Deleted Scene Rahasia Hujan #1: Rumah


Seperti yang telah saya janjikan sebelumnya, saya akan posting beberapa adegan di naskah Rahasia Hujan yang gagal muncul di novel. Pada proses editing, adegan-adegan ini mengalami perubahan atau dibuang supaya cerita di novel tidak bertele-tele.

Berikut ini saya muat adegan yang mengalami perubahan. Pada novel, adegan berikut diganti supaya lebih ringkas. Bagi yang telah membaca, pasti bisa menebak adegan mana yang mengalami perubahan. Bagi yang belum, tenang saja, karena adegan ini tidak mengandung spoiler.

Catatan: adegan berikut berasal dari draft awal yang tidak mengalami proses editing sehingga mungkin sekali terdapat kesalahan EyD, typo, dan lain sebagainya. Harap menjadi maklum!

Selamat menikmati!

 

***

 

Jalan Sudirman, Bogor

Jalan Sudirman, Bogor

Berkat Anggi, aku jadi semakin rajin belajar akhir-akhir ini. Aku ingin seperti dia, yang bisa sedikit bersantai tapi tetap mendapat nilai yang bagus. Jadi, sore itu—sepulang sekolah dan kencan—aku mengerjakan PR Biologi sembari menjaga warung.

Kendati demikian, baru saja kuselesaikan setengahnya, Ibu sudah memanggilku dari dalam rumah. Aku pun menutup buku dan memenuhi panggilan beliau. Di dapur, Ibu sedang menulis sesuatu di atas secarik kertas.

“Ya, Bu?” tanyaku.

“Pan, tolong belikan stok buat warung, ya? Tadi Ibu udah nelepon si Koko. Dia udah nyiapin barangnya, tinggal kamu ambil aja. Ini list-nya,” Ibu menyerahkan kertas yang tadi beliau tulis kepadaku.

Aku membaca daftar belanjaan tersebut. Sebagian besar adalah makanan ringan, cokelat, dan permen. Sisanya gula, saos, dan susu.

“Ini uangnya. Nanti, kamu cek dulu jumlah barangnya, ya?”

“Oke, Bu,” aku mengangguk paham.

Aku pun bergegas, mengambil jaket dan kunci motor. Semenit kemudian, aku sudah memacu motorku ke arah Pasar Anyar.

Ibu selalu membeli stok barang dagangan di Koh Jimmy. Dia pemilik salah satu toko grosir terlengkap di Pasar Anyar. Orangnya mungil tapi mirip petasan. Gerakannya cepat, bicaranya cepat, caranya menghitung uang pun cepat—jemarinya bisa bergerak laksana alat penghitung uang di bank. Baginya, uang dan waktu adalah dua hal yang paling berharga, yang tidak pernah dia sia-siakan sedikit pun.

Pulangnya, aku menghindari rute depan stasiun agar tidak terjebak macet. Kuarahkan motorku ke Jalan Sudirman yang lengang meski aku harus memutar lebih jauh. Di tengah perjalanan, tanpa kuduga, aku bertemu dengan Anggi.

Semula, kukira dia cuma orang asing yang berdiri kebingungan di pinggir jalan. Namun, setelah kulihat rambut ikalnya, tubuh kurusnya, dan kulit putihnya, aku yakin orang itu adalah Anggi. Maka, kupelankan laju motor untuk memastikan dugaanku tersebut. Ternyata benar. Yang berdiri di seberangku itu adalah Anggi.

Aku mematikan mesin motor lalu berseru memanggilnya. “Hoi! Anggiii!”

Orang yang kupanggil menoleh dan terkejut tatkala melihatku. Aku menurunkan standar motor lantas menyeberangi jalan untuk menghampirinya. Anggi terlihat gelisah, antara tidak ingin kuhampiri sekaligus tidak bisa pergi begitu saja.

“Hei, Gi. Lo mau ke mana?” tanyaku, melihat dia mengenakan jaket dan celana jin.

