Saya dan Supernova


20160218_131457

One of my proudest achievement as an editor so far 😀

Saya masih ingat kali pertama membaca Supernova, yaitu di tahun 2003, ketika saya masih duduk di kelas 2 SMA. Waktu itu, saya main ke rumah teman saya, Rido, di daerah Pagelaran, Bogor. Rido yang tahu saya suka membaca kemudian merekomendasikan sebuah novel untuk saya. Judulnya Supernova: Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh karya Dee.

“Bagus nih. Lo pasti suka.” Begitu katanya. Saat itu, saya belum mengenal siapa itu Dewi “Dee” Lestari. Jadi, saya tidak punya ekspektasi apa-apa sewaktu meminjam buku tersebut. Namun, begitu saya baca, saya langsung terpukau! Ini benar-benar novel yang berbeda. Saya belum pernah membaca novel Indonesia seperti ini sebelumnya. Benar-benar bikin candu!

Alhasil, setelah selesai membaca KPBJ, saya segera menagih ke Rido untuk dipinjamkan lanjutannya: Akar dan Petir. Lagi-lagi, saya terpesona. Membaca seri Supernova seperti masuk dan ikut ke dalam sebuah petualangan yang mengasyikkan. Saya pun segera menjadikan Dee Lestari sebagai salah satu penulis Indonesia favorit saya. Dan, selama bertahun-tahun, gaya menulis Mbak Dee pun banyak memengaruhi gaya menulis saya. Gaya yang lugas, jernih, cerdas, dan seru. Ah, pokoknya saya jatuh cinta! Saya tak sabar untuk menantikan seri lanjutannya.

Jadi, saya pun menunggu, menunggu, menunggu, menunggu, dan menunggu. Tapi, Partikel tak kunjung datang. Saya mulai resah, jangan-jangan Mbak Dee tidak akan melanjutkan seri ini. Mungkin, karena seri ini terlalu awesome bahkan Mbak Dee pun tak tahu bagaimana cara menyudahinya. Begitulah pikir saya. Alhasil, yang bisa saya lakukan hanyalah menarik napas sedih dan kecewa.

Lanjutan yang dinanti baru datang 8 tahun kemudian (CMIIW). Terus terang, waktu itu, saya sudah kadung kecewa dengan Mbak Dee. Ibaratnya, sudah terlanjur move on dari Supernova dan lebih memilih untuk membaca buku lainnya (ceritanya sih ngambek. Hahaha). Bahkan sampai Gelombang tiba pun saya masih ngambek.

Namun, pada akhirnya, rasa CLBK itu datang menyerang. Saya, yang sudah lama kepincut dengan desain cover seri Supernova edisi republish yang keren itu, memutuskan untuk memberi Mbak Dee kesempatan satu kali lagi (emangnya siapa elo, Dham?). Saya pun membeli KPBJ, Akar, dan Petir untuk koleksi.

Lalu, saya mendapat kesempatan untuk bekerja di Bentang Pustaka. Saat itu, saya tahu kalau saya harus mengejar ketinggalan dengan membaca Partikel dan Gelombang, karena cepat atau lambat Inteligensi Embun Pagi pasti akan tiba di meja redaksi. Yah, waktu itu sih niat saya membaca Partikel dan Gelombang adalah supaya bisa lebih menikmati IEP, kalau seri pamungkas tersebut sudah terbit. Itu saja. Saya cukup tahu diri. Mustahil editor baru seperti saya diserahkan naskah sepenting IEP. Saya yakin, editor lainnya yang lebih senior-lah, seperti Mbak Dhewiberta, yang akan menangani naskah tersebut.

Saya membaca Partikel di atas kereta, waktu mudik ke Bogor. Di sana, saya seperti menemukan kembali kerinduan akan cerita-cerita Supernova yang dulu pernah mengajak saya ikut berpetualang ke dalamnya. Saya jatuh cinta lagi dan memaafkan Mbak Dee (sekali lagi, emangnya siapa elo, Dham?) yang sudah membuat saya menunggu selama bertahun-tahun. Malah, kalau saya pikir-pikir sekarang, seharusnya saya bersyukur karena Partikel pending selama 8 tahun. Kenapa? Akan saya ceritakan alasannya sebentar lagi.

Singkatnya, hari itu pun tiba. Hari di mana naskah IEP masuk ke meja redaksi … dan diserahkan ke saya. Saya sempat melongo. Lebih-lebih sewaktu diminta untuk menyunting naskah tersebut. Serius nih? Beneran? Saya nggak lagi dikerjain, kan? Maksud saya, yang benar saja! Saya kan cuma editor baru!

