[Resensi Film] Tabula Rasa (2014) – Adriyanto Dewo


Tabula Rasa

Tabula Rasa

TABULA RASA: MERACIK RASA, MENIKMATI KEBERSAMAAN

 

Berkat bakatnya dalam bermain bola, Hans direkrut oleh tim sepakbola di Jakarta. Maka merantaulah pemuda asal Serui, Papua, ini ke ibukota dengan sejuta harapan dan mimpi indah. Namun, kenyataan tidaklah seindah mimpi. Gara-gara cedera kaki, Hans didepak dari timnya dan hidup menggelandang di Jakarta.

Hidupnya begitu mengenaskan hingga dia terpaksa tinggal di rumah kardus sebelah rel kereta dan rela memungut beras supaya bisa makan. Tak tahan, Hans berniat bunuh diri. Tapi untungnya dia ditolong oleh Mak pemilik rumah makan Padang. Iba dengan kondisi Hans, Mak memberinya makan gulai kepala ikan yang langsung disantap dengan penuh syukur.

Tak tega membiarkan Hans menggelandang lagi, Mak akhirnya meminta Hans untuk bantu-bantu dengan bayaran makan dan tempat tinggal. Keputusan Mak membuat Natsir dan Uda Parmanto—pekerja di rumah makan Mak—keberatan. Pasalnya, rumah makan mereka sedang kesulitan ekonomi karena sepi pengunjung plus harga bahan-bahan masakan semakin melambung. Mana sanggup mereka membayar Hans. Dari sanalah konflik film kuliner pertama di Indonesia ini bermula.

Film ini memang tentang hubungan antarmanusia—dan makanan yang menyatukan mereka. Jadi, tak heran apabila film ini menyoroti para tokoh-tokohnya. Untungnya, keempat tokoh sentralnya bermain bagus semua. Inilah salah satu kelebihan utama film ini.

Jimmy Kobogau sebagai Hans yang malang tapi mau bekerja keras dan berusaha diakui. Dewi Irawan sebagai Mak yang berhati mulia namun bisa juga keras dan tegas, memadukan kekuatan serta kerapuhan seorang wanita tengah baya dengan kesederhanaannya yang enak disaksikan. Yayu Unru sebagai Uda Parmanto yang selalu resah, berkhianat, tapi kita sebagai penonton tidak diberi kesempatan untuk membencinya. Lalu Ozzol Ramdan sebagai Natsir si pencari suasana dengan rentetan punchline-nya yang tajam tapi jenaka.

 

“Dapur kita aneh. Lebih banyak bertengkarnya ketimbang masaknya.” – Natsir

 

Sungguh sedap sekali menyaksikan chemistry para tokohnya yang sangat kuat, sehingga interaksi mereka mengalir secara alami. Keempatnya menambah kedalaman rasa dalam film ini. Hebatnya lagi, mereka asyik memasak dan melontarkan dialog-dialog Minang dengan fasih (berkat latihan berbulan-bulan sebelum syuting).

Selain akting, film ini juga terbantu dengan sinematografinya yang apik, memberi kehangatan di adegan-adegan memasak, dan memberi kesejukan pada adegan-adegan di luar ruangan. Skenarionya pun ringan, mengalir, enak untuk diikuti.

Sayangnya, ceritanya tidak memiliki lonjakan yang berarti. Drama perpecahannya kurang pedas dan klimaksnya pun terasa sedikit hambar. Barangkali karena terlalu banyak bumbu-bumbu yang ditebar tapi tidak diolah dengan mantap sehingga banyak hal yang tidak tergali. Alhasil klimaks dan penutupnya pun kurang berhasil dibangun dengan gurih.

Meskipun begitu, Tabula Rasa tetaplah sebuah tontonan yang bagus. Terasa sekali film ini dibuat dengan hati dan cinta, dengan keinginan untuk menyajikan sebuah hiburan yang sarat nilai moral tanpa harus menggurui, kaya dengan kearifan lokal, serta tentu saja ingin mempromosikan kuliner nusantara yang lezat. Film ini akan membuat kita semakin mensyukuri nikmatnya makan saat bersama, dan nikmatnya kebersamaan saat makan. Seperti kata tagline-nya: makanan adalah itikad baik untuk bertemu.

Yang jelas, ini adalah film Indonesia pertama yang membuat saya lapar dan punya keinginan untuk makan rendang setelah menontonnya. Bravo untuk Tabula Rasa.

