[Cerpen] Penjarah Desa


Image

Aku mengatur napas seraya mengibas-ngibaskan tangan serta melompat-lompat kecil. Aku tidak tahu apa itu cara yang tepat, tapi setidaknya aku memberi sugesti guna menenangkan diri. Untuk yang ke sekian kalinya, kurapikan kerah kemeja biruku. Di depan, sang presenter masih berintermeso, membacakan beberapa judul buku yang pernah kutulis.

Setelahnya, dia pun memanggilku keluar dari balik panggung. “Tidak perlu lama-lama lagi, mari kita sambut penulis novel best seller, Anak-Anak Desa Pelosok, Ren Revaldy!”

Tepuk tangan bergemuruh begitu aku melangkah keluar dari balik panggung. Jujur saja, ini pertama kalinya aku mendapat sambutan seperti ini, dari orang-orang sebanyak ini. Kegugupanku pasti terlihat dari senyumku yang sedikit kaku. Meski demikian, aku berusaha untuk tetap tenang dan bersyukur bisa sampai ke kursi tanpa harus tersandung atau semacamnya.

Mbak Tia, sang MC sekaligus yang akan mewawancaraiku, duduk di sofa sebelah. “Pertama-tama, selamat ya buat novel Mas Ren yang sudah menjadi national best seller,” katanya, diiringi tepuk tangan. “Gimana nih perasaan Mas?”

“Perasaan saya saat tahu novel ini best seller atau perasaan saya sekarang saat diwawancara?” aku balik bertanya, menimbulkan kekehan kecil dari arah penonton. “Terus terang, kalau perasaan saya sekarang sih gugup karena tidak menyangka yang hadir bisa sebanyak ini.”

Mbak Tia dan penonton tertawa. Sepertinya mereka suka dengan pembawaanku yang nervous sekaligus witty. Padahal, di dalam aku merasa cukup tersiksa. Berkali-kali aku memperbaiki posisi kacamataku yang melorot akibat keringat. Tapi, aku bersyukur karena acara bedah buku kali ini berjalan lancar dan menyenangkan.

“Banyak pembaca yang memuji kemampuan Anda mendeskripsikan desa sekaligus para tokohnya. Detail tapi tidak bertumpuk dan tidak membosankan. Pembaca seolah benar-benar dibawa ke Desa Tirta Langit dan berinteraksi dengan para warganya. Apa Anda sempat tinggal di sana sehingga mampu menceritakan semuanya secara detail?”

Aku mengangguk. “Ya, saya sempat tinggal di Desa Tirta Langit—atau biasa disebut Desa Pelosok—selama beberapa bulan. Saya begitu terpesona dan takjub oleh keasrian desa, keindahan panoramanya, juga keramahan penduduknya. Saya memang berusaha sebisa mungkin supaya pembaca bisa merasakan pengalaman yang sama—setidaknya nyaris serupa—dengan apa yang saya rasakan sewaktu tinggal di sana.”

“Lalu, bagaimana dengan tokoh-tokohnya?” tanya Mbak Tia, “Anda sukses menggambarkan secara gamblang para tokohnya, bahkan sifat-sifat mereka. Apa Anda pernah memelajari ilmu psikologi?”

Aku tertawa. “Tidak, saya bukan lulusan psikologi, meski saya memang punya sahabat dekat seorang ahli psikologi dan saya sering berdiskusi dengannya,” aku memberi jawaban. “Tapi, barangkali saya memang punya hobi buruk, yakni memerhatikan orang. Jadi, semua yang saya tulis memang hasil observasi saya. Terlebih, penduduk Desa Pelosok itu orang-orangnya sangat sederhana sehingga tidak sulit bagi saya untuk menggambarkan karakter mereka.”

Mbak Tia mengangguk-angguk. “Baik. Mungkin saya punya satu pertanyaan terakhir sebelum kita buka sesi tanya jawab dengan para hadirin,” katanya. “Pertanyaannya adalah, kenapa Anda tertarik mengangkat Desa Pelosok? Apa yang istimewa dari desa tersebut? Di awal buku Anda menuliskan bahwa desa itu hanya desa sederhana, desa biasa, bukan desa yang memiliki situs bersejarah, bukan pula desa yang memiliki objek wisata. Anda pun bukan putra desa setempat. Lantas, apa yang membuat Anda tertarik untuk menceritakan Desa Pelosok?”

