Deleted Scene Rahasia Hujan #5: Nothing Here but Love


Halo halo! Saya datang lagi nih untuk mem-posting deleted scene di naskah Rahasia Hujan yang gagal muncul di novel. Akhirnya, kita memasuki adegan Amazing Thirty! Pada proses editing, adegan-adegan ini dibuang supaya cerita di novel tidak bertele-tele.

Catatan: adegan berikut berasal dari draft awal yang tidak mengalami proses editing sehingga mungkin sekali terdapat kesalahan EyD, typo, dan lain sebagainya. Harap menjadi maklum!

Selamat menikmati!

 

***

 

Jackie Kennedy

Jackie Kennedy

Ujian tengah semester datang juga bagai awan mendung bagi sebagian besar siswa yang mencemaskan nilai-nilai mereka. Seolah memahami perasaan kami, langit Bogor menyetel cuaca yang serupa. Hujan yang tidak menentu melambangkan kebimbangan kami terhadap masa depan. Hujan deras menggantikan air mata yang ingin sekali kami tumpahkan setelah ujian matematika selesai.

Akan tetapi, laksana pepatah ada terang setelah badai, ada cerah pula setelah ujian berakhir. Beban selama seminggu seolah lenyap begitu saja. Malam-malam panjang menghapal rumus dan membuat contekan selesai sudah. Nilai-nilai buruk yang barangkali akan kami dapatkan bisa menunggu, karena Pensi Amazing Thirty akhirnya menyapa.

Suka cita terpancar sedemikian kuatnya hingga mampu mengusir awan-awan hitam, sekaligus mengundang matahari untuk muncul. Para siswa datang ke Pensi dengan pakaian ragam warna. Peserta lomba menggambar, melukis, dan lomba-lomba lainnya—yang tidak perlu tampil di panggung—hadir dengan busana kasual. Pakaian sehari-hari. Berbeda dengan mereka yang akan unjuk gigi di hadapan banyak orang.

Aku salah satunya. Aku hadir dengan pakaian yang telah dipersiapkan Nadine tempo hari. Dibalik jas, aku mengenakan kemeja jingga pucat dengan dasi kupu-kupu. Setelah dipikir-pikir, aku keren juga. Teman-temanku memberikan reaksi beragam, tapi setidaknya penampilanku menjadi bahan perbincangan.

Yang mengejutkan justru penampilan Mamet.

“Lho, bukannya lo mau ikut lomba nyanyi, Met? Simpel amat penampilan lo,” tanggapku, melihat Mamet datang mengenakan kaos dan celana cargo 3/4, “Gue kira lo bakal tampil gila-gilaan.”

“Oh, so pasti. Tapi, gue pakai kostum nanti aja, pas mau tampil. Gue mau ngasih kejutan, mau bikin BOPER geger hari ini.”

Dan, aku percaya dia akan melakukannya. Aku tidak tahu apa yang akan dia kenakan nanti, tapi aku yakin dia akan mencengangkan. Kendati demikian, itu urusan nanti. Untuk sekarang, orang yang penampilannya paling mencengangkan adalah… pacarku sendiri.

Jujur, aku sampai terperangah melihat penampilannya. Di belakangku, Mamet dan yang lainnya memberikan komentar serta siulan takjub. Aku yakin Nadine mendapat bantuan dari Tante Siska dan butiknya, sebab pagi ini dia menjelma menjadi Jacqueline Kennedy masa kini.

Rambut pendeknya disasak, menyerupai gaya rambut sang mantan istri mendiang presiden John F. Kennedy itu. Namun, sasakannya lebih sederhana dan modern. Ada pula bando putih yang bertahta di sana.

Bajunya adalah gaun A-line warna pink salmon sepanjang lutut, dipadu cargidan warna gading. Dia juga mengenakan sarung tangan putih, stocking warna senada setinggi lutut, serta sepatu pump krem muda. Dan, ada bros chrysanthemum di cardigans-nya.

“Hei, Panpan. Gimana menurut kamu?” tanya Nadine.

Aku yang ditanya malah menoleh ke belakang kanan dan ke belakang kiriku. “Ma-Maaf, Nona Cantik berbicara dengan saya?”

Nadine terkikik mendengar kelakarku sementara Mamet dan yang lainnya menepak belakang kepalaku, mengataiku “Norak!”, dan membuatku tertawa.

“Kamu cantik banget,” ucapku sungguh-sungguh seraya mengusap-usap belakang kepala. “Stunning.”

“Terima kasih.”

Tanpa basa-basi, aku menyodorkan lenganku. Nadine menggamitnya dan kami berjalan ke dalam sekolah diiringi sorakan sirik teman-teman kami.

Penampilan Nadine memang mengundang decak kagum. Semua memuji gayanya yang berbeda dari siswi lainnya. Dia tak terduga. Berbeda dengan Yuni—misalnya—yang sudah jelas berpenampilan ala girlband Korea.

Pukul sembilan, Pensi Amazing Thirty dimulai. Pak Hafiz—kepala sekolah kami—memberi sambutan di panggung lapangan utama. Beliau juga membuka acara secara resmi. Setelahnya, para peserta menyebar ke tempat perlombaan yang telah disediakan. Lomba menyanyi akan diadakan di lapangan utama, lomba modern dance di gedung olahraga, dan lomba lainnya di ruang-ruang kelas.

Aku dan Nadine mendapat urutan tampil tidak begitu jauh. Jadi, kami memilih untuk menyaksikan penampilan para peserta sebelum kami. Ada yang bernyanyi solo, ada pula yang hadir bersama band masing-masing. Yang duduk di kursi juri ada Bu Reni, Mas Rian—guru kesenian, dan Bu Ajeng—guru bahasa Inggris.

Penampilan teman-teman kami banyak yang bagus. Nadine tampak cemas sehingga menyarankanku untuk berlatih dulu sebentar. Namun, aku menggenggam dan menepuk-nepuk pelan tangannya. “Gapapa. Kamu pasti bisa kok. Tenang aja. Apa pun hasilnya nanti, yang penting kita bergembira,” bisikku padanya.

Nadine tersenyum mendengarnya. Setelah itu, dia jadi jauh lebih tenang.

Nomor urut kami pun dipanggil. Kami bangkit dan naik ke panggung diiringi tepuk tangan meriah. Sambutan yang membantu Nadine mendapatkan kembali kepercayaan dirinya. Kami mengambil posisi masing-masing: Nadine berdiri di depan mic, aku berdiri membawa gitar di sebelahnya. Ada mic bertiang rendah di depan gitarku.