Tapi, setelah mengonfirmasi kalau sayalah yang betul-betul ditunjuk untuk mengedit naskah ini, saya girang sekali … sekaligus grogi bukan main. Wajar, soalnya saya harus ekstra teliti dan ekstra hati-hati dalam menangani naskah yang satu ini. Meski demikian, hal tersebut tidak serta-merta bikin saya tertekan. Saya justru merasa tertantang dan bersemangat. Apalagi sewaktu harus berkorespondensi dan berdiskusi dengan Mbak Dee!

OH MY GOD! CAN YOU BELIEVE IT?

Oke, maaf, saya harus lebay di sini! Soalnya, saya yang cuma fans ini malah mendiskusikan soal naskah Supernova IEP dengan penulisnya langsung? How crazy is that? That’s beyond my wildest dream!

Bekerja bersama Mbak Dee pun sangat menyenangkan. Kendati sudah memiliki nama besar, Mbak Dee adalah tipe penulis yang masih mau mendengarkan saran serta masukan dari orang lain. Dari pengalaman saya sebagai editor di beberapa penerbit, masih ada lho penulis yang keukeuh naskahnya tidak mau diedit, karena khawatir si editor akan “menghilangkan nyawa” dari tulisannya tersebut.

Nah, Mbak Dee berbeda! Meski Supernova IEP adalah karya dan anaknya yang paling dia sayangi (rasanya wajar-wajar saja kalau Mbak Dee keberatan naskahnya diotak-atik, sebab dialah yang paling tahu tentang Supernova itu sendiri), Mbak Dee tetap membuka pintu bagi saran-saran perbaikan, yang kiranya bisa memperbagus karyanya tersebut.

Iya, termasuk mendengar saran-saran sepele dari saya.

Saya rasa, itu adalah salah satu kualitas dari Mbak Dee yang perlu diteladani oleh penulis-penulis muda lainnya, termasuk saya.

Yang jelas, proses mengedit Supernova sangat menyenangkan. Saya betul-betul berterima kasih pada Mbak Dee serta kawan-kawan di Bentang Pustaka yang mau membantu, membimbing, memercayakan, serta memberi kesempatan pada editor amatiran seperti saya ini untuk menangani naskah IEP. Pengalaman berharga ini tidak akan saya lupakan!

Ssekarang, saya bersyukur karena Partikel sempat delay selama 8 tahun. Karena dengan begitu, saya berkesempatan untuk ambil bagian dalam perjalanan pamungkas Supernova. Kalau saja Partikel dan Gelombang diterbitkan satu tahun lebih cepat, mustahil saya bisa mendapat kesempatan gila seperti ini! Bahkan, saking gilanya, maka saya akan tertawa terbahak-bahak kalau ada yang berkata: “Percaya nggak, kalau ada remaja SMA cupu—yang dulu baca Supernova KPBJ sambil tengkurep di kasurnya—sekarang malah ikut membidani terbitnya Supernova IEP?”

I mean, it sounds so surreal. But, apparently, life itself is so surreal.

Tanpa saya sadari, tampaknya saya telah terjebak dan tak bisa lepas dari jejaring Supernova sejak tahun 2003. Malah, berkat campur tangan semesta, saya berkesempatan untuk menjadi salah satu pengunjung pertama wahana IEP. Dan, percayalah, wahana tersebut sangat menyenangkan.

Bagi teman-teman yang juga ingin merasakan serunya wahana IEP, jangan lupa, besok wahana akan dibuka secara umum.

Selamat menikmati pengalaman serta perjalanan terakhir Supernova.

#Kamisan New Season: The Girl with the Black Umbrella


Tema Kamisan kali ini

Tema Kamisan kali ini

“Lo serius putus ama Rani?” tanya Ryo dengan mata terbelalak tak percaya, padahal Andik baru saja melangkah masuk ke dalam apartemennya.

“Oy, oy, gue kan baru datang, Yo!” protes Andik, menyerahkan kotak kecil ke temannya yang cerewet itu. “Met ultah, ya. Moga-moga lo cepat lulus kuliah dan enggak kena gonorhea karena kebanyakan ngewek.”

Thanks,” Ryo melempar kado Andik begitu saja ke sofa.

“Eh, kampret! Kado gue malah lo buang begitu aja!”

“Udahlah, gue udah tau lo ngasih gue hadiah sempak sekali pakai yang lo beli di minimarket. Si Gupta yang ngasih tahu.”

“Bangsat emang si Gupta,” gerutu Andik, meski tidak betul-betul marah. Dia melangkah menuju ke meja makan.

“Ndik, lo belum jawab pertanyaan gue,” Ryo masih saja merongrongi Andik. “Lo beneran putus ama si Rani?”

“Ayolah, Yo! Biarkan gue menikmati pesta lo dulu,” kata Andik, mengambil beberapa chicken wings.