Aku terdiam sejenak. Sudah kuduga pertanyaan ini akan muncul. Hanya saja, mustahil bagiku untuk menjawab secara jujur karena itu akan melanggar sumpah yang kubuat dengan warga desa. Aku juga tidak berniat untuk mengungkapkannya. Tidak, aku tidak boleh mengungkapkannya.

“Barangkali karena kesederhanaan itu sendiri,” jawabku akhirnya, “Bagi saya, Desa Pelosok adalah miniatur negeri ini yang sesungguhnya. Wajah Indonesia yang cantik alamnya, cantik pula penduduknya. Mungkin ini terdengar seperti bualan orang yang tidak realistis (aku mengundang tawa para hadirin), tapi bukankah kita memang merindukan Indonesia yang seperti itu?” aku mengakhiri jawabanku dengan senyum.

Tampaknya, aku baru saja memberikan jawaban yang mengesankan karena sekarang para hadirin memberiku tepuk tangan penuh kekaguman.

 

***

 

“Konon, pada zaman dahulu ada bidadari yang turun ke bumi untuk mandi di sebuah telaga dengan jeram kecil,” aku mulai bercerita sembari berjalan mondar-mandir di hadapan para hadirin, “Sewaktu dia mandi di sana, tiba-tiba ada seekor ular yang hendak mematuknya. Untunglah, datang seorang pemuda desa yang membunuh ular tersebut.

“Sang bidadari terkejut namun kemudian berterima kasih. Si pemuda terpesona oleh kecantikan sang bidadari. Keduanya pun jatuh cinta. Mereka menikah, hidup sederhana di desa, dan dikaruniai banyak anak. Akan tetapi, suatu hari, si pemuda itu meninggal dunia akibat terperosok ke dalam jurang, sewaktu mencari kayu bakar di hutan.

“Kematian suaminya membuat sang bidadari bersedih. Dia berlari ke telaga tempat mereka pertama bertemu. Di sana dia menangis, menangis, dan menangis terus selama tiga hari berturut-turut, hingga seluruh tubuhnya meluruh bersama air mata dan bersatu dengan telaga.”

Aku selesai bercerita. Ada kesunyian yang hadir setelahnya, yang memang kusengaja agar para pendengar bisa mencerna keseluruhan cerita.

“Jadi, Bos, telaga itu yang kita cari?” tanya salah seorang anak buahku yang berwajah sangar namun bodoh.

Aku mengangguk. “Ya. Itulah Telaga Air Mata yang kita cari!” jawabku, “Dan, telaga itu terletak di dalam hutan, tak jauh dari Desa Pelosok!”

“Rupanya, itu alasan kenapa lo susah payah neliti Desa Pelosok walaupun nggak ada hal yang menarik lainnya di sana,” tebak anak buahku yang lain, yang lebih tua dengan kumis tebal. Dia terkekeh bersama yang lain.

Mau tak mau, aku ikut terkekeh. “Ya, memang itu tujuanku,” aku mengangguk setuju, “Aku berpura-pura mengaku akan menuliskan kisah penduduk Desa Pelosok. Padahal, sebenarnya yang ingin kuketahui adalah lokasi Telaga Air Mata itu.”

“Apa Bos udah tahu lokasinya?”

Pertanyaan tersebut terasa menyengat, membuat telingaku panas dan harga diriku tertusuk. Air mukaku mengeruh sebal. Tapi, bahkan aku sendiri pun tidak bisa berbohong di hadapan dua puluh orang preman dan penjarah yang kurekrut tersebut.

Meski pahit, aku menggeleng. “Sialnya, mereka memegang teguh rahasia Telaga Air Mata. Tak peduli seberapa sering membujuk, tak peduli beberapa banyak cara yang kupakai untuk membuka mulut mereka, mereka tetap bungkam.”

“Berarti lo gagal dong?” tuduh seorang preman botak, “Gimana kita bisa ngejalanin misi kalo nggak tahu lokasi telaga?” Dia lantas mengerang kesal, merasa misi ini akan sia-sia.

