#Kamisan New Season: The Girl with the Black Umbrella


Tema Kamisan kali ini

Tema Kamisan kali ini

“Lo serius putus ama Rani?” tanya Ryo dengan mata terbelalak tak percaya, padahal Andik baru saja melangkah masuk ke dalam apartemennya.

“Oy, oy, gue kan baru datang, Yo!” protes Andik, menyerahkan kotak kecil ke temannya yang cerewet itu. “Met ultah, ya. Moga-moga lo cepat lulus kuliah dan enggak kena gonorhea karena kebanyakan ngewek.”

Thanks,” Ryo melempar kado Andik begitu saja ke sofa.

“Eh, kampret! Kado gue malah lo buang begitu aja!”

“Udahlah, gue udah tau lo ngasih gue hadiah sempak sekali pakai yang lo beli di minimarket. Si Gupta yang ngasih tahu.”

“Bangsat emang si Gupta,” gerutu Andik, meski tidak betul-betul marah. Dia melangkah menuju ke meja makan.

“Ndik, lo belum jawab pertanyaan gue,” Ryo masih saja merongrongi Andik. “Lo beneran putus ama si Rani?”

“Ayolah, Yo! Biarkan gue menikmati pesta lo dulu,” kata Andik, mengambil beberapa chicken wings.

“Lo enggak putus setelah pake dia, kan?” tanya Ryo lagi, curiga.

Tawa Andik pecah mendengarnya. Dia menggelengkan kepala sembari menuju ke sofa ruang tengah dengan membawa chicken wings dan cola. “Itu sih elo, Yo! Kampret lo!”

“Woi, Ndik! Akhirnya datang juga lo!” sambut Gupta dan yang lainnya sewaktu Andik bergabung dengan mereka di sofa.

Andik menyalami mereka semua sebelum duduk. Ryo juga ikut duduk, masih penasaran dengan kebenaran berita kalau temannya itu sudah putus dari Rani.

So, Ndik, beneran lo putus ama Rani?” tanya Gupta.

“Duh, kalian itu rewel, ya?” tanggap Andik sewaktu menyantap chicken wings-nya. “Iya, gue baru putus ama dia. Puas lo semua?”

“Akhirnyaaaa…!” tanggap mereka semua seraya menarik napas lega.

Andik tertawa. “Anjrit! Sampe segitunya. Kayaknya lo semua seneng banget ya gue putus ama dia.”

“Bukan seneng, Ndik, tapi lega,” Ryo meralat. “Terus terang sampe sekarang gue masih enggak abis pikir kenapa lo bisa pacaran ama cewek psycho kayak si Rani.”

Oh, come on! She’s not that bad,” sangkal Andik.

Oh, come on! You just want to bang her just because she’s hot!” tandas Gupta.

Untuk yang kesekian kalinya, Andik terbahak. “Asal lo semua tahu aja ya, gue enggak pernah tidur ama Rani.”

“Jadi, lo putus gara-gara dia enggak mau diajak ngamar?” Edo mengonfirmasi.

“Setan lo! Lo pikir gue cuma mikirin seks waktu pacaran? Anjing, ya, lo semua. Otak lo udah pada di sempak semua!” Andik menggelengkan kepala, sok prihatin.

“Jadi, kenapa lo putus?” tanya Gupta.

“Jadi, kenapa kalian lega waktu gue putus?” Andik malah balas bertanya.

“Ya, gue sih kurang suka aja ama sifatnya yang overpossesive. Dan, gue tahu sifat lo, Ndik. Lo pasti menderita selama pacaran ama Rani,” Ryo mengungkapkan asumsinya.

“Nah, itu alasannya,” kata Andik sebelum mengangkat bahu.

“Tapi, hebat juga ya lo bisa tahan pacaran selama setengah tahun ama Rani. Gue pikir seminggu juga udah putus,” tanggap Gupta seraya tertawa.

“Iya ya. Padahal kan si Rani itu nyeremin.”

“Sialan!” Andik menoyor kening Ryo kendati dia sendiri tertawa.

“Tapi, ada lho yang lebih nyeremin dari Rani,” kata Edo.

“Oh ya? Siapa?” tanya Andik.

“Cewek berpayung hitam,” jawab Edo.

Langsung saja semuanya menarik napas malas.

“Mulai lagi deh…” keluh Gupta.

Siapa pun tahu kalau Edo punya minat tinggi pada hal-hal yang berbau mistis, supranatural, atau dunia lain; terlepas dari statusnya sebagai mahasiswa fakultas MIPA yang mengagungkan logika.

“Eh, beneran lho! Ini urban legend yang cukup terkenal di Depok.”

Urban legend belum tentu kenyataan, Do,” protes Ryo.

“Udahlah, guys, kita dengerin aja dulu cerita si Edo,” kikik Andik, yang senang karena mereka tidak perlu membahas soal Rani lagi.

Edo berdeham sebelum memulai ceritanya. “Konon, dulu ada perempuan berpayung hitam yang mau nyeberang jalan di malam berhujan. Saat dia nyebrang, ada mobil yang melaju kencang dan menabrak perempuan itu. Si perempuan pun langsung tewas….”

Andik cuma senyam-senyum saja mendengarnya. Dia tidak begitu tertarik mendengarnya cerita itu sehingga lebih fokus menghabiskan chicken wings-nya. Terlebih, sepertinya dia bisa menebak bagaimana ending cerita itu. Pasti si perempuan mendendam dan gentayangan.

“… Akhirnya, roh si perempuan itu tidak tenang. Dia pun bergentayangan di jalan raya tersebut.”

Tuh bener, kan? Andik membatin dan tertawa di dalam hati.

“Konon, dia sering menampakkan diri sedang berdiri membawa payung hitam di pinggir jalan,” Edo melanjutkan, “Dan, kalau ada yang ngelihat dia, katanya orang itu pasti akan meninggal karena kecelakaan.”

Edo mengakhiri ceritanya dengan nada dramatis. Tapi, cuma bertahan beberapa detik saja, sebelum teman-temannya membahas hal lain. Kisah Edo terlupakan dengan segera, digantikan canda tawa yang sesekali diselingi minuman keras. Musik kemudian dinyalakan dan pesta pun benar-benar dimulai.

 

*

 

Pesta akhirnya selesai pukul tiga dini hari. Itu pun setelah banyak yang tak sadarkan diri gara-gara terlalu mabuk. Gupta yang paling parah. Dia memang punya daya tahan tinggi dengan alkohol, tapi setelah beberapa botol, tetap saja dia terkapar di lantai. Celananya basah dan ada aroma amonia yang menguar. Ryo terpaksa menggeret tubuh Gupta supaya ompol temannya itu tidak mengenai karpet di ruang tengah.

Maka, setelah banyak yang pamit pulang dan sebagian lainnya terlalu mabuk untuk pulang, tinggallah Ryo dan Andik yang masih sadar.

“Lo enggak apa-apa putus ama si Rani?” tanya Ryo membuat Andik menarik napas berat, tanda dia enggan membahas soal mantannya itu.

“Gue baik-baik aja kok,” cuma itu jawaban Andik.

“Bukan itu…” kata Ryo, “Yah, elo tau sendiri kan perangai si Rani. Suka berlebihan, ujung-ujungnya histeris.”

Andik tertawa kecil. “Dia juga udah histeris kok pas gue putusin via telepon. Awalnya nangis sesenggukan sambil memohon supaya kami enggak putus, ujung-ujungnya dia maki-maki gue. Ya udahlah….”

“Hati-hati ama cewek kayak dia, Ndik.”

“Hahaha. Kayak apaan aja.” Andik menggeleng-gelengkan kepalanya. “But thanks anyway. Gue cabut dulu, ya.”

“Lo yakin mau pulang? Nginep aja, Ndik.”

“Gue cuma minum dua gelas, masih sanggup nyetir mobil kok,” kata Andik. Kepalanya memang terasa sedikit melayang, tapi dia yakin dia akan baik-baik saja. “Oke deh, gue pulang dulu. Thanks buat pestanya.”

Thanks udah datang. Hati-hati di jalan.”

Andik pun turun dan menuju ke mobilnya. Dalam beberapa menit, city car-nya itu segera menerjang jalanan yang sudah sepi.  Hanya ada satu dua kendaraan lain yang sesekali melintas. Hujan turun tak lama kemudian. Andik berbelok ke jalan raya, menuju rumah kontrakannya di utara Bogor.

Tiba-tiba saja, dia teringat lagi dengan cerita Edo, karena konon arwah gentayangan si perempuan berpayung hitam itu sering menampakkan diri di jalan yang tengah dia susuri itu.

… Konon dia sering menampakkan diri sedang berdiri membawa payung hitam di pinggir jalan….

Sial, umpat Andik dalam hati, kenapa gue malah kepikiran cerita tolol itu?