“Lo enggak putus setelah pake dia, kan?” tanya Ryo lagi, curiga.

Tawa Andik pecah mendengarnya. Dia menggelengkan kepala sembari menuju ke sofa ruang tengah dengan membawa chicken wings dan cola. “Itu sih elo, Yo! Kampret lo!”

“Woi, Ndik! Akhirnya datang juga lo!” sambut Gupta dan yang lainnya sewaktu Andik bergabung dengan mereka di sofa.

Andik menyalami mereka semua sebelum duduk. Ryo juga ikut duduk, masih penasaran dengan kebenaran berita kalau temannya itu sudah putus dari Rani.

So, Ndik, beneran lo putus ama Rani?” tanya Gupta.

“Duh, kalian itu rewel, ya?” tanggap Andik sewaktu menyantap chicken wings-nya. “Iya, gue baru putus ama dia. Puas lo semua?”

“Akhirnyaaaa…!” tanggap mereka semua seraya menarik napas lega.

Andik tertawa. “Anjrit! Sampe segitunya. Kayaknya lo semua seneng banget ya gue putus ama dia.”

“Bukan seneng, Ndik, tapi lega,” Ryo meralat. “Terus terang sampe sekarang gue masih enggak abis pikir kenapa lo bisa pacaran ama cewek psycho kayak si Rani.”

Oh, come on! She’s not that bad,” sangkal Andik.

Oh, come on! You just want to bang her just because she’s hot!” tandas Gupta.

Untuk yang kesekian kalinya, Andik terbahak. “Asal lo semua tahu aja ya, gue enggak pernah tidur ama Rani.”

“Jadi, lo putus gara-gara dia enggak mau diajak ngamar?” Edo mengonfirmasi.

“Setan lo! Lo pikir gue cuma mikirin seks waktu pacaran? Anjing, ya, lo semua. Otak lo udah pada di sempak semua!” Andik menggelengkan kepala, sok prihatin.

“Jadi, kenapa lo putus?” tanya Gupta.

“Jadi, kenapa kalian lega waktu gue putus?” Andik malah balas bertanya.

“Ya, gue sih kurang suka aja ama sifatnya yang overpossesive. Dan, gue tahu sifat lo, Ndik. Lo pasti menderita selama pacaran ama Rani,” Ryo mengungkapkan asumsinya.

“Nah, itu alasannya,” kata Andik sebelum mengangkat bahu.

“Tapi, hebat juga ya lo bisa tahan pacaran selama setengah tahun ama Rani. Gue pikir seminggu juga udah putus,” tanggap Gupta seraya tertawa.

“Iya ya. Padahal kan si Rani itu nyeremin.”

“Sialan!” Andik menoyor kening Ryo kendati dia sendiri tertawa.

“Tapi, ada lho yang lebih nyeremin dari Rani,” kata Edo.

“Oh ya? Siapa?” tanya Andik.

“Cewek berpayung hitam,” jawab Edo.

Langsung saja semuanya menarik napas malas.

“Mulai lagi deh…” keluh Gupta.

Siapa pun tahu kalau Edo punya minat tinggi pada hal-hal yang berbau mistis, supranatural, atau dunia lain; terlepas dari statusnya sebagai mahasiswa fakultas MIPA yang mengagungkan logika.

“Eh, beneran lho! Ini urban legend yang cukup terkenal di Depok.”

Urban legend belum tentu kenyataan, Do,” protes Ryo.

“Udahlah, guys, kita dengerin aja dulu cerita si Edo,” kikik Andik, yang senang karena mereka tidak perlu membahas soal Rani lagi.

Edo berdeham sebelum memulai ceritanya. “Konon, dulu ada perempuan berpayung hitam yang mau nyeberang jalan di malam berhujan. Saat dia nyebrang, ada mobil yang melaju kencang dan menabrak perempuan itu. Si perempuan pun langsung tewas….”

Andik cuma senyam-senyum saja mendengarnya. Dia tidak begitu tertarik mendengarnya cerita itu sehingga lebih fokus menghabiskan chicken wings-nya. Terlebih, sepertinya dia bisa menebak bagaimana ending cerita itu. Pasti si perempuan mendendam dan gentayangan.

“… Akhirnya, roh si perempuan itu tidak tenang. Dia pun bergentayangan di jalan raya tersebut.”

Tuh bener, kan? Andik membatin dan tertawa di dalam hati.

“Konon, dia sering menampakkan diri sedang berdiri membawa payung hitam di pinggir jalan,” Edo melanjutkan, “Dan, kalau ada yang ngelihat dia, katanya orang itu pasti akan meninggal karena kecelakaan.”

