Deleted Scene Rahasia Hujan #2: Amazing Thirty


Hei ho! Saya datang lagi untuk mem-posting deleted scene di naskah Rahasia Hujan yang gagal muncul di novel. Pada proses editing, adegan-adegan ini mengalami perubahan atau dibuang supaya cerita di novel tidak bertele-tele.

Berikut ini saya muat adegan yang diubah sekaligus dibuang. Karena terjadi perubahan di bab ini, maka kelak banyak bab yang akhirnya terpaksa dibabat, tidak jadi dimuat. Bagi yang telah membaca, pasti bisa menebak adegan mana yang mengalami perubahan. Bagi yang belum, tenang saja, karena adegan ini tidak mengandung spoiler.

Catatan: adegan berikut berasal dari draft awal yang tidak mengalami proses editing sehingga mungkin sekali terdapat kesalahan EyD, typo, dan lain sebagainya. Harap menjadi maklum!

Selamat menikmati!

 

***

 

Mading. Source: ladeva.files.wordpress.com/

Mading. Source: ladeva.files.wordpress.com/

Siang itu aku menemani Nadine di ruang ekskul mading. Di sana dia tengah berembuk dengan Elang, rekannya sesama anggota ekskul. Mereka sedang mendesain layout untuk mading bulan ini. Mengonsep desain dan konten mading memang tugas mereka sebagai tim kreatif.

Aku memilih duduk di meja lain, tidak mau mengganggu keduanya yang sedang seru berdiskusi di depan laptop Elang. Aku sendiri menghibur diri dengan membaca-baca materi mentah yang akan dimuat di mading. Ada puisi, ada tip dan trik, dan ada pula liputan singkat tentang kemenangan tim basket BOPER bulan lalu.

Setelah bosan membaca-baca, aku mengambil gitar yang tadi kupinjam dari ruang ekskul musik. Aku memainkan musik sederhana setelah menyetem senar-senarnya. Kuihat Nadine dan Elang akhirnya selesai berdiskusi.

“Yang ini oke, Lang. Tinggal lo poles dikit terus kita masukin materi ke dalamnya. Tolong kirim ke e-mail gue, ya? Thanks banget.”

“Udah beres ngonsepnya?” tanyaku sewaktu Nadine datang menghampiri.

Alhamdulillah beres.” Nadine kemudian duduk di sampingku dengan senyum merekah, tanda dia puas dengan kualitas kerjanya.

“Syukurlah,” aku senang sekali melihat pacarku dipenuhi cahaya kegembiraan. “Oh iya, Nad, coba deh kamu tebak kemaren aku dari mana?”

Kening Nadine tertekuk saat melihatku nyengir penuh arti. “Kenapa sih harus tebak-tebakan segala? Ga biasanya.”

“Ya, sesekali boleh, kan?”

“Ih, sok misterius deh. Apaan sih?”

“Udah, coba tebak aja,” desakku, agak tak sabaran.

“Dasar aneh kamu,” dengusnya. Kendati demikian, dia mau juga berpikir sejenak, mencari petunjuk untuk menjawab pertanyaanku. “Ummm, Perpustakaan daerah?”

Aku tergelak. “Hahaha. Perpustakaan daerah? Yah, itu tempat yang ga terduga buat kudatangi sih. Tapi, bukan itu. Kemaren aku ke rumah Anggi.”

“O ya? Kok bisa?”

“Jadi, kemaren tuh aku ketemu dia di pinggir jalan. Dia kayak orang linglung gitu. Rupanya dia nyoba jalan-jalan sendiri naik angkot ke Botani. Eh, pas pulang dia nyasar, salah naek angkot, dan akhirnya terdampar di Sudirman.”

“Ya ampun, kasian banget,” air muka Nadine mengiba.

“Makanya aku tawarin diri buat nganterin dia pulang deh.”

“Terus, rumahnya di mana?”

“Dramaga Petir. Dari jalan raya Dramaga ke sonoan lagi, di kaki Gunung Salak.”

“Ih, jauh banget.”

“Emang,” aku mengangguk setuju. “Tapi, kamu harus lihat rumahnya. Gede banget!”

“Segede apa?”

“Segede vila-vila mewah di Puncak. Arsitektur rumahnya gaya Belanda. Udah beneran kayak rumah para Meunir dan Noni Belanda deh.”

“Masa sih?” Mata Nadine memancarkan kesangsian yang mendalam.

“Beneran. Kalo kamu ga percaya, kapan-kapan aku ajak kamu ke sana deh. Kamu pasti takjub,” jawabku. “Kemaren Anggi juga cerita, katanya, rumah itu emang bekas vila. Namun, karena jauh dari tempat wisata dan jarang ada yang nyewa, akhirnya bangunan itu dijual deh. Nah, yang beli orangtuanya Anggi.”