 

Sheila Timothy & Adham T. Fusama

Sheila Timothy & Adham T. Fusama

Tabula Rasa (2014)

Sutradara: Adriyanto Dewo

Produser: Sheila Timothy

Penulis: Tumpal Tampubolon

Pemain: Jimmy Kobogau, Dewi Irawan, Yayu Unru, Ozzol Ramdan

Durasi: 107 menit

Produksi: Lifelike Picture, Indonesia

Penilaian: 3,5/5

 

Bersama Jimmy dan Vino G. Bastian

Bersama Jimmy dan Vino G. Bastian

@AdhamTFusama

[Resensi Buku] Bunga di Atas Batu – Aesna


20140706_195209

Judul                           : Bunga di Atas Batu

Penulis                        : Aesna

Penerbit                     : Moka Media

Hlm. + Ukuran        : iii + 129 hlm; 12,7 x 19 cm

Terbit                         : 2014 (cetakan pertama)

ISBN                            : 979-795-842-6

Genre                          : Novel remaja

 

KALA CINTA TUMBUH DI TEMPAT YANG SALAH

 

 

Ada yang menarik dari talk show 4 Penulis 4 Cerita Cinta yang diadakan Moka Media awal Juli lalu. Aesna—salah satu penulis yang diundang menjadi narasumber—menceritakan makna yang terkandung dalam judul novelnya.

Dia menganalogikan kisah cinta yang dituangkan dalam novelnya itu sebagai bunga yang tumbuh di atas batu, alih-alih di tanah yang subur dan gembur. Cinta tersebut tumbuh di tempat yang tidak semestinya. Layaknya cinta Bara yang malah mekar untuk Iris, sahabatnya sejak kecil.

Alhasil, Bara pun mengalami pergolakan batin, bingung dalam memilih sikap. Dia ingin Iris menjadi lebih dari sekadar sahabat, tapi di lain pihak dia tidak ingin persahabatan mereka selama ini malah hancur hanya gara-gara sebuah penolakan. Istilah anak muda sekarang: friendzone. Dilema itulah yang Bara alami.

Nyaris sepanjang cerita saya terus menerus dibuat geregetan. Sayangnya, bukan tipe geregetan yang menyenangkan melainkan lebih berupa luapan frustrasi. Saya mengharapkan ada dinamika cinta tarik-ulur, malu-malu kucing, atau jinak-jinak merpati dalam hubungan antara Bara dan Iris.

Nyatanya, penggarapan karakter bahkan chemistry antara keduanya malah miskin sekali. Saya tidak merasakan mereka sebagai sahabat sedari kecil yang sama-sama kesepian karena kedua orangtua mereka sibuk bukan main. Saya menganggap mereka seperti dua orang asing yang kebetulan punya kegalauan yang sama dan hobi bertemu di rumah pohon.

Dan, hei, bahkan rumah pohonnya sendiri tidak lebih dari sekadar setting tempelan yang kemudian terlupakan. Ini amat sangat disayangkan sebab saya tidak ingat kapan terakhir kali membaca novel Indonesia yang punya setting rumah pohon.

Entah apa yang menyebabkan novel ini terasa tidak tergali. Barangkali karena novelnya yang tipis, sehingga nyaris semua bagian dan adegan di novel ini terasa bagaikan pulasan angin lalu saja. Barangkali karena kisahnya yang seakan ditempel asal-asalan alih-alih dirajut dengan cantik.

Adegan yang seharusnya memperkaya emosi atau memberi dampak pada cerita—misalkan kematian sang ibu—justru tidak berkesan sama sekali. Ternyata tidak selamanya novel yang tipis itu efektif dalam menuturkan isinya. Yang jelas, mengharapkan adanya koneksi antara Bara dan Iris sama sulitnya dengan memaksakan dua kabel pendek untuk saling tersambung.

Dan, untuk novel setipis ini, penggarapan editingnya pun terasa kurang. Masih banyak saya temukan kesalahan penulisan kata yang tercecer di sana-sini membuat saya gemas (“hembus”, “nafas”, “kesini”, “apapun”). Saya jadi sempat bertanya-tanya, ada apa dengan editornya?