“M-Mau pulang.”

“Emangnya dari mana?”

“Botani Square.”

“Rumah lo di daerah ini?”

Anggi menggeleng. “Bu-Bukan. Di Dramaga.”

“Dramaga? Waduh, jauh banget,” aku sedikit terkejut. “Terus, kenapa lo di sini?”

Anggi tidak langsung menjawab. Dia tampak ragu, meremas-remas tali tas hijau kesayangannya. “Eeerr… tadi aku salah naik angkot,” jawabnya.

Demi mendengar jawaban tersebut, aku terperangah. Nyaris saja aku tertawa walau berhasil kutahan. Di saat seperti ini, aku benar-benar tak mau menyinggung perasaannya. Dan, aku juga bersyukur karena dia menunduk sehingga tidak melihat ekspresiku tadi.

“O begitu. Kalo gitu, gue anterin lo pulang deh,” aku menawarkan.

“E-Eh, j-jangan. Tidak usah,” tolak Anggi, menggeleng.

“Gapapa. Lagipula kalo naek angkot dari sini pasti bakal ribet. Harus gonta-ganti angkot. Mending gue anterin aja.”

Anggi diam lagi. Kakinya bergerak bimbang dan matanya bergerak rikuh ke sana ke mari. Dia seperti sedang mencari solusi lain sehingga punya alasan untuk menolak tawaranku. Nyatanya, dia tidak menemukan jalan lain.

Dia pun akhirnya mengangguk. “Ma-Maaf kalau merepotkan.”

“Ah, ga ngerepotin kok. Santai aja,” kataku meyakinkannya, “Tapi, sebelum itu, kita mampir ke rumah gue dulu, ya? Anterin barang sekaligus ambil helm buat lo.”

Anggi mengangguk. Kami berdua pun menyebrang lagi. Aku menyalakan mesin motor, barulah Anggi naik ke jok belakang. Sepanjang perjalanan kami hanya membisu. Dengan suara mesin motorku yang lebih berisik ketimbang grup orkes Tanjidor, plus Anggi yang terkenal pendiam, rasanya sia-sia saja kalau kami memaksakan diri untuk ngobrol.

“Nah, ini dia rumah gue,” kataku begitu kami sampai.

“Itu warungmu?” tanya Anggi.

Yup. Warung sederhana sih. Tapi, lumayan buat nambahin uang jajan. Hehehe,” jawabku, menurunkan karung dari atas motor. “Yuk, masuk dulu.”

“Ah, er, tidak usah. Aku tunggu di sini saja.”

“Eh, ga boleh! Nanti gue dimarahin nyokap. Tamu tuh harus dilayani dengan baik,” ujarku. Melihat Anggi menggeleng enggan, aku menambahkan, “Udah, gapapa. Kalo malu, lo duduk aja dulu di teras. Oke?”

Tidak punya pilihan lain, Anggi akhirnya mengikutiku masuk ke dalam. Aku sendiri mengangkut barang-barang pesanan Ibu ke dalam warung terlebih dahulu.

“Bu! Barang-barangnya Pandu taro di warung, ya?”

“Iya, makasih!” terdengar jawaban dari dalam rumah.

“Bu, ada tamu nih. Temen Pandu.”

Mendengar aku berseru begitu, Anggi terbeliak ngeri. Di matanya, aku pasti seperti baru saja mengusik singa yang sedang tertidur.

Ibu muncul beberapa detik kemudian. Dia melihat Anggi dan Anggi langsung menggeser posisi duduknya sedikit.

“Eh, temen Pandu, ya? Selamat datang!”

“Ini lho yang namanya Anggi, Bu.”

“Ooow, ini toh murid yang dari Jepang itu? Ayo, masuk dulu, yuk.”

“Ti-Tidak usah, Tante.”

“Eh, jangan begitu. Ibu bikinin teh dulu, ya?”