Andik menghidupkan radio supaya bisa mengalihkan pikirannya. Dia juga menancap gas, kepengin cepat-cepat sampai ke rumah. Terlebih, kepalanya sekarang mulai terasa pusing akibat alkohol. Dia berbelok lagi dan melihat ada perempuan berpakaian serba hitam sedang berdiri di bawah payung hitam.

Darah Andik kontan mendesir. Matanya terbelalak. Dia tak percaya. Dia pun menoleh ke belakang, ingin memastikan kalau dia tadi tidak salah lihat. Namun, perempuan itu tidak ada di sana. Sisi jalan di belokan yang tadi dia lewati kosong melompong.

Andik merinding. Jadi, apa yang tadi dilihatnya itu? Apa matanya sedang menipunya? Atau jangan-jangan dia tadi berhalusinasi karena sedang mabuk?

Andik masih saja melirik ke arah kaca spion, memastikan untuk yang terakhir kali keberadaan si perempuan berpayung hitam. Mobilnya melaju melintasi perempatan, dan dia dikagetkan oleh lolongan klakson serta sorotan lampu yang menyilaukan. Detik berikutnya, tabrakan pun terjadi, tak dapat dihindari.

 

*

 

“… Saat dia nyebrang, ada mobil yang melaju kencang dan akhirnya menabrak perempuan itu. Si perempuan pun langsung tewas.”

Andik cuma senyam-senyum saja mendengarnya. Dia tidak begitu tertarik mendengarnya cerita itu.

“Ada yang bilang, pelakunya adalah pria mabuk. Pria itu segera melarikan diri.”

Terlebih, sepertinya dia bisa menebak bagaimana ending cerita ini.

“Akhirnya, roh si perempuan itu tidak tenang. Dia pun bergentayangan di jalan raya tersebut.”

Tuh bener, kan?

“Sejak saat itu, dia mengutuk setiap orang yang berkendara dalam keadaan mabuk atau ugal-ugalan. Pengendara macam merekalah yang sering melihat sosok perempuan itu.”

Mobil merah yang dikendarai Andik ringsek ditabrak dari samping dan menabrak tiang listrik. Andik tewas seketika, terjepit di antara dashboard, jok, dan besi pintu yang menusuk lambung kanannya. Darah mengocor deras dari pelipis Andik yang tadi menghantam jendela hingga pecah.

Yang menabraknya adalah sebuah mobil SUV putih. Pintu mobil itu terbuka dan pengemudinya keluar. Perempuan itu melangkah limbung ke arah mobil Andik. Air matanya bercucuran, membanjiri pipi.

“A-A-Andik…” Perempuan itu memanggil lemah nama lelaki yang sudah tak bernyawa di balik kemudinya itu. “Y-You broke my heart, Ndik…. You broke my heart.” Suaranya bergetar hebat.

Dia pun meraung. “MAMPUS KAU, BANGSAT! SEENAKNYA KAU MENGAKHIRI CINTA KITA!” Rani memungut kerikil di jalan dan melemparnya hingga mengenai jendela mobil Andik. “MATI KAU, NDIK! MATI AJA SANA!”

Rani berteriak kencang, melepas semua perasaan yang sedari tadi menekan dadanya. Di belakangnya, perempuan berpayung hitam muncul untuk masuk ke dalam SUV putih.

Satu tugasnya telah selesai, kini ada satu tugas lagi yang menunggu: menghabisi nyawa perempuan yang tengah dimabuk oleh duka dan amarah.

 

***

 

Catatan penulis: Iya, Kamisan nongol lagi setelah vacuum selama… entahlah berapa lama. Sekarang yang ikutan juga makin banyak. Nah, di season baru ini, tema Kamisan ditentukan dengan gambar dan pesertanya harus menginterpretasikan gambar itu lewat sebuah cerpen.

Cerpen? Iya cerpen. Merepotkan, ya? Niatnya sih mau bikin flash fiction doang eh malah nulis cerpen. Ya sudahlah, selanjutnya saja bikin flash fiction.

Lho, kan harusnya bikin cerpen.

Biarin saja. Saya kan awesome.

Tentang #Kamisan

@AdhamTFusama 

[Cerpen] Abang


Big Brother

Source: etsy.com

Bang, aku nggak ngerti kenapa Abang pergi begitu cepat. Aku juga nggak ngerti kenapa Abang ninggalin aku begitu saja. Padahal, pagi itu Abang sudah janji padaku, “Tenang aja. Abang bakal selalu ada untukmu, kok.”

Itu kan janji terakhir Abang? Kata-kata terakhir sebelum Abang berangkat kerja. Tapi, kenapa Abang malah pergi? Kenapa Abang nggak nepatin janji?

Aku langsung lemas waktu dengar kabar kalau Abang meninggal dunia. Rasanya, kayak ada yang ngerebut paksa setengah dari jiwaku. Rasanya, kayak ada yang nyabut paksa sakelar kebahagiaan di hatiku.

Ibu histeris, Bang. Beliau kayak nggak rela Abang ninggalin kami semua. Ibu bahkan sampai pingsan dua kali. Bagi Ibu, ini semua seperti mimpi buruk di siang bolong.

Atau, Abang lihat nggak reaksi Ayah? Beliau yang selama ini selalu keras malah menangis meraung-raung saat ngelihat jasad Abang yang terbujur kaku tak bernyawa di ruang jenazah.

Tapi, anehnya, aku nggak nangis, Bang. Nggak ada air mata yang jatuh waktu aku tahu tentang kewafatanmu. Alih-alih sedih, aku malah kebingungan. Abang itu penuntun hari-hariku. Tanpa Abang, aku kayak domba yang kehilangan pengembalanya.

Aku harus gimana sekarang? Ke mana aku harus melangkah? Gimana caraku ngelanjutin hidup, Bang? Aku benar-benar nggak tahu.

Aku kehilangan sosokmu, Bang. Sangat kehilangan. Abang satu-satunya orang yang bisa bikin hidupku berarti.

Aku masih nggak percaya Abang sudah tiada. Melihat Abang terbaring di atas kasur beralaskan seprai putih dan kain batik, aku ngerasa Abang tuh cuma tidur doang dan akan segera bangun sebentar lagi.

Atau—aku setengah berharap—Abang bakal melompat bangun lalu berseru, “Surprise! April mop! Kalian ketipu! Hahaha!” Memang sih itu bakal jadi joke yang nggak lucu, tapi seenggaknya Abang masih hidup dan gelembung harapan di hatiku nggak perlu pecah begitu saja.

Nyatanya, nggak ada yang namanya April Mop di bulan Juli. Nyatanya, kelopak mata Abang tetap tertutup rapat. Selamanya.

Abang benar-benar sudah nggak ada.

Siang itu para pelayat berdatangan. Pacar Abang menangis tersedu-sedu di samping jasadmu. Keluarga, para sahabat, dan tetangga hadir semua. Mereka datang untuk berkabung, berbagi duka, sekaligus ngucapin salam terakhir buat Abang.

Kedatangan mereka yang berbondong-bondong membuatku ngerasa seakan seluruh dunia ikut menangisi kepergianmu, Bang. Berduka karena sudah nggak ada lagi sosok sehebat dirimu.

Jujur aku nggak tahan lagi, Bang. Aku nggak tahan ngelihat kucuran air mata dan ngedenger isak tangis di tengah lantunan ayat-ayat dari kitab suci. Aku ngerasa, itu semua kayak stempel pengesahan kalau Abang memang benar sudah wafat. Padahal, aku masih belum bisa nerima kenyataan ini sepenuhnya.

Makanya, aku naik saja ke kamar dan mengurung diri di sana. Maaf, Bang, bukannya aku egois dan nggak mau nemenin Abang. Tapi, aku sudah bosan mendapat ucapan “Yang sabar ya…”, “Tabah ya, Sob…”, “Abangmu udah di tempat yang lebih baik. Ikhlasin ya….”

Apa-apaan sih mereka itu? Apa mereka nggak tahu betapa hancurnya hatiku? Apa mereka nggak paham betapa aku kehilangan lentera hidupku? Apa mereka nggak bisa ngertiin aku?

Sepertinya, memang nggak ada yang bisa mahamin aku, Bang. Bahkan Ayah dan Ibu juga nggak bisa. Sedari dulu, cuma Abang yang ngertiin aku.

Ayah selalu keras padaku. Beda dengan Abang yang jadi kebanggaannya, aku ini nggak lebih dari sekadar beban buat Ayah. Ibu juga begitu. Ibu selalu ngebanding-bandingin kita berdua. Ibu sering bilang, “Coba dong kamu tiru Abangmu…”, “Abangmu itu selalu nurut sama Ibu, makanya dia bisa sukses walau masih muda…”, “Duh, kamu kok ndak seperti abangmu, sih?”

Mereka nggak pernah mikirin perasaanku.