Tapi, terlepas dari itu semua, bukan berarti Bunga di Atas Batu tidak layak baca. Ada beberapa bagian yang mengasyikkan, seperti latar belakang Hilman memacari Iris, pertengkaran Bara dan Hilman, serta surat untuk Iris. Rasanya, ketimbang dijadikan novel yang canggung dalam bercerita serta tanggung dalam jumlah halaman, cerita ini lebih bernas jika dijadikan novela dengan memaksimalkan adegan-adegan tersebut.

Dan, epilog-nya adalah sebuah penutup yang membuat saya yakin kalau Aesna bisa menulis. Kebetulan saya menyukai open ending dan Aesna menggarap penutup novelnya ini dengan cukup manis.

Jika Bunga di Atas Batu adalah perumpamaan cinta yang tumbuh di tempat yang tidak tepat, saya rasa Aesna cukup berhasil mengisahkannya meski dengan terburu-buru. Akan tetapi, setelah Aesna mengungkapkan pemaknaan judul novelnya itu di acara talk show, saya sempat memikirkan sebuah analogi lain.

Saya memaknai bunga di atas batu sebagai representasi kekuatan cinta yang bisa tumbuh di lingkungan serta situasi sesulit apa pun, hingga mekarnya sanggup membawa keindahan. Sebuah anomali yang tampaknya gagal bersemi di novel ini.

Tapi, ah, itu kan hanya ekspektasi saja. Yang jelas, saya sepertinya akan menantikan karya-karya Aesna selanjutnya. Dia memiliki potensi sebagai penulis muda berbakat dan tampaknya gemar melahap banyak buku-buku yang bagus.

 

Aesna dan saya

Aesna dan saya

Penilaian: 2/5

@AdhamTFusama

 

15 Film Indonesia Terfavorit (2000-2014)


The Raid: Berandal

Perkembangan perfilman Indonesia dewasa ini semakin menggembirakan. Sejak bangkit dari mati surinya di tahun 2000-an, industri perfilman Indonesia terus menggeliat ke arah yang bisa dibanggakan. Memang masih ada film-film yang dibikin asal-asalan cuma untuk meraih sedikit keuntungan. Namun akhir-akhir ini film semacam itu semakin tergusur. Itu menandakan kalau masyarakat sudah bosan dan menginginkan film yang benar-benar bisa memuaskan mereka.

Tak hanya itu, film-film Indonesia pun sudah semakin banyak dilirik oleh masyarakat internasional. Terbukti telah banyak film karya anak bangsa yang dirilis bahkan bertarung di festival-festival film kelas dunia.

Sebagai bentuk dukungan serta tribute bagi film Indonesia, saya rangkum 15 film Indonesia favorit saya sejak tahun 2000.

Caution: this list may contain spoiler!

 

Comic 8

15. Comic 8 (2014—komedi)

Sutradara: Anggy Umbara. Pemain: Indro Warkop, Ernest, Cak Lontong, Mongol

Delapan orang masing-masing memiliki motif berbeda dalam melakukan perampokan bank. Ada yang karena iseng, hobi, bahkan galau. Sewaktu mereka terkepung polisi, kekonyolan pun semakin menjadi-jadi.

Laugh out loud: Apa jadinya jika para comicstand-up comedian—berkumpul bersama dalam satu film? Harapkan sebuah film yang mengocok perut dari awal hingga akhir. Dan, bersiaplah mulas-mulas setelah menonton, karena harapan tersebut benar-benar terpenuhi.

Chicken on the loose: Kejadian-kejadian kocak juga mengiringi perjalanan Dennis mengejar ayam untuk maskot perusahaan kecap ayahnya. Maskot (2006) adalah salah satu film komedi paling underrated di Indonesia.

 

Merantau

 

14. Merantau (2009—drama, aksi)

Sutradara: Gareth Evans. Pemain: Iko Uwais, Sisca Jessica

Yuda, pemuda asal Sumatera Barat baru saja sampai ke Jakarta tapi malah sudah terlibat masalah. Niat hati membantu Astrid an Adit, Yuda malah berurusan dengan organisasi human trafficking. Bermodal silat, dia menghadapi semua musuh yang ada.

Silat goes international: Inilah film yang mengenalkan silat ke layar lebar Indonesia bahkan dunia! Juga membuka pintu bagi Gareth dan Iko untuk berkolaborasi menghasilkan The Raid yang fenomenal. Adegan aksinya seru, kisah dramanya mencekam sekaligus menyentuh. Uda Yuda, tambo ciek!