Aku tetap tenang. “Justru karena itulah aku merekrut kalian semua,” jawabku, “Kalau aku sudah tahu lokasinya, aku tidak butuh dua puluh orang preman untuk menemaniku ke telaga.”

“Jadi, sebenernya lo tahu lokasinya atau nggak sih?” tanya si sangar-bodoh.

“Aku memang tidak tahu. Tapi, kepala desa tahu lokasinya,” jawabku, “Dia pernah kecepelosan, yang secara tidak langsung membeberkan fakta kalau hanya pemimpin-pemimpin desa yang diberi tahu lokasi telaga keramat tersebut.”

Aku mengambil tumpukan berkas dari dalam tas yang lalu kusebarkan di atas meja. “Nah, misi kita adalah menyandera warga satu desa dan akan membunuh satu orang setiap lima menit, jika mereka menolak untuk memberi tahu lokasi Telaga Air Mata.”

Aku melihat ada seringai dan mendengar kekehan dari para anak buahku.

“Sepertinya kami mulai mengerti jalan pikiranmu,” kata si kumis.

Aku menaikkan ujung bibir kiriku. “Aku paham karakter warga desa, aku tahu kebiasan mereka, aku hafal seluk-beluk desa, aku tahu semua tentang desa tersebut. Dengan bantuan kalian, kita akan menguasai desa tersebut dalam sekejap.”

“Oke, apa rencana lo?” tanya si botak.

“Menurut kalendar, Jumat depan adalah Hari Siratunnabi,” aku mengambil kalendar kecil dari balik tumpukan berkas, “Warga desa memiliki kebiasaan untuk mengadakan pengajian malam, dan mendengarkan khotbah di masjid, setiap ada hari besar keagamaan. Tahun lalu, sewaktu aku masih tinggal di sana, mereka pun melakukan hal serupa untuk memperingati Hari Siratunnabi. Seluruh warga desa berbondong-bondong memenuhi masjid dan tidak ada yang tinggal di rumah, kecuali ada halangan atau sakit.

“Nah,” aku mengeluarkan denah desa yang sudah kugambar dengan saksama, “Jumat malam nanti, kita akan kepung masjid desa. Kita ambil jalan memutar dari arah timur, melalui persawahan. Di sana aman. Kalau kita melewati jalan utama di selatan, akan ada beberapa pemuda desa yang menjaga desa di pos siskamling.

“Aku bersama sepuluh orang akan mengepung masjid. Kalian jaga jangan sampai ada warga yang kabur, anak-anak sekali pun. Sisanya berjaga-jaga di seluruh desa. Dua orang menjaga bagian tengah, dekat balai desa; dua orang berjaga di utara, timur, dan barat; dan dua orang berjaga di selatan sekaligus melumpuhkan pemuda-pemuda desa yang berjaga di sana.

“Selanjutnya, aku akan menyandera Surya, anak kepala desa. Jika kepala desa tidak setolol yang kuduga, dia akan memenuhi permintaan kita dengan memberitahu lokasi Telaga Air Mata berada. Aku beserta tiga orang dari kalian akan mengikuti kepala desa ke telaga. Sisanya tetap bersiaga.”

“Setelah berhasil, apa yang harus kita lakukan?” tanya si kumis.

“Aku akan segera menghubungi Pak Rasha dari Belle’s, kemudian kita pergi tanpa harus menyakiti penduduk desa. Kalau mereka memang bijaksana, mereka akan mematuhi permintaan kita.”

Sekali lagi kekehan memenuhi ruangan kecil dan pengap tersebut.

“Nggak gue sangka penulis ngetop kayak lo punya otak kriminal,” tanggap si botak. “Rencana lo brilian.”

“Hei, aku ini penulis buku national best seller dan peraih Penghargaan Sastra Nusantara, tentu saja rencanaku brilian,” kataku, menyunggingkan senyum jumawa.

“Dasar bangsat,” celetuk si kumis, mengundang tawa yang lainnya. Aku tidak tersinggung sedikit pun.

“Ada pertanyaan?” tanyaku setelah mereka selesai terbahak, “Tidak? Kalian semua sudah memahami denah desa, plot misi, SOP, dan tugas-tugas kalian, kan? Bagus! Kalau begitu, besok siang kita akan berangkat ke sana. Kita akan sampai di sana setelah magrib.”