“J-Jangan…” tolak Anggi, terdengar seperti ratapan orang yang memohon agar tidak diracuni. Aku tertawa kecil dibuatnya.

“Gapapa. Ga ngerepotin kok. Bentar ya, Ibu buatkan dulu.”

“Ga usah, Bu. Ini Pandu juga mau pergi lagi. Mau nganterin Anggi pulang.”

“Ih, kok buru-buru amat? Jangan begitu dong ama tamu!” Ibu menegurku.

“Ti-Tidak apa-apa, Tante. Saya pulang saja.”

Ibu menarik napas kecewa. Dia paling sedih kalau ada tamu yang datang tanpa dijamu terlebih dahulu. “Ya udah kalo begitu. Omong-omong, Anggi tinggal di mana?”

“D-Dramaga, Bu.”

“Wah, lumayan jauh, ya?”

“Be-Begitulah,” jawab Anggi, mengangguk kikuk.

Jujur saja, aku geli melihat polah temanku itu. Karena kasihan melihatnya tersiksa oleh keramahtamahan kami, aku pun mengajaknya untuk segera berangkat.

“Kita berangkat yuk,” ajakku, menyerahkan helm cadangan buat Anggi. Anggi segera bangkit dan menyambar helm tersebut, kentara sekali ingin segera pergi.

Ibu, yang melihat tingkahnya, cuma tersenyum mahfum.

“Kami berangkat dulu ya, Bu,” ujarku, pamit.

“Iya. Hati-hati di jalan. Jangan ngebut-ngebut.”

“Beres, Bu,” timpalku. Semenit kemudian, aku dan Anggi kembali meluncur di jalan.

 

***

 

Alasan diganti: selain bertele-tele, adegan Pandu bertemu Anggi terkesan kebetulan. Hal ini kelak bisa jadi blunder di adegan klimaks, karena seharusnya bantuan Pandu pada Anggi tidak boleh terkesan “kebetulan”.

Namun, sayangnya, tokoh Koh Jimmy gagal masuk ke novel. Hahaha.

Nantikan deleted scene Rahasia Hujan berikutnya!

 

@AdhamTFusama

[RESENSI] RAHASIA KELAM RUMAH HIJAU


Resensi novel Unforgiven karya Eve Shi.

A Dham Good Book

Unforgiven - Eve Shie (GagasMedia, 2014) Unforgiven – Eve Shie (GagasMedia, 2014)

Kaylin percaya rumah bercat hijau di sebelah rumahnya tersebut berhantu. Rico, sahabatnya dari kecil, semula tidak percaya. Akan tetapi, keanehan-keanehan mulai muncul mengganggu mereka berdua. Dan, itu semua terjadi sejak rumah hijau yang semula kosong itu ditempati oleh pria misterius.

Keanehan-keanehan yang ada semakin hari semakin mengerikan. Kaylin dan Rico mulai diganggu oleh penampakan hantu pria dan wanita. Tak hanya menganggu, hantu-hantu tersebut juga mulai bertindak jauh. Sewaktu Cher—adik Kaylin—celaka akibat ulah salah satu dari mereka, Kaylin tidak bisa berdiam diri saja.

Dia dan Rico pun mencari tahu kenapa hantu-hantu itu mengganggu mereka. Tak disangka, kehadiran para hantu itu ada kaitannya dengan kejadian empat dekade yang lalu, melibatkan kakek-nenek Kaylin dan Rico. Selain itu, sosok tetangga baru Kaylin pun masih misterius. Kenapa kehadirannya malah membuat hantu-hantu itu muncul setelah sekian lama?

Bagi yang belum membaca buku ini, ada sedikit early warning dari saya: buku…

View original post 641 more words

Behind the Screen: Menyingkap Rahasia Hujan


Alhamdulillah novel kedua saya yang berjudul Rahasia Hujan telah beredar di seluruh toko buku di Indonesia (terakhir mendapat kabar dari teman saya kalau Rahasia Hujan juga sudah membanjiri toko buku di Ambon). Beberapa acara launching dan promosi juga sudah dilakukan (dan akan terus dilakukan!). Alhamdulillah, sejauh ini saya banyak mendapat feedback positif dari teman-teman yang sudah membaca Rahasia Hujan. Terima kasih banyak!

