Workshop #KreatiFiksi


Teman-teman yang suka menulis dan ingin menambah ilmunya, boleh banget lho datang ke acara berikut ini. Gratis lho! Kapan lagi?

Lokasi Workshop #KreatiFiksi

Lokasi Workshop #KreatiFiksi

Klub Buku Bogor mempersembahkan:

“Workshop #KreatiFiksi bersama Moka Media”

Workshop menulis fiksi dengan menghadirkan:

  1. Pemateri: A.S. Laksana – Pemimpin Redaksi penerbit Moka Media, penulis kumcer Bidadari yang Mengembara (Buku Sastra Terbaik 2004 versi Majalah Tempo), dan pendiri Jakarta Writing School.
  2. Talkshow: Adham T. Fusama – Penulis novel Rahasia Hujan terbitan Moka Media.

Pelaksanaan:

  • Hari / tgl : Minggu, 23 November 2014
  • Waktu : 13.00 – selesai
  • Tempat : Aula Dinas Pendidikan & Kebudayaan Kota Bogor, Jl. Pajajaran no. 125 (seberang rumah makan Gurih 7)

Kegiatan:

  • Workshop menulis,
  • Talkshow,
  • Lomba menulis,
  • Konsultasi naskah dengan para editor Moka Media,
  • Drop box naskah,
  • Hiburan, dan
  • Games.

Dan, tentunya, semua acara ini GRATIS!

Pendaftaran:

SMS dengan format: Datfar KreatiFiksi (spasi) nama lengkap (spasi) no. hp (spasi) alamat e-mail.

Kirim ke: 0812 9092 9748

Info lebih lanjut:

  • Andri: 0857 18 48 58 28
  • Ilmi: 0878 1923 3108
Me and A.S. Laksana

Me and A.S. Laksana

 @AdhamTFusama

Cerita-Cerita dari LaSastra 5: Hari Kedua


With my funky English teacher, Mrs. Isti

With my funky English teacher, Mrs. Isti

Sebelumnya: Cerita-Cerita dari LaSastra 5 Hari Pertama

Pada hari kedua LaSastra 5, 30 Oktober 2014, saya datang lagi. Tapi, kali ini saya datang sebagai tamu sekaligus pedagang buku, menjajakan Rahasia Hujan di baazar acara. Jadi, di hari ini saya lebih santai, tidak perlu gugup memikirkan soal naik panggung atau lain sebagainya. Saya juga bisa berinteraksi dengan siswa-siswi SMAN 5 Bogor, atau siswa-siswi dari sekolah lain yang datang sebagai peserta. Mereka membeli buku, ngobrol, sampai dipaksa selfie dengan saya. Hahaha. Senangnya lagi, ternyata adik kelas saya waktu masih di SMAN 5, Raidinal Aliffahrana, juga menyempatkan diri untuk hadir.

Dengan siswi-siswi kece

Dengan siswi-siswi kece penggemar Rahasia Hujan. Hihihi.

Selfie

Selfie

Pada hari itu, bintang tamu yang datang jauh lebih mentereng ketimbang “alumni yang jadi penulis lalu diundang ke LaSastra 5”. Tak tanggung-tanggung, yang datang adalah Donny Dhirgantoro, penulis novel mega best seller 5 CM, dan band Tangga (yang sekarang ganti nama jadi band Dekat). Tentu saja saya tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk bertemu mereka.

Masih memiliki sedikit privilege sebagai alumni dan bintang tamu kemarin sore, saya diizinkan panitia bertemu mereka. Pertama, saya bertemu dengan Bang Donny Dhirgantoro. Saya memperkenalkan diri dan memberi novel Rahasia Hujan untuk dia. Mungkin karena sama-sama penulis akhirnya kami mengobrol cukup lama. Bang Donny bilang dia sedang ada proyek untuk membuat film. Dan, surprise-nya lagi, dia juga minta saya untuk mengirimkan novel pertama saya (yang kebetulan tidak saya bawa waktu itu). Terakhir, sebelum pamit, saya minta foto bersama dengan Bang Donny.