 

***

 

Sejauh ini, aku senang karena rencanaku berjalan lancar. Memang, masih terlalu dini untuk mengatakan kalau misi kami akan sukses. Hanya saja, aku menganggap awal yang baik merupakan pertanda kalau semuanya akan berakhir dengan baik pula. Buatku, melintasi persawahan desa tanpa ketahuan merupakan sebuah awal yang baik.

Begitu kami tiba di bibir desa, kami berhenti untuk mengamati suasana. Di sana sepi, seakan Desa Pelosok telah berubah menjadi desa mati tanpa penghuni. Senyumku terkembang. Bagus, ini sesuai rencana. Seluruh penduduk desa pasti sudah menyesaki masjid sejak azan magrib menggema.

Aku memberi komando. Sepuluh orang menyebar ke seluruh bagian desa, sepuluh orang lainnya mengikutiku ke arah masjid. Kami mengendap-endap, bergerak di balik bayang malam. Bukan hal yang sulit mengingat desa ini tidak memiliki penerangan jalan. Cahaya yang ada berasa dari rumah-rumah penduduk.

Aku tak kuasa menahan seringai di wajah begitu tiba di dekat masjid. Seperti yang sudah kuduga, seluruh penduduk desa berkumpul di masjid. Benar-benar penduduk yang gampang ditebak. Tak perlu berlama-lama lagi, aku menyuruh yang lain untuk mengepung masjid. Aku sendiri melangkah ke pintu utama bersama si kumis dan si botak.

Aku menendang pintu, mengeluarkan dua tembakan peringatan ke langit-langit, dan membuat kegemparan. Jeritan dan teriakan kaget segera terdengar.

“DIAM SEMUANYA! JANGAN ADA YANG BERGERAK!” raungku, sebelum warga desa menjadi panik.

Sedetik kemudian, masjid langsung sunyi, hanya diganggu oleh tangisan satu-dua anak kecil. Semua terbelalak ngeri begitu melihat kami telah mengepung masjid. Kiai tua di mimbar pun bungkam, berhenti memberikan ceramah tentang kemuliaan nabi.

Memanfaatkan keadaan di mana semua masih syok, aku melangkah maju dan mencengkeram lengan seorang anak laki-laki. Dia menjerit. Ayahnya juga mendadak bangkit.

“DIAM DI TEMPAT ATAU SURYA AKAN KUTEMBAK!” ancamku, menghentikan gerakan sang kepala desa.

“B-Bang Ren…” Surya menatapku tak percaya. Matanya memerah tanda sebentar lagi ada air mata yang akan menyeruak.

“R-Ren… a-apa… apa maksudnya semua ini?” tanya kepala desa, kebingungan.

Aku mendekap Surya dari belakang. Lengan kiriku melingkar di lehernya, sementara moncong pistolku menempel di pelipis kanannya. Surya semakin ketakutan. Dapat kurasakan tubuh dan kakinya gemetar dalam jeri.

“R-Ren… to-to-tolong lepaskan Surya…” pinta kepala desa, mulai panik.

“Oh, tenang saja Pak Guntur. Surya akan saya lepaskan—kalian semua juga akan kami lepaskan—asalkan kalian memberitahu kami lokasi Telaga Air Mata,” kataku, langsung ke pokok masalah.

Nyaris semua warga desa, terutama para tetua, terbeliak kaget.

“Te-Telaga Air Mata?” Pak Guntur tak percaya, “K-Kamu sudah berjanji untuk merahasiakannya!”

“Dan, aku sudah menepati janjiku. Buktinya, aku tidak menyebutkan keberadaan telaga tersebut di novelku, kan?” kekehku, “Omong-omong, terima kasih, ya. Desa kalian sudah membuatku kaya raya.”

“La-Lalu, ke-kenapa kamu membawa orang-orang ini?” tanya Pak Guntur merujuk kepada preman yang kubawa.

“Oh, mereka. Maaf, aku terpaksa mengajak mereka karena kalian tidak mau memberitahukanku perihal telaga tersebut tahun lalu,” jawabku, “Jadi, karena kalian tidak bisa diajak kompromi secara baik-baik, maka aku terpaksa memakai cara kasar.”