Aku jadi sadar, Bang, kalau aku ini bukan anak kesayangan mereka. Mereka cuma sayang padamu. Mungkin, kalau mereka diizinkan memilih, aku yakin mereka akan lebih milih aku untuk mati lebih dulu.

Namun, kalau memang bisa begitu, rasanya aku nggak keberatan. Serius, Bang. Aku rela mati gantiin kamu. Itu karena aku sayang padamu. Itu karena Abang selalu sayang ama aku, mahamin aku. Abang beda dari yang lainnya.

Aku masih ingat Abang pernah berkata, “Ya iyalah. Kamu kan adik Abang satu-satunya. Wajar dong kalau Abang sayang.” Abang mungkin sudah lupa pernah bilang begitu. Tapi, aku akan selalu ingat, sebab ucapan itu sangat berarti bagiku.

Meskipun begitu, kayaknya aku paham kenapa orang-orang lebih menyukai Abang. Alasannya simpel:  karena Abang sempurna.

Ya, kali ini aku setuju dengan mereka, Abang memang sempurna.

Abang tampan, cerdas, ramah, periang, humoris, baik hati, sederhana, pemberani, rajin, dan pekerja keras. Abang itu tipe ladies’ man, man’s man, man about town. Nggak ada yang nggak suka dengan Abang.

Abang suka menolong dan nggak suka ngelihat ada orang yang kesusahan. Abang bahkan rela berkorban demi kebaikan orang lain. Abang tuh luar biasa. Abang begitu mulia sampai-sampai wafat pun dalam keadaan mulia.

Kata para saksi, sebenarnya Abang bisa saja menabrak nenek-nenek yang mendadaknyelonong menyeberangi jalan. Kalaupun si nenek itu tewas, Abang nggak salah. Tapi, alih-alih begitu, Abang malah membanting setang demi keselamatan si nenek. Abang jatuh terpelanting, belakang kepala menghantam aspal. Helm aviator retro kesayangan Abang pun nggak bisa menyelamatkan nyawamu.

Ini sungguh nggak adil, Bang. Benar-benar nggak adil. Padahal Abang masih muda. Baru 24 tahun. Belum ada seperempat abad nikmatin dunia. Kenapa Abang malah tega ninggalin kami begitu cepat?

Bang, akhirnya aku nangis juga. Setelah seharian nggak kunjung datang, air mata ini pun tumpah waktu mereka meletakkan jasadmu di dasar liang lahad. Melihat raga Abang ditimbun tanah, aku sadar kalau aku benar-benar akan kehilanganmu selamanya.

Kutumpahkan seluruh kesedihan yang sedari tadi numpuk di dada.Walau teman-temanku terus ngasih suntikan moral supaya aku berlapang dada, tetap saja aku nggak bisa. Aku terlalu sayang padamu, Bang. Sulit untuk bisa ikhlas di saat seperti ini.

Aku mengagumimu sejak kecil, Bang. Diam-diam menyanjungmu.

Dulu, waktu aku dikejar-kejar anjing, Abang yang ngusir mereka. Waktu aku ditodong berandalan SMA, Abang yang nolongin aku. Waktu ayah marah-marah, Abang yang ngebelain aku.Ada teman yang mengejek, Abang yang turun tangan. Setiap kali aku nangis, Abang yang ngehibur aku.

Bang… cuma kamu pahlawanku. Idolaku.

Usia kita memang terpaut jauh—beda tujuh tahun—tapi kita begitu dekat dan akrab. Abang selalu ada di setiap momen-momen terbaik dalam hidupku. Dan, Abang pula lah orang yang paling berpengaruh dalam hidupku.

Aku suka band Sigur Ros berkat Abang. Aku mahir main gitar berkat Abang. Aku bisa berenang berkat Abang. Aku bisa naik motor berkat Abang. Aku suka IPA berkat Abang. Aku bisa masuk Sekolah Menengah Analis Kimia juga berkat bantuan Abang.

Jasamu besar sekali, Bang. Abang sangat berarti bagiku. Terlalu berarti bagi hidupku. Aku nggak mau kehilangan dirimu.

Jadi… kubongkar saja makammu malam itu juga.

Kubawa mobil jip Ayah diam-diam untuk mengangkut cangkul, pacul, dan perlengkapan lainnya. Dan, dengan tanganku sendiri, kugali lagi kuburan Abang yang masih basah.

Aku akan menyelamatkanmu, Bang. Tenang saja. Aku mungkin bukan pembongkar makam yang andal—macul tanah saja aku nggak becus—tapi, aku nggak akan nyerah. Aku nggak peduli kalau tanganku lecet-lecet atau badanku kehabisan tenaga asalkan aku bisa ngeluarin Abang dari sana. Abang nggak seharusnya berada di dalam sana.

Hujan turun, Bang. Dari yang semula cuma gerimis menjadi hujan deras yang diiringi gelegar petir susul-menyusul. Barangkali Tuhan marah karena aku berniat untuk ngerebutmu dari sisi-Nya. Tapi, biarlah, aku nggak peduli. Justru berkat hujan pekerjaanku jadi sedikit lebih ringan. Tanah yang becek lebih gampang buat digali. Lagian, di tengah badai seperti ini, nggak akan ada orang yang bakal mergokin aku ngebongkar makam, kan? Jadi, kuanggap saja hujan lebat ini sebagai anugerah yang terselubung.

Aku pun terus menggali, menggali, dan menggali. Setelah satu jam, akhirnya aku berhasil menemukanmu, Bang. Betapa senangnya aku waktu ngelihat kafan putihmu. Kita bertemu lagi, Bang. Air mata bahagia kontan menetes, bergabung dengan air hujan yang turun membasahi wajah.

Dengan susah payah, kuangkat jasadmu ke atas tanah, lantas kugotong ke dalam mobil. Maaf ya, Bang, tubuhmu kuletakkan di jok belakang. Mungkin agak nggak nyaman, tapi kita harus pergi dari sini sesegera mungkin. Setelah kusimpan kembali cangkul dan pacul ke dalam mobil, kita siap berangkat, Bang.

Tujuan selanjutnya: vila di Puncak.

Ide gila ini muncul waktu aku menyendiri di kamar tadi siang. Aku nggak bisa bayangin betapa menderitanya hidupku tanpamu, Bang. Jadi, kuputuskan saja untuk ngeluarin Abang dari dalam kubur. Aku pun segera menyusun rencana.

Aku teringat vila tempat kita berlibur pada malam tahun baru yang lalu. Tempatnya nyaman, tenang, damai, sepi, dan jauh dari keramaian. Aku pun langsung menelepon dan mem-booking vila tersebut. Jadi, ke sanalah kita sekarang.

Setelah urusan vila beres, kubuat daftar barang-barang yang perlu dibawa. Pacul, cangkul, pakaian, peralatan mandi, handuk, parfum, bedak, beberapa perlengkapan kosmetik Ibu, dan lain sebagainya. Sorenya, setelah prosesi pemakaman, aku mampir ke toko kimia langganan para siswa di sekolahku untuk membeli dua jeriken formalin.

Hehehe. Aku nggak mungkin membiarkan tubuh Abang membusuk, kan?

Aku senang sekali karena kita bisa berkumpul lagi seperti dulu. Aku sudah bisa ngebayangin kita berpetualang berdua, pergi ke banyak kota, dan mungkin tinggal di suatu tempat yang aman dan nyaman, di mana nggak bakal ada lagi yang bisa ngeganggukebersamaan kita. Di sana, aku akan merawatmu selamanya.

Ah, hujan sudah reda, Bang. Bogor cerah banget malam ini. Aku ganti pakaian dulu ya di SPBU. Nggak mungkin aku tetap pakai kaus basah dan celana jeans berlumpur seperti ini. Dan, sekali lagi, maaf ya, Bang. Aku juga harus nutupin Abang dengan kain hitam. Bisa berabe kalau orang-orang tahu ada pocong di dalam mobil. Hahaha.

Tapi, nggak usah khawatir. Semuanya lancar kok. Setibanya di tujuan, aku langsung ambil kunci vila sambil basa-basi sebentar dengan pengelolanya. Kuparkirkan mobil ke dalam garasi, kuangkut seluruh barang bawaan, dan kubawa Abang ke dalam kamar setelah memastikan nggak ada orang yang ngelihat.

Aku menarik napas lega, bersyukur karena semua berjalan sesuai rencana. “Kita berhasil, Bang,” kataku, tersenyum gembira.

Dengan segera, kubuka kafanmu. Abang nggak cocok pakai kain norak seperti ini. Dan, lagi-lagi, air mata haru nggak sanggup kubendung saat aku bisa melihat kembali wajahmu di hadapanku. Dengan lembut, kusentuh dan kuelus pipimu yang dingin. “Bang, aku kangen…” Suaraku bergetar menahan luapan rindu.