From West Sumatera with love: Kisah para santri Pondok Madani yang bercita-cita besar dan akhirnya bisa menjelajah hingga Amerika, Eropa, hingga Afrika. Man jadda wajada, temukan “mantra”-nya di Negeri 5 Menara (2012).

 

Nagabonar 2

13. Nagabonar Jadi 2 (2007—drama, komedi)

Sutradada: Deddy Mizwar. Pemain: Deddy Mizwar, Tora Sudiro

Berkutat pada hubungan ayah-anak antara Nagabonar—mantan pejuang zaman penjajahan Jepang—dan anaknya Bonaga yang sekarang menjadi pengusaha sukses. Bonaga mendapat proyek pembangunan resort dari perusahaan Jepang. Sialnya, lokasi resort adalah lahan kebun kelapa sawit milik ayahnya.

Like father, like son: Salah satu keunggulan film ini terletak pada chemistry ayah-anaknya yang begitu hidup. Penampilan Deddy Mizwar yang tak diragukan lagi dapat diimbangi dengan baik oleh Tora Sudiro. Nilai-nilai nasionalisme juga dapat disampaikan secara subtil berkat skenarionya yang lucu, segar, sekaligus efektif.

Apa kata dunia? Saksikan kehebatan akting Deddy Mizwar dalam film Nagabonar (1987) tentang mantan pecopet yang akhirnya berjuang mengusir penjajah dari Jepang. A masterpiece!

 

Rumah Dara

12. Rumah Dara / Macabre (2009—horror, gore, slasher)

Sutradara: Mo Brother. Pemain: Shareefa Danish, Julie Estelle.

Niat membantu perempuan yang jadi korban perampokan, 6 orang sahabat malah terjebak di sebuah rumah yang dihuni oleh keluarga kanibal. Dan mereka lapar.

Enak, kaaan? Akhirnya! Sebuah film horor Indonesia yang benar-benar bisa membuat takut, bukan berisi hantu-hantu kacangan dengan plot cerita yang menggelikan. Saya masih ingat betapa senangnya saya sewaktu keluar dari gedung bioskop. Menegangkan, mengerikan, berdarah-darah!

Feast your fear: Gara-gara bermain jelangkung, sekelompok anak muda mulai diteror setan. Mereka pun melakukan perjalanan untuk menghentikan kutukan Tusuk Jelangkung (2003).

 

Quickie Express

11. Quickie Express (2007—dark comedy)

Sutradara: Dimas Djajadiningrat. Pemain: Tora Sudiro, Aming, Lukman Sardi

Tiga orang gigolo—Jojo, Marley, dan Piktor—siap memuaskan hasrat Anda sekaligus mengocok perut Anda. Namun, apa jadinya kalau Jojo malah dicintai 3 orang sekaligus?

I bring the sexy back: Film komedi yang berani dan segar. Meski premisnya terdengar vulgar namun tidak ada adegan eksplisit yang membuat kita menutup mata. Dengan akting yang bagus, penyutradaraan dan skenario yang apik, tensi cerita yang terjaga, serta adegan aksi yang komikal, tak berlebihan jika Quickie Express merupakan salah satu film komedi terlucu di Indonesia.

Undercover life: Demi bertahan hidup di Jakarta, Viki terpaksa menjadi penari striptis di kelab malam. Dia terpaksa kabur membawa Ara, adiknya yang autis, ketika Ara tanpa sengaja menyaksikan aksi pembunuhan yang dilakukan Haryo, seorang anak pejabat. Lupakan soal bukunya, Jakarta Undercover (2006) adalah film drama aksi yang seru.

 

AADC

10. Ada Apa dengan Cinta? (2002—roman remaja)

Sutradara: Rudi Soedjarwo. Pemain: Dian Sastrowardoyo, Nicholas Saputra

Cinta yang jago menulis puisi kaget ketika yang menang lomba puisi adalah Rangga, siswa tampan yang dingin, ketus, dan misterius. Meski di awal hubungan mereka seperti air dan api, lama kelamaan benih cinta tumbuh di hati mereka.

I’m in love: Siapa yang tak kenal AADC? Siapa yang tak kenal dengan Rangga-Cinta yang sudah seperti Romeo-Juliet versi Indonesia? Film ini begitu fenomenal, hingga menjadi salah satu film pemicu movie rush di Indonesia. Hampir semua aspek di film ini menjadi fenomena di masanya. Mulai dari posternya, puisi-puisi Chairil Anwar, lagu-lagu Melly Goeslaw, hingga karier para pemain dan filmmaker-nya yang melejit gila-gilaan.

