Deleted Scene Rahasia Hujan #1: Rumah


Seperti yang telah saya janjikan sebelumnya, saya akan posting beberapa adegan di naskah Rahasia Hujan yang gagal muncul di novel. Pada proses editing, adegan-adegan ini mengalami perubahan atau dibuang supaya cerita di novel tidak bertele-tele.

Berikut ini saya muat adegan yang mengalami perubahan. Pada novel, adegan berikut diganti supaya lebih ringkas. Bagi yang telah membaca, pasti bisa menebak adegan mana yang mengalami perubahan. Bagi yang belum, tenang saja, karena adegan ini tidak mengandung spoiler.

Catatan: adegan berikut berasal dari draft awal yang tidak mengalami proses editing sehingga mungkin sekali terdapat kesalahan EyD, typo, dan lain sebagainya. Harap menjadi maklum!

Selamat menikmati!

 

***

 

Jalan Sudirman, Bogor

Jalan Sudirman, Bogor

Berkat Anggi, aku jadi semakin rajin belajar akhir-akhir ini. Aku ingin seperti dia, yang bisa sedikit bersantai tapi tetap mendapat nilai yang bagus. Jadi, sore itu—sepulang sekolah dan kencan—aku mengerjakan PR Biologi sembari menjaga warung.

Kendati demikian, baru saja kuselesaikan setengahnya, Ibu sudah memanggilku dari dalam rumah. Aku pun menutup buku dan memenuhi panggilan beliau. Di