[Resensi Film] Submarine (2010) – Richard Ayoade


Submarine

Submarine (2010)

Directed by: Richard Ayoade

Written by: Richard Ayoade

Based on: Submarine by Joe Dunthrone

Starring: Craig Robert, Yasmin Paige, Sally Hawkins

Running time: 97 minutes

Country: United Kingdom

 

MENYELAMI KEHIDUPAN REMAJA BERSAMA OLIVER TATE

 

Jordana and I enjoyed an atavistic, glorious fortnight of lovemakin’, humiliatin’ teachers and bullying the weak. I have already turned these moments into the Super-8 footage of memory.”

 

Remaja 15 tahun bernama Oliver Tate jatuh cinta pada Jordana, cewek sekelasnya yang sering mengenakan jaket merah. Di mata Oliver, Jordana adalah cewek yang unik. Dia tidak populer tapi bukan pula seorang outcast, dia terlihat seperti anak baik-baik tapi kadang badung juga. Oliver sendiri sebenarnya termasuk introver meski sesekali berbuat nakal untuk menarik perhatian Jordana.

Usahanya berhasil. Jordana menyuruh Oliver untuk datang ke bawah jembatan dengan membawa kamera polaroid. Oliver kaget sewaktu Jordana malah menciumnya dan memotret aksi mereka itu dengan kamera.

“Ulah” Oliver itu membuat pacar Jordana—seorang jock dan bully di sekolah meradang. Oliver dibuat babak belur meski pada akhirnya dia mendapatkan Jordana, setelah cewek idamannya itu putus dari pacarnya yang brengsek. Itu adalah secuil kebahagiaan yang dirasakan Oliver dalam hidupnya selama ini.

Di rumah, Oliver adalah anak tunggal dari pasangan Lloyd dan Jill yang membosankan. Pernikahan keduanya sudah lama dingin. Suatu hari, mereka mendapat tetangga baru, seorang pria eksentrik yang Oliver sebut sebagai “Ninja”. Ternyata, si Ninja adalah cinta pertama ibunya. Oliver pun khawatir pernikahan orangtuanya akan berakhir, terlebih saat mencurigai ibunya berselingkuh dengan si Ninja.

Formula “cowok introver dapat pacar” juga “keluarga yang diambang kehancuran” barangkali bukan formula baru di film-film remaja. Jika ditangani dengan asal-asalan bukan tidak mungkin film seperti itu akan berakhir menjadi film yang dangkal, klise, bahkan pretensius. Untungnya di tangan Richard Ayoade, hal-hal tersebut bisa dihindari.

Sebaliknya, film ini menyajikan kehidupan remaja yang cukup pelik, tanpa harus menjadi rumit. Narasinya yang self-aware berhasil membangun cerita dan tokohnya secara natural tanpa harus bersusah payah terdengar pintar. Oliver digambarkan sebagai pemuda yang cerdas dan agak quirky, tapi masih berusaha membaur dan diterima meski sesekali canggung serta tidak tahu harus melakukan apa. Boleh dibilang, itulah yang membuatnya menawan sehingga mampu mengundang simpati penontonnya.

Ayoade menggarap film ini secara pas. Apa yang dituangkan ke dalam layar memiliki kadar yang tepat, membuat film ini mampu berbicara banyak tentang kehidupan remaja yang penuh kegelisahan tanpa perlu menjadi berlebihan dan overdramatic.

Selain itu, film ini pun digarap Ayoade dengan penuh percaya diri, terlihat lewat beberapa shoot-nya yang stylish dan artsy. Lihat saja bagaimana dia berhasil membangun mood memanfaatkan Swansea—kota di Wales, tempat Oliver tinggal—yang dingin dan mendung. Gaya retro ala 90’an juga cukup kental terasa memberi warna tersendiri bagi filmnya.

Pada akhirnya, film ini tak sekadar merayakan pahit-manisnya kisah cinta remaja, melainkan juga merayakan kasih sayang mereka pada orangtua. Ada kalanya Oliver dihadapkan oleh opsi rumit: mendahulukan pacar atau keluarganya. Ada kalanya dia berusaha untuk mengutamakan keduanya, tapi akhirnya dia tahu kalau dia harus memilih salah satunya dan mengorbankan yang lainnya. Submarine jelas merupakan salah satu film remaja dan coming of age yang patut disaksikan.

 

Penilaian: 3,5/5

 

@AdhamTFusama

 

Advertisements