Another Romeo-Juliet: Cinta tak dapat dimungkiri oleh Cina dan Anissa kendati etnis dan agama membedakan mereka. Samaria Simanjuntak mengisahkannya dengan subtil dalam Cin(t)a (2009).

 

Janji Joni

9. Janji Joni (2005—romantic comedy)

Sutradara: Joko Anwar. Pemain: Nicholas Saputra, Mariana Renata

Demi berkenalan dengan seorang gadis cantik, Joni—seorang pengantar rol film—berjanji akan mengantarkan rol film tepat waktu. Namun, janji sulit ditepati ketika Joni malah terjebak pelbagai masalah tak terduga.

Pinky promise: Dengan taburan bintang-bintang terkenal sebagai cameo, vibe vintage yang asyik, dan ceritanya yang ringan namun adorable, menjadikan Janji Joni sebagai alah satu film romcom terbaik di Indonesia.

Jomblo’s promise: Empat orang mahasiswa jomblo sedang mencari cinta dalam film Jomblo (2006) yang diangkat dari novel berjudul sama karya Adhitya Mulya.

 

Sang Penari

8. Sang Penari (2011, drama)

Sutradara: Ifa Isfansyah. Pemain: Prisia Nasution, Oka Antara

Kisah cinta Srintil, seorang penari ronggeng dari Dukuh Paruk, dan Rasus mengalami banyak lika-liku. Diangkat dari novel klasik Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari, kisah mereka yang penuh tragedi digarap secara indah oleh Ifa Isfansyah.

The dancer: Jelas merupakan salah satu film terbaik di tahunnya, mendapat banyak penghargaan termasuk Film Terbaik di FFI, dan diikutsertakan untuk bertanding di ajang Oscar. Semua aspek di film ini digarap dengan apik, mulai dari akting, penyutradaraan, artistik, hingga sinematografi. A beautifully crafted movie.

The dance: Garin Nugroho menggunakan kisah Ramayana sebagai patokan cerita Opera Jawa (2006). Sebuah film yang lebih mirip pertunjukan seni yang penuh enigma.

 

Gie

7. Gie (2005—drama, autobiografi)

Sutradara: Riri Riza. Pemain: Nicholas Saputra, Wulan Guritno

Nicholas Saputra adalah Soe Hok Gie, seorang mahasiswa, demonstran, dan pecinta alam yang kritis serta idealis. Gie diangkat dari buku Catatan Seorang Demonstran yang ditulis oleh Soe Hok Gie sendiri, menceritakan tentang masa muda Gie hingga dia meninggal dunia.

The rebel: Bagi saya, Gie adalah salah satu pencapaian terbaik dari Riri Riza dan Mira Lesmana. Akting pemainnya yang luar biasa—terutama Nico sebagai Gie, skenario yang digarap baik, artistik dan sinematografi yang menawan, menjadikan film ini banyak menuai pujian. Gie diganjar 3 Piala Citra termasuk Film dan Aktor Terbaik.

The legends: Ario Bayu adalah proklamator sekaligus presiden pertama Indonesia di film Soekarno (2013) garapan Hanung Bramantyo. Atau, saksikan penampilan Reza Rahardian sebagai B.J. Habibie muda dalam Habibie & Ainun (2012).

 

Petualangan Sherina

6. Petualangan Sherina (2000—musikal, petualangan)

Sutradara: Riri Riza. Pemain: Sherina Munaf, Derby Romero

Sherina, gadis periang dan pemberani, pindah ke Bandung dan berkenalan dengan Sadam yang sombong dan belagu. Yang semula merupakan musuh bebuyutan, mereka akhirnya berkawan setelah Sherina menolong Sadam yang diculik.

The sound of music: Ini dia salah satu film yang ikut membangkitkan perfilman Indonesia dari “mati suri”. Sebuah film anak dan keluarga yang hangat, menghibur, dan memorable. Siapa yang bisa melupakan keceriaan Sherina, Sadam, dan lagu serta musiknya?

Kid on screen: Seorang anak terpaksa ke jermal untuk mencari ayahnya, Jermal (2008) adalah film yang mengharukan sekaligus menyayat hati.

 

Arisan!

