Deleted Scene Rahasia Hujan #5: Nothing Here but Love


Halo halo! Saya datang lagi nih untuk mem-posting deleted scene di naskah Rahasia Hujan yang gagal muncul di novel. Akhirnya, kita memasuki adegan Amazing Thirty! Pada proses editing, adegan-adegan ini dibuang supaya cerita di novel tidak bertele-tele.

Catatan: adegan berikut berasal dari draft awal yang tidak mengalami proses editing sehingga mungkin sekali terdapat kesalahan EyD, typo, dan lain sebagainya. Harap menjadi maklum!

Selamat menikmati!

 

***

 

Jackie Kennedy

Jackie Kennedy

Ujian tengah semester datang juga bagai awan mendung bagi sebagian besar siswa yang mencemaskan nilai-nilai mereka. Seolah memahami perasaan kami, langit Bogor menyetel cuaca yang serupa. Hujan yang tidak menentu melambangkan kebimbangan kami terhadap masa depan. Hujan deras menggantikan air mata yang ingin sekali kami tumpahkan setelah ujian matematika selesai.

Akan tetapi, laksana pepatah ada terang setelah badai, ada cerah pula setelah ujian berakhir. Beban selama seminggu seolah lenyap begitu saja. Malam-malam panjang menghapal rumus dan membuat contekan selesai sudah. Nilai-nilai buruk yang barangkali akan kami dapatkan bisa menunggu, karena Pensi Amazing Thirty akhirnya menyapa.

Suka cita terpancar sedemikian kuatnya hingga mampu mengusir awan-awan hitam, sekaligus mengundang matahari untuk muncul. Para siswa datang ke Pensi dengan pakaian ragam warna. Peserta lomba menggambar, melukis, dan lomba-lomba lainnya—yang tidak perlu tampil di panggung—hadir dengan busana kasual. Pakaian sehari-hari. Berbeda dengan mereka yang akan unjuk gigi di hadapan banyak orang.

Aku salah satunya. Aku hadir dengan pakaian yang telah dipersiapkan Nadine tempo hari. Dibalik jas, aku mengenakan kemeja jingga pucat dengan dasi kupu-kupu. Setelah dipikir-pikir, aku keren juga. Teman-temanku memberikan reaksi beragam, tapi setidaknya penampilanku menjadi bahan perbincangan.

Yang mengejutkan justru penampilan Mamet.

“Lho, bukannya lo mau ikut lomba nyanyi, Met? Simpel amat penampilan lo,” tanggapku, melihat Mamet datang mengenakan kaos dan celana cargo 3/4, “Gue kira lo bakal tampil gila-gilaan.”

“Oh, so pasti. Tapi, gue pakai kostum nanti aja, pas mau tampil. Gue mau ngasih kejutan, mau bikin BOPER geger hari ini.”

Dan, aku percaya dia akan melakukannya. Aku tidak tahu apa yang akan dia kenakan nanti, tapi aku yakin dia akan mencengangkan. Kendati demikian, itu urusan nanti. Untuk sekarang, orang yang penampilannya paling mencengangkan adalah… pacarku sendiri.

Jujur, aku sampai terperangah melihat penampilannya. Di belakangku, Mamet dan yang lainnya memberikan komentar serta siulan takjub. Aku yakin Nadine mendapat bantuan dari Tante Siska dan butiknya, sebab pagi ini dia menjelma menjadi Jacqueline Kennedy masa kini.

Rambut pendeknya disasak, menyerupai gaya rambut sang mantan istri mendiang presiden John F. Kennedy itu. Namun, sasakannya lebih sederhana dan modern. Ada pula bando putih yang bertahta di sana.

Bajunya adalah gaun A-line warna pink salmon sepanjang lutut, dipadu cargidan warna gading. Dia juga mengenakan sarung tangan putih, stocking warna senada setinggi lutut, serta sepatu pump krem muda. Dan, ada bros chrysanthemum di cardigans-nya.

“Hei, Panpan. Gimana menurut kamu?” tanya Nadine.

Aku yang ditanya malah menoleh ke belakang kanan dan ke belakang kiriku. “Ma-Maaf, Nona Cantik berbicara dengan saya?”

Nadine terkikik mendengar kelakarku sementara Mamet dan yang lainnya menepak belakang kepalaku, mengataiku “Norak!”, dan membuatku tertawa.

