Deleted Scene Rahasia Hujan #4: Konsep Nadine


Huwaaa! Maaf agak lama tidak muncul untuk posting deleted scene dari naskah Rahasia Hujan! Sekarang, saya kembali untuk posting lanjutan Amazing Thirty yang gagal masuk novel waktu proses editing!

Saya datang lagi nih untuk mem-posting deleted scene di naskah Rahasia Hujan yang gagal muncul di novel. Pada proses editing, adegan-adegan ini mengalami perubahan atau dibuang supaya cerita di novel tidak bertele-tele.

Berikut ini saya muat potongan adegan yang diubah dan dibuang. Bagi yang telah membaca, pasti bisa menebak adegan mana yang mengalami perubahan. Bagi yang belum, tenang saja, karena adegan ini tidak mengandung spoiler.

Catatan: adegan berikut berasal dari draft awal yang tidak mengalami proses editing sehingga mungkin sekali terdapat kesalahan EyD, typo, dan lain sebagainya. Harap menjadi maklum!

Selamat menikmati!

 

***

 

Beatles Hat

Beatles Hat

Nadine semula memasang tampang marah begitu tahu aku dikeluarkan dari kelas. Matanya menyemburkan api, kedua lengannya terlipat defensif di depan dada. Dia terlihat seperti bom waktu yang siap menghancurkan kantin sekolah kapan saja.

Namun, setelah kujelaskan alasan mengapa aku tidak mengerjakan PR—karena aku membantu Ibu, amarahnya perlahan-lahan mereda.

“Makanya, kalo ada PR langsung kerjain!” sembur Nadine, seraya mencubit pipiku.

Adadadadaw! I-Iya, i-iya! Ampun, aduh, sakit!”

“Dasar kamu, ya!” gerutu Nadine, gemas.

Aku merintih sambil mengusap-usap pipiku yang sakit. “Jahat banget sih kamu.”

“Biarin!” lengking Nadine.

“Hehehe. Tapi, gara-gara dikeluarin Pak Dal, aku ama Anggi jadi makin akrab, lho.”

“Oh ya? Kalian ngobrol apa aja di ruang musik?” Sisi lembut Nadine telah kembali, tanda kekesalannya sudah benar-benar reda.

“Aku certain gimana kita bisa pacaran dulu. Gara-gara comro,” jawabku, terkekeh.

Kurasa, aku boleh berbangga hati, karena aku adalah pria satu-satunya yang bisa membuat Nadine tersipu malu dan salah tingkah. “Iiih, kamu kok cerita tentang kita, sih?”

“Lho, emangnya kenapa? Kan romantis banget.”

“Itu kan cerita spesial buat kita berdua!”

“Biarin aja. Biar semua orang tahu dan iri ama kita.”

“Dasar tukang pamer!” Nadine memukul lenganku dengan sebal.

Aku tertawa sementara pacarku itu menggerutu.

“Eh, ngomong-ngomong, nanti mau latihan lagi, ga?” tanyaku, usai tertawa.

“Mmm, gimana kalau nanti kamu ke rumahku? Kita persiapin kostum buat Pensi nanti,” jawab Nadine.

“Duileee… pake kostum segala. Kostum apa, Neng? Batman?”

“Ih, kamu tuh, ya, semua hal dibuat ngebanyol!”

“Hehehe. Iya deh, maaf. Abis aku pikir kita cuma akan pakai baju yang kasual aja.”

“Jangan dong. Kan biar agak spesial. Siapa tahu bisa menang.”

“Ga ngaruh kali, Nadnad. Kan yang dinilai kemampuan menyanyi kita.”

“Ngaruh kali, Panpan. Kan yang dinilai performa keseluruhan. Kemampuan nyanyi, penguasaan panggung, penampilan, dan lain-lain.”

“Hmmm… benernya juga sih,” aku baru kepikiran hal tersebut. “Terus, nanti kita mau pakai baju apa?”

“Kita lihat aja nanti,” jawab Nadine, tersenyum dan mengedip kepadaku.

