegasPilih2

#Salam2Jari

Share is care!

@AdhamTFusama