Dengan hati-hati, kugendong Abang ke kamar mandi, lalu kubersihkan badanmu dari tanah dan lumpur. Setelah kering dan bersih, kubawa kembali Abang ke tempat tidur. Melihat tubuhmu yang terbaring polos di sana membuatku sedikit sedih, Bang. Kulitmu pucat kelabu, bibirmu membiru, jemarimu tertekuk kaku, dan ada seulas warna hitam di bagian matamu. Aku kayak nggak ngenalin kamu.

Tapi, tenang saja, Bang. Aku akan memperbaikinya.

Dengan telaten, kuoleskan body lotion supaya kulit Abang tidak kering dan pecah-pecah. Kubawa telapak tanganku, yang telah dibalur krim putih, untuk menjelajahi sekujur tubuhmu. Leher, lengan, siku, dada, jemari, perut, kaki, tumit, punggung, dan bagian tubuh lainnya. Kupastikan nggak ada satu bagian pun yang terlewati.

Selanjutnya kugunakan make up milik Ibu guna menyamarkan kulit pucat Abang agar tidak begitu kentara. Cleanser, fondation, tanning cream, bedak, blush on,hingga lipstick kupakai semua untuk mengembalikan rona serta cahaya kehidupan di kulitmu. Terakhir, kusemprotkan parfum Bennetton Sport favoritmu.

Untuk sementara, begini saja dulu ya, Bang. Formalinnya kusuntikkan saja esok hari, karena malam ini sudah terlalu larut. Tapi, jangan khawatir, Bang. Udara dan suhu Puncak yang dingin akan menghambat proses dekomposisi.

Kendati demikian, meskipun belum kuawetkan, Abang sudah ganteng lagi kok. Lihatlah! Abang sempurna seperti sedia kala, seperti nggak pernah mengalami kecelakaan motor. Abang tampak hidup.

Jujur, aku suka dengan gaya rambut spike Abang. Dan, aku tahu kalau ada banyak orang yang kesengsem dengan cambang dan jenggot tipismu. Abang jadi kelihatan maskulin. Gagah. Aku juga iri dengan badan Abang yang atletis. Aku nggak pernah bisa main bola basket seperti Abang. Tapi, aku selalu suka ngelihat Abang bermain basket, apalagi kalau sudah memasang tampang serius saat bertanding. Abang keren.

Perasaan rindu di dada ini muncul lagi. Kali ini begitu menggebu-gebu sampai aku nggak bisa menahan diri.

Bang, boleh aku memelukmu? Aku ingin seperti dulu;meletakkan kepalaku di dada bidangmu, melingkarkan tanganku di pinggangmu, menghirup subtilnya aroma tubuhmu, lalu mengecupmu dan memadu kasih denganmu.

Dulu, kalau aku sudah manja seperti ini, Abang pasti cuma senyam-senyum saja, kemudian balas merangkulku. Aaah… rasanya seperti berada di surga. Apalagi kalau sudah ditemani dengan alunan lagu-lagudari Sigur Ros. Seluruh lara yang ada seolah sirna.

Di tempat tidur kita hanya berdua. Berangkulan. Menikmati kesyahduan dan kemesraan yang sudah terajut sejak lama.

Abang selalu bisa membuatku menjadi orang paling bahagia di dunia.

Dan sekarang, sudah kudapati kembali kebahagiaan tersebut. Kita akan bersama selamanya. Abang akan selalu ada buatku… seperti janji terakhirmu.  Percayalah, itu sudah cukup buatku. Aku nggak akan minta apa-apa lagi.

“Aku mencintaimu, Bang. Selalu. Selamanya…”

Aku pun mencintaimu, Dik

Senyumku terkembang.

Terima kasih sudah hadir dalam malam-malamku, Bang. Tetaplah berada di sampingku. Temani aku pejamkan mata ini di dalam dekapmu. Buai aku hingga kuarungi mimpi-mimpi yang indah.

 

Þú rótar í tilfinningum í hrærivél (Engkau mengaduk-aduk perasaan)
Allt úti um allt
(Membuatnya tak keruan)
En það varst þú sem alltaf varst (Tapi hanya kamu yang selalu)
til staðar fyrir mann (ada untukku)
og það varst þú sem aldrei dæmdir
(Dan hanya kamu yang tidak pernah menghakimi)
Sannur vinur manns
(Sahabat sejatiku)

[Ara Batur – Sigur Ros]

Aku bahagia, Bang. Sangat bahagia.

 

***

 

Bogor, Februari 2014 (diikutsertakan untuk lomba cerpen horor remaja)

Edit Juni 2014

@AdhamTFusama

[Cerpen] Dongeng Malam


Cucu dan Nenek

“Malam ini Nenek mau nyeritain dongeng apa?” tanyaku yang sudah merebahkan diri di atas tempat tidur.

Nenek tersenyum padaku. “Kamu mau dengerin dongeng apa?” Nenek balas bertanya, seraya merapikan selimut. Tangan beliau yang kurus dan keriput kemudian mengelus-elus rambutku. Ada sensasi seperti desiran angin sewaktu beliau melakukannya.

“Terserah Nenek. Aku suka semua dongeng Nenek,” jawabku.

Lagi-lagi Nenek tersenyum, membuat wajah cekungnya terlihat hangat. “Kalau gitu, Nenek ceritain tentang Sangkuriang aja, ya?”

Aku mengangguk setuju. Nenek pun duduk di sisiku, di pinggir tempat tidur. Beliau menceritakan kisah Sangkuriang seraya menggenggam lembut tanganku.

Aku suka saat Nenek mendongeng. Suara beliau mengalun lembut seperti tembang. Sesekali, beliau juga asyik merapikan rambut panjangnya dengan jari. Rambutnya yang beruban jatuh ke bahu lalu meluncur hingga pangkuan. Dapat kucium wangi orang-aring dari rambutnya, bercampur dengan wangi vanila dari parfum yang menempel di daster putih.

Aroma yang familiar. Aroma yang meluapkan rasa rindu.

Nenek terus bercerita. Dia kemudian menatapku dengan penuh kasih sayang. Bahkan di tengah pencahayaan redup dari lampu meja, bisa kulihat mata tuanya berkaca-kaca. Berkat permainan cahaya pula, keriput-keriput di wajah beliau semakin kentara.

“… Dan, dari sanalah Gunung Tangkubanperahu tercipta,” tutur Nenek, mengakhiri dongengnya.

Aku tersenyum. “Makasih, Nek….”

Nenek mengangguk. “Sama-sama. Tapi, kamu kok malah belum tidur?”

Aku terkekeh. Alih-alih memejamkan mata, aku malah bangkit untuk memeluknya. Nenek pun balas merangkulku. Rasanya hangat, damai, dan menyenangkan.

“Adhi sayang sama Nenek…” bisikku sepenuh hati.

“Nenek juga sayang banget sama Adhi…” balas Nenek, dipenuhi kerinduan. Ada isak kecil yang ikut terdengar. Setelahnya, beliau menghadiahkanku sebuah kecupan di kening.

Pintu kamar lantas terbuka dan mengagetkanku. Rupanya Ayah. Wajahnya bingung sementara dahinya tertekuk. “Lho, Ibu? Ibu tadi bicara dengan siapa?” tanya beliau.

Nenek menggeleng, menghapus air matanya, lalu tersenyum. “Tidak. Tidak dengan siapa-siapa kok,” jawabnya agak serak.

“Tapi, tadi aku dengar—”

“Mungkin kamu salah dengar,” potong Nenek. “Oh ya. Besok hari Minggu, kan? Ajak Ibu ke makam Adhi, ya? Ibu kangen….”

 

***

 

Bogor, Maret 2014

Edit Juni 2014

@AdhamTFusama

[Cerpen] Bisikan Sahabat


Abaddon by thomasmansencal.com

Abaddon by thomasmansencal.com

Di dalam bus kota itu dia duduk termenung. Wajahnya kuyu, pucat, dan tanpa semangat hidup. Tubuh kurusnya laksana ranting kering di padang nan tandus. Gelapnya malam itu tak sepekat hatinya yang dirudung duka dan lara.

Hari yang berat. Teramat berat. Pagi tadi, habis sudah dia dimarahi atasannya dan disalahkan oleh nyaris seluruh rekan kerjanya. Dia pun terancam dipecat akibat kegagalannya dalam menjalankan proyek bulan lalu. Sumbangsihnya selama 10 tahun nyatanya tak berguna. Dia hanya pecundang. Naik pangkat saja baru satu kali sepanjang pengabdiannya selama satu dekade.

Alangkahnya malunya dia. Alangkah gundahnya dia. Padahal ada anak istri yang harus ditanggung olehnya. Belum lagi sakit kepala dan insomnia yang mendera sebulan belakangan ini sukses membuat hidupnya terasa semakin berat.

Pria itu menarik napas berat. Dunia benar-benar tidak adil. Kenapa hanya kemalangan dan kesedihan yang selalu dia dapatkan? Kenapa tidak pernah ada kebahagiaan yang datang menghampiri?