5. Arisan! (2005—drama, komedi)

Sutradara: Nia Dinata. Pemain: Tora Sudiro, Cut Mini, Surya Saputra, Aida Nurmala

Arisan menjadi ajang kaum sosialita ibukota untuk berkumpul dan memamerkan kemapanan hidup mereka di usia yang masih relatif muda. Namun, di balik gemerlap, mereka menyimpan banyak masalah, dari masalah perkawinan hingga kegamangan orientasi seksual.

Bold and brass: Ini adalah sebuah film yang berani, karena merupakan film Indonesia pertama yang mengangkat topik LGBT. Diceritakan dengan jujur, terbuka, namun tetap ringan dan jenaka. Arisan! jelas merupakan masterpiece Teh Nia Dinata.

Love for share: Setelah mengangkat isu LGBT, Teh Nia Dinata kembali memproduksi film dengan tema berani Berbagi Suami (2006) menyoroti isu poligami dengan jenaka tapi tetap menyentil.

 

The Raid 2

4. The Raid 2: Berandal (2013—action, crime)

Sutradara: Gareth Evans. Pemain: Iko Uwais, Arifin Putra, Tio Pakusadewo

Langsung melanjutkan kisah dari film pertamanya, sekarang Rama harus masuk penjara demi berteman dengan Uco, anak konglomerat sekaligus ketua mafia bernama Bangun. Tujuannya hanya satu: supaya Rama dapat menumpas para gangster itu dari dalam.

Sh*t just got real: Skala film pertama benar-benar dipompa hingga 2 kali lipat di film ini. Adegan kebut-kebutan di jalanan Jakarta akan membuat seri The Fast and The Furious tidak ada apa-apanya. Dan, final battle-nya benar-benar mengekploitasi silat hingga maksimal. Gareth brings the action like nobody’s business!

The infamous “brother”: Di tahun yang sama, Killers garapan Mo Brothers dirilis dan sama-sama menuai pujian seperti The Raid 2 pada ajang Sundance Festival.

 

The Raid

3. Serbuan Maut / The Raid (2011—action, crime)

Sutradara: Gareth Evans. Pemain: Iko Uwais, Ray Sahetapi

Rama, seorang anggota polisi, ikut dalam misi berbahaya menyergap sarang gangster milik Tama, seorang gembong narkoba yang kejam. Dia dan rekan-rekannya terjebak dan harus bertahan hidup melawan puluhan anak buah Tama yang kejam.

The hell unleashed: Akhirnya! Sebuah film aksi garapan anak bangsa yang membuat saya menangis haru! Pertama kali menonton, saya tak percaya kalau film Indonesia bisa sekeren ini! Bahkan lebih keren dari film aksi Hollywood kebanyakan. Seru, menengangkan, mengasyikkan, memompa adrenalin tanpa selama henti 90 menit nonstop! Salah satu film action terbaik yang pernah saya saksikan.

Kick ass: Joko Anwar mempersembahkan Kala: Death Time (2007), sebuah film noir pertama di Indonesia yang dianggap salah satu lompatan tertinggi dalam sejarah perfilman Indonesia oleh para kritikus.

 

Pintu Terlarang

2. Pintu Terlarang (2009—thriller)

Sutradara: Joko Anwar. Pemain: Fachri Albar, Marsha Timothy

Hidup Gambir terlihat sempurna. Karier sebagai pematung yang sukses dan memiliki istri cantik bernama Talyda. Namun, dibalik kesempurnaan itu ada rahasia kelam yang berusaha ditutup rapat oleh Talyda. Apa pun yang terjadi, Gambir tak boleh membuka pintu berwarna merah di ruang bengkel seninya.

The forbidden door: Diangkat dari novel berjudul sama karya Sekar Ayu Asmara, Pintu Terlarang boleh dibilang sebagai film thriller terbaik di Indonesia. Ceritanya cerdas, nuansa jazzy-nya berkelas, misterinya terjaga hingga akhir, tensinya dibangun dengan baik, dan ending-nya begitu mengejutkan. Arguably the best Indonesian movie of this decade.

Mindf**k: Satu lagi persembahan Sekar Ayu Asmara, sebuah film berjudul Belahan Jiwa (2005). Berkisah tentang empat orang wanita dengan empat masalah berbeda yang saling terkait dengan seorang wanita misterius bernama Cempaka. Barangkali, Belahan Jiwa adalah film thriller Indonesia paling underrated sampai saat ini.