Edo mengakhiri ceritanya dengan nada dramatis. Tapi, cuma bertahan beberapa detik saja, sebelum teman-temannya membahas hal lain. Kisah Edo terlupakan dengan segera, digantikan canda tawa yang sesekali diselingi minuman keras. Musik kemudian dinyalakan dan pesta pun benar-benar dimulai.

 

*

 

Pesta akhirnya selesai pukul tiga dini hari. Itu pun setelah banyak yang tak sadarkan diri gara-gara terlalu mabuk. Gupta yang paling parah. Dia memang punya daya tahan tinggi dengan alkohol, tapi setelah beberapa botol, tetap saja dia terkapar di lantai. Celananya basah dan ada aroma amonia yang menguar. Ryo terpaksa menggeret tubuh Gupta supaya ompol temannya itu tidak mengenai karpet di ruang tengah.

Maka, setelah banyak yang pamit pulang dan sebagian lainnya terlalu mabuk untuk pulang, tinggallah Ryo dan Andik yang masih sadar.

“Lo enggak apa-apa putus ama si Rani?” tanya Ryo membuat Andik menarik napas berat, tanda dia enggan membahas soal mantannya itu.

“Gue baik-baik aja kok,” cuma itu jawaban Andik.

“Bukan itu…” kata Ryo, “Yah, elo tau sendiri kan perangai si Rani. Suka berlebihan, ujung-ujungnya histeris.”

Andik tertawa kecil. “Dia juga udah histeris kok pas gue putusin via telepon. Awalnya nangis sesenggukan sambil memohon supaya kami enggak putus, ujung-ujungnya dia maki-maki gue. Ya udahlah….”

“Hati-hati ama cewek kayak dia, Ndik.”

“Hahaha. Kayak apaan aja.” Andik menggeleng-gelengkan kepalanya. “But thanks anyway. Gue cabut dulu, ya.”

“Lo yakin mau pulang? Nginep aja, Ndik.”

“Gue cuma minum dua gelas, masih sanggup nyetir mobil kok,” kata Andik. Kepalanya memang terasa sedikit melayang, tapi dia yakin dia akan baik-baik saja. “Oke deh, gue pulang dulu. Thanks buat pestanya.”

Thanks udah datang. Hati-hati di jalan.”

Andik pun turun dan menuju ke mobilnya. Dalam beberapa menit, city car-nya itu segera menerjang jalanan yang sudah sepi.  Hanya ada satu dua kendaraan lain yang sesekali melintas. Hujan turun tak lama kemudian. Andik berbelok ke jalan raya, menuju rumah kontrakannya di utara Bogor.

Tiba-tiba saja, dia teringat lagi dengan cerita Edo, karena konon arwah gentayangan si perempuan berpayung hitam itu sering menampakkan diri di jalan yang tengah dia susuri itu.

… Konon dia sering menampakkan diri sedang berdiri membawa payung hitam di pinggir jalan….

Sial, umpat Andik dalam hati, kenapa gue malah kepikiran cerita tolol itu?

Andik menghidupkan radio supaya bisa mengalihkan pikirannya. Dia juga menancap gas, kepengin cepat-cepat sampai ke rumah. Terlebih, kepalanya sekarang mulai terasa pusing akibat alkohol. Dia berbelok lagi dan melihat ada perempuan berpakaian serba hitam sedang berdiri di bawah payung hitam.

Darah Andik kontan mendesir. Matanya terbelalak. Dia tak percaya. Dia pun menoleh ke belakang, ingin memastikan kalau dia tadi tidak salah lihat. Namun, perempuan itu tidak ada di sana. Sisi jalan di belokan yang tadi dia lewati kosong melompong.

Andik merinding. Jadi, apa yang tadi dilihatnya itu? Apa matanya sedang menipunya? Atau jangan-jangan dia tadi berhalusinasi karena sedang mabuk?

Andik masih saja melirik ke arah kaca spion, memastikan untuk yang terakhir kali keberadaan si perempuan berpayung hitam. Mobilnya melaju melintasi perempatan, dan dia dikagetkan oleh lolongan klakson serta sorotan lampu yang menyilaukan. Detik berikutnya, tabrakan pun terjadi, tak dapat dihindari.

 

*

 

“… Saat dia nyebrang, ada mobil yang melaju kencang dan akhirnya menabrak perempuan itu. Si perempuan pun langsung tewas.”

Andik cuma senyam-senyum saja mendengarnya. Dia tidak begitu tertarik mendengarnya cerita itu.

“Ada yang bilang, pelakunya adalah pria mabuk. Pria itu segera melarikan diri.”

Terlebih, sepertinya dia bisa menebak bagaimana ending cerita ini.