Kenapa?

Lalu, bisikan itu kembali merasuki telinga. Bisikan yang sama seperti di dalam mimpi-mimpinya.

 

Jadilah abdiku, maka akan kuberikan seluruh dunia. Mintalah padaku, maka untukmu apa yang berhak kau dapatkan.

 

Hatinya bergetar. Fragmen-fragmen mimpinya selama ini terbayang kembali.

Haruskah dia mendengarkan mimpi-mimpinya itu? Hanya itukah satu-satunya jalan baginya? Apa dia sudah gila?

 

Jadilah abdiku, Fidi, maka aku akan menjadi sahabatmu.

 

Sahabat? Benarkah dia memiliki sahabat? Sahabat sejati yang menolong dan menemaninya melewati suka dan duka?

 

Mintalah padaku….  maka aku akan menjadi sahabatmu.

 

Haruskah dia meminta pada sahabatnya itu? Dia tak tahu. Dia belum memutuskannya. Dilemparnya pandangan ke luar jendela, ke jalanan yang gelap, ke arah sosok hitam di tepi jalan yang menatap balik ke arahnya.

Fidi kontan bergidik. Begitu dia menengok untuk yang kedua kalinya, sosok yang senantiasa hadir di mimpinya itu telah raib begitu saja.

 

Sacrificium sanguinem filius tuus.

 

*

 

Malam kesatu:

 

Ketahuilah wahai manusia, [bahwa] aku berbicara melalui mimpi-mimpimu, juga datang melalui mimpi-mimpimu. Aku telah mendengar isak tangismu, juga jerit hatimu, juga ratap batinmu.

Maka dengarkanlah aku, wahai engkau manusia. Dengarkanlah sabdaku ini, supaya engkau tidak termasuk ke dalam golongan orang-orang yang menyesal.

 

Malam ketiga:

 

Inilah sabdaku, wahai manusia. Inilah hukum alam bagi kalian semua:

[Bahwa] Dunia ini [diliputi] kelam, [dipenuhi] keji, dan tidak adil. Manusia kuat menjajah manusia yang lemah, manusia yang kuat menindas manusia yang lemah, manusia memakan manusia.

 

Malam kelima:

 

Dan telah kudengar pula tangis nestapamu. Tangis dari engkau yang lemah, tangis dari engkau yang ingin kuat, tangis dari engkau yang ingin berkuasa bukan dikuasai. Engkau yang telah sekian lama mendambakan kekuasaan dan harta berlimpah. Engkau yang telah memimpikan gilang gemilang dunia di setiap bunga-bunga tidurmu.

 

Malam ketujuh:

 

Maka, dengarlah ini, hai jiwa yang mendamba, telah kubawakan kabar gembira untukmu. Maka janganlah engkau berduka. Dan jangan pula engkau bermuram durja.

Aku datang untuk mengulurkan tangan. [Lalu] Maukah engkau menyambut uluran tanganku?

 

Malam kesembilan:

 

Jadilah abdiku, maka akan kuberikan seluruh dunia. Mintalah padaku, maka untukmu apa yang berhak kau dapatkan.

Jadilah abdiku, Fidi, maka aku akan menjadi sahabatmu. Jadilah abdi Abaddon yang agung, raja dari segala raja. Sembahlah aku.

 

Malam kesebelas:

 

Katakanlah “Ego filium meum sanguinem consecrem”, maka [itu artinya] engkau menerima uluran tanganku.

Katakanlah “Ego filium meum sanguinem consecrem”, maka akan kuangkat engkau menjadi abdiku.

 

Malam ketiga belas:

 

Sacrificium sanguinem filius tuus.

Sacrificium sanguinem filius tuus.

Sacrificium sanguinem filius tuus.

*

“Ayah… tolong… jangan,” ratap bocah itu lagi, sembari merota berusaha melepaskan diri. Usahanya sia-sia. Tak peduli seberapa hebat dia memohon, menangis, serta menjerit, dia tetap terikat di batang pohon cemara. Sang ayah mengabaikannya.

Fidi masih saja mengucurkan darah sapi ke tanah, mengelilingi pohon cemara dan api unggun. Kalimat ego filium meum sanguinem consecrem tak henti-hentinya dia lantunkan.

Malam ini adalah malam perubahan baginya. Malam di mana sang Majikan akan datang untuk mengabulkan mimpinya, mengubah masa depannya. Dia telah siap. Siap menjadi manusia yang baru, yang kaya, berkuasa, dan dihormati.

Senyum bahagia tak kunjung pudar dari wajah Fidi. Tinggal satu ritual lagi.

“Tidak ada karunia tanpa pengorbanan, Nak,” jawab Fidi, mengeluarkan pisau.

Bocah itu terbelalak ngeri. “A-Ayah! Sadarlah!”

 

Engkaulah Abraham-ku, Avram-ku, Ibrahim-ku. Di malam pertama bulan sabit, itulah Malam Pengabulan-mu, maka tunaikanlah kewajibanmu.

 

Itulah sabda terakhir yang Fidi terima.

 

Sacrificium sanguinem filius tuus—persembahkanlah darah putramu.

 

Ego filium meum sanguinem consecrem—kupersembahkan darah putraku,” Fidi mengacungkan pisau ke udara.

JANGAAAAAN!”

“MAKA ABADDON, TERIMALAH PENGORBANANKU!”

Dengan sekali tikam, robeklah leher putranya itu. Darah langsung menyembur, membasahi tubuh dan tanah. Bak hewan potong, tubuh si bocah berkelojotan sebelum dia meregang nyawa.

Fidi tersenyum. Tugas terakhir telah ia tunaikan. “Datanglah, tuanku,” bisiknya penuh harap selagi menunggu.

 

Jadilah abdiku, maka akan kuberikan seluruh dunia.

Dunia telah kau tempati, telah kau miliki, tak perlu lagi kuberi.

 

Fidi menunggu.

 

Mintalah padaku, maka untukmu apa yang berhak kau dapatkan.

Hidup sebagai abdi iblis, itulah yang berhak kau dapatkan setelah kau bunuh putramu.

 

Dia terus menunggu.

 

Jadilah abdiku, maka aku akan menjadi sahabatmu…

 

Dan menunggu.

 

Dan engkau telah jadi sahabat juga abdiku…

 

… namun tak ada yang datang.

 

Abdi Abaddon, sang raja neraka.

 

***

 

Bogor, awal 2014

Edit: Mei 2014

@AdhamTFusama

 

[Cerpen] Penjarah Desa


Image

Aku mengatur napas seraya mengibas-ngibaskan tangan serta melompat-lompat kecil. Aku tidak tahu apa itu cara yang tepat, tapi setidaknya aku memberi sugesti guna menenangkan diri. Untuk yang ke sekian kalinya, kurapikan kerah kemeja biruku. Di depan, sang presenter masih berintermeso, membacakan beberapa judul buku yang pernah kutulis.

Setelahnya, dia pun memanggilku keluar dari balik panggung. “Tidak perlu lama-lama lagi, mari kita sambut penulis novel best seller, Anak-Anak Desa Pelosok, Ren Revaldy!”

Tepuk tangan bergemuruh begitu aku melangkah keluar dari balik panggung. Jujur saja, ini pertama kalinya aku mendapat sambutan seperti ini, dari orang-orang sebanyak ini. Kegugupanku pasti terlihat dari senyumku yang sedikit kaku. Meski demikian, aku berusaha untuk tetap tenang dan bersyukur bisa sampai ke kursi tanpa harus tersandung atau semacamnya.

Mbak Tia, sang MC sekaligus yang akan mewawancaraiku, duduk di sofa sebelah. “Pertama-tama, selamat ya buat novel Mas Ren yang sudah menjadi national best seller,” katanya, diiringi tepuk tangan. “Gimana nih perasaan Mas?”

“Perasaan saya saat tahu novel ini best seller atau perasaan saya sekarang saat diwawancara?” aku balik bertanya, menimbulkan kekehan kecil dari arah penonton. “Terus terang, kalau perasaan saya sekarang sih gugup karena tidak menyangka yang hadir bisa sebanyak ini.”

Mbak Tia dan penonton tertawa. Sepertinya mereka suka dengan pembawaanku yang nervous sekaligus witty. Padahal, di dalam aku merasa cukup tersiksa. Berkali-kali aku memperbaiki posisi kacamataku yang melorot akibat keringat. Tapi, aku bersyukur karena acara bedah buku kali ini berjalan lancar dan menyenangkan.

“Banyak pembaca yang memuji kemampuan Anda mendeskripsikan desa sekaligus para tokohnya. Detail tapi tidak bertumpuk dan tidak membosankan. Pembaca seolah benar-benar dibawa ke Desa Tirta Langit dan berinteraksi dengan para warganya. Apa Anda sempat tinggal di sana sehingga mampu menceritakan semuanya secara detail?”