With Donny Dhirgantoro

With Donny Dhirgantoro

Mangsa selanjutnya adalah personel band Tangga. Mereka baru selesai makan dan sedang bersiap-siap. Saya datang untuk menghadiahkan Rahasia Hujan dan SKSD (sok kenal sok dekat) sebentar sebelum mengganggu mereka untuk berfoto bersama. Untungnya, mereka sangat ramah sehingga saya tidak perlu diusir oleh security karena telah mengganggu Tata yang masih makan. Yang jelas, saya sudah senang dan puas sudah bertemu mereka. Tinggal menunggu kehadiran mereka di atas panggung.

With Kamga, Chevrina, and Tata

With Kamga, Chevrina, and Tata

E ciyee di-mention

E ciyee di-mention

Yang pertama muncul di panggung adalah Bang Donny, disambut hangat oleh peserta. Rasanya tak ada orang di bawah tenda LaSastra 5 yang belum membaca novel atau menonton film 5CM. Dia pun segera menceritakan pengalamannya menerbitkan buku hingga memberi saran, tip, dan trik dalam menulis. Meski tidak ada sesi tanya jawab ke peserta, tapi sepertinya peserta cukup puas.

Lalu giliran Tangga, yang benar-benar ditunggu. Bahkan panitia sampai kelimpungan untuk menjaga panggung. Akhirnya peserta diperbolehkan untuk mendekati panggung tapi mereka harus duduk (mungkin supaya enggak ricuh dan mengakibatkan Tata harus lari dari kejaran ABG-ABG putri yang kesengsem dengan jenggot Seneca Crane-nya).

Dan, Tangga pun memberi pertunjukan yang terus memproduksi mass hysteria dengan lagu-lagu mereka yang catchy, familiar, dan vokal yang apik. Mereka mengakhiri pertunjukan dengan lagu “Hebat” yang sangat cocok sekali untuk menutup acara LaSastra 5. Lagu itu seolah ingin bilang ke peserta kalau mereka semua hebat karena telah mengikuti lomba dengan sebaik-baiknya. Juga seperti ingin bilang ke panitia kalau mereka semua hebat sebab sudah mampu mengadakan acara sekaliber LaSastra 5.

Dan… dan, mungkin saja mereka ingin bilang hebat ke saya karena sudah bisa menjadi seorang novelis #kegeeran #blush. Hahahaha 😀

Intinya—mengambil istilah anak-anak remaja zaman sekarang—LaSastra 5 pecah serunya! Kegembiraan terus berlangsung sewaktu para pemenang lomba diumumkan. Setelahnya, maka berakhir sudah acara LaSastra 5. Para panitia berkumpul di depan panggung dan mereka merayakan kesuksesan dengan berfoto dan menyanyikan theme song LaSastra 5. Saya pun tak mau kalah, dengan tidak tahu malu melakukan ultimate selfie dan foto bareng bersama para panitia.

LASASTRA 5 SELESAI!

LASASTRA 5 SELESAI!

Suasananya begitu menggugah. Mereka bernyanyi-nyanyi lantang, melonjak-lonjak gembira, lega karena acara yang telah mereka rencanakan 3 bulan sebelumnya berhasil dilaksanakan dengan sukses dan lancar. Suasana haru pun terlihat, membuat saya teringat kembali pengalaman yang sama sewaktu selesai mengadakan LaSastra 5 satu dekade silam. Terlihat sekali adik-adik kelas saya itu telah berusaha keras demi menyukseskan LaSastra 5, dan sore itu segala jerih payah mereka terbayar tuntas.

Wajah lega Bu Dini, Ketua Panitia, dan siswa-siswinya

Wajah lega Bu Dini, Ketua Panitia, dan siswa-siswinya

Melihat mereka, saya jadi tersenyum sendiri. Saya memang selalu senang melihat remaja-remaja yang aktif dan mengisi hari-hari mereka dengan kegiatan positif. Di tengah ramainya berita negatif tentang citra remaja di negeri ini, ternyata masih jauh lebih banyak remaja-remaja yang menyibukkan diri untuk menempa potensi diri dan berprestasi seperti mereka-mereka yang ada di depan saya.

We are the Part of LaSastra 5!

We are the Part of LaSastra 5!