“B-B-Bang Ren… tolong lepasin aku…” pinta Surya, yang kini sudah meneteskan air mata. Aku tidak mengacuhkan permohonannya itu.

“U-Untuk apa kau mau tahu soal telaga itu?” tanya Pak Guntur, “K-Kau su-sudah jadi penulis kaya….”

“Karena aku mau lebih kaya lagi dan aku mau lebih terkenal lagi,” jawabku. “Bayangkan! Namaku pasti akan masuk sejarah jika aku memberitahukan pada dunia bahwa aku telah menemukan… the fountain of youth—mata air awet muda!”

Lagi-lagi, para warga menunjukkan reaksi terkejut. Beberapa bahkan ada yang menekap mulutnya.

“Hehehe, sepertinya dugaanku benar,” aku tertawa senang, “Mitos mata air yang memberi keremajaan dan umur panjang ternyata benar-benar ada! Dan letaknya tidak jauh dari sini! Ternyata… legenda itu benar, ya kan, Pak Guntur? Legenda tentang bidadari Dewi Lintang yang menangisi kematian Jaka Tirta, suaminya, di sebuah telaga. Air mata dan tubuh sang bidadari yang meluruh menjadikan air telaga tersebut memiliki kekuatan magis, yang bisa menjaga kecantikan, menyembuhkan penyakit, dan memperpanjang usia.”

Pak Guntur tidak berkata apa-apa. Dia mengatupkan rahang bawahnya dengan erat, tak sudi mengatakan apa pun kepadaku.

“Dugaanku itu semakin diperkuat sewaktu tanpa sengaja aku melihat KTP-mu, Pak Guntur,” lanjutku. “Nah, coba kalian tebak berapa usia Pak Guntur ini, teman-teman,” kataku, beralih ke si kumis dan si botak.

“Empat puluh tahun?” si kumis menebak.

“Empat puluh dua? Empat puluh tiga?” tebak si botak.

“Kalian salah! Usia Pak Guntur ini sudah enam puluh tahun!” kataku, mengagetkan keduanya. “Dia—juga warga desa lainnya—pasti sudah meminum air dari telaga tersebut! Aku yakin Surya kecil ini juga sudah meminumnya. Katakan pada Bang Ren, Sur, berapa umurmu, hah? Dua puluh? Dua puluh lima? Mustahil usiamu empat belas tahun, kan?”

Surya tidak menjawab. Dia terisak-isak, berusaha melepaskan diri dari belitan lenganku.

“Dan, bayangkan berapa banyak keuntungan yang kudapatkan dari Telaga Air Mata itu!” aku meneruskan. “Perusahan kosmetik Belle’s telah memberiku kontrak ratusan juta rupiah plus 10% keuntungan penjualan dari semua produk mereka yang berbahan dasar air dari telaga tersebut. Intinya, aku bisa tetap kaya tanpa perlu bekerja lagi seumur hidupku! Oh, tentu saja aku juga akan tetap awet muda dan panjang umur. Asyik, kan?”

Si kumis dan si botak terkekeh.

Okay, back to business!” ujarku lantang, “Kalian beri tahu di mana lokasi telaga tersebut maka tidak ada yang akan terluka! Aku janji!”

“Tidak!” tegas Pak Guntur, “Kami telah bersumpah untuk melindungi telaga tersebut selama berabad-abad! Dan, kami tidak akan melanggar sumpah itu hari ini hanya untuk memenuhi permintaan dari manusia bodoh seperti dirimu!”

Aku mengangkat bahu. “Terserah kalian,” kataku santai, “Jika kalian tidak mau memberitahukan di mana lokasi telaga itu, kami akan membunuh satu orang setiap lima menit! The choice is yours! Yang jelas, Surya akan jadi korban pertama!”

“Ja-Jangaaan…!” isak Surya, mulai mencakar-cakar lenganku dengan panik. Usaha yang tak berarti karena dia hanya menyakiti lengan jaketku.

“Kalau kamu memang cerdas, pulanglah dengan damai, Ren!” pinta Pak Guntur, tegas, “Kami tidak akan melaporkan kalian ke polisi jika kalian pergi sekarang!”