Aku mengangguk. “Ya, saya sempat tinggal di Desa Tirta Langit—atau biasa disebut Desa Pelosok—selama beberapa bulan. Saya begitu terpesona dan takjub oleh keasrian desa, keindahan panoramanya, juga keramahan penduduknya. Saya memang berusaha sebisa mungkin supaya pembaca bisa merasakan pengalaman yang sama—setidaknya nyaris serupa—dengan apa yang saya rasakan sewaktu tinggal di sana.”

“Lalu, bagaimana dengan tokoh-tokohnya?” tanya Mbak Tia, “Anda sukses menggambarkan secara gamblang para tokohnya, bahkan sifat-sifat mereka. Apa Anda pernah memelajari ilmu psikologi?”

Aku tertawa. “Tidak, saya bukan lulusan psikologi, meski saya memang punya sahabat dekat seorang ahli psikologi dan saya sering berdiskusi dengannya,” aku memberi jawaban. “Tapi, barangkali saya memang punya hobi buruk, yakni memerhatikan orang. Jadi, semua yang saya tulis memang hasil observasi saya. Terlebih, penduduk Desa Pelosok itu orang-orangnya sangat sederhana sehingga tidak sulit bagi saya untuk menggambarkan karakter mereka.”

Mbak Tia mengangguk-angguk. “Baik. Mungkin saya punya satu pertanyaan terakhir sebelum kita buka sesi tanya jawab dengan para hadirin,” katanya. “Pertanyaannya adalah, kenapa Anda tertarik mengangkat Desa Pelosok? Apa yang istimewa dari desa tersebut? Di awal buku Anda menuliskan bahwa desa itu hanya desa sederhana, desa biasa, bukan desa yang memiliki situs bersejarah, bukan pula desa yang memiliki objek wisata. Anda pun bukan putra desa setempat. Lantas, apa yang membuat Anda tertarik untuk menceritakan Desa Pelosok?”

Aku terdiam sejenak. Sudah kuduga pertanyaan ini akan muncul. Hanya saja, mustahil bagiku untuk menjawab secara jujur karena itu akan melanggar sumpah yang kubuat dengan warga desa. Aku juga tidak berniat untuk mengungkapkannya. Tidak, aku tidak boleh mengungkapkannya.

“Barangkali karena kesederhanaan itu sendiri,” jawabku akhirnya, “Bagi saya, Desa Pelosok adalah miniatur negeri ini yang sesungguhnya. Wajah Indonesia yang cantik alamnya, cantik pula penduduknya. Mungkin ini terdengar seperti bualan orang yang tidak realistis (aku mengundang tawa para hadirin), tapi bukankah kita memang merindukan Indonesia yang seperti itu?” aku mengakhiri jawabanku dengan senyum.

Tampaknya, aku baru saja memberikan jawaban yang mengesankan karena sekarang para hadirin memberiku tepuk tangan penuh kekaguman.

 

***

 

“Konon, pada zaman dahulu ada bidadari yang turun ke bumi untuk mandi di sebuah telaga dengan jeram kecil,” aku mulai bercerita sembari berjalan mondar-mandir di hadapan para hadirin, “Sewaktu dia mandi di sana, tiba-tiba ada seekor ular yang hendak mematuknya. Untunglah, datang seorang pemuda desa yang membunuh ular tersebut.

“Sang bidadari terkejut namun kemudian berterima kasih. Si pemuda terpesona oleh kecantikan sang bidadari. Keduanya pun jatuh cinta. Mereka menikah, hidup sederhana di desa, dan dikaruniai banyak anak. Akan tetapi, suatu hari, si pemuda itu meninggal dunia akibat terperosok ke dalam jurang, sewaktu mencari kayu bakar di hutan.

“Kematian suaminya membuat sang bidadari bersedih. Dia berlari ke telaga tempat mereka pertama bertemu. Di sana dia menangis, menangis, dan menangis terus selama tiga hari berturut-turut, hingga seluruh tubuhnya meluruh bersama air mata dan bersatu dengan telaga.”

Aku selesai bercerita. Ada kesunyian yang hadir setelahnya, yang memang kusengaja agar para pendengar bisa mencerna keseluruhan cerita.

“Jadi, Bos, telaga itu yang kita cari?” tanya salah seorang anak buahku yang berwajah sangar namun bodoh.

Aku mengangguk. “Ya. Itulah Telaga Air Mata yang kita cari!” jawabku, “Dan, telaga itu terletak di dalam hutan, tak jauh dari Desa Pelosok!”

“Rupanya, itu alasan kenapa lo susah payah neliti Desa Pelosok walaupun nggak ada hal yang menarik lainnya di sana,” tebak anak buahku yang lain, yang lebih tua dengan kumis tebal. Dia terkekeh bersama yang lain.

Mau tak mau, aku ikut terkekeh. “Ya, memang itu tujuanku,” aku mengangguk setuju, “Aku berpura-pura mengaku akan menuliskan kisah penduduk Desa Pelosok. Padahal, sebenarnya yang ingin kuketahui adalah lokasi Telaga Air Mata itu.”

“Apa Bos udah tahu lokasinya?”

Pertanyaan tersebut terasa menyengat, membuat telingaku panas dan harga diriku tertusuk. Air mukaku mengeruh sebal. Tapi, bahkan aku sendiri pun tidak bisa berbohong di hadapan dua puluh orang preman dan penjarah yang kurekrut tersebut.

Meski pahit, aku menggeleng. “Sialnya, mereka memegang teguh rahasia Telaga Air Mata. Tak peduli seberapa sering membujuk, tak peduli beberapa banyak cara yang kupakai untuk membuka mulut mereka, mereka tetap bungkam.”

“Berarti lo gagal dong?” tuduh seorang preman botak, “Gimana kita bisa ngejalanin misi kalo nggak tahu lokasi telaga?” Dia lantas mengerang kesal, merasa misi ini akan sia-sia.

Aku tetap tenang. “Justru karena itulah aku merekrut kalian semua,” jawabku, “Kalau aku sudah tahu lokasinya, aku tidak butuh dua puluh orang preman untuk menemaniku ke telaga.”

“Jadi, sebenernya lo tahu lokasinya atau nggak sih?” tanya si sangar-bodoh.

“Aku memang tidak tahu. Tapi, kepala desa tahu lokasinya,” jawabku, “Dia pernah kecepelosan, yang secara tidak langsung membeberkan fakta kalau hanya pemimpin-pemimpin desa yang diberi tahu lokasi telaga keramat tersebut.”

Aku mengambil tumpukan berkas dari dalam tas yang lalu kusebarkan di atas meja. “Nah, misi kita adalah menyandera warga satu desa dan akan membunuh satu orang setiap lima menit, jika mereka menolak untuk memberi tahu lokasi Telaga Air Mata.”

Aku melihat ada seringai dan mendengar kekehan dari para anak buahku.

“Sepertinya kami mulai mengerti jalan pikiranmu,” kata si kumis.

Aku menaikkan ujung bibir kiriku. “Aku paham karakter warga desa, aku tahu kebiasan mereka, aku hafal seluk-beluk desa, aku tahu semua tentang desa tersebut. Dengan bantuan kalian, kita akan menguasai desa tersebut dalam sekejap.”

“Oke, apa rencana lo?” tanya si botak.

“Menurut kalendar, Jumat depan adalah Hari Siratunnabi,” aku mengambil kalendar kecil dari balik tumpukan berkas, “Warga desa memiliki kebiasaan untuk mengadakan pengajian malam, dan mendengarkan khotbah di masjid, setiap ada hari besar keagamaan. Tahun lalu, sewaktu aku masih tinggal di sana, mereka pun melakukan hal serupa untuk memperingati Hari Siratunnabi. Seluruh warga desa berbondong-bondong memenuhi masjid dan tidak ada yang tinggal di rumah, kecuali ada halangan atau sakit.

“Nah,” aku mengeluarkan denah desa yang sudah kugambar dengan saksama, “Jumat malam nanti, kita akan kepung masjid desa. Kita ambil jalan memutar dari arah timur, melalui persawahan. Di sana aman. Kalau kita melewati jalan utama di selatan, akan ada beberapa pemuda desa yang menjaga desa di pos siskamling.

“Aku bersama sepuluh orang akan mengepung masjid. Kalian jaga jangan sampai ada warga yang kabur, anak-anak sekali pun. Sisanya berjaga-jaga di seluruh desa. Dua orang menjaga bagian tengah, dekat balai desa; dua orang berjaga di utara, timur, dan barat; dan dua orang berjaga di selatan sekaligus melumpuhkan pemuda-pemuda desa yang berjaga di sana.

“Selanjutnya, aku akan menyandera Surya, anak kepala desa. Jika kepala desa tidak setolol yang kuduga, dia akan memenuhi permintaan kita dengan memberitahu lokasi Telaga Air Mata berada. Aku beserta tiga orang dari kalian akan mengikuti kepala desa ke telaga. Sisanya tetap bersiaga.”

