Sharing Kepenulisan Fiksi Gratis


writing

Jadi ini semua bermula ketika saya berjumpa dengan Mbak Trinity, yang datang untuk mengisi acara di kantor Bentang Pustaka. Kami sempat mengobrol singkat, sebelum Mbak Trinity naik ke atas panggung bersama Mbak Claudia Kaunang. Mbak Trinity bertanya-tanya soal diri saya. Selain sebagai editor, saya juga seorang novelis.

Mbak Trinity berceletuk, “Wah, gue pengen tuh bisa nulis novel. Apa aja sih tip dan trik menulis novel?” Saya jawab apa yang saya tahu (baca: karena saya penulis otodidak, maka yang saya jawab cuma pengalaman-pengalaman menulis saya saja).

Mbak Trinity melanjutkan, “Kenapa lo enggak buka kelas menulis?” Saya tertawa waktu itu, mengira Mbak Trinity cuma bercanda atau menyindir. “Ah, ilmunya masih cetek, Mbak. Apalagi saya belum punya nama,” jawab saya, ketahuan sekali punya inferiority complex. Saya melanjutkan, “Lagipula, sudah banyak kok penulis-penulis senior yang sudah bikin kelas serupa.”

“Siapa aja?” tanya Mbak Trinity.

Saya menyebut beberapa nama, termasuk seorang sastrawan.

“Ah, dia jelek,” tanggap Mbak Trinity, blak-blakan. “Udah, mending lo aja yang bikin kelas menulis.”

Saya lagi-lagi cuma tertawa. Tapi, Mbak Trinity malah menatap saya dengan pandangan mencela, seakan mau bilang “Alah, cemen lo. Gitu aja gak berani.” Yah, itu memang hanya kesan yang saya dapatkan sih, tidak tahu apa yang betul-betul Mbak Trinity pikirkan saat itu. Dan, saya pun tidak sempat menanyakannya sebab Mbak Trinity sudah dipanggil untuk naik ke panggung. Tinggallah saya yang cuma bisa terdiam, memikirkan dalam-dalam ucapana Mbak Trinity.

Saya mulai menilai diri sendiri. Apa saya bisa? Apa ada yang mau? Apa ini? Apa itu? Apa gajian sudah mendekat? #eh

Pokoknya, saya jadi galau deh gara-gara Mbak Trinity. Tapi, pada akhirnya saya bilang ke diri sendiri. “Oke deh! Siapa takut! Cuma bikin kelas menulis doang!”

Lalu, bisikan busuk di hati saya bertanya, memangnya bisa?

“Bisa!” jawab saya.

Terus, siapa yang mau ikut ke kelas menulis lo?

“Ya, siapa saja yang mau!”

Caranya?

“GRATIS! Gue gratisin tuh kelas menulis! Yang mau datang, silakan, yang nggak mau datang juga silakan!”

Pede banget lo sok-sok bikin sharing kepenulisan.

“Udah, enggak usah bawel lagi! Jalan aja!”

Shameless!

*

Jadi, yah, kurang lebih begitulah. Setelah memikirkan masak-masak, saya coba untuk memulai sharing kepenulisan! Bismillah!

Berikut konsep sharing kepenulisannya!

  • Sharing kepenulisan ini untuk tulisan fiksi berupa prosa (cerpen atau novel).
  • Akan ada 4 sesi. Setiap sesi akan dilaksanakan setiap hari Minggu sore.
  • Sesi mengonsep cerita (6 September), sesi memulai tulisan (13 September), sesi mengedit dan trik menerbitkan (20 September), dan sesi diskusi (27 September).
  • Setiap sesi berlangsung lebih kurang 2 jam.
  • Tempat masih tentatif, tapi insya Allah masih di kawasan kota Yogyakarta.
  • Info lebih lanjut akan disampaikan lewat Facebook atau Twitter.

So, bagi yang mau ikut, silakan daftar saja ke e-mail saya adhamology@gmail.com dengan subjek [SHARING KEPENULISAN]. Cantumkan nama lengkap, nomor yang bisa dihubungi, dan alamat media sosial (Twitter, IG, FB). Atau, nanti langsung datang saja ke venue. Tidak ada yang melarang kok.

Lalu, apa yang harus dipersiapkan? Ya, paling tidak buku dan alat tulis. Bawa notebook/laptop juga boleh. Bawa pacar, mantan, lalu, dan snack juga boleh. Tidak dilarang kok, kecuali bawa yang bahaya-bahaya, seperti senjata, narkotik, atau kenangan masa lalu bersama si dia.

Yah, mungkin itu dulu. Kalau ada yang mau tanya-tanya, silakan mampir ke Facebook saya, atau mention dan follow Twitter saya @AdhamTFusama.

See you at September!

*

Oh, FYI, saya belum bikin nama kelas sharing kepenulisan ini, karena bingung mau dinamain apa. Ada yang mau nyumbang ide? 😀

Info ini juga boleh banget kok di-share. Tolong bantuin ya, kakak-kakak kece dan dedek-dedek emesh. 😀

Advertisements