Mendengarnya, aku dan yang lain tertawa terbahak-bahak. Dasar sombong! Dia pikir dia bisa melakukan tawar-menawar dengan kami?

“Aku akan hitung sampai sepuluh,” kataku, “Kalau kalian tidak membuka mulut juga, Surya akan mati.”

“Bang Ren… tolong… jangan…” pekik Surya.

“Sepuluh!”

“Kamu tidak akan berani!” raung Pak Guntur.

“Coba saja kau buktikan!” tantangku, “Sembilan!”

“Demi Tuhan! Ini masjid! Jangan lakukan itu!” kali ini kiai tua di dekat mimbar berseru memohon.

“Delapan… tujuh…”

“Hehehe. Tembak saja langsung kepalanya, Ren!” kekeh si botak.

“Enam… lima…”

“Tolong, Bang Ren… jangan lakukan…” Surya menangis.

“Empat… TIGA…”

“REN REVALDY!”

“DUA! AKU AKAN MELAKUKANNYA! CEPAT BERI TAHU!”

“KUPERINGATKAN KAU!”

“SATU! DASAR KALIAN PENDUDUK TOLOL!”

“JAGAN LAKUKAN!”

Terlambat! Aku keburu menarik pelatuk pistol. Ledakan terdengar dan kepala Surya pun pecah. Darah terciprat dari kedua pelipis begitu peluru menembus kepalanya. Seisi masjid berteriak ketakukan. Tubuh Surya jatuh ke lantai, tewas bersimbah darah.

Para preman segera menyiagakan senapan masing-masing, siap menembak penduduk yang berlaku bodoh. “DIAM! DIAM SEMUANYA! JANGAN ADA YANG BERGERAK! ATAU KALIAN AKAN KAMI TEMBAK!” seru si kumis.

Aku sendiri menarik napas sebal. Kubersihkan cipratan darah Surya dari pipiku.

Kulihat si kepala desa berdiri gemetar menahan duka. Kedua tangannya terkepal erat dan pipinya dibasahi air mata. Namun, entah bagaimana caranya dia masih mampu memasang ekspresi tegar yang menguarkan kesedihan sekaligus kemarahan.

“Dasar bodoh kalian semua. Kalian membunuh anak yang tak berdosa ini,” kataku, menunjuk jasad Surya di lantai. “Tapi, mungkin ada bagusnya juga sebab sekarang kalian tahu kalau kami serius. Kami tidak main-main! Ayo, siapa lagi yang mau jadi korban selanjutnya?”

“Kau akan menyesal, Ren!” suara Pak Guntur bergetar dalam amarah.

“Atau kalianlah yang akan menyesal,” balasku santai.

“SURYA! AYO BANGUN! JANGAN TIDUR SAJA!” serunya.

Aku terperangah tak percaya mendengar seruan si kepala desa. Astaga, jadi dia belum bisa menerima kenyataan kalau anaknya sudah tewas? Kasihan sekali dia. Aku menggeleng-gelengkan kepala dengan iba. Mungkin aku tadi sudah sedikit keterlaluan sehingga membuatnya syok parah. Tapi, ya sudahlah.

Aku menghela napas. “Hei, Botak, ambil satu perempuan. Korban selanjutnya haruslah seorang wanita,” kataku.

Si Botak dengan senang hati melangkah ke bagian belakang masjid.

“Dasar manusia terkutuk!”

Aku terkejut mendengar suara orang di sampingku. Begitu kutolehkan kepala, aku terbelalak tak percaya. Sepersekian detik berikutnya, sebuah tinju melayang ke pipiku. Aku menjerit kesakitan dan tubuhku ambruk ke lantai.

“Mu-Mustahil!” mataku terbeliak liar. Akal sehatku menjerit-jerit protes. Aku pasti salah lihat! Yang baru saja meninjuku adalah Surya! “Ba-Bagaimana mungkin?”

Di depanku, Surya berdiri sambil mengelap pelipisnya yang berdarah. Hanya saja, tidak ada lubang peluru di sana! Pelipisnya kembali seperti sedia kala! Dia hidup lagi! Bukan dalam wujud hantu gentayangan atau zombie! Dia benar-benar hidup lagi!