“Setelah berhasil, apa yang harus kita lakukan?” tanya si kumis.

“Aku akan segera menghubungi Pak Rasha dari Belle’s, kemudian kita pergi tanpa harus menyakiti penduduk desa. Kalau mereka memang bijaksana, mereka akan mematuhi permintaan kita.”

Sekali lagi kekehan memenuhi ruangan kecil dan pengap tersebut.

“Nggak gue sangka penulis ngetop kayak lo punya otak kriminal,” tanggap si botak. “Rencana lo brilian.”

“Hei, aku ini penulis buku national best seller dan peraih Penghargaan Sastra Nusantara, tentu saja rencanaku brilian,” kataku, menyunggingkan senyum jumawa.

“Dasar bangsat,” celetuk si kumis, mengundang tawa yang lainnya. Aku tidak tersinggung sedikit pun.

“Ada pertanyaan?” tanyaku setelah mereka selesai terbahak, “Tidak? Kalian semua sudah memahami denah desa, plot misi, SOP, dan tugas-tugas kalian, kan? Bagus! Kalau begitu, besok siang kita akan berangkat ke sana. Kita akan sampai di sana setelah magrib.”

 

***

 

Sejauh ini, aku senang karena rencanaku berjalan lancar. Memang, masih terlalu dini untuk mengatakan kalau misi kami akan sukses. Hanya saja, aku menganggap awal yang baik merupakan pertanda kalau semuanya akan berakhir dengan baik pula. Buatku, melintasi persawahan desa tanpa ketahuan merupakan sebuah awal yang baik.

Begitu kami tiba di bibir desa, kami berhenti untuk mengamati suasana. Di sana sepi, seakan Desa Pelosok telah berubah menjadi desa mati tanpa penghuni. Senyumku terkembang. Bagus, ini sesuai rencana. Seluruh penduduk desa pasti sudah menyesaki masjid sejak azan magrib menggema.

Aku memberi komando. Sepuluh orang menyebar ke seluruh bagian desa, sepuluh orang lainnya mengikutiku ke arah masjid. Kami mengendap-endap, bergerak di balik bayang malam. Bukan hal yang sulit mengingat desa ini tidak memiliki penerangan jalan. Cahaya yang ada berasa dari rumah-rumah penduduk.

Aku tak kuasa menahan seringai di wajah begitu tiba di dekat masjid. Seperti yang sudah kuduga, seluruh penduduk desa berkumpul di masjid. Benar-benar penduduk yang gampang ditebak. Tak perlu berlama-lama lagi, aku menyuruh yang lain untuk mengepung masjid. Aku sendiri melangkah ke pintu utama bersama si kumis dan si botak.

Aku menendang pintu, mengeluarkan dua tembakan peringatan ke langit-langit, dan membuat kegemparan. Jeritan dan teriakan kaget segera terdengar.

“DIAM SEMUANYA! JANGAN ADA YANG BERGERAK!” raungku, sebelum warga desa menjadi panik.

Sedetik kemudian, masjid langsung sunyi, hanya diganggu oleh tangisan satu-dua anak kecil. Semua terbelalak ngeri begitu melihat kami telah mengepung masjid. Kiai tua di mimbar pun bungkam, berhenti memberikan ceramah tentang kemuliaan nabi.

Memanfaatkan keadaan di mana semua masih syok, aku melangkah maju dan mencengkeram lengan seorang anak laki-laki. Dia menjerit. Ayahnya juga mendadak bangkit.

“DIAM DI TEMPAT ATAU SURYA AKAN KUTEMBAK!” ancamku, menghentikan gerakan sang kepala desa.

“B-Bang Ren…” Surya menatapku tak percaya. Matanya memerah tanda sebentar lagi ada air mata yang akan menyeruak.

“R-Ren… a-apa… apa maksudnya semua ini?” tanya kepala desa, kebingungan.

Aku mendekap Surya dari belakang. Lengan kiriku melingkar di lehernya, sementara moncong pistolku menempel di pelipis kanannya. Surya semakin ketakutan. Dapat kurasakan tubuh dan kakinya gemetar dalam jeri.

“R-Ren… to-to-tolong lepaskan Surya…” pinta kepala desa, mulai panik.

“Oh, tenang saja Pak Guntur. Surya akan saya lepaskan—kalian semua juga akan kami lepaskan—asalkan kalian memberitahu kami lokasi Telaga Air Mata,” kataku, langsung ke pokok masalah.

Nyaris semua warga desa, terutama para tetua, terbeliak kaget.

“Te-Telaga Air Mata?” Pak Guntur tak percaya, “K-Kamu sudah berjanji untuk merahasiakannya!”

“Dan, aku sudah menepati janjiku. Buktinya, aku tidak menyebutkan keberadaan telaga tersebut di novelku, kan?” kekehku, “Omong-omong, terima kasih, ya. Desa kalian sudah membuatku kaya raya.”

“La-Lalu, ke-kenapa kamu membawa orang-orang ini?” tanya Pak Guntur merujuk kepada preman yang kubawa.

“Oh, mereka. Maaf, aku terpaksa mengajak mereka karena kalian tidak mau memberitahukanku perihal telaga tersebut tahun lalu,” jawabku, “Jadi, karena kalian tidak bisa diajak kompromi secara baik-baik, maka aku terpaksa memakai cara kasar.”

“B-B-Bang Ren… tolong lepasin aku…” pinta Surya, yang kini sudah meneteskan air mata. Aku tidak mengacuhkan permohonannya itu.

“U-Untuk apa kau mau tahu soal telaga itu?” tanya Pak Guntur, “K-Kau su-sudah jadi penulis kaya….”

“Karena aku mau lebih kaya lagi dan aku mau lebih terkenal lagi,” jawabku. “Bayangkan! Namaku pasti akan masuk sejarah jika aku memberitahukan pada dunia bahwa aku telah menemukan… the fountain of youth—mata air awet muda!”

Lagi-lagi, para warga menunjukkan reaksi terkejut. Beberapa bahkan ada yang menekap mulutnya.

“Hehehe, sepertinya dugaanku benar,” aku tertawa senang, “Mitos mata air yang memberi keremajaan dan umur panjang ternyata benar-benar ada! Dan letaknya tidak jauh dari sini! Ternyata… legenda itu benar, ya kan, Pak Guntur? Legenda tentang bidadari Dewi Lintang yang menangisi kematian Jaka Tirta, suaminya, di sebuah telaga. Air mata dan tubuh sang bidadari yang meluruh menjadikan air telaga tersebut memiliki kekuatan magis, yang bisa menjaga kecantikan, menyembuhkan penyakit, dan memperpanjang usia.”

Pak Guntur tidak berkata apa-apa. Dia mengatupkan rahang bawahnya dengan erat, tak sudi mengatakan apa pun kepadaku.

“Dugaanku itu semakin diperkuat sewaktu tanpa sengaja aku melihat KTP-mu, Pak Guntur,” lanjutku. “Nah, coba kalian tebak berapa usia Pak Guntur ini, teman-teman,” kataku, beralih ke si kumis dan si botak.

“Empat puluh tahun?” si kumis menebak.

“Empat puluh dua? Empat puluh tiga?” tebak si botak.

“Kalian salah! Usia Pak Guntur ini sudah enam puluh tahun!” kataku, mengagetkan keduanya. “Dia—juga warga desa lainnya—pasti sudah meminum air dari telaga tersebut! Aku yakin Surya kecil ini juga sudah meminumnya. Katakan pada Bang Ren, Sur, berapa umurmu, hah? Dua puluh? Dua puluh lima? Mustahil usiamu empat belas tahun, kan?”

Surya tidak menjawab. Dia terisak-isak, berusaha melepaskan diri dari belitan lenganku.

“Dan, bayangkan berapa banyak keuntungan yang kudapatkan dari Telaga Air Mata itu!” aku meneruskan. “Perusahan kosmetik Belle’s telah memberiku kontrak ratusan juta rupiah plus 10% keuntungan penjualan dari semua produk mereka yang berbahan dasar air dari telaga tersebut. Intinya, aku bisa tetap kaya tanpa perlu bekerja lagi seumur hidupku! Oh, tentu saja aku juga akan tetap awet muda dan panjang umur. Asyik, kan?”

Si kumis dan si botak terkekeh.

Okay, back to business!” ujarku lantang, “Kalian beri tahu di mana lokasi telaga tersebut maka tidak ada yang akan terluka! Aku janji!”

“Tidak!” tegas Pak Guntur, “Kami telah bersumpah untuk melindungi telaga tersebut selama berabad-abad! Dan, kami tidak akan melanggar sumpah itu hari ini hanya untuk memenuhi permintaan dari manusia bodoh seperti dirimu!”