I need to post this! Katanya waktu SMA w sama gantengnya dengan Tamma :D

I need to post this! Katanya waktu SMA w sama gantengnya dengan Tamma 😀

Pada akhirnya, saya pun pamit ke mereka. Saya sempat menghadiahkan satu eksemplar Rahasia Hujan dan mug ke pihak sekolah dan panitia sebagai kenang-kenangan. Saya pun pulang dengan perasaan sangat senang. Senang karena telah diundang ke acara LaSastra 5, juga senang karena LaSastra 5 sudah jauh lebih besar dan lebih baik.

Kenang-kenangan buat panitia

Kenang-kenangan buat panitia

Untuk adik-adik kelas saya yang telah bekerja keras menyelenggarakan LaSastra 5, saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. Terima kasih telah menjaga tradisi LaSastra 5 dan membuat saya bangga pernah menjadi bagian dari tradisi tersebut. I salute you all! Sukses buat kalian semua.

Foto bareng Ketua OSIS & Ketua Pelaksana

Foto bareng Ketua OSIS & Ketua Pelaksana

 

@AdhamTFusama

Cerita-Cerita dari LaSastra 5: Hari Pertama


The stage is ready

The stage is ready

Tanggal 29 Oktober 2014 kemarin saya berkesempatan untuk hadir di acara LaSastra 5 ke 14. Datang ke acara tersebut membangkitkan kembali kenangan-kenangan indah sewaktu saya masih SMA terutama waktu menjadi panitia LaSastra 5 sepuluh tahun yang lalu. Dan, rasanya senang sekali melihat LaSastra 5 kali ini jauh lebih baik, jauh lebih besar, dan jauh lebih meriah ketimbang sepuluh tahun yang lalu. Artinya, pihak sekolah dan adik-adik kelas saya benar-benar bekerja keras melanjutkan acara yang paling dibanggakan SMAN 5 Bogor ini.

Pada saat LaSastra 5 kemarin, ini pertama kalinya saya diperlakukan layaknya bintang tamu yang benar-benar bintang tamu, karena saya dipersiapkan sebuah ruangan khusus yang besar dan nyaman. Ruangan yang dipakai adalah Lab IPS, letaknya tak jauh dari belakang panggung, dan daerah tersebut diblokade panitia sehingga steril dari para peserta, atau fans yang barangkali menggila waktu tahu idolanya sudah hadir di LaSastra 5.

The problem is… I don’t think I have the fanatic groupies or whatsoever because I’m not a superstar. Jadi, walau ruangan tersebut ada sofa nyamannya, disiapkan makanan, dan ada panitia yang siap melayani kapan saja, saya dengan cepat merasa bosan, akhirnya memutuskan untuk berkeliling, melihat-lihat wajah baru sekolah saya dulu yang sekarang sudah jauh lebih besar. Bahkan SMAN 5 Bogor sudah punya bangunan berlantai tiga, sesuatu yang tidak pernah terbayangkan satu dekade yang lalu. Tentu saja rasanya membanggakan, walau agak iri juga karena dulu saya bersekolah di tempat yang benar-benar dijuluki “Kotak Sabun” saking mungilnya.

Dan, sepertinya saya agak terlalu sering mondar-mandir, sehingga panitia sempat kelimpungan mencari saya. Untuk tingkah saya yang merepotkan dan tidak mau mengikuti SOP panitia, saya mengucapkan mohon maaf pada adik-adik panitia. Mohon dimaklumi Akang kalian yang satu ini masih norak dan belum terbiasa dengan fasilitas-fasilitas ala seleb seperti ini. Maaf yaaa… Ehehehe #garukgarukkepala

Senangnya, saya sempat dikunjungi oleh beberapa guru saya, seperti Pak Ruspita yang melegenda, dan Bu Erlinda serta Bu Marry yang datang langsung protes ke saya, karena beliau baru tahu kalau saya yang menjadi bintang tamu. Semula, beliau mengira saya cuma alumni enggak punya kerjaan yang mondar-mandir di acara LaSastra 5. Hahaha. Selain itu, dua orang teman dari angkatan saya juga menyempatkan diri untuk hadir, yakni Verdika Ismardiansyah dan Noni Astria. Mereka adalah rekan seperjuangan di kepengurusan OSIS. Dan, keduanya sudah berkeluarga bahkan sudah bisa bikin anak-anak yang lucu.