Dulu, saya sudah pernah menceritakan tentang bagaimana naskah Rahasia Hujan bisa bertemu dengan jodoh penerbitnya. Sekarang saya akan ceritakan tentang behind the screen dan proses penulisan Rahasia Hujan. Siapa tahu ada yang penasaran. Hehehe.

Nah! Ini dia behind the screen Rahasia Hujan!

Behind the screen. Ba dum tss!

Behind the screen. Ba dum tss!

.

.

.

Okaaay… that’s not funny at all. Sorry. Hahaha.

Ini dia behind the screen yang sebenarnya!

 

Judul sebelum Rahasia Hujan

Judul sebelum Rahasia Hujan. Dat Font!

THE TITLE

Judul “Rahasia Hujan” akhirnya dipilih sebagai judul novel ini setelah beberapa kali proses pergantian judul. Saat pertama kali menulis, saya menggunakan judul “Teru-Teru Bozu”. Tapi, saya merasa kurang sreg sebab judulnya terlalu Jepang dan terlalu generik.

Judul “Rahasia di Balik Hujan” akhirnya saya pakai sampai proses penulisan selesai. Dengan judul ini jugalah saya ajukan naskah saya ke penerbit. Judul “Rahasia di Balik Hujan” bahkan sempat ditetapkan sebagai judul final sebelum naskah naik cetak. Tapi kemudian, Mas Sulak menyarankan judul “Rahasia Hujan” sebagai judul final supaya lebih catchy dan gampang diingat.

FYI: Saya juga sempat menggunakan judul “Rahasia, Hujan, dan Teru-Teru Bozu” sewaktu mengirimkan naskah saya ke penerbit lain… yang kemudian ditolak. Hahaha.

 

THE CHARACTERS

Saya akan bahas empat karakter utama dalam novel Rahasia Hujan, yakni Pandu, Anggi, Nadine, dan Mamet.

 

Pandu

Ini dia konsep awal sang tokoh utama yang saya catat sebelum saya mulai menulis novel Rahasia Hujan:

Konsep: 16 tahun. Ketua kelas sekaligus satu-satunya teman dekat Anggi. Pacar Nadine. Siswa yang aktif, baik, sopan, cerdik, supel, periang, disukai banyak orang. Salah satu anggota ekstrakulikuler musik. Pandai bermain gitar dan bernyanyi. Hobi main futsal. Anak yatim, membantu ibunya menjaga toko.

Before and after: Ada sedikit perbedaan antara Pandu saat di konsep dan Pandu saat di naskah. Dikarenakan tidak terlalu penting dalam perkembangan cerita, maka kesukaan dan kepandaian Pandu bermain gitar tidak terlalu ditonjolkan di novel. Bahkan, saya tidak sempat menyebut-nyebut Pandu sebagai anggota ekskul musik.

Kegemaran main futsalnya juga tidak ditonjolkan. Di naskah awal, ada adegan dia bermain futsal namun dalam proses editing, adegan tersebut diganti menjadi menonton futsal (sebab sepertinya aneh kalau Pandu dan Mamet bisa asyik mengobrol padahal seharusnya mereka fokus bermain futsal). Malah, yang lebih menonjol justru adegan Pandu bermain basket.

Kepribadian Pandu juga mengalami pergeseran. Saat menulis, saya ingin menonjolkan kebaikan hati dan kesederhanaanya. Dengan demikian, dampak klimaks cerita ini bisa lebih terasa. Pada draft awal, Bang Ewin Suherman—salah satu pembaca awal—mengatakan kalau tokoh Pandu terlalu Mary Sue, alias terlalu baik. Di draft awal, saya memang menulis Pandu sebagai tokoh yang lebih saleh. Dia enggan menyontek dan rajin beribadah. Berkat saran Bang Ewin, saya mengubah tokoh Pandu menjadi lebih remaja masa kini. Ada badung-badungnya juga.