“Kamu cantik banget,” ucapku sungguh-sungguh seraya mengusap-usap belakang kepala. “Stunning.”

“Terima kasih.”

Tanpa basa-basi, aku menyodorkan lenganku. Nadine menggamitnya dan kami berjalan ke dalam sekolah diiringi sorakan sirik teman-teman kami.

Penampilan Nadine memang mengundang decak kagum. Semua memuji gayanya yang berbeda dari siswi lainnya. Dia tak terduga. Berbeda dengan Yuni—misalnya—yang sudah jelas berpenampilan ala girlband Korea.

Pukul sembilan, Pensi Amazing Thirty dimulai. Pak Hafiz—kepala sekolah kami—memberi sambutan di panggung lapangan utama. Beliau juga membuka acara secara resmi. Setelahnya, para peserta menyebar ke tempat perlombaan yang telah disediakan. Lomba menyanyi akan diadakan di lapangan utama, lomba modern dance di gedung olahraga, dan lomba lainnya di ruang-ruang kelas.

Aku dan Nadine mendapat urutan tampil tidak begitu jauh. Jadi, kami memilih untuk menyaksikan penampilan para peserta sebelum kami. Ada yang bernyanyi solo, ada pula yang hadir bersama band masing-masing. Yang duduk di kursi juri ada Bu Reni, Mas Rian—guru kesenian, dan Bu Ajeng—guru bahasa Inggris.

Penampilan teman-teman kami banyak yang bagus. Nadine tampak cemas sehingga menyarankanku untuk berlatih dulu sebentar. Namun, aku menggenggam dan menepuk-nepuk pelan tangannya. “Gapapa. Kamu pasti bisa kok. Tenang aja. Apa pun hasilnya nanti, yang penting kita bergembira,” bisikku padanya.

Nadine tersenyum mendengarnya. Setelah itu, dia jadi jauh lebih tenang.

Nomor urut kami pun dipanggil. Kami bangkit dan naik ke panggung diiringi tepuk tangan meriah. Sambutan yang membantu Nadine mendapatkan kembali kepercayaan dirinya. Kami mengambil posisi masing-masing: Nadine berdiri di depan mic, aku berdiri membawa gitar di sebelahnya. Ada mic bertiang rendah di depan gitarku.

“Selamat pagi teman-teman SMAN Bogor Persada!” sapa Nadine ke penonton, yang dibalas dengan meriah oleh mereka. “Pagi ini kami akan mencoba menghibur teman-teman dengan sebuah tembang cinta. Tapi, lagu ini bukan cuma untuk kalian yang sudah punya pacar saja. Lagu ini juga ditujukan buat kalian yang memiliki sahabat, buat guru-guru kita, juga buat sekolah kita tercinta.”

Penonton bertepuk tangan. Nadine menoleh ke arahku dan aku mengangguk tanda siap. “Baiklah kalau begitu. Tidak perlu berlama-lama lagi, inilah Nothing Here but Love dari Lenka. Semoga kalian terhibur.”

Aku memetik gitar dan Nadine bernyanyi.

 

Lying under setting sun

The day is done, my heart is won

We hold each other, friends or lovers

High above, there’s nothing here but you and me.

 

Suara Nadine yang lembut cocok sekali menyanyikan lagu bernada dan berlirik manis itu. Sambil bernyanyi, dia menggoyangkan badannya ke kanan dan ke kiri sesuai irama. Goyangan sederhana tersebut mengingatkanku pada grup vokal wanita era 60-an.

Barulah aku memahami konsep yang diusung Nadine. Ternyata, dia memang sudah merencanakan semuanya, memikirkan semuanya. Aku menggeleng takjub. Pacarku memang hebat. Aku yang bodoh ini malah sempat memprotesnya. Dasar tidak tahu diri.

 

We’ll never end, we’re innocent, we’re heaven-sent

We’re born together, die together

Live forever, there’s nothing here but love.”

 

Tanda dikomando, para penonton ikut menyanyikan reff lagu. Mereka juga ikut bergoyang seperti Nadine.

 

Sweet love

It’s all we know, so can I show you love?

Sweet love, take time to grow

There’s nothing here but love.”

 

Senyumku mengembang. Sambutan penonton yang hangat membuat kami berdua semakin bersemangat. Mereka bernyanyi dan menari bersama. Bahkan Anggi turut menonton aksi kami. Dia melihat ke arahku, ikut melafalkan lirik “So, can I show you love?” bersama yang lain.