“Akhirnya, roh si perempuan itu tidak tenang. Dia pun bergentayangan di jalan raya tersebut.”

Tuh bener, kan?

“Sejak saat itu, dia mengutuk setiap orang yang berkendara dalam keadaan mabuk atau ugal-ugalan. Pengendara macam merekalah yang sering melihat sosok perempuan itu.”

Mobil merah yang dikendarai Andik ringsek ditabrak dari samping dan menabrak tiang listrik. Andik tewas seketika, terjepit di antara dashboard, jok, dan besi pintu yang menusuk lambung kanannya. Darah mengocor deras dari pelipis Andik yang tadi menghantam jendela hingga pecah.

Yang menabraknya adalah sebuah mobil SUV putih. Pintu mobil itu terbuka dan pengemudinya keluar. Perempuan itu melangkah limbung ke arah mobil Andik. Air matanya bercucuran, membanjiri pipi.

“A-A-Andik…” Perempuan itu memanggil lemah nama lelaki yang sudah tak bernyawa di balik kemudinya itu. “Y-You broke my heart, Ndik…. You broke my heart.” Suaranya bergetar hebat.

Dia pun meraung. “MAMPUS KAU, BANGSAT! SEENAKNYA KAU MENGAKHIRI CINTA KITA!” Rani memungut kerikil di jalan dan melemparnya hingga mengenai jendela mobil Andik. “MATI KAU, NDIK! MATI AJA SANA!”

Rani berteriak kencang, melepas semua perasaan yang sedari tadi menekan dadanya. Di belakangnya, perempuan berpayung hitam muncul untuk masuk ke dalam SUV putih.

Satu tugasnya telah selesai, kini ada satu tugas lagi yang menunggu: menghabisi nyawa perempuan yang tengah dimabuk oleh duka dan amarah.

 

***

 

Catatan penulis: Iya, Kamisan nongol lagi setelah vacuum selama… entahlah berapa lama. Sekarang yang ikutan juga makin banyak. Nah, di season baru ini, tema Kamisan ditentukan dengan gambar dan pesertanya harus menginterpretasikan gambar itu lewat sebuah cerpen.

Cerpen? Iya cerpen. Merepotkan, ya? Niatnya sih mau bikin flash fiction doang eh malah nulis cerpen. Ya sudahlah, selanjutnya saja bikin flash fiction.

Lho, kan harusnya bikin cerpen.

Biarin saja. Saya kan awesome.

Tentang #Kamisan

@AdhamTFusama 

Deleted Scene Rahasia Hujan #1: Rumah


Seperti yang telah saya janjikan sebelumnya, saya akan posting beberapa adegan di naskah Rahasia Hujan yang gagal muncul di novel. Pada proses editing, adegan-adegan ini mengalami perubahan atau dibuang supaya cerita di novel tidak bertele-tele.

Berikut ini saya muat adegan yang mengalami perubahan. Pada novel, adegan berikut diganti supaya lebih ringkas. Bagi yang telah membaca, pasti bisa menebak adegan mana yang mengalami perubahan. Bagi yang belum, tenang saja, karena adegan ini tidak mengandung spoiler.

Catatan: adegan berikut berasal dari draft awal yang tidak mengalami proses editing sehingga mungkin sekali terdapat kesalahan EyD, typo, dan lain sebagainya. Harap menjadi maklum!

Selamat menikmati!

 

***

 

Jalan Sudirman, Bogor

Jalan Sudirman, Bogor

Berkat Anggi, aku jadi semakin rajin belajar akhir-akhir ini. Aku ingin seperti dia, yang bisa sedikit bersantai tapi tetap mendapat nilai yang bagus. Jadi, sore itu—sepulang sekolah dan kencan—aku mengerjakan PR Biologi sembari menjaga warung.

Kendati demikian, baru saja kuselesaikan setengahnya, Ibu sudah memanggilku dari dalam rumah. Aku pun menutup buku dan memenuhi panggilan beliau. Di dapur, Ibu sedang menulis sesuatu di atas secarik kertas.

“Ya, Bu?” tanyaku.

“Pan, tolong belikan stok buat warung, ya? Tadi Ibu udah nelepon si Koko. Dia udah nyiapin barangnya, tinggal kamu ambil aja. Ini list-nya,” Ibu menyerahkan kertas yang tadi beliau tulis kepadaku.

Aku membaca daftar belanjaan tersebut. Sebagian besar adalah makanan ringan, cokelat, dan permen. Sisanya gula, saos, dan susu.

“Ini uangnya. Nanti, kamu cek dulu jumlah barangnya, ya?”

“Oke, Bu,” aku mengangguk paham.

Aku pun bergegas, mengambil jaket dan kunci motor. Semenit kemudian, aku sudah memacu motorku ke arah Pasar Anyar.