“Selamat pagi teman-teman SMAN Bogor Persada!” sapa Nadine ke penonton, yang dibalas dengan meriah oleh mereka. “Pagi ini kami akan mencoba menghibur teman-teman dengan sebuah tembang cinta. Tapi, lagu ini bukan cuma untuk kalian yang sudah punya pacar saja. Lagu ini juga ditujukan buat kalian yang memiliki sahabat, buat guru-guru kita, juga buat sekolah kita tercinta.”

Penonton bertepuk tangan. Nadine menoleh ke arahku dan aku mengangguk tanda siap. “Baiklah kalau begitu. Tidak perlu berlama-lama lagi, inilah Nothing Here but Love dari Lenka. Semoga kalian terhibur.”

Aku memetik gitar dan Nadine bernyanyi.

 

Lying under setting sun

The day is done, my heart is won

We hold each other, friends or lovers

High above, there’s nothing here but you and me.

 

Suara Nadine yang lembut cocok sekali menyanyikan lagu bernada dan berlirik manis itu. Sambil bernyanyi, dia menggoyangkan badannya ke kanan dan ke kiri sesuai irama. Goyangan sederhana tersebut mengingatkanku pada grup vokal wanita era 60-an.

Barulah aku memahami konsep yang diusung Nadine. Ternyata, dia memang sudah merencanakan semuanya, memikirkan semuanya. Aku menggeleng takjub. Pacarku memang hebat. Aku yang bodoh ini malah sempat memprotesnya. Dasar tidak tahu diri.

 

We’ll never end, we’re innocent, we’re heaven-sent

We’re born together, die together

Live forever, there’s nothing here but love.”

 

Tanda dikomando, para penonton ikut menyanyikan reff lagu. Mereka juga ikut bergoyang seperti Nadine.

 

Sweet love

It’s all we know, so can I show you love?

Sweet love, take time to grow

There’s nothing here but love.”

 

Senyumku mengembang. Sambutan penonton yang hangat membuat kami berdua semakin bersemangat. Mereka bernyanyi dan menari bersama. Bahkan Anggi turut menonton aksi kami. Dia melihat ke arahku, ikut melafalkan lirik “So, can I show you love?” bersama yang lain.

 

Take me where the days are fun

Where everyone knows everyone

We’ll love together, live together

We will never be let down.”

 

Eh, tunggu! Bukankah Anggi seharusnya sedang mengikuti lomba menggambar? Lalu, kenapa dia ada di sini? Aku langsung mencari sosoknya lagi. Mataku memindai liar ke arah penonton. Tidak ada. Aku tidak menemukan sosoknya.

Apa aku tadi salah lihat?

 

Oh you will see, it’s meant to be

We’re living life, we’re wild and free

We’re falling under, right from under

Oh, my darling there’s nothing here but love.”

 

Nadine mencopot mic dari tiangnya, sebelum berjalan ke bibir panggung. Saat akan sampai ke bagian reff lagi, dia mengayunkan tangan, memberi kode supaya penonton bernyanyi bersama.

 

Sweet love

It’s all we know, so can I show you love?

Sweet love, take time to grow

There’s nothing here but love.”

 

Nadine mundur kembali ke posisi semula. Kemudian, dia melakukan improvisasi. Dia mencondongkan badannya ke samping, miring ke arahku. Telapak tangan kirinya diletakkan di bagian belakang telinga, lalu dia melafalkan lirik berikut:

 

Can you whisper into my ear

The words that I love to hear?”

 

Aku ikut-ikutan berimprovisasi. Kuhentikan petikan gitarku, membuat penonton heran. Kucondongkan tubuhku ke depan mic. Dan, dengan sepenuh hati kuucapkan…

I love you, Nadine…”

Sontak penonton menggila. Mereka tidak menyangka. Sorak-sorai pun membahana. Bahkan para juri memberi tepuk tangan pada kami.

Nadine terkejut sekaligus tersipu malu. Dia menempelkan tiga jari ke bibir, lantas menempelkan jemarinya itu ke pipiku.

Sekali lagi, kami membuat penonton berseru histeris.

Aku merapatkan diri di depan mic bersama Nadine. Selanjutnya, kami bernyanyi bersama. Penonton juga.

 

Love, sweet love

It’s all we know, so can I show you love?

Sweet love, take time to grow

There’s nothing here but love

Sweet love

It’s all we know, so can I show you love?

My love, take time to grow

There’s nothing here but love

Love…

There’s nothing here but love

Love…

 

Dan, kami pun selesai. Detik berikutnya, kami diterpa gemuruh apresiasi yang menggetarkan. Aku tersenyum dan membungkuk bersama Nadine. Napasku terhela lega. Setidaknya kami sudah memberikan yang terbaik.

“Terima kasih teman-teman semuanya,” kata Nadine, memberikan penutup, “Selamat ulang tahun buat SMAN Bogor Persadar tercinta. Semoga tetap amazing di tahun-tahun berikutnya. Terima kasih!”

Tepuk tangan masih terus terdengar sewaktu kami turun dari panggung. Di bawah, Mamet langsung menarikku, menjepit kepalaku dengan lengan, lantas memberiku jitakan-jitakan gemas. “Anjrit lo, Pan! Lo keren banget! Bangke! Lo keren banget, brengsek! Temen gue hebat banget! Syaiton nirrodjim maneh!”

Aku berseru meminta ampun di tengah derai tawa. Nadine sendiri terkikik melihat ulah kami. Akhirnya Mamet melepaskanku, sebelum mengucapkan, “Congrats ya, Pan. Setan. Tadi itu hebat banget. Sialan. Sirik gue.”

“Hahaha. Makasih banyak ya, Met. Sukses buat penampilan lo nanti.”

 

***

 

Alasan diganti: pada awalnya, Rahasia Hujan merupakan naskah romance yang mengandung sedikit unsur thriller. Namun, dalam proses revisi, penerbit menyarankan supaya unsur thriller-nya diperkuat. Jadi, banyak adegan romansa di naskah Rahasia Hujan yang diganti dengan adegan-adegan yang berfungsi untuk memperkuat unsur thriller-nya. Salah satu yang paling signifikan adalah dibuangnya adegan-adegan di Amazing Thirty.

Nantikan deleted scene terakhir Rahasia Hujan ya!

 

@AdhamTFusama

Deleted Scene Rahasia Hujan #4: Konsep Nadine


Huwaaa! Maaf agak lama tidak muncul untuk posting deleted scene dari naskah Rahasia Hujan! Sekarang, saya kembali untuk posting lanjutan Amazing Thirty yang gagal masuk novel waktu proses editing!