Dan, lagi-lagi tokoh Pandu mengalami perbaikan sewaktu proses revisi. Atas saran Mbak Dyah Rinni, tokoh Pandu dibuat lebih heroik, terutama di bagian klimaks. Meskipun demikian, dia juga tidak kehilangan sisi rapuhnya. Dia tetap manusiawi, bukan seorang pahlawan yang berjalan keren ke arah kamera dengan adegan ledakan di belakangnya. Dia tetap remaja adorable yang (semoga) bisa disukai pembaca, atau setidaknya mendapat simpati dari mereka.

About the name: Nama “Pandu” saya pilih karena saya ingin karakter yang baik hati, gagah, dapat diandalkan, dan sederhana. Saya rasa nama “Pandu” sangatlah cocok dengan image tersebut.

 

Anggi

Tokoh Anggi merupakan yang paling banyak mengalami perubahan, penyesuain, bahkan pergantian latar belakang. Berikut konsep awalnya:

Konsep: 16 tahun. Siswa pindahan yang sempat tinggal di Jepang selama 2 tahun. Anak yang pemalu, pendiam, dan sulit bergaul.

Before and after: Meskipun banyak mengalami penyesuaian, namun sifat introver dan pemalu Anggi tidak ada perubahan. Dia tetap menjadi tokoh yang misterius. Hanya saja, awalnya saya tidak mengonsep Anggi suka menggambar. Kegemarannya tersebut baru ada sewaktu saya menulis untuk memberi tambahan bumbu misteri.

Gaya bicara Anggi yang kasual-semiformal pun baru saya putuskan sewaktu menulis. Saya ingin Anggi memiliki kesan sopan, pintar, dan “tidak biasa” ketimbang remaja-remaja SMA kebanyakan. Gaya bicaranya yang semula agak ke-Jepang-Jepang-an tidak dipakai karena saya tidak ingin novel ini terlalu Jepang sehingga menutupi “kearifan lokal” kota Bogor (chauvinist mode on!). Hahaha.

About the name: Sebenarnya ada alasan mengapa saya memilih nama “Anggi”. Tapi, karena ada perubahan cerita dan tidak ingin membocorkan ending-nya, saya biarkan saja tetap rahasia. Mwehehehe.

 

Nadine

Dibandingkan tokoh-tokoh lainnya, Nadine adalah yang paling sedikit mengalami perubahan konsep. Ini dia konsep awal Nadine:

Konsep: 16 tahun. Pacar Pandu. Siswi cantik yang sederhana. Rambutnya bob pendek dengan ujung mencuat ke depan. Parasnya ayu seperti putri-putri keraton. Anggun, bersahaja, pintar, dan santun. Tidak terlalu popular tapi dikagumi banyak orang.

Before and after: Ya, semula saya memang ingin Nadine tidak begitu populer. Tapi, semua berubah sejak negara api menyerang sewaktu saya putuskan Nadine untuk terlibat dalam ekskul majalah dinding.

Semula, saya malah mengonsep Nadine punya hobi dan ketertarikan di dunia mode karena ibunya punya butik. Namun, hal tersebut tidak terealisasi sebab tidak ada pengaruhnya ke cerita. Adegan-adegan yang berkaitan dengan Nadine dan fashion pun dipangkas dalam proses revisi.

Tapi, selain itu, tidak banyak perubahan konsep yang dialami Nadine, termasuk soal hubungannya dengan Pandu. Sejak awal saya memang mengonsep hubungan mereka sebagai hubungan yang menyenangkan. Tidak diganggu oleh galau-galau yang menyebalkan atau cemburu-cemburu yang bikin gatal. Saya menganggap Nadine dan Pandu lebih dari sekadar pacaran tapi sudah jadi soul mate yang sudah saling percaya dan memahami satu sama lain.