Bincang-Bincang di LaSastra 5

Bincang-Bincang di LaSastra 5

Siang hari, tibalah waktunya buat saya untuk naik ke atas panggung. Terus terang agak grogi juga karena ini pertama kalinya saya berbicara di depan ratusan orang seperti ini. Untungnya semua berjalan lancar, di mana adik-adik kelas saya sudah cukup mahir menjadi host. Di akhir acara, saya menghadiahkan buku untuk 3 orang penanya, plus dikasih hadiah juga oleh panitia. Saya mendapat semacam prasasti kenang-kenangan dari panitia LaSastra 5. Bisa dibilang, ini adalah penghargaan pertama yang diberikan sekolah untuk saya. Agak merasa bersalah juga sih sebab zaman SMA dulu saya terbilang miskin prestasi sehingga tidak pernah menyumbangkan piala apa-apa untuk sekolah. Hahaha.

Yang datang ke acara LaSastra 5 rame banget!

Yang datang ke acara LaSastra 5 rame banget!

Nevertheless, saya sangat berterima kasih dan terharu sekali bisa mendapat penghargaan tersebut. Lebih dari itu, saya merasa sangat terhormat bisa diundang ke acara LaSastra 5. Semoga kelak, LaSastra 5 bisa lebih berkembang, maju, dan semakin bergengsi. Akhir kata, saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya buat para guru, panitia, dan seluruh pihak pelaksana LaSastra 5, yang telah sudi mengundang saya untuk datang ke acara yang begitu dekat di hati saya tersebut.

So proud to have this. Thank you SMANLI!

So proud to have this. Thank you SMANLI!

Terima kasih.

 

Bersambung ke Cerita-Cerita LaSastra 5: Hari Kedua

@AdhamTFusama

LaSastra 5 2014 Segera Dimulai!


LaSastra 5 2014

LaSastra 5 2014

Dua hari lagi Lomba Bahasa dan Sastra SMAN 5 Bogor atau yang lebih dikenal sebagai LaSastra 5 akan segera diadakan!

Pada tanggal 29 & 30 Oktober 2014 nanti, sekolah-sekolah di Jadebotabek dan sekitarnya akan berlaga mengikuti pelbagai perlombaan, seperti lomba membaca puisi, menulis puisi, lomba pidato, meresensi novel, menulis reportase, dan lain sebagainya.

Tentu saja, selain lomba-lomba ada juga acara-acara lainnya seperti pertunjukan musik dari band Tangga. Ada pula bincang-bincang dengan bintang tamu, yakni Donny Dirgantoro (penulis novel 5CM) dan… saya sendiri. Hehehe.

Sepertinya saya akan menoreh sejarah tersendiri (tsah!) sebagai bintang tamu pertama di LaSastra 5 yang merupakan alumni sekaligus pernah menjadi panitia LaSastra 5 sepuluh tahun yang lalu. Cukup keren, kan? Hahaha.

Oh ya, di sana kalian juga bisa beli novel Rahasia Hujan dengan harga spesial, dapat tanda tangan saya (kalau mau hahaha), dan berkesempatan untuk dapetin merchandise kece kalau kalian beli novel Rahasia Hujan.

Jadi, jangan lupa datang ya ke acara La Sastra 5. Di mana? Tentu saja di SMAN 5 Bogor, Jl. Manunggal! See you there, guys!

Mug Rahasia Hujan eksklusif buat kamu!

Mug Rahasia Hujan eksklusif buat kamu!