Ibu selalu membeli stok barang dagangan di Koh Jimmy. Dia pemilik salah satu toko grosir terlengkap di Pasar Anyar. Orangnya mungil tapi mirip petasan. Gerakannya cepat, bicaranya cepat, caranya menghitung uang pun cepat—jemarinya bisa bergerak laksana alat penghitung uang di bank. Baginya, uang dan waktu adalah dua hal yang paling berharga, yang tidak pernah dia sia-siakan sedikit pun.

Pulangnya, aku menghindari rute depan stasiun agar tidak terjebak macet. Kuarahkan motorku ke Jalan Sudirman yang lengang meski aku harus memutar lebih jauh. Di tengah perjalanan, tanpa kuduga, aku bertemu dengan Anggi.

Semula, kukira dia cuma orang asing yang berdiri kebingungan di pinggir jalan. Namun, setelah kulihat rambut ikalnya, tubuh kurusnya, dan kulit putihnya, aku yakin orang itu adalah Anggi. Maka, kupelankan laju motor untuk memastikan dugaanku tersebut. Ternyata benar. Yang berdiri di seberangku itu adalah Anggi.

Aku mematikan mesin motor lalu berseru memanggilnya. “Hoi! Anggiii!”

Orang yang kupanggil menoleh dan terkejut tatkala melihatku. Aku menurunkan standar motor lantas menyeberangi jalan untuk menghampirinya. Anggi terlihat gelisah, antara tidak ingin kuhampiri sekaligus tidak bisa pergi begitu saja.

“Hei, Gi. Lo mau ke mana?” tanyaku, melihat dia mengenakan jaket dan celana jin.

“M-Mau pulang.”

“Emangnya dari mana?”

“Botani Square.”

“Rumah lo di daerah ini?”

Anggi menggeleng. “Bu-Bukan. Di Dramaga.”

“Dramaga? Waduh, jauh banget,” aku sedikit terkejut. “Terus, kenapa lo di sini?”

Anggi tidak langsung menjawab. Dia tampak ragu, meremas-remas tali tas hijau kesayangannya. “Eeerr… tadi aku salah naik angkot,” jawabnya.

Demi mendengar jawaban tersebut, aku terperangah. Nyaris saja aku tertawa walau berhasil kutahan. Di saat seperti ini, aku benar-benar tak mau menyinggung perasaannya. Dan, aku juga bersyukur karena dia menunduk sehingga tidak melihat ekspresiku tadi.

“O begitu. Kalo gitu, gue anterin lo pulang deh,” aku menawarkan.

“E-Eh, j-jangan. Tidak usah,” tolak Anggi, menggeleng.

“Gapapa. Lagipula kalo naek angkot dari sini pasti bakal ribet. Harus gonta-ganti angkot. Mending gue anterin aja.”

Anggi diam lagi. Kakinya bergerak bimbang dan matanya bergerak rikuh ke sana ke mari. Dia seperti sedang mencari solusi lain sehingga punya alasan untuk menolak tawaranku. Nyatanya, dia tidak menemukan jalan lain.

Dia pun akhirnya mengangguk. “Ma-Maaf kalau merepotkan.”

“Ah, ga ngerepotin kok. Santai aja,” kataku meyakinkannya, “Tapi, sebelum itu, kita mampir ke rumah gue dulu, ya? Anterin barang sekaligus ambil helm buat lo.”

Anggi mengangguk. Kami berdua pun menyebrang lagi. Aku menyalakan mesin motor, barulah Anggi naik ke jok belakang. Sepanjang perjalanan kami hanya membisu. Dengan suara mesin motorku yang lebih berisik ketimbang grup orkes Tanjidor, plus Anggi yang terkenal pendiam, rasanya sia-sia saja kalau kami memaksakan diri untuk ngobrol.

“Nah, ini dia rumah gue,” kataku begitu kami sampai.

“Itu warungmu?” tanya Anggi.

Yup. Warung sederhana sih. Tapi, lumayan buat nambahin uang jajan. Hehehe,” jawabku, menurunkan karung dari atas motor. “Yuk, masuk dulu.”

“Ah, er, tidak usah. Aku tunggu di sini saja.”

“Eh, ga boleh! Nanti gue dimarahin nyokap. Tamu tuh harus dilayani dengan baik,” ujarku. Melihat Anggi menggeleng enggan, aku menambahkan, “Udah, gapapa. Kalo malu, lo duduk aja dulu di teras. Oke?”

Tidak punya pilihan lain, Anggi akhirnya mengikutiku masuk ke dalam. Aku sendiri mengangkut barang-barang pesanan Ibu ke dalam warung terlebih dahulu.