Saya datang lagi nih untuk mem-posting deleted scene di naskah Rahasia Hujan yang gagal muncul di novel. Pada proses editing, adegan-adegan ini mengalami perubahan atau dibuang supaya cerita di novel tidak bertele-tele.

Berikut ini saya muat potongan adegan yang diubah dan dibuang. Bagi yang telah membaca, pasti bisa menebak adegan mana yang mengalami perubahan. Bagi yang belum, tenang saja, karena adegan ini tidak mengandung spoiler.

Catatan: adegan berikut berasal dari draft awal yang tidak mengalami proses editing sehingga mungkin sekali terdapat kesalahan EyD, typo, dan lain sebagainya. Harap menjadi maklum!

Selamat menikmati!

 

***

 

Beatles Hat

Beatles Hat

Nadine semula memasang tampang marah begitu tahu aku dikeluarkan dari kelas. Matanya menyemburkan api, kedua lengannya terlipat defensif di depan dada. Dia terlihat seperti bom waktu yang siap menghancurkan kantin sekolah kapan saja.

Namun, setelah kujelaskan alasan mengapa aku tidak mengerjakan PR—karena aku membantu Ibu, amarahnya perlahan-lahan mereda.

“Makanya, kalo ada PR langsung kerjain!” sembur Nadine, seraya mencubit pipiku.

Adadadadaw! I-Iya, i-iya! Ampun, aduh, sakit!”

“Dasar kamu, ya!” gerutu Nadine, gemas.

Aku merintih sambil mengusap-usap pipiku yang sakit. “Jahat banget sih kamu.”

“Biarin!” lengking Nadine.

“Hehehe. Tapi, gara-gara dikeluarin Pak Dal, aku ama Anggi jadi makin akrab, lho.”

“Oh ya? Kalian ngobrol apa aja di ruang musik?” Sisi lembut Nadine telah kembali, tanda kekesalannya sudah benar-benar reda.

“Aku certain gimana kita bisa pacaran dulu. Gara-gara comro,” jawabku, terkekeh.

Kurasa, aku boleh berbangga hati, karena aku adalah pria satu-satunya yang bisa membuat Nadine tersipu malu dan salah tingkah. “Iiih, kamu kok cerita tentang kita, sih?”

“Lho, emangnya kenapa? Kan romantis banget.”

“Itu kan cerita spesial buat kita berdua!”

“Biarin aja. Biar semua orang tahu dan iri ama kita.”

“Dasar tukang pamer!” Nadine memukul lenganku dengan sebal.

Aku tertawa sementara pacarku itu menggerutu.

“Eh, ngomong-ngomong, nanti mau latihan lagi, ga?” tanyaku, usai tertawa.

“Mmm, gimana kalau nanti kamu ke rumahku? Kita persiapin kostum buat Pensi nanti,” jawab Nadine.

“Duileee… pake kostum segala. Kostum apa, Neng? Batman?”

“Ih, kamu tuh, ya, semua hal dibuat ngebanyol!”

“Hehehe. Iya deh, maaf. Abis aku pikir kita cuma akan pakai baju yang kasual aja.”

“Jangan dong. Kan biar agak spesial. Siapa tahu bisa menang.”

“Ga ngaruh kali, Nadnad. Kan yang dinilai kemampuan menyanyi kita.”

“Ngaruh kali, Panpan. Kan yang dinilai performa keseluruhan. Kemampuan nyanyi, penguasaan panggung, penampilan, dan lain-lain.”

“Hmmm… benernya juga sih,” aku baru kepikiran hal tersebut. “Terus, nanti kita mau pakai baju apa?”

“Kita lihat aja nanti,” jawab Nadine, tersenyum dan mengedip kepadaku.

 

*

 

Rumah Nadine berada di Bogor Baru, kompleks elite tempat rumah-rumah gedongan berjajar bersisian. Ayah Nadine, Om Bismo, adalah manajer sebuah hotel bintang lima di Jakarta. Sementara Ibu Nadine, Tante Siska, memiliki butik kecil eksklusif. Kendati mereka orang yang berada, gaya hidup mereka tidak berlebihan. Karena itulah Nadine jauh dari tipikal anak orang kaya yang manja.

Nadine pun tidak menilai seseorang dari kekayaannya. Aku sempat minder sewaktu tahu kalau Nadine orang kaya. Aku bersyukur sebab Nadine tidak peduli. Dia bisa akrab dengan keluargaku, dan syukurnya aku pun bisa akrab dengan keluarganya.

Rumah Nadine memadukan gaya modern minimalis dengan tradisional khas keraton Yogyakarta. Desain rumahnya yang simpel berbaur harmonis dengan ukiran-ukiran di daun pintu serta tiang depan rumah. Dan, aku sangat menyukai saung ala Joglo di halaman depan rumah Nadine.

Sewaktu aku masuk ke dalam rumah Nadine, Tante Siska menyambutku. “Eh, ada Pandu. Apa kabar?”

“Baik, Tante. Tante makin cantik aja, nih. Hehehe.”

“Duh, pujian kamu basi banget, sih? Emang ga ada pujian yang lain apa?” tanggap Tante Siska, mengacak-acak rambutku.

Tante Siska adalah versi dewasa dari Nadine. Hanya saja, wajah beliau lebih lonjong ketimbang putrinya itu. Di usianya yang sudah kepala empat, beliau masih terlihat cantik dan ramping. Kecantikan khas putri Jawa sangat kental terlihat. Mungkin karena beliau memang asli Yogyakarta. Malah, bisa jadi masih ada keturunan keluarga keraton.

Nadine mengajakku untuk naik ke atas. Di sana aku duduk di sofa ruang santainya. Ruang santai itu juga digunakan Tante Siska untuk menyimpan beberapa koleksi dari butiknya. Jadi, di samping sofaku terdapat rak pakaian yang dipenuhi baju-baju bagus.

Nadine izin ganti baju dulu di kamarnya, jadi aku menunggunya sambil menonton TV. Dia kembali lima menit kemudian. Alih-alih duduk di sofa, dia malah mengambil beberapa pakaian dari rak gantung di sebelahku.

“Itu buat apa, Nad?” tanyaku terheran-heran.

“Ini akan jadi kostummu nanti.”

Jelas saja aku terperanjat. “Itu kan baju-baju untuk butik mamamu!”