“Ternyata dia orang kaya, ya?”

“Kalo itu aku ga tahu. Yang jelas, mereka itu keluarga genius,” kataku, “Bokapnya aja lulusan S2 di Kyodai.”

Ekspresi di wajah Nadine sama seperti yang tertera di wajahku sewaktu tahu hal tersebut kemarin. “Keren banget. Pantesan dia pinter.”

Baru saja aku hendak menimpali, Elang keburu menginterupsi.

“Nad, gue udah ngirim hasil akhir layout ke e-mail lo. Udah masuk belum?” tanyanya, sedikit banyak berhasil mengagetkan kami. Selama beberapa menit yang lalu, kami lupa akan keberadaan Elang, yang khusyuk bekerja dalam diam.

“Oh, oke. Sebentar gue cek,” jawab Nadine, mengambil tab dari tasnya. Dia pun mengecek e-mail yang dimaksud. “Sip, udah masuk, Lang. Aduuuh, ini keren bangeeet. Elang, gue cinta deh ama lo.”

“Aduh, Nad, gue mau bilang hal yang sama ke elo tapi gue ngeri si Pandu ngamuk-ngamuk ke gue.” Mendengar ucapan Elang tersebut, tawaku kontan meledak.

“Ah, si Pandu mah cuekin aja,” Nadine menanggapi. “Sekali lagi, makasih ya, Lang.”

Nadine kemudian beralih kepadaku, masih mengotak-atik tab di tangannya. “Eh, Say, kamu mau tahu sesuatu ga?”

“Apaan tuh?” tanyaku, usai tertawa.

“Tadi pagi aku dapat kiriman info dari anak OSIS. Mereka minta supaya dimasukin ke mading bulan ini. Masih confidential sih, jadi kamu jangan bilang ke siapa-siapa, ya? Dan, jangan kasih tahu ke si Mamet! Begitu-begitu, dia biang gosip, lho.”

“Hahaha. Oke deh. Aku janji deh ga bakal ngasih tahu siapa-siapa. Terus, info apa yang mau kamu kasih tahu? Kayaknya seru nih.”

“Nih, coba deh kamu lihat,” jawab Nadine, menunjukkan sebuah gambar di tab-nya.

Aku mengambil tab Nadine untuk melihat gambar itu lebih dekat. Ternyata bukan gambar melainkan poster.

Amazing Thirty. Pentas Seni HUT 30 Tahun SMAN Bogor Persada,” aku membaca judul posternya. Jelas saja aku terkejut sekaligus bersemangat. “Wow Pensi! Asyik!”

“Bulan depan, pas ulang tahun sekolah kita. Banyak lombanya, lho.”

Nadine benar. Di bawah informasi tanggal dan hari, ada daftar perlombaan yang bisa diikuti oleh para siswa. Lomba modern dance, lomba olah vokal, lomba pidato bahasa Inggris, lomba menggambar, lomba melukis, lomba menulis puisi, lomba resensi film, lomba resensi novel, lomba desain grafis, dan lain sebagainya.

“Kata Yandi—Ketua OSIS—semua siswa wajib ikut minimal satu lomba.”

“O ya? Terus, kamu mau ngikut lomba apa?” tanyaku.

Nadine mengangkat bahu. “Belum tahu.”

“Ini lomba olah vokal maksudnya lomba nyanyi, kan? Untuk solo atau grup?”

“Bebas. Solo boleh, duo boleh, grup juga boleh.”

“Kalo gitu, kita ikutan yuk?” ajakku tiba-tiba, diiringi cengiran.

Nadine otomatis terkejut. Dia terperangah seolah aku baru saja mengucapkan kata-kata yang sangat tidak sopan. “Kita?” dia mengonfirmasi, berharap tadi dia salah dengar.

“Iya. Kita berdua ikutan lomba olah vokal. Aku main gitar kamu yang nyanyi.”

“Ciyeee! Duet romantis nih, ye,” goda Elang yang sama sekali tidak dihiraukan oleh Nadine. Pacarku itu terlalu shock untuk menanggapi keisengan Elang.

“Aku kan ga bisa nyanyi!” ujar Nadine dengan rona merah memenuhi wajahnya.

“Siapa bilang? Kamu kan hobi karaoke.”

“I-Iya sih, tapi kan itu beda. Karaoke mah untuk senang-senang doang, bukan untuk lomba!” Nadine masih mencari alasan dan pembenaran untuk menolak ajakanku.

“Ya kalo gitu kita ikut untuk bersenang-senang aja, ga usah niatin buat menang.”