“SEMUANYA! SERANG! HABISKAN PARA BEGUNDAL TAK TAHU DIRI INI!” seru Pak Guntur.

Aku menjerit saat punggungku menabrak pintu masjid dan terbang keluar. Aku juga mendengar teriakan preman yang lain diiringi suara pecahan kaca jendela. Angin malam memukul-mukul bagian belakang tubuhku. Aku tidak tahu bagaimana ini bisa terjadi, pun tidak tahu bagaimana cara menjelaskannya, karena aku baru saja terbang ke udara!

Bukan! Bukan aku yang terbang, melainkan Pak Guntur yang membawaku terbang ke langit malam. Di bawah sana, kudengar suara teriakan, letusan senjata api, serta debum dan derak mengerikan.

Aku tidak bisa berpikir jernih. Panik dan ketakutan melanda. Sorot mata Pak Guntur yang sedemikian tajam dan dipenuhi kebencian membuat nyaliku ciut, hilang dikikis angin. Dia mendekapku dengan erat, membawaku melesat cepat ke ketinggian entah berapa puluh meter di udara.

“SIAPA KALIAN SEBENARNYA? APA-APAAN INI?” jeritku, sewaktu Pak Guntur terus membawaku terbang ke langit.

“Kami—seluruh penduduk desa—adalah keturunan Dewi Lintang dan Jaka Tirta,” jawab Pak Guntur dingin, “Kami mewarisi darah serta kesaktian sang bidadari.”

Aku terperangah. Cerita macam apa itu?

“Kami bersumpah untuk menjaga Telaga Air Mata yang menjadi tempat peristirahatan terakhir leluhur kami tersebut. Selama berabad-abad, kami berusaha merahasiakannya. Karena itulah, kami juga melarang seluruh penduduk untuk memamerkan kekuatan mereka. Dunia tidak boleh mengetahui tentang kami! Kalian pun tidak boleh mengetahui tentang kami!”

Aku tidak bisa berkata apa-apa. Aku bahkan sulit mencerna semuanya! Ini tidak masuk akal! Ini tidak mungkin terjadi!

“Kau boleh saja mengetahui tentang desa kami, tentang karakter kami, seperti yang kamu tulis di novelmu itu,” tambah Pak Guntur, berhenti di tengah udara. “Tapi, kamu tidak tahu tentang kekuatan kami yang satu ini, kan?”

Aku terbata-bata. Mulutku berkecumik tanpa ada sepatah kata pun yang keluar. Aku bahkan tak sanggup menghentikan gemetar yang menjalar di seluruh tubuhku, apalagi membendung air mata yang mengalirkan rasa takut.

“Hehehe, sepertinya dugaanku benar,” ujar Pak Guntur tersenyum sinis.

“To-To-Tolong jangan bunuh aku…” cicitku, meratap minta ampun.

“Sudah terlambat, Ren. Sudah kubilang, kan, kalau kau akan menyesal. Sayang sekali. Kupikir, kamu adalah pemuda cerdas dan arif karena kau seorang penulis. Rupanya, aku salah menilaimu. Kamu sama saja dengan orang-orang tolol dan tamak lainnya, yang berusaha menemukan Telaga Air Mata untuk kepentingan mereka sendiri.”

“To-Tolong… ma-maafkan aku…” pintaku lagi, dibanjiri air mata. Penyesalan, rasa takut, dan urin merembes keluar. Kebekuan merembet naik dengan cepat dari kakiku.

“Nah, pergilah dengan tenang,” kata Pak Guntur membuatku berteriak-teriak takut laksana babi yang hendak disembelih, “Semoga Tuhan mengampunimu yang telah berbuat kejahatan di dalam rumah-Nya.”

Jantungku mencelos begitu Pak Guntur melemparku ke udara.

TIDAAAAAAAAAAK!”

Aku menjerit lantang ketika tubuhku ditarik oleh gravitasi. Kulihat Pak Guntur semakin mengecil, melayang bersama bintang di langit. Angin menderu-deru liar, kegelapan memekat, dan aku pun masuk ke dalam pelukan sang maut… hanya ditemani oleh laungan penyesalanku yang menggema di malam nan sepi.

 

***

 

Bogor, April 2014

Edit: Mei 2014

@AdhamTFusama