“Gapapa. Ukurannya banyak yang sesuai dengan badanmu yang tegap kok.”

“Bu-Bukan masalah tegapnya, tapi… masa aku pake baju koleksi butik mamamu sih? Nanti kalo aku dibunuh Tante Siska gimana?”

Hus! Ngasal kamu! Tenang aja. Mama ga bakal marah, kok,” jawab Nadine, “Nah, coba dulu deh yang ini.” Nadine menyodorkan sebuah vest ke arahku.

“Di-Dicoba sekarang?”

“Ya iyalah sekarang, Panpan!” jawab Nadine, gemas, “Yuk, coba pake.”

“Aku keringetan. Nanti bajunya jadi kotor dan bau.”

“Bisa dicuci kok. Udah ah, dasar bawel kamu! Pake aja, kenapa sih? Susah amat!”

Layaknya suami yang takut istri, aku pun buru-buru bangkit untuk mencoba vest tersebut. Nadine membawaku ke depan cermin lalu menilai penampilanku. “Cukup bagus.”

“Bagus apanya? Ga cocok ah. Aku kan item.”

“Ga juga ah. Ga seitem Mamet,” kata Nadine, kembali mengubek-ubek rak. “Nah, cobain dasi ini deh. Champagne gold.”

“Lebih mirip Pipis Gold kalo aku yang pake,” tanggapku, diiringi jeritan nestapa karena Nadine baru saja mencubitku dengan keras.

“Hmmm, ternyata kurang bagus. Coba pake jas ini.”

Aku pun mengganti vest dengan jas. Kemudian mengganti lagi dengan jas lain. Mencoba dasi yang satu, coba lagi dasi yang lain. Aku tidak tahu apa maunya Nadine. Yang jelas, selama satu jam ke depan aku seperti manekin yang digonti-ganti pakaiannya.

Pada akhirnya, aku mendapatkan jas yang Nadine inginkan. Dia tersenyum puas begitu melihatku mengenakan jas wol pas badan. “Nah, yang ini bagus.”

“Aku kelihatan jadul, Nad…”

“Retro, Pan. Bukan jadul. Retro itu klasik, jadul itu ketinggalan zaman,” ralat Nadine, melihat penampilanku. “Oke, coba kamu pake bowtie ini. Ah, perfect! Oh, tunggu! Tunggu!”

Dia menyambar sebuah velvet cap, lalu meletakkannya di kepalaku. Dia mengatur supaya jambul di depan kepalaku tidak terganggu. “Duuuh! Ini cocok banget!”

Aku ragu melihat penampilanku. “Nad, aku kelihatan kayak… personel The Beatles.”

“Ini memang The Beatles hat. Dan, memang itu tujuanku. Konsep kostum kita retro-funky 60’s, with modern twist,” kata Nadine girang memberitahukan idenya.

60’s? Lagu yang kita bawakan kan bukan lagu tahun 60-an.”

“Tapi, melodinya lucu. Kurasa lagu itu cocok banget dengan vibe era 60-an.”

Aku ingin sekali memprotes namun rasanya tidak adil. Nadine pasti sudah bersusah payah memikirkan ide ini. Akan jahat sekali jika aku menolak konsepnya. Lagipula, Nadine itu kreatif dan punya visi yang jelas. Jadi, walaupun sekarang aku menganggap idenya ini aneh, aku akan memercayainya dan mendukungnya.

“Yah, kalo menurutmu memang bagus, aku percaya deh,” anggukku.

Nadine senang sekali mendengarnya. “Makasih, ya. Aku jamin, kamu akan kelihatan ganteng nanti.” Dia kemudian merapikan kerah jasku. Kulihat ada semburat merah muda merekah di pipinya.

“Makasih, ya, udah bikin aku kelihatan ganteng,” bisikku padanya.

“Sama-sama,” balas Nadine. Dia tersenyum dan tersipu malu-malu.

 

***

 

Alasan diganti: pada awalnya, Rahasia Hujan merupakan naskah romance yang mengandung sedikit unsur thriller. Namun, dalam proses revisi, penerbit menyarankan supaya unsur thriller-nya diperkuat. Jadi, banyak adegan romansa di naskah Rahasia Hujan yang diganti dengan adegan-adegan yang berfungsi untuk memperkuat unsur thriller-nya. Salah satu yang paling signifikan adalah dibuangnya adegan-adegan di Amazing Thirty. Sayang juga sih, karena kesukaan Nadine pada dunia mode tidak sempat masuk novel.

Nantikan beberapa deleted scene Rahasia Hujan berikutnya!

 

@AdhamTFusama

 

Deleted Scene Rahasia Hujan #3: Tugas dan Kewajiban


Saya datang lagi nih untuk mem-posting deleted scene di naskah Rahasia Hujan yang gagal muncul di novel. Pada proses editing, adegan-adegan ini mengalami perubahan atau dibuang supaya cerita di novel tidak bertele-tele.

Berikut ini saya muat potongan adegan yang diubah dan dibuang. Bagi yang telah membaca, pasti bisa menebak adegan mana yang mengalami perubahan. Bagi yang belum, tenang saja, karena adegan ini tidak mengandung spoiler.

Catatan: adegan berikut berasal dari draft awal yang tidak mengalami proses editing sehingga mungkin sekali terdapat kesalahan EyD, typo, dan lain sebagainya. Harap menjadi maklum!

Selamat menikmati!

 

***

 

Pasar Anyar Bogor

Pasar Anyar Bogor

Satu hal yang menyebalkan dari Pensi Amazing Thirty adalah jadwalnya yang berdekatan dengan ujian tengah semester. Pensi diselenggarakan seminggu setelah ujian selesai. Alhasil, tugas kami pun bertambah dua-tiga kali lipat.

Contohnya aku dan Nadine. Di sekolah kami mendapat banyak tugas, pulang sekolah kami berlatih menyanyi sampai sore, di rumah kami mengerjakan PR—yang dengan sadisnya diberikan secara bertubi-tubi oleh para guru.

Saking sibuknya, aku sampai-sampai sudah tidak bisa lagi berlatih futsal.

Sudah barang tentu futsal merupakan hal terakhir yang kucemaskan. Terkadang ada hal lain yang lebih mengkhawatirkan, dan membuat waktu 24 jam dalam sehari itu terasa tidak cukup. Lebih parahnya lagi, hal semacam itu sering kali datang tak terduga, juga pada waktu yang kurang tepat.