“Bu! Barang-barangnya Pandu taro di warung, ya?”

“Iya, makasih!” terdengar jawaban dari dalam rumah.

“Bu, ada tamu nih. Temen Pandu.”

Mendengar aku berseru begitu, Anggi terbeliak ngeri. Di matanya, aku pasti seperti baru saja mengusik singa yang sedang tertidur.

Ibu muncul beberapa detik kemudian. Dia melihat Anggi dan Anggi langsung menggeser posisi duduknya sedikit.

“Eh, temen Pandu, ya? Selamat datang!”

“Ini lho yang namanya Anggi, Bu.”

“Ooow, ini toh murid yang dari Jepang itu? Ayo, masuk dulu, yuk.”

“Ti-Tidak usah, Tante.”

“Eh, jangan begitu. Ibu bikinin teh dulu, ya?”

“J-Jangan…” tolak Anggi, terdengar seperti ratapan orang yang memohon agar tidak diracuni. Aku tertawa kecil dibuatnya.

“Gapapa. Ga ngerepotin kok. Bentar ya, Ibu buatkan dulu.”

“Ga usah, Bu. Ini Pandu juga mau pergi lagi. Mau nganterin Anggi pulang.”

“Ih, kok buru-buru amat? Jangan begitu dong ama tamu!” Ibu menegurku.

“Ti-Tidak apa-apa, Tante. Saya pulang saja.”

Ibu menarik napas kecewa. Dia paling sedih kalau ada tamu yang datang tanpa dijamu terlebih dahulu. “Ya udah kalo begitu. Omong-omong, Anggi tinggal di mana?”

“D-Dramaga, Bu.”

“Wah, lumayan jauh, ya?”

“Be-Begitulah,” jawab Anggi, mengangguk kikuk.

Jujur saja, aku geli melihat polah temanku itu. Karena kasihan melihatnya tersiksa oleh keramahtamahan kami, aku pun mengajaknya untuk segera berangkat.

“Kita berangkat yuk,” ajakku, menyerahkan helm cadangan buat Anggi. Anggi segera bangkit dan menyambar helm tersebut, kentara sekali ingin segera pergi.

Ibu, yang melihat tingkahnya, cuma tersenyum mahfum.

“Kami berangkat dulu ya, Bu,” ujarku, pamit.

“Iya. Hati-hati di jalan. Jangan ngebut-ngebut.”

“Beres, Bu,” timpalku. Semenit kemudian, aku dan Anggi kembali meluncur di jalan.

 

***

 

Alasan diganti: selain bertele-tele, adegan Pandu bertemu Anggi terkesan kebetulan. Hal ini kelak bisa jadi blunder di adegan klimaks, karena seharusnya bantuan Pandu pada Anggi tidak boleh terkesan “kebetulan”.

Namun, sayangnya, tokoh Koh Jimmy gagal masuk ke novel. Hahaha.

Nantikan deleted scene Rahasia Hujan berikutnya!

 

@AdhamTFusama

Pre-Order Novel Rahasia Hujan


Rahasia Hujan PO

HORE! AKHIRNYA PRE-ORDER NOVEL RAHASIA HUJAN DIBUKA!

Buat teman-teman yang ingin mendapatkan novel Rahasia Hujan plus tanda tangan eksklusif dari penulisnya yang ganteng maksimal—yakni saya sendiri #PLAK, yuk pre-order bukunya sekarang juga!

Caranya gampang kok! Tinggal kirim e-mail doang!

 

  1. Kirim e-mail pemesanan ke adhamology@gmail.com dengan subjek: PRE-ORDER RAHASIA HUJAN.
  2. Tulis NAMA LENGKAP & ALAMAT LENGKAP di badan e-mail.
  3. Ketentuan lainnya akan diberitahukan via e-mail.
  4. Pre-order ditutup tanggal 21 Agustus 2014! Buruan pesan sekarang!

 

Untuk harga bukunya sendiri Rp 59.000* saja! Masih ada sisa THR kan? Habiskan saja semuanya buat borong Rahasia Hujan. Hehehe.

Penasaran dengan sinopsis Rahasia Hujan? Sila cek di sini.

Info lebih lanjut, follow @AdhamTFusama dan @mokabuku. Cek juga tagar #RahasiaHujan di Twitter.

Jangan lupa pesan, ya?!

Remember, don’t die before you buy this book! 😀

 

 

*Harga belum termasuk ongkos kirim dan diskon. Info diskon menyusul via e-mail.

[Resensi Buku] Cinta Emang Bego – Nikma T.S.


20140716_171038

Judul: Cinta Emang Bego

Penulis: Nikma T.S.