Kali ini ucapanku bagaikan skak mati. Nadine ingin membantah tapi tak bisa. Mulutnya, yang baru saja akan memuntahkan protes, tertutup kembali. Akhirnya, karena tidak bisa membalas, dia mengeluarkan jurus yang paling sering dilancarkan wanita untuk membuat pria merasa bersalah: mengerucutkan bibir dan merajuk.

Aku tertawa geli melihatnya. Apalagi Nadine melipat kedua tangannya di depan dada. “Ayolah, Nadnad. Buat have fun aja. Toh seluruh siswa wajib ikut. Karena kamu belum punya rencana, mending ikut lomba nyanyi bareng aku. Biar romantis.”

“Iiih! Apaan sih romantis-romantis segala? Dasar rese kamu!” Nadine menjambret kembali tab-nya dari tanganku. Wajahnya mengeruh kesal. Kendati demikian, ujung-ujung bibirnya malah berkedut-kedut, ingin tersenyum tapi dipaksakan supaya tidak tersenyum.

“Jadi, itu artinya ‘iya’, kan?” cengirku, terkikik setengah menggoda.

Akhirnya pertahanan Nadine runtuh juga. Dia tak kuasa lagi menahan senyum dan tawa gelinya melihat cengiranku. Dengan perpaduan antara marah-mau-benci-cinta, dia mengiyakan ajakanku dengan nada sok ketus. “Ya udah, iya! Dasar nyebelin.”

“Hehehe. Asyik. Gitu dong,” kekehku, “I love you.”

I love you too,” balas Nadine, masih dengan mode senang-tapi-dongkol kepadaku.

“Urgh, tolong hentikan, kalian berdua. Pertengkaran kalian bikin kehidupan jomblo gue terasa semakin getir,” tanggap Elang yang menutup laptopnya lalu keluar dari ruangan.

Melihat tingkah Elang tersebut aku dan Nadine terperangah sejenak sebelum akhirnya tertawa berdua.

 

*

 

Tiga hari kemudian, mading bulanan yang memuat info Pensi Amazing Thirty ditempel di selasar utama. Plus, pada saat upacara bendera, Bu Laksmi—wakil kepala sekolah—juga mengumumkan perihal Pensi tersebut kepada para siswa. Pengumuman itu disambut beragam. Ada yang antusias, ada juga yang merasa terbebani karena harus ikut lomba. Informasi lebih lanjut disampaikan oleh pengurus OSIS yang datang ke kelas-kelas.

“Hei, Gi, lo mau ikut lomba apa?”

“Aku tidak tahu,” jawabnya sambil menggeleng, “Mungkin tidak ikut.”

“Kan semua murid wajib ikut. Gimana kalo lo ikut lomba gambar aja?” saranku.

“Tidak tahu lah. Aku tidak percaya diri.”

“Ayo dong. Pede sedikit. Lo kan jago. Dan, gambar lo juga keren kok.”

Anggi terdiam, seperti sedang menimbang-nimbang. “Akan kupikirkan lagi deh.”

“Kalo gue bilang sih, mending lo ikut. Gue dukung deh.”

“Terima kasih,” ucapnya. “Omong-omong, kamu sendiri mau ikut lomba apa?”

“Aku dan Nadine sudah janjian buat ikut lomba nyanyi.”

“Kalian berdua?”

“Iya. Lomba nyanyi kan boleh solo, duet, atau grup. Jadi, aku ajak Nadine buat ikutan. Aku yang maen gitar dia yang nyanyi. Hehehe.”

“Curang dong.”

“Lho? Kok curang sih?”

“Nama lombanya kan lomba menyanyi. Yang menyanyi cuma Nadine, sementara kamu cuma main gitar. Itu curang kan namanya?”

Barulah aku menyadari logika seperti itu. Aku pun tertawa setuju kendati tetap membela diri. “Ga curang dong. Kan aturannya ngebolehin ada yang nyanyi ada yang main alat musik. Hehehe.”

 

***

 

Alasan diganti: pada awalnya, Rahasia Hujan merupakan naskah romance yang mengandung sedikit unsur thriller. Namun, dalam proses revisi, penerbit menyarankan supaya unsur thriller-nya diperkuat. Jadi, banyak adegan romansa di naskah Rahasia Hujan yang diganti dengan adegan-adegan yang berfungsi untuk memperkuat unsur thriller-nya. Salah satu yang paling signifikan adalah dibuangnya adegan-adegan di Amazing Thirty.

Nantikan beberapa deleted scene Rahasia Hujan berikutnya!

 

@AdhamTFusama

Advertisements

3 thoughts on “Deleted Scene Rahasia Hujan #2: Amazing Thirty

  1. Pingback: Deleted Scene Rahasia Hujan #4: Konsep Nadine | Adhamology

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s