Itu pula yang terjadi padaku pagi itu. Ponselku tiba-tiba bergetar, saat Bu Soma mengajar di depan kelas. Ternyata ada pesan singkat dari Ibu, yang memintaku supaya langsung pulang ke rumah siang nanti. Aku tidak tahu alasannya. Yang jelas, sepulang sekolah, aku membatalkan latihanku bersama Nadine lalu bergegas pulang di rumah.

Begitu sampai, aku disambut Ibu yang datang tergopoh-gopoh dari dapur. Rupanya beliau mendapat permintaan katering mendadak dari Pak RT, yang berniat mengadakan syukuran karena cucunya akan dikhitan esok hari. Dan, karena tidak ada lagi yang membantu, maka cuma aku dan Ibu yang mengerjakan permintaan tersebut.

Hari itu aku membantu Ibu seharian. Aku bolak-balik ke Pasar Anyar sebanyak dua kali. Selain itu, aku mendapat beberapa tugas kecil seperti memotong cabai, tomat, dan timun. Aku juga ditugasi untuk menanak nasi, mengupas kentang, dan tugas-tugas ringan lainnya.

Aku beristirahat hanya untuk makan dan salat. Aku tidak sempat mandi meski Ibu menyuruhku. Tanpa terasa, malam akhirnya tiba. Semua lauk telah selesai dimasak, tinggal dihangatkan, dipak, dan diantarkan ke rumah Pak RT esok hari. Aku mengucapkan syukur setelah semuanya beres. Waktu di jam menunjukkan pukul sepuluh malam.

“Aduh, makasih pisan ya, jagoan Ibu. Alhamdulillah semua selesai berkat bantuan kamu. Kasep pisan anak Ibu.”

Aku memberontak kecil dan tertawa sewaktu Ibu mengalungkan lengannya ke leherku dari belakang. Beliau lantas menghadiahiku dengan kecupan di kepala.

“Ih, Ibu mah. Pandu kan bukan anak kecil lagi!” protesku.

Ibu hanya tertawa saja. “Iya deh. Makasih banyak, Sayang,” ucapnya. “Sekarang kamu tidur gih. Udah malam.”

“Oke,” anggukku, “Met malam, ya, Bu.”

 

***

 

Alasan diganti: karena cuma berupa filler maka adegan ini dibuang supaya cerita di novel tidak bertele-tele.

Nantikan beberapa deleted scene Rahasia Hujan berikutnya!

 

@AdhamTFusama

 

Deleted Scene Rahasia Hujan #2: Amazing Thirty


Hei ho! Saya datang lagi untuk mem-posting deleted scene di naskah Rahasia Hujan yang gagal muncul di novel. Pada proses editing, adegan-adegan ini mengalami perubahan atau dibuang supaya cerita di novel tidak bertele-tele.

Berikut ini saya muat adegan yang diubah sekaligus dibuang. Karena terjadi perubahan di bab ini, maka kelak banyak bab yang akhirnya terpaksa dibabat, tidak jadi dimuat. Bagi yang telah membaca, pasti bisa menebak adegan mana yang mengalami perubahan. Bagi yang belum, tenang saja, karena adegan ini tidak mengandung spoiler.

Catatan: adegan berikut berasal dari draft awal yang tidak mengalami proses editing sehingga mungkin sekali terdapat kesalahan EyD, typo, dan lain sebagainya. Harap menjadi maklum!

Selamat menikmati!

 

***

 

Mading. Source: ladeva.files.wordpress.com/

Mading. Source: ladeva.files.wordpress.com/

Siang itu aku menemani Nadine di ruang ekskul mading. Di sana dia tengah berembuk dengan Elang, rekannya sesama anggota ekskul. Mereka sedang mendesain layout untuk mading bulan ini. Mengonsep desain dan konten mading memang tugas mereka sebagai tim kreatif.

Aku memilih duduk di meja lain, tidak mau mengganggu keduanya yang sedang seru berdiskusi di depan laptop Elang. Aku sendiri menghibur diri dengan membaca-baca materi mentah yang akan dimuat di mading. Ada puisi, ada tip dan trik, dan ada pula liputan singkat tentang kemenangan tim basket BOPER bulan lalu.

Setelah bosan membaca-baca, aku mengambil gitar yang tadi kupinjam dari ruang ekskul musik. Aku memainkan musik sederhana setelah menyetem senar-senarnya. Kuihat Nadine dan Elang akhirnya selesai berdiskusi.

“Yang ini oke, Lang. Tinggal lo poles dikit terus kita masukin materi ke dalamnya. Tolong kirim ke e-mail gue, ya? Thanks banget.”

“Udah beres ngonsepnya?” tanyaku sewaktu Nadine datang menghampiri.

Alhamdulillah beres.” Nadine kemudian duduk di sampingku dengan senyum merekah, tanda dia puas dengan kualitas kerjanya.

“Syukurlah,” aku senang sekali melihat pacarku dipenuhi cahaya kegembiraan. “Oh iya, Nad, coba deh kamu tebak kemaren aku dari mana?”

Kening Nadine tertekuk saat melihatku nyengir penuh arti. “Kenapa sih harus tebak-tebakan segala? Ga biasanya.”

“Ya, sesekali boleh, kan?”

“Ih, sok misterius deh. Apaan sih?”

“Udah, coba tebak aja,” desakku, agak tak sabaran.

“Dasar aneh kamu,” dengusnya. Kendati demikian, dia mau juga berpikir sejenak, mencari petunjuk untuk menjawab pertanyaanku. “Ummm, Perpustakaan daerah?”

Aku tergelak. “Hahaha. Perpustakaan daerah? Yah, itu tempat yang ga terduga buat kudatangi sih. Tapi, bukan itu. Kemaren aku ke rumah Anggi.”

“O ya? Kok bisa?”

“Jadi, kemaren tuh aku ketemu dia di pinggir jalan. Dia kayak orang linglung gitu. Rupanya dia nyoba jalan-jalan sendiri naik angkot ke Botani. Eh, pas pulang dia nyasar, salah naek angkot, dan akhirnya terdampar di Sudirman.”

“Ya ampun, kasian banget,” air muka Nadine mengiba.

“Makanya aku tawarin diri buat nganterin dia pulang deh.”

“Terus, rumahnya di mana?”

“Dramaga Petir. Dari jalan raya Dramaga ke sonoan lagi, di kaki Gunung Salak.”

“Ih, jauh banget.”

“Emang,” aku mengangguk setuju. “Tapi, kamu harus lihat rumahnya. Gede banget!”

“Segede apa?”