 

*

 

Rumah Nadine berada di Bogor Baru, kompleks elite tempat rumah-rumah gedongan berjajar bersisian. Ayah Nadine, Om Bismo, adalah manajer sebuah hotel bintang lima di Jakarta. Sementara Ibu Nadine, Tante Siska, memiliki butik kecil eksklusif. Kendati mereka orang yang berada, gaya hidup mereka tidak berlebihan. Karena itulah Nadine jauh dari tipikal anak orang kaya yang manja.

Nadine pun tidak menilai seseorang dari kekayaannya. Aku sempat minder sewaktu tahu kalau Nadine orang kaya. Aku bersyukur sebab Nadine tidak peduli. Dia bisa akrab dengan keluargaku, dan syukurnya aku pun bisa akrab dengan keluarganya.

Rumah Nadine memadukan gaya modern minimalis dengan tradisional khas keraton Yogyakarta. Desain rumahnya yang simpel berbaur harmonis dengan ukiran-ukiran di daun pintu serta tiang depan rumah. Dan, aku sangat menyukai saung ala Joglo di halaman depan rumah Nadine.

Sewaktu aku masuk ke dalam rumah Nadine, Tante Siska menyambutku. “Eh, ada Pandu. Apa kabar?”

“Baik, Tante. Tante makin cantik aja, nih. Hehehe.”

“Duh, pujian kamu basi banget, sih? Emang ga ada pujian yang lain apa?” tanggap Tante Siska, mengacak-acak rambutku.

Tante Siska adalah versi dewasa dari Nadine. Hanya saja, wajah beliau lebih lonjong ketimbang putrinya itu. Di usianya yang sudah kepala empat, beliau masih terlihat cantik dan ramping. Kecantikan khas putri Jawa sangat kental terlihat. Mungkin karena beliau memang asli Yogyakarta. Malah, bisa jadi masih ada keturunan keluarga keraton.

Nadine mengajakku untuk naik ke atas. Di sana aku duduk di sofa ruang santainya. Ruang santai itu juga digunakan Tante Siska untuk menyimpan beberapa koleksi dari butiknya. Jadi, di samping sofaku terdapat rak pakaian yang dipenuhi baju-baju bagus.

Nadine izin ganti baju dulu di kamarnya, jadi aku menunggunya sambil menonton TV. Dia kembali lima menit kemudian. Alih-alih duduk di sofa, dia malah mengambil beberapa pakaian dari rak gantung di sebelahku.

“Itu buat apa, Nad?” tanyaku terheran-heran.

“Ini akan jadi kostummu nanti.”

Jelas saja aku terperanjat. “Itu kan baju-baju untuk butik mamamu!”

“Gapapa. Ukurannya banyak yang sesuai dengan badanmu yang tegap kok.”

“Bu-Bukan masalah tegapnya, tapi… masa aku pake baju koleksi butik mamamu sih? Nanti kalo aku dibunuh Tante Siska gimana?”

Hus! Ngasal kamu! Tenang aja. Mama ga bakal marah, kok,” jawab Nadine, “Nah, coba dulu deh yang ini.” Nadine menyodorkan sebuah vest ke arahku.

“Di-Dicoba sekarang?”

“Ya iyalah sekarang, Panpan!” jawab Nadine, gemas, “Yuk, coba pake.”

“Aku keringetan. Nanti bajunya jadi kotor dan bau.”

“Bisa dicuci kok. Udah ah, dasar bawel kamu! Pake aja, kenapa sih? Susah amat!”

Layaknya suami yang takut istri, aku pun buru-buru bangkit untuk mencoba vest tersebut. Nadine membawaku ke depan cermin lalu menilai penampilanku. “Cukup bagus.”

“Bagus apanya? Ga cocok ah. Aku kan item.”

“Ga juga ah. Ga seitem Mamet,” kata Nadine, kembali mengubek-ubek rak. “Nah, cobain dasi ini deh. Champagne gold.”

“Lebih mirip Pipis Gold kalo aku yang pake,” tanggapku, diiringi jeritan nestapa karena Nadine baru saja mencubitku dengan keras.

“Hmmm, ternyata kurang bagus. Coba pake jas ini.”

