Deleted Scene Rahasia Hujan #3: Tugas dan Kewajiban


Saya datang lagi nih untuk mem-posting deleted scene di naskah Rahasia Hujan yang gagal muncul di novel. Pada proses editing, adegan-adegan ini mengalami perubahan atau dibuang supaya cerita di novel tidak bertele-tele.

Berikut ini saya muat potongan adegan yang diubah dan dibuang. Bagi yang telah membaca, pasti bisa menebak adegan mana yang mengalami perubahan. Bagi yang belum, tenang saja, karena adegan ini tidak mengandung spoiler.

Catatan: adegan berikut berasal dari draft awal yang tidak mengalami proses editing sehingga mungkin sekali terdapat kesalahan EyD, typo, dan lain sebagainya. Harap menjadi maklum!

Selamat menikmati!

 

***

 

Pasar Anyar Bogor

Pasar Anyar Bogor

Satu hal yang menyebalkan dari Pensi Amazing Thirty adalah jadwalnya yang berdekatan dengan ujian tengah semester. Pensi diselenggarakan seminggu setelah ujian selesai. Alhasil, tugas kami pun bertambah dua-tiga kali lipat.

Contohnya aku dan Nadine. Di sekolah kami mendapat banyak tugas, pulang sekolah kami berlatih menyanyi sampai sore, di rumah kami mengerjakan PR—yang dengan sadisnya diberikan secara bertubi-tubi oleh para guru.

Saking sibuknya, aku sampai-sampai sudah tidak bisa lagi berlatih futsal.

Sudah barang tentu futsal merupakan hal terakhir yang kucemaskan. Terkadang ada hal lain yang lebih mengkhawatirkan, dan membuat waktu 24 jam dalam sehari itu terasa tidak cukup. Lebih parahnya lagi, hal semacam itu sering kali datang tak terduga, juga pada waktu yang kurang tepat.

Itu pula yang terjadi padaku pagi itu. Ponselku tiba-tiba bergetar, saat Bu Soma mengajar di depan kelas. Ternyata ada pesan singkat dari Ibu, yang memintaku supaya langsung pulang ke rumah siang nanti. Aku tidak tahu alasannya. Yang jelas, sepulang sekolah, aku membatalkan latihanku bersama Nadine lalu bergegas pulang di rumah.

Begitu sampai, aku disambut Ibu yang datang tergopoh-gopoh dari dapur. Rupanya beliau mendapat permintaan katering mendadak dari Pak RT, yang berniat mengadakan syukuran karena cucunya akan dikhitan esok hari. Dan, karena tidak ada lagi yang membantu, maka cuma aku dan Ibu yang mengerjakan permintaan tersebut.

Hari itu aku membantu Ibu seharian. Aku bolak-balik ke Pasar Anyar sebanyak dua kali. Selain itu, aku mendapat beberapa tugas kecil seperti memotong cabai, tomat, dan timun. Aku juga ditugasi untuk menanak nasi, mengupas kentang, dan tugas-tugas ringan lainnya.

Aku beristirahat hanya untuk makan dan salat. Aku tidak sempat mandi meski Ibu menyuruhku. Tanpa terasa, malam akhirnya tiba. Semua lauk telah selesai dimasak, tinggal dihangatkan, dipak, dan diantarkan ke rumah Pak RT esok hari. Aku mengucapkan syukur setelah semuanya beres. Waktu di jam menunjukkan pukul sepuluh malam.

“Aduh, makasih pisan ya, jagoan Ibu. Alhamdulillah semua selesai berkat bantuan kamu. Kasep pisan anak Ibu.”

Aku memberontak kecil dan tertawa sewaktu Ibu mengalungkan lengannya ke leherku dari belakang. Beliau lantas menghadiahiku dengan kecupan di kepala.

“Ih, Ibu mah. Pandu kan bukan anak kecil lagi!” protesku.

Ibu hanya tertawa saja. “Iya deh. Makasih banyak, Sayang,” ucapnya. “Sekarang kamu tidur gih. Udah malam.”

“Oke,” anggukku, “Met malam, ya, Bu.”

 

***

 

Alasan diganti: karena cuma berupa filler maka adegan ini dibuang supaya cerita di novel tidak bertele-tele.

Nantikan beberapa deleted scene Rahasia Hujan berikutnya!

 

@AdhamTFusama

 

Advertisements

One thought on “Deleted Scene Rahasia Hujan #3: Tugas dan Kewajiban

  1. Pingback: Deleted Scene Rahasia Hujan #4: Konsep Nadine | Adhamology

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s