“Segede vila-vila mewah di Puncak. Arsitektur rumahnya gaya Belanda. Udah beneran kayak rumah para Meunir dan Noni Belanda deh.”

“Masa sih?” Mata Nadine memancarkan kesangsian yang mendalam.

“Beneran. Kalo kamu ga percaya, kapan-kapan aku ajak kamu ke sana deh. Kamu pasti takjub,” jawabku. “Kemaren Anggi juga cerita, katanya, rumah itu emang bekas vila. Namun, karena jauh dari tempat wisata dan jarang ada yang nyewa, akhirnya bangunan itu dijual deh. Nah, yang beli orangtuanya Anggi.”

“Ternyata dia orang kaya, ya?”

“Kalo itu aku ga tahu. Yang jelas, mereka itu keluarga genius,” kataku, “Bokapnya aja lulusan S2 di Kyodai.”

Ekspresi di wajah Nadine sama seperti yang tertera di wajahku sewaktu tahu hal tersebut kemarin. “Keren banget. Pantesan dia pinter.”

Baru saja aku hendak menimpali, Elang keburu menginterupsi.

“Nad, gue udah ngirim hasil akhir layout ke e-mail lo. Udah masuk belum?” tanyanya, sedikit banyak berhasil mengagetkan kami. Selama beberapa menit yang lalu, kami lupa akan keberadaan Elang, yang khusyuk bekerja dalam diam.

“Oh, oke. Sebentar gue cek,” jawab Nadine, mengambil tab dari tasnya. Dia pun mengecek e-mail yang dimaksud. “Sip, udah masuk, Lang. Aduuuh, ini keren bangeeet. Elang, gue cinta deh ama lo.”

“Aduh, Nad, gue mau bilang hal yang sama ke elo tapi gue ngeri si Pandu ngamuk-ngamuk ke gue.” Mendengar ucapan Elang tersebut, tawaku kontan meledak.

“Ah, si Pandu mah cuekin aja,” Nadine menanggapi. “Sekali lagi, makasih ya, Lang.”

Nadine kemudian beralih kepadaku, masih mengotak-atik tab di tangannya. “Eh, Say, kamu mau tahu sesuatu ga?”

“Apaan tuh?” tanyaku, usai tertawa.

“Tadi pagi aku dapat kiriman info dari anak OSIS. Mereka minta supaya dimasukin ke mading bulan ini. Masih confidential sih, jadi kamu jangan bilang ke siapa-siapa, ya? Dan, jangan kasih tahu ke si Mamet! Begitu-begitu, dia biang gosip, lho.”

“Hahaha. Oke deh. Aku janji deh ga bakal ngasih tahu siapa-siapa. Terus, info apa yang mau kamu kasih tahu? Kayaknya seru nih.”

“Nih, coba deh kamu lihat,” jawab Nadine, menunjukkan sebuah gambar di tab-nya.

Aku mengambil tab Nadine untuk melihat gambar itu lebih dekat. Ternyata bukan gambar melainkan poster.

Amazing Thirty. Pentas Seni HUT 30 Tahun SMAN Bogor Persada,” aku membaca judul posternya. Jelas saja aku terkejut sekaligus bersemangat. “Wow Pensi! Asyik!”

“Bulan depan, pas ulang tahun sekolah kita. Banyak lombanya, lho.”

Nadine benar. Di bawah informasi tanggal dan hari, ada daftar perlombaan yang bisa diikuti oleh para siswa. Lomba modern dance, lomba olah vokal, lomba pidato bahasa Inggris, lomba menggambar, lomba melukis, lomba menulis puisi, lomba resensi film, lomba resensi novel, lomba desain grafis, dan lain sebagainya.

“Kata Yandi—Ketua OSIS—semua siswa wajib ikut minimal satu lomba.”

“O ya? Terus, kamu mau ngikut lomba apa?” tanyaku.

Nadine mengangkat bahu. “Belum tahu.”

“Ini lomba olah vokal maksudnya lomba nyanyi, kan? Untuk solo atau grup?”

“Bebas. Solo boleh, duo boleh, grup juga boleh.”

“Kalo gitu, kita ikutan yuk?” ajakku tiba-tiba, diiringi cengiran.

Nadine otomatis terkejut. Dia terperangah seolah aku baru saja mengucapkan kata-kata yang sangat tidak sopan. “Kita?” dia mengonfirmasi, berharap tadi dia salah dengar.

“Iya. Kita berdua ikutan lomba olah vokal. Aku main gitar kamu yang nyanyi.”

“Ciyeee! Duet romantis nih, ye,” goda Elang yang sama sekali tidak dihiraukan oleh Nadine. Pacarku itu terlalu shock untuk menanggapi keisengan Elang.

“Aku kan ga bisa nyanyi!” ujar Nadine dengan rona merah memenuhi wajahnya.

“Siapa bilang? Kamu kan hobi karaoke.”

“I-Iya sih, tapi kan itu beda. Karaoke mah untuk senang-senang doang, bukan untuk lomba!” Nadine masih mencari alasan dan pembenaran untuk menolak ajakanku.

“Ya kalo gitu kita ikut untuk bersenang-senang aja, ga usah niatin buat menang.”

Kali ini ucapanku bagaikan skak mati. Nadine ingin membantah tapi tak bisa. Mulutnya, yang baru saja akan memuntahkan protes, tertutup kembali. Akhirnya, karena tidak bisa membalas, dia mengeluarkan jurus yang paling sering dilancarkan wanita untuk membuat pria merasa bersalah: mengerucutkan bibir dan merajuk.

Aku tertawa geli melihatnya. Apalagi Nadine melipat kedua tangannya di depan dada. “Ayolah, Nadnad. Buat have fun aja. Toh seluruh siswa wajib ikut. Karena kamu belum punya rencana, mending ikut lomba nyanyi bareng aku. Biar romantis.”

“Iiih! Apaan sih romantis-romantis segala? Dasar rese kamu!” Nadine menjambret kembali tab-nya dari tanganku. Wajahnya mengeruh kesal. Kendati demikian, ujung-ujung bibirnya malah berkedut-kedut, ingin tersenyum tapi dipaksakan supaya tidak tersenyum.

“Jadi, itu artinya ‘iya’, kan?” cengirku, terkikik setengah menggoda.

Akhirnya pertahanan Nadine runtuh juga. Dia tak kuasa lagi menahan senyum dan tawa gelinya melihat cengiranku. Dengan perpaduan antara marah-mau-benci-cinta, dia mengiyakan ajakanku dengan nada sok ketus. “Ya udah, iya! Dasar nyebelin.”