Penerbit: Moka Media

Hlm. + Ukuran: iv + 176 hlm; 12,7 x 19 cm

Terbit: 2014 (cetakan pertama)

ISBN: 979-795-826-4

Genre: Novel remaja

 

Penilaian: 2/5

 

GENIT-GENITAN ALA SISWI SMA

 

Ya, barangkali banyak kening-kening yang berkerut saat tahu saya membaca novel seperti ini. Dan, ya, saya katakan saja sedari awal kalau novel seperti ini bukan jenis novel favorit saya. Tapi toh tetap saya baca juga karena saya sedang ingin mendapat hiburan ringan di tengah riset novel baru yang sedikit melelahkan.

Memang hanya itu tujuan saya membaca buku ini: mencari hiburan. Menilai dari sampul depannya, saya optimis akan mendapat bacaan yang lucu, ringan, dan tidak perlu susah-susah berpikir. Sewaktu membaca halaman pertama, saya sempat tertawa. Ini awal yang bagus, pikir saya. Sepertinya novel ini punya komedi yang menyegarkan.

Nyatanya, itu adalah tawa pertama sekaligus tawa terakhir saya. Lembar-lembar berikutnya memang sesekali mampu menarik senyum samar di ujung bibir, namun secara keseluruhan saya tidak mendapat penghiburan yang saya harapkan. Beberapa humornya tergolong usang, sementara gaya ceplas-ceplosnya terasa mengganggu.

Novel ini bercerita tentang Lintang yang jatuh cinta pada Febri yang tampan. Tak hanya Lintang, rupanya Virna—sahabat Lintang—pun kesengsem pada Febri yang dikatakan seperti personel boyband asal Korea Selatan. “Persaingan” untuk mendapatkan cinta Febri pun dimulai.

Premis ceritanya mungkin terdengar sangat biasa, bahkan klise, sebab premis seperti ini sudah berjuta-juta kali diceritakan. Terakhir, persaingan cinta seperti ini menjadi sangat fenomenal karena pemainnya adalah vampir kerlap-kerlip, serigala jadi-jadian, dan remaja putri galau. Sebagai pembeda, Nikma menjadikan tokoh Febri sebagai satpam sekolah.

Ya, betul, ini cerita tentang dua remaja putri yang tergila-gila pada satpam di sekolah mereka. Dan, ketimbang disebut sebagai kisah cinta, cerita di sini lebih cocok bila disebut sebagai kisah genit-genitan, yang malah nyaris menjurus ke arah uniform fetishism.

Bagaimana tidak? Yang disorot penulis hanyalah kemolekan luar Febri saja, yang gagah berseragam dan berbibir seksi, tanpa pendalaman karakter. Tidak pula ada adegan yang menyoroti kalau Febri memiliki sifat-sifat pemberani, seperti laiknya para satpam di kompleks rumah saya, yang berkat jasa mereka saya bisa tidur tenang setiap malamnya.

Sepanjang cerita saya hanya disuguhkan tentang betapa berisiknya siswi-siswi SMA kalau sudah kesengsem dengan pria tampan. Membaca buku ini seperti melihat tiga ABG putri yang berboncengan mengendarai sepeda motor matic di jalan raya, mengebut tanpa helm, cekakak-cekikik seolah dunia milik mereka, dan merasa tidak ada yang bisa mencelakai mereka karena dunia adalah milik mereka. Istilah gaulnya “cabe-cabean”.

Melihat mereka niscaya menimbulkan kedongkolan di hati. Ingin rasanya kita menggampar mereka, berharap mereka bisa lebih mawas diri, tapi tidak ada yang bisa kita lakukan karena percuma saja menasihati mereka. Satu-satunya hal yang bisa bikin mereka kapok adalah jika mereka terkena masalah secara langsung. Untungnya, di akhir cerita, Nikma membuat Lintang kapok pada ulahnya sendiri. Ini merupakan poin plus yang patut diapresiasikan.

Sayangnya, pembaca sudah bisa menebak apa yang akan terjadi sejak paruh awal buku. Dan dampaknya pun tidak terlalu signifikan. Tidak terasa kalau Lintang benar-benar menyesal dan si pelaku pun tidak mendapat ganjaran yang setimpal. Semuanya terasa ringan-ringan saja. Memang demikianlah kodrat buku ini: menjadi hiburan ringan, yang bisa menjadi teman saat jeda iklan di televisi sambil menunggu Ganteng-Ganteng Serigala dimulai kembali.

Dan, ah, saya pun seharusnya meresensi novel ini dengan ringan-ringan saja. Kenapa pula saya jadi terlalu serius seperti ini? Mungkin—saya sebenarnya enggan mengatakan hal ini—saya sudah terlalu tua untuk membaca novel semacam ini. Entahlah….

 

@AdhamTFusama