 

Laskar Pelangi

1. Laskar Pelangi (2008—drama)

Sutradara: Riri Riza. Pemain: Cut Mini, Ikranegara

Diangkat dari novel fenomenal berjudul sama karya Andrea Hirata, Laskar Pelangi mengisahkan tentang sebelas siswa di sebuah sekolah sederhana di Belitong. Kendati sederhana, mereka tetap giat menuntut ilmu berkat guru mereka yang isnpiratif.

Childhood memory: Inilah film Indonesia favorit saya karena alasan yang sederhana: kisahnya mengingatkan pada masa kecil saya di Pulau Bintan, Kepulauan Riau. Alhasil, film ini terasa begitu personal. Saya bahkan tak malu mengakui kalau saya menangis sewaktu menontonnya gara-gara merindukan teman-teman masa kecil saya. Menyentuh, hangat, sekaligus indah. Terima kasih Andrea Hirata, Riri Riza, dan Mira Lesmana.

The dream chaser: Kegigihan guru inspiratif juga dapat disaksikan di film Sokola Rimba (2013), diangkat dari pengalaman Butet Manurung yang mengajarkan anak-anak Orang Rimba di Jambi.

 

Anggota Laskar Pelangi

Itulah daftar film-film favorit saya karya anak bangsa. Maju terus perfilman Indonesia!

 

@AdhamTFusama

[Cerpen] Dongeng Malam


Cucu dan Nenek

“Malam ini Nenek mau nyeritain dongeng apa?” tanyaku yang sudah merebahkan diri di atas tempat tidur.

Nenek tersenyum padaku. “Kamu mau dengerin dongeng apa?” Nenek balas bertanya, seraya merapikan selimut. Tangan beliau yang kurus dan keriput kemudian mengelus-elus rambutku. Ada sensasi seperti desiran angin sewaktu beliau melakukannya.

“Terserah Nenek. Aku suka semua dongeng Nenek,” jawabku.

Lagi-lagi Nenek tersenyum, membuat wajah cekungnya terlihat hangat. “Kalau gitu, Nenek ceritain tentang Sangkuriang aja, ya?”

Aku mengangguk setuju. Nenek pun duduk di sisiku, di pinggir tempat tidur. Beliau menceritakan kisah Sangkuriang seraya menggenggam lembut tanganku.

Aku suka saat Nenek mendongeng. Suara beliau mengalun lembut seperti tembang. Sesekali, beliau juga asyik merapikan rambut panjangnya dengan jari. Rambutnya yang beruban jatuh ke bahu lalu meluncur hingga pangkuan. Dapat kucium wangi orang-aring dari rambutnya, bercampur dengan wangi vanila dari parfum yang menempel di daster putih.

Aroma yang familiar. Aroma yang meluapkan rasa rindu.

Nenek terus bercerita. Dia kemudian menatapku dengan penuh kasih sayang. Bahkan di tengah pencahayaan redup dari lampu meja, bisa kulihat mata tuanya berkaca-kaca. Berkat permainan cahaya pula, keriput-keriput di wajah beliau semakin kentara.

“… Dan, dari sanalah Gunung Tangkubanperahu tercipta,” tutur Nenek, mengakhiri dongengnya.

Aku tersenyum. “Makasih, Nek….”

Nenek mengangguk. “Sama-sama. Tapi, kamu kok malah belum tidur?”

Aku terkekeh. Alih-alih memejamkan mata, aku malah bangkit untuk memeluknya. Nenek pun balas merangkulku. Rasanya hangat, damai, dan menyenangkan.

“Adhi sayang sama Nenek…” bisikku sepenuh hati.

“Nenek juga sayang banget sama Adhi…” balas Nenek, dipenuhi kerinduan. Ada isak kecil yang ikut terdengar. Setelahnya, beliau menghadiahkanku sebuah kecupan di kening.

Pintu kamar lantas terbuka dan mengagetkanku. Rupanya Ayah. Wajahnya bingung sementara dahinya tertekuk. “Lho, Ibu? Ibu tadi bicara dengan siapa?” tanya beliau.

Nenek menggeleng, menghapus air matanya, lalu tersenyum. “Tidak. Tidak dengan siapa-siapa kok,” jawabnya agak serak.

“Tapi, tadi aku dengar—”

“Mungkin kamu salah dengar,” potong Nenek. “Oh ya. Besok hari Minggu, kan? Ajak Ibu ke makam Adhi, ya? Ibu kangen….”

 

***

 

Bogor, Maret 2014

Edit Juni 2014

@AdhamTFusama