 

Btw, beberapa hari yang lalu sempat mampir ke SMAN 5 Bogor buat ngegerecokin panitianya yang imut-imut. Hahaha. Adik-adik kelas saya keren-keren, ya? 😛

Bersama Ketua OSIS dan Dewan Harian OSIS SMAN 5 Bogor

  Bersama Ketua OSIS dan Dewan Harian OSIS SMAN 5 Bogor

Bersama Panitia La Sastra bagian Humas

Bersama Panitia La Sastra bagian Humas

 

@AdhamTFusama

Saya dan La Sastra 5


Saya masih teringat dengan keputusan nekat saya untuk menjadi anggota OSIS SMAN 5 Bogor saat duduk di kelas 2 SMA (sekarang kelas 11). Itu karena saya ingin lebih membuka diri dan menikmati masa remaja yang katanya masa terindah dalam hidup. Sebelumnya, di kelas 1 SMA, saya termasuk siswa yang tertutup. Teman pun cuma kenal segelintir. Niat untuk bergabung dengan OSIS adalah salah satu keputusan paling berani yang pernah saya ambil saat SMA, dan keputusan tersebut tidak pernah saya sesali setelahnya.

Meski harus berjuang mati-matian dalam tes masuk, saya benar-benar menikmati masa SMA begitu menjadi anggota OSIS. Saya jadi banyak kawan, melatih potensi diri, belajar banyak soal organisasi, dan belajar mengadakan acara-acara sekolah, salah satunya La Sastra 5.

La Sastra 5 adalah singkatan dari Lomba Bahasa dan Sastra SMAN 5 Bogor. Sebagai siswa yang hobi menulis sejak kecil, bagi saya La Sastra 5 adalah acara paling keren yang pernah diadakan sekolah saya. Waktu itu, saya menganggap La Sastra 5 itu seperti OzFest dunia literasi. The bad ass literary event I’ve ever involved with. Hahaha.

Kalau tidak salah, La Sastra 5 pertama kali diselenggarakan tahun 2000, namun sempat vakum dan baru diadakan lagi pada saat saya menjadi anggota OSIS. Acaranya meliputi lomba resensi novel, lomba menulis puisi, lomba membaca puisi, dan lain sebagainya.

My old self: si culun yang berharap menang lomba di La Sastra 5

My old self: si culun yang berharap menang lomba di La Sastra 5

Dulu, karena saya panitia, saya tidak bisa mengikuti lomba-lomba yang ada. Padahal, saya ingin sekali ikut lomba meresensi novel meski belum pernah meresensi apa pun. Di mata saya, lomba itu sangat menantang, bahkan sulit, mungkin sama sulitnya dengan menulis skripsi.

Tapi, ada acara yang paling saya sukai di La Sastra 5, yakni bincang-bincang dengan bintang tamunya. Saya tidak tahu bagaimana rekan panitia saya melakukannya, tapi mereka berhasil mengundang sastrawan Imam Soleh dan penulis Fira Basuki.

Foto bersama Imam Soleh dan Fira Basuki. Tebak saya yang mana! :D

Foto bersama Imam Soleh dan Fira Basuki. Tebak saya yang mana! 😀

Saya masih ingat bagaimana terkesimanya saya melihat Imam Soleh membacakan puisi di atas panggung. Semangatnya menggelora, suaranya lantang menggetarkan, entakan kakinya mungkin bisa saja merobohkan panggung. Yang jelas, Imam Soleh baru saja menampilkan pembacaan puisi paling keren yang pernah saya lihat seumur hidup. Bahkan setelah beliau selesai pun rahang saya masih sulit dikatupkan. Sungguh menggetarkan.

Dan, saya juga ingat betapa cantiknya Mbak Fira Basuki. Bisa jadi dia adalah penulis paling cantik yang pernah saya kenal waktu itu. Datang dengan pakaian nyentrik, Mbak Fira menunjukkan kalau dia memang penulis yang smart and witty. Sejak saat itu, saya jadi kerajingan membaca buku-bukunya. Jendela-Jendela, Atap, Pintu, Biru, dan Rojak saya baca semua.

Ada momen sedih ketika sesi tanya jawab dengan Mbak Fira. Saya yang dengan semangat mengacungkan tangan rupanya tidak cukup untuk menarik perhatian Mbak Fira. Padahal, saya ingin menanyakan apa-apa saja yang perlu dilakukan oleh siswa culun seperti saya untuk bisa menjadi penulis hebat sepertinya. Barangkali pertanyaan tersebut tidak akan pernah saya dapatkan jawabannya dari beliau. Hahahaha.