About the name: Nama “Nadine” pernah saya gunakan sebagai nama salah satu tokoh di novel saya yang tak pernah dipublikasikan. Karena saya suka dengan nama tersebut, akhirnya nama “Nadine” saya pakai lagi. Alhamdulillah, kali ini nama tersebut bisa eksis di novel yang berhasil dipublikasikan. 😀

 

Mamet

Sama seperti Nadine, tokoh Mamet juga tidak banyak mengalami perubahan konsep:

Konsep: 16 tahun. Sahabat dekat Pandu. Class clown yang sangat jenaka, kocak, dan periang. Rambutnya kribo. Meski sering dianggap remeh karena kekocakannya, dia adalah orang yang sangat jeli dan bijak.

Before and after: Mamet memang tidak mengalami perubahan konsep tapi dia justru mengalami penambahan konsep. Kegemaran Mamet akan film sama sekali tidak saya pikirkan sebelumnya. Hal tersebut baru saya tambahkan sewaktu merevisi naskah untuk memperdalam misteri.

Why so afro: Oke, saya akui, saya suka sekali dengan rambut afro! It’s so bizarre and fluffy and fuzzy and, ironically, I can’t have a hairdo like that! Makanya, karena tidak bisa merealisasikan rambut kribo di dunia nyata, saya realisasikan saja di dalam novel. Terlebih, sudah lama saya ingin punya tokoh afro dan baru sekarang bisa kesampaian.

Dan, saya rasa rambut kribo ini cocok dengan Mamet. Rambut afro itu lucu namun berkarakter. Jadi, mirip dengan Mamet yang memang kocak sekaligus berkepribadian. Kocak sebagai class clown, tapi bukan sekadar tokoh konyol-konyolan. Dia punya keberanian dan rasa kesetiakawanan yang kuat.

Penggunaan rambut kribo ini semakin sempurna sewaktu ada masa perubahan yang dialami Mamet di akhir cerita. Jadi, buat saya, kribo Mamet tidak cuma kribo tapi ada filosofi di baliknya. #Halaah! 😀

About the name: Semula saya mau menggunakan nama “Memet”. Namun karena tidak ingin nama itu diplesetkan, saya ganti jadi “Mamet”. Alasan saya pilih “Memet” / “Mamet”? Saya tidak tahu. Spontan muncul begitu saja di pikiran saya. Hahaha.

 

S**t like this really happen

S**t like this really happen

THE PLOT

Barangkali sudah banyak yang tahu kalau saya menulis Rahasia Hujan dalam keadaan galau. Jadi, wajar jika naskah awal Rahasia Hujan kental sekali aroma romance-nya. Akan tetapi, sewaktu berdiskusi dengan editor, saya disarankan untuk memperkental unsur thriller-nya. Maka, banyak adegan yang saya ganti, termasuk adegan duet Pandu dan Nadine saat pensi.

Penasaran dengan delete scenes tersebut? Kalau begitu, tungguin ya, sebab saya berniat akan memposting adegan-adegan yang dibuang tersebut di blog ini!

 

Demikianlah Behind the Screen Rahasia Hujan. Buat yang masih penasaran, sila beli novelnya yang sudah tersedia di toko-toko buku terdekat. Atau, dapatkan diskon 15% plus tanda tangan penulis jika memesannya di @mokabogor. Jangan lupa beli, ya! Mumpung masih awal bulan! Hehehe.

Terima kasih!

 

Rahasia Hujan: Good Friends, Good Time, Good Book

Rahasia Hujan: Good Friends, Good Time, Good Book

@AdhamTFusama

Laporan: Hot Fight Launching di Bandung


Reta, Mbak Dydie, Adham

Bincang-Bincang Penulis bersama Rhillaeza Mareta, Dyah Prameswarie & Adham T. Fusama

Hari Minggu, tanggal 28 September 2014 yang lalu, penerbit Moka Media kembali mengadakan acara launching buku terbitan mereka. Kali ini ada dua novel yang akan dikulik pada acara tersebut, yakni Dua Masa di Mata Fe karya Dyah Prameswarie dan Rahasia Hujan karya saya sendiri. Acara diadakan di Toko Gunung Agung, Bandung Indah Plaza.