“Hehehe. Asyik. Gitu dong,” kekehku, “I love you.”

I love you too,” balas Nadine, masih dengan mode senang-tapi-dongkol kepadaku.

“Urgh, tolong hentikan, kalian berdua. Pertengkaran kalian bikin kehidupan jomblo gue terasa semakin getir,” tanggap Elang yang menutup laptopnya lalu keluar dari ruangan.

Melihat tingkah Elang tersebut aku dan Nadine terperangah sejenak sebelum akhirnya tertawa berdua.

 

*

 

Tiga hari kemudian, mading bulanan yang memuat info Pensi Amazing Thirty ditempel di selasar utama. Plus, pada saat upacara bendera, Bu Laksmi—wakil kepala sekolah—juga mengumumkan perihal Pensi tersebut kepada para siswa. Pengumuman itu disambut beragam. Ada yang antusias, ada juga yang merasa terbebani karena harus ikut lomba. Informasi lebih lanjut disampaikan oleh pengurus OSIS yang datang ke kelas-kelas.

“Hei, Gi, lo mau ikut lomba apa?”

“Aku tidak tahu,” jawabnya sambil menggeleng, “Mungkin tidak ikut.”

“Kan semua murid wajib ikut. Gimana kalo lo ikut lomba gambar aja?” saranku.

“Tidak tahu lah. Aku tidak percaya diri.”

“Ayo dong. Pede sedikit. Lo kan jago. Dan, gambar lo juga keren kok.”

Anggi terdiam, seperti sedang menimbang-nimbang. “Akan kupikirkan lagi deh.”

“Kalo gue bilang sih, mending lo ikut. Gue dukung deh.”

“Terima kasih,” ucapnya. “Omong-omong, kamu sendiri mau ikut lomba apa?”

“Aku dan Nadine sudah janjian buat ikut lomba nyanyi.”

“Kalian berdua?”

“Iya. Lomba nyanyi kan boleh solo, duet, atau grup. Jadi, aku ajak Nadine buat ikutan. Aku yang maen gitar dia yang nyanyi. Hehehe.”

“Curang dong.”

“Lho? Kok curang sih?”

“Nama lombanya kan lomba menyanyi. Yang menyanyi cuma Nadine, sementara kamu cuma main gitar. Itu curang kan namanya?”

Barulah aku menyadari logika seperti itu. Aku pun tertawa setuju kendati tetap membela diri. “Ga curang dong. Kan aturannya ngebolehin ada yang nyanyi ada yang main alat musik. Hehehe.”

 

***

 

Alasan diganti: pada awalnya, Rahasia Hujan merupakan naskah romance yang mengandung sedikit unsur thriller. Namun, dalam proses revisi, penerbit menyarankan supaya unsur thriller-nya diperkuat. Jadi, banyak adegan romansa di naskah Rahasia Hujan yang diganti dengan adegan-adegan yang berfungsi untuk memperkuat unsur thriller-nya. Salah satu yang paling signifikan adalah dibuangnya adegan-adegan di Amazing Thirty.

Nantikan beberapa deleted scene Rahasia Hujan berikutnya!

 

@AdhamTFusama

Deleted Scene Rahasia Hujan #1: Rumah


Seperti yang telah saya janjikan sebelumnya, saya akan posting beberapa adegan di naskah Rahasia Hujan yang gagal muncul di novel. Pada proses editing, adegan-adegan ini mengalami perubahan atau dibuang supaya cerita di novel tidak bertele-tele.

Berikut ini saya muat adegan yang mengalami perubahan. Pada novel, adegan berikut diganti supaya lebih ringkas. Bagi yang telah membaca, pasti bisa menebak adegan mana yang mengalami perubahan. Bagi yang belum, tenang saja, karena adegan ini tidak mengandung spoiler.

Catatan: adegan berikut berasal dari draft awal yang tidak mengalami proses editing sehingga mungkin sekali terdapat kesalahan EyD, typo, dan lain sebagainya. Harap menjadi maklum!

Selamat menikmati!

 

***

 

Jalan Sudirman, Bogor

Jalan Sudirman, Bogor

Berkat Anggi, aku jadi semakin rajin belajar akhir-akhir ini. Aku ingin seperti dia, yang bisa sedikit bersantai tapi tetap mendapat nilai yang bagus. Jadi, sore itu—sepulang sekolah dan kencan—aku mengerjakan PR Biologi sembari menjaga warung.

Kendati demikian, baru saja kuselesaikan setengahnya, Ibu sudah memanggilku dari dalam rumah. Aku pun menutup buku dan memenuhi panggilan beliau. Di dapur, Ibu sedang menulis sesuatu di atas secarik kertas.

“Ya, Bu?” tanyaku.

“Pan, tolong belikan stok buat warung, ya? Tadi Ibu udah nelepon si Koko. Dia udah nyiapin barangnya, tinggal kamu ambil aja. Ini list-nya,” Ibu menyerahkan kertas yang tadi beliau tulis kepadaku.

Aku membaca daftar belanjaan tersebut. Sebagian besar adalah makanan ringan, cokelat, dan permen. Sisanya gula, saos, dan susu.

“Ini uangnya. Nanti, kamu cek dulu jumlah barangnya, ya?”

“Oke, Bu,” aku mengangguk paham.

Aku pun bergegas, mengambil jaket dan kunci motor. Semenit kemudian, aku sudah memacu motorku ke arah Pasar Anyar.

Ibu selalu membeli stok barang dagangan di Koh Jimmy. Dia pemilik salah satu toko grosir terlengkap di Pasar Anyar. Orangnya mungil tapi mirip petasan. Gerakannya cepat, bicaranya cepat, caranya menghitung uang pun cepat—jemarinya bisa bergerak laksana alat penghitung uang di bank. Baginya, uang dan waktu adalah dua hal yang paling berharga, yang tidak pernah dia sia-siakan sedikit pun.

Pulangnya, aku menghindari rute depan stasiun agar tidak terjebak macet. Kuarahkan motorku ke Jalan Sudirman yang lengang meski aku harus memutar lebih jauh. Di tengah perjalanan, tanpa kuduga, aku bertemu dengan Anggi.

Semula, kukira dia cuma orang asing yang berdiri kebingungan di pinggir jalan. Namun, setelah kulihat rambut ikalnya, tubuh kurusnya, dan kulit putihnya, aku yakin orang itu adalah Anggi. Maka, kupelankan laju motor untuk memastikan dugaanku tersebut. Ternyata benar. Yang berdiri di seberangku itu adalah Anggi.