Tanda tangan Fira Basuki

Tanda tangan Fira Basuki

Tapi, saya tidak bersedih. Saya mendapat kesempatan buat berfoto bersama Imam Soleh dan Fira Basuki, plus mendapat tanda tangan Mbak Fira yang masih saya simpan sampai sekarang. Intinya, meski La Sastra 5 tahun itu selesai, momen-momen menyenangkan tersebut tetap saya ingat sampai sekarang.

Bahkan, saya sempat punya mimpi muluk untuk cepat-cepat jadi penulis biar kelak bisa diundang ke acara La Sastra 5. Waktu saya bilang, “nanti gue pengen jadi bintang tamu di La Sastra 5, ah!” teman saya cuma tertawa kecil dan menepuk punggung saya—antara mengamini perkataan saya sekaligus menaruh rasa iba pada saya yang terlalu sering mengalami delusi. Hahaha.

Tapi, siapa yang menyangka kalau mimpi muluk tersebut ternyata bisa menjadi kenyataan?

Setelah bertahun-tahun gagal menjadi penulis, setelah daftar penerbit yang pernah menolak naskah saya bertambah panjang, setelah melewati pahit-manisnya menerbitkan novel sendiri, akhirnya saya berhasil juga menjadi penulis yang novelnya diterima penerbit besar.

Saya masih ingat waktu mendapat 10 eksemplar buku lepas yang khusus diberikan penerbit untuk penulisnya, saya langsung menyisihkan 1 eksemplar Rahasia Hujan buat perpustakaan SMAN 5 Bogor. Tahun sebelumnya saya juga menyumbangkan novel pertama saya untuk sekolah tercinta.

Guru-guru saya dan Rahasia Hujan

Guru-guru saya dan Rahasia Hujan

Kalau tidak salah, hari Jumat saya mampir ke SMA saya itu dengan niat menyumbangkan buku sekaligus silaturahmi dengan guru-guru saya di sana. Kata orang, silaturahmi membuka pintu rezeki. Hari itu, saya membuktikan kebenaran kalimat tersebut. Tak disangka, guru-guru saya begitu antusias mengetahui kalau saya menerbitkan novel. Mungkin jarang sekali alumni SMAN 5 Bogor yang menjadi penulis.

Bahkan, waktu itu Bu Maria—guru bahasa Inggris saya—sempat berceletuk, “Eh, bentar lagi kan ada La Sastra 5. Kamu aja yang dateng (jadi bintang tamu)!”

Saya kaget mendengarnya tapi cuma tertawa kecil saja. Saya, yang sudah terbiasa mengalami kegagalan dan kekecewaan, hanya bisa mengamini. I always wish and pray for the best but also prepare for the worst. Saya akan senang sekali kalau benar-benar diundang menjadi bintang tamu di La Sastra 5, kendati tidak mau terlalu banyak berharap.

Tapi, Alhamdulillah, kali ini saya tidak perlu kecewa. Suatu sore saya mendapat telepon yang mengaku siswa SMAN 5 sekaligus panitia La Sastra 5, menanyakan apakah saya mau jadi bintang tamu di sana. Jelas saya terkejut tapi tetap berusaha kalem biar bisa jaga image di hadapan adik kelas. Hahahaha. Saya menjawab, saya bersedia jadi bintang tamu. Setelah telepon ditutup, barulah saya berjingkrak-jingkrak kegirangan.

La Sastra 5 tahun 2014

La Sastra 5 tahun 2014

Saya sendiri masih tak percaya kalau mimpi kecil saya dulu bisa terealisasi… dan cuma butuh waktu sepuluh-sebelas tahun kemudian. Apalagi, pada saat La Sastra 5 nanti, saya akan hadir bersama nama-nama hebat lainnya seperti Donny Dhirgantoro, band Tangga, dan Babe Cabiita.

Saya akan menjadi bintang tamu di acara La Sastra 5 tahun 2014 pada hari Rabu, 29 Oktober 2014 setelah makan siang. Bagi teman-teman yang mau hadir, saya datang kehadirannya, ya!

Saya yakin, La Sastra 5 tahun ini akan sangat hebat.

 

@AdhamTFusama