Meski sudah pernah mengadakan launching buku sebelumnya, namun ini adalah kali pertama saya mengadakan launching di toko buku, dan pertama kali juga berduet dengan penulis lainnya. Boleh dibilang, bersama Mbak Dydie—panggilan Dyah Prameswarie—acara menjadi dua kali lebih menyenangkan.

Seperti biasa, acara dibuka dengan bincang-bincang bersama penulis yang menceritakan tentang buku mereka. Mbak Dydie bercerita kalau dia ingin menulis cerita cinta yang tidak biasa. Akhirnya, dia pun mengangkat Tragedi Mei 1998 sebagai latar belakang novelnya. Dia ingin supaya remaja-remaja sekarang tidak melupakan salah satu tragedi yang mengubah wajah Indonesia 16 tahun yang lalu. Maka lahirlah Dua Masa di Mata Fe yang semula berjudul Fe saja.

Cerita cinta juga ada di dalam novel Rahasia Hujan. Tapi balutannya berbeda, yakni dengan memadukan unsur thriller sehingga menghasilkan cerita cinta yang mengenaskan. Bila Mbak Dyah melakukan riset pustaka untuk menggali tentang Tragedi Mei 1998, maka saya melakukan riset psikologi dengan sering berdiskusi bersama teman saya yang sekarang sudah mendapat gelar S2 Psikologi.

Suasana Hot Fight Launching di TGA BIP

Suasana Hot Fight Launching di TGA BIP

Acara kemudian berlanjut ke sesi tanya jawab. Rupanya, antusiasme para hadirin cukup besar karena banyak yang ingin mengajukan pertanyaan. Pertanyaa-pertanyaan yang dilontarkan tak hanya seputar novel saja, namun juga seputar proses kreatif penulisan, promosi, hingga berbagi tip dan trik menulis. Di antara para hadirin, ada juga lho yang masih SMP. Namanya Zahra dan dia juga bercita-cita menjadi penulis. Semoga kelak Zahra bisa menyusul Mbak Dydie dan saya sendiri dalam menerbitkan buku. Amiin.

Terakhir, ada pula sedikit sesi tanya jawab dengan editor Dua Masa di Mata Fe, Sasa, dan editor Rahasia Hujan, Fisca. Mereka bercerita soal proses editing bersama penulis yang berlangsung lancar serta menyenangkan.

Penanya Terbaik & Peraih Hadiah Mug

Penanya Terbaik & Peraih Hadiah Mug

Tanpa terasa waktu 2 jam berlalu dengan cepat. Acara ditutup dengan pembagian goodie bags bagi 3 penanya terbaik, juga pemberian hadiah mug bagi yang membeli novel Dua Masa di Mata Fe dan Rahasia Hujan sekaligus.

Fans Berat Adham :D

Fans Berat & Tukang Bully Adham

Alhamdulillah, acara pun berlangsung lancar dan mengasyikkan. Terima kasih buat Moka Media yang sudah memberi kesempatan bagi saya dan Mbak Dydie untuk mengadakan Hot Fight Launching. Terima kasih buat Toko Gunung Agung, Bandung Indah Plaza, yang bersedia menyediakan tempat. Dan, tentu saja bagi teman-teman sekalian yang sudi meluangkan waktu untuk hadir ke acara Minggu kemarin.

Dyah Prameswari & Adham T. Fusama

Dyah Prameswarie & Adham T. Fusama

Buat yang tidak sempat datang, jangan lupa beli Dua Masa di Mata Fe dan Rahasia Hujan, ya! Hehehe. Semoga suka! 😀

 

@AdhamTFusama