Aku mengangkat bahu. “Terserah kalian,” kataku santai, “Jika kalian tidak mau memberitahukan di mana lokasi telaga itu, kami akan membunuh satu orang setiap lima menit! The choice is yours! Yang jelas, Surya akan jadi korban pertama!”

“Ja-Jangaaan…!” isak Surya, mulai mencakar-cakar lenganku dengan panik. Usaha yang tak berarti karena dia hanya menyakiti lengan jaketku.

“Kalau kamu memang cerdas, pulanglah dengan damai, Ren!” pinta Pak Guntur, tegas, “Kami tidak akan melaporkan kalian ke polisi jika kalian pergi sekarang!”

Mendengarnya, aku dan yang lain tertawa terbahak-bahak. Dasar sombong! Dia pikir dia bisa melakukan tawar-menawar dengan kami?

“Aku akan hitung sampai sepuluh,” kataku, “Kalau kalian tidak membuka mulut juga, Surya akan mati.”

“Bang Ren… tolong… jangan…” pekik Surya.

“Sepuluh!”

“Kamu tidak akan berani!” raung Pak Guntur.

“Coba saja kau buktikan!” tantangku, “Sembilan!”

“Demi Tuhan! Ini masjid! Jangan lakukan itu!” kali ini kiai tua di dekat mimbar berseru memohon.

“Delapan… tujuh…”

“Hehehe. Tembak saja langsung kepalanya, Ren!” kekeh si botak.

“Enam… lima…”

“Tolong, Bang Ren… jangan lakukan…” Surya menangis.

“Empat… TIGA…”

“REN REVALDY!”

“DUA! AKU AKAN MELAKUKANNYA! CEPAT BERI TAHU!”

“KUPERINGATKAN KAU!”

“SATU! DASAR KALIAN PENDUDUK TOLOL!”

“JAGAN LAKUKAN!”

Terlambat! Aku keburu menarik pelatuk pistol. Ledakan terdengar dan kepala Surya pun pecah. Darah terciprat dari kedua pelipis begitu peluru menembus kepalanya. Seisi masjid berteriak ketakukan. Tubuh Surya jatuh ke lantai, tewas bersimbah darah.

Para preman segera menyiagakan senapan masing-masing, siap menembak penduduk yang berlaku bodoh. “DIAM! DIAM SEMUANYA! JANGAN ADA YANG BERGERAK! ATAU KALIAN AKAN KAMI TEMBAK!” seru si kumis.

Aku sendiri menarik napas sebal. Kubersihkan cipratan darah Surya dari pipiku.

Kulihat si kepala desa berdiri gemetar menahan duka. Kedua tangannya terkepal erat dan pipinya dibasahi air mata. Namun, entah bagaimana caranya dia masih mampu memasang ekspresi tegar yang menguarkan kesedihan sekaligus kemarahan.

“Dasar bodoh kalian semua. Kalian membunuh anak yang tak berdosa ini,” kataku, menunjuk jasad Surya di lantai. “Tapi, mungkin ada bagusnya juga sebab sekarang kalian tahu kalau kami serius. Kami tidak main-main! Ayo, siapa lagi yang mau jadi korban selanjutnya?”

“Kau akan menyesal, Ren!” suara Pak Guntur bergetar dalam amarah.

“Atau kalianlah yang akan menyesal,” balasku santai.

“SURYA! AYO BANGUN! JANGAN TIDUR SAJA!” serunya.

Aku terperangah tak percaya mendengar seruan si kepala desa. Astaga, jadi dia belum bisa menerima kenyataan kalau anaknya sudah tewas? Kasihan sekali dia. Aku menggeleng-gelengkan kepala dengan iba. Mungkin aku tadi sudah sedikit keterlaluan sehingga membuatnya syok parah. Tapi, ya sudahlah.

Aku menghela napas. “Hei, Botak, ambil satu perempuan. Korban selanjutnya haruslah seorang wanita,” kataku.

Si Botak dengan senang hati melangkah ke bagian belakang masjid.

“Dasar manusia terkutuk!”

Aku terkejut mendengar suara orang di sampingku. Begitu kutolehkan kepala, aku terbelalak tak percaya. Sepersekian detik berikutnya, sebuah tinju melayang ke pipiku. Aku menjerit kesakitan dan tubuhku ambruk ke lantai.

“Mu-Mustahil!” mataku terbeliak liar. Akal sehatku menjerit-jerit protes. Aku pasti salah lihat! Yang baru saja meninjuku adalah Surya! “Ba-Bagaimana mungkin?”

Di depanku, Surya berdiri sambil mengelap pelipisnya yang berdarah. Hanya saja, tidak ada lubang peluru di sana! Pelipisnya kembali seperti sedia kala! Dia hidup lagi! Bukan dalam wujud hantu gentayangan atau zombie! Dia benar-benar hidup lagi!

“SEMUANYA! SERANG! HABISKAN PARA BEGUNDAL TAK TAHU DIRI INI!” seru Pak Guntur.

Aku menjerit saat punggungku menabrak pintu masjid dan terbang keluar. Aku juga mendengar teriakan preman yang lain diiringi suara pecahan kaca jendela. Angin malam memukul-mukul bagian belakang tubuhku. Aku tidak tahu bagaimana ini bisa terjadi, pun tidak tahu bagaimana cara menjelaskannya, karena aku baru saja terbang ke udara!

Bukan! Bukan aku yang terbang, melainkan Pak Guntur yang membawaku terbang ke langit malam. Di bawah sana, kudengar suara teriakan, letusan senjata api, serta debum dan derak mengerikan.

Aku tidak bisa berpikir jernih. Panik dan ketakutan melanda. Sorot mata Pak Guntur yang sedemikian tajam dan dipenuhi kebencian membuat nyaliku ciut, hilang dikikis angin. Dia mendekapku dengan erat, membawaku melesat cepat ke ketinggian entah berapa puluh meter di udara.

“SIAPA KALIAN SEBENARNYA? APA-APAAN INI?” jeritku, sewaktu Pak Guntur terus membawaku terbang ke langit.

“Kami—seluruh penduduk desa—adalah keturunan Dewi Lintang dan Jaka Tirta,” jawab Pak Guntur dingin, “Kami mewarisi darah serta kesaktian sang bidadari.”

Aku terperangah. Cerita macam apa itu?

“Kami bersumpah untuk menjaga Telaga Air Mata yang menjadi tempat peristirahatan terakhir leluhur kami tersebut. Selama berabad-abad, kami berusaha merahasiakannya. Karena itulah, kami juga melarang seluruh penduduk untuk memamerkan kekuatan mereka. Dunia tidak boleh mengetahui tentang kami! Kalian pun tidak boleh mengetahui tentang kami!”

Aku tidak bisa berkata apa-apa. Aku bahkan sulit mencerna semuanya! Ini tidak masuk akal! Ini tidak mungkin terjadi!

“Kau boleh saja mengetahui tentang desa kami, tentang karakter kami, seperti yang kamu tulis di novelmu itu,” tambah Pak Guntur, berhenti di tengah udara. “Tapi, kamu tidak tahu tentang kekuatan kami yang satu ini, kan?”

Aku terbata-bata. Mulutku berkecumik tanpa ada sepatah kata pun yang keluar. Aku bahkan tak sanggup menghentikan gemetar yang menjalar di seluruh tubuhku, apalagi membendung air mata yang mengalirkan rasa takut.

“Hehehe, sepertinya dugaanku benar,” ujar Pak Guntur tersenyum sinis.

“To-To-Tolong jangan bunuh aku…” cicitku, meratap minta ampun.

“Sudah terlambat, Ren. Sudah kubilang, kan, kalau kau akan menyesal. Sayang sekali. Kupikir, kamu adalah pemuda cerdas dan arif karena kau seorang penulis. Rupanya, aku salah menilaimu. Kamu sama saja dengan orang-orang tolol dan tamak lainnya, yang berusaha menemukan Telaga Air Mata untuk kepentingan mereka sendiri.”

“To-Tolong… ma-maafkan aku…” pintaku lagi, dibanjiri air mata. Penyesalan, rasa takut, dan urin merembes keluar. Kebekuan merembet naik dengan cepat dari kakiku.

“Nah, pergilah dengan tenang,” kata Pak Guntur membuatku berteriak-teriak takut laksana babi yang hendak disembelih, “Semoga Tuhan mengampunimu yang telah berbuat kejahatan di dalam rumah-Nya.”

Jantungku mencelos begitu Pak Guntur melemparku ke udara.

TIDAAAAAAAAAAK!”

Aku menjerit lantang ketika tubuhku ditarik oleh gravitasi. Kulihat Pak Guntur semakin mengecil, melayang bersama bintang di langit. Angin menderu-deru liar, kegelapan memekat, dan aku pun masuk ke dalam pelukan sang maut… hanya ditemani oleh laungan penyesalanku yang menggema di malam nan sepi.

 

***

 

Bogor, April 2014

Edit: Mei 2014

@AdhamTFusama