Aku pun mengganti vest dengan jas. Kemudian mengganti lagi dengan jas lain. Mencoba dasi yang satu, coba lagi dasi yang lain. Aku tidak tahu apa maunya Nadine. Yang jelas, selama satu jam ke depan aku seperti manekin yang digonti-ganti pakaiannya.

Pada akhirnya, aku mendapatkan jas yang Nadine inginkan. Dia tersenyum puas begitu melihatku mengenakan jas wol pas badan. “Nah, yang ini bagus.”

“Aku kelihatan jadul, Nad…”

“Retro, Pan. Bukan jadul. Retro itu klasik, jadul itu ketinggalan zaman,” ralat Nadine, melihat penampilanku. “Oke, coba kamu pake bowtie ini. Ah, perfect! Oh, tunggu! Tunggu!”

Dia menyambar sebuah velvet cap, lalu meletakkannya di kepalaku. Dia mengatur supaya jambul di depan kepalaku tidak terganggu. “Duuuh! Ini cocok banget!”

Aku ragu melihat penampilanku. “Nad, aku kelihatan kayak… personel The Beatles.”

“Ini memang The Beatles hat. Dan, memang itu tujuanku. Konsep kostum kita retro-funky 60’s, with modern twist,” kata Nadine girang memberitahukan idenya.

60’s? Lagu yang kita bawakan kan bukan lagu tahun 60-an.”

“Tapi, melodinya lucu. Kurasa lagu itu cocok banget dengan vibe era 60-an.”

Aku ingin sekali memprotes namun rasanya tidak adil. Nadine pasti sudah bersusah payah memikirkan ide ini. Akan jahat sekali jika aku menolak konsepnya. Lagipula, Nadine itu kreatif dan punya visi yang jelas. Jadi, walaupun sekarang aku menganggap idenya ini aneh, aku akan memercayainya dan mendukungnya.

“Yah, kalo menurutmu memang bagus, aku percaya deh,” anggukku.

Nadine senang sekali mendengarnya. “Makasih, ya. Aku jamin, kamu akan kelihatan ganteng nanti.” Dia kemudian merapikan kerah jasku. Kulihat ada semburat merah muda merekah di pipinya.

“Makasih, ya, udah bikin aku kelihatan ganteng,” bisikku padanya.

“Sama-sama,” balas Nadine. Dia tersenyum dan tersipu malu-malu.

 

***

 

Alasan diganti: pada awalnya, Rahasia Hujan merupakan naskah romance yang mengandung sedikit unsur thriller. Namun, dalam proses revisi, penerbit menyarankan supaya unsur thriller-nya diperkuat. Jadi, banyak adegan romansa di naskah Rahasia Hujan yang diganti dengan adegan-adegan yang berfungsi untuk memperkuat unsur thriller-nya. Salah satu yang paling signifikan adalah dibuangnya adegan-adegan di Amazing Thirty. Sayang juga sih, karena kesukaan Nadine pada dunia mode tidak sempat masuk novel.

Nantikan beberapa deleted scene Rahasia Hujan berikutnya!

 

@AdhamTFusama

 

Advertisements

2 thoughts on “Deleted Scene Rahasia Hujan #4: Konsep Nadine

  1. paragraf awal emang agak “njomplang” kalau ini masuk ke dalam novel, karena Nadine benar – benar seorang cewek yang lembut, baik hati ya semacam gadis sempurna. Eh paragraf awal kok kayaknya Nadine punya sifat yang galak gitu ya? 😀 Nadine kan tipe – tipe cewek lembut, ramah, dan butuh perlindungan gitu 😀

    wow banget lah ya hasil kerasnya editor, bisa memoles cerita, eh tapi kalau dilihat dari sisi penulis, ya rasanya gak tegaaa, mas, aku gak tegaaa harus buang ini. :))

    ataaauuu bikin aja sekuelnya, ceritanya Pandu menemukan seseorang yang mirip Nadine, tapi sifat mereka benar – benar berbeda, tapi sekarang giliran Pandu yang jadi kayak Anggi gitu… muaahahahahah.. request novel kayak request lagu di radio yang langsung diputerun *plaaaaak* *abaikan* :))

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s