Aku mematikan mesin motor lalu berseru memanggilnya. “Hoi! Anggiii!”

Orang yang kupanggil menoleh dan terkejut tatkala melihatku. Aku menurunkan standar motor lantas menyeberangi jalan untuk menghampirinya. Anggi terlihat gelisah, antara tidak ingin kuhampiri sekaligus tidak bisa pergi begitu saja.

“Hei, Gi. Lo mau ke mana?” tanyaku, melihat dia mengenakan jaket dan celana jin.

“M-Mau pulang.”

“Emangnya dari mana?”

“Botani Square.”

“Rumah lo di daerah ini?”

Anggi menggeleng. “Bu-Bukan. Di Dramaga.”

“Dramaga? Waduh, jauh banget,” aku sedikit terkejut. “Terus, kenapa lo di sini?”

Anggi tidak langsung menjawab. Dia tampak ragu, meremas-remas tali tas hijau kesayangannya. “Eeerr… tadi aku salah naik angkot,” jawabnya.

Demi mendengar jawaban tersebut, aku terperangah. Nyaris saja aku tertawa walau berhasil kutahan. Di saat seperti ini, aku benar-benar tak mau menyinggung perasaannya. Dan, aku juga bersyukur karena dia menunduk sehingga tidak melihat ekspresiku tadi.

“O begitu. Kalo gitu, gue anterin lo pulang deh,” aku menawarkan.

“E-Eh, j-jangan. Tidak usah,” tolak Anggi, menggeleng.

“Gapapa. Lagipula kalo naek angkot dari sini pasti bakal ribet. Harus gonta-ganti angkot. Mending gue anterin aja.”

Anggi diam lagi. Kakinya bergerak bimbang dan matanya bergerak rikuh ke sana ke mari. Dia seperti sedang mencari solusi lain sehingga punya alasan untuk menolak tawaranku. Nyatanya, dia tidak menemukan jalan lain.

Dia pun akhirnya mengangguk. “Ma-Maaf kalau merepotkan.”

“Ah, ga ngerepotin kok. Santai aja,” kataku meyakinkannya, “Tapi, sebelum itu, kita mampir ke rumah gue dulu, ya? Anterin barang sekaligus ambil helm buat lo.”

Anggi mengangguk. Kami berdua pun menyebrang lagi. Aku menyalakan mesin motor, barulah Anggi naik ke jok belakang. Sepanjang perjalanan kami hanya membisu. Dengan suara mesin motorku yang lebih berisik ketimbang grup orkes Tanjidor, plus Anggi yang terkenal pendiam, rasanya sia-sia saja kalau kami memaksakan diri untuk ngobrol.

“Nah, ini dia rumah gue,” kataku begitu kami sampai.

“Itu warungmu?” tanya Anggi.

Yup. Warung sederhana sih. Tapi, lumayan buat nambahin uang jajan. Hehehe,” jawabku, menurunkan karung dari atas motor. “Yuk, masuk dulu.”

“Ah, er, tidak usah. Aku tunggu di sini saja.”

“Eh, ga boleh! Nanti gue dimarahin nyokap. Tamu tuh harus dilayani dengan baik,” ujarku. Melihat Anggi menggeleng enggan, aku menambahkan, “Udah, gapapa. Kalo malu, lo duduk aja dulu di teras. Oke?”

Tidak punya pilihan lain, Anggi akhirnya mengikutiku masuk ke dalam. Aku sendiri mengangkut barang-barang pesanan Ibu ke dalam warung terlebih dahulu.

“Bu! Barang-barangnya Pandu taro di warung, ya?”

“Iya, makasih!” terdengar jawaban dari dalam rumah.

“Bu, ada tamu nih. Temen Pandu.”

Mendengar aku berseru begitu, Anggi terbeliak ngeri. Di matanya, aku pasti seperti baru saja mengusik singa yang sedang tertidur.

Ibu muncul beberapa detik kemudian. Dia melihat Anggi dan Anggi langsung menggeser posisi duduknya sedikit.

“Eh, temen Pandu, ya? Selamat datang!”

“Ini lho yang namanya Anggi, Bu.”

“Ooow, ini toh murid yang dari Jepang itu? Ayo, masuk dulu, yuk.”

“Ti-Tidak usah, Tante.”

“Eh, jangan begitu. Ibu bikinin teh dulu, ya?”

“J-Jangan…” tolak Anggi, terdengar seperti ratapan orang yang memohon agar tidak diracuni. Aku tertawa kecil dibuatnya.

“Gapapa. Ga ngerepotin kok. Bentar ya, Ibu buatkan dulu.”

“Ga usah, Bu. Ini Pandu juga mau pergi lagi. Mau nganterin Anggi pulang.”

“Ih, kok buru-buru amat? Jangan begitu dong ama tamu!” Ibu menegurku.

“Ti-Tidak apa-apa, Tante. Saya pulang saja.”

Ibu menarik napas kecewa. Dia paling sedih kalau ada tamu yang datang tanpa dijamu terlebih dahulu. “Ya udah kalo begitu. Omong-omong, Anggi tinggal di mana?”

“D-Dramaga, Bu.”

“Wah, lumayan jauh, ya?”

“Be-Begitulah,” jawab Anggi, mengangguk kikuk.

Jujur saja, aku geli melihat polah temanku itu. Karena kasihan melihatnya tersiksa oleh keramahtamahan kami, aku pun mengajaknya untuk segera berangkat.

“Kita berangkat yuk,” ajakku, menyerahkan helm cadangan buat Anggi. Anggi segera bangkit dan menyambar helm tersebut, kentara sekali ingin segera pergi.

Ibu, yang melihat tingkahnya, cuma tersenyum mahfum.

“Kami berangkat dulu ya, Bu,” ujarku, pamit.

“Iya. Hati-hati di jalan. Jangan ngebut-ngebut.”

“Beres, Bu,” timpalku. Semenit kemudian, aku dan Anggi kembali meluncur di jalan.

 

***

 

Alasan diganti: selain bertele-tele, adegan Pandu bertemu Anggi terkesan kebetulan. Hal ini kelak bisa jadi blunder di adegan klimaks, karena seharusnya bantuan Pandu pada Anggi tidak boleh terkesan “kebetulan”.

Namun, sayangnya, tokoh Koh Jimmy gagal masuk ke novel. Hahaha.

Nantikan deleted scene Rahasia Hujan berikutnya!

 

@AdhamTFusama