 

Take me where the days are fun

Where everyone knows everyone

We’ll love together, live together

We will never be let down.”

 

Eh, tunggu! Bukankah Anggi seharusnya sedang mengikuti lomba menggambar? Lalu, kenapa dia ada di sini? Aku langsung mencari sosoknya lagi. Mataku memindai liar ke arah penonton. Tidak ada. Aku tidak menemukan sosoknya.

Apa aku tadi salah lihat?

 

Oh you will see, it’s meant to be

We’re living life, we’re wild and free

We’re falling under, right from under

Oh, my darling there’s nothing here but love.”

 

Nadine mencopot mic dari tiangnya, sebelum berjalan ke bibir panggung. Saat akan sampai ke bagian reff lagi, dia mengayunkan tangan, memberi kode supaya penonton bernyanyi bersama.

 

Sweet love

It’s all we know, so can I show you love?

Sweet love, take time to grow

There’s nothing here but love.”

 

Nadine mundur kembali ke posisi semula. Kemudian, dia melakukan improvisasi. Dia mencondongkan badannya ke samping, miring ke arahku. Telapak tangan kirinya diletakkan di bagian belakang telinga, lalu dia melafalkan lirik berikut:

 

Can you whisper into my ear

The words that I love to hear?”

 

Aku ikut-ikutan berimprovisasi. Kuhentikan petikan gitarku, membuat penonton heran. Kucondongkan tubuhku ke depan mic. Dan, dengan sepenuh hati kuucapkan…

I love you, Nadine…”

Sontak penonton menggila. Mereka tidak menyangka. Sorak-sorai pun membahana. Bahkan para juri memberi tepuk tangan pada kami.

Nadine terkejut sekaligus tersipu malu. Dia menempelkan tiga jari ke bibir, lantas menempelkan jemarinya itu ke pipiku.

Sekali lagi, kami membuat penonton berseru histeris.

Aku merapatkan diri di depan mic bersama Nadine. Selanjutnya, kami bernyanyi bersama. Penonton juga.

 

Love, sweet love

It’s all we know, so can I show you love?

Sweet love, take time to grow

There’s nothing here but love

Sweet love

It’s all we know, so can I show you love?

My love, take time to grow

There’s nothing here but love

Love…

There’s nothing here but love

Love…

 

Dan, kami pun selesai. Detik berikutnya, kami diterpa gemuruh apresiasi yang menggetarkan. Aku tersenyum dan membungkuk bersama Nadine. Napasku terhela lega. Setidaknya kami sudah memberikan yang terbaik.

“Terima kasih teman-teman semuanya,” kata Nadine, memberikan penutup, “Selamat ulang tahun buat SMAN Bogor Persadar tercinta. Semoga tetap amazing di tahun-tahun berikutnya. Terima kasih!”

Tepuk tangan masih terus terdengar sewaktu kami turun dari panggung. Di bawah, Mamet langsung menarikku, menjepit kepalaku dengan lengan, lantas memberiku jitakan-jitakan gemas. “Anjrit lo, Pan! Lo keren banget! Bangke! Lo keren banget, brengsek! Temen gue hebat banget! Syaiton nirrodjim maneh!”

Aku berseru meminta ampun di tengah derai tawa. Nadine sendiri terkikik melihat ulah kami. Akhirnya Mamet melepaskanku, sebelum mengucapkan, “Congrats ya, Pan. Setan. Tadi itu hebat banget. Sialan. Sirik gue.”

“Hahaha. Makasih banyak ya, Met. Sukses buat penampilan lo nanti.”

 

***

 

Alasan diganti: pada awalnya, Rahasia Hujan merupakan naskah romance yang mengandung sedikit unsur thriller. Namun, dalam proses revisi, penerbit menyarankan supaya unsur thriller-nya diperkuat. Jadi, banyak adegan romansa di naskah Rahasia Hujan yang diganti dengan adegan-adegan yang berfungsi untuk memperkuat unsur thriller-nya. Salah satu yang paling signifikan adalah dibuangnya adegan-adegan di Amazing Thirty.

Nantikan deleted scene terakhir Rahasia Hujan ya!

 

@AdhamTFusama

Advertisements

2 thoughts on “Deleted Scene Rahasia Hujan #5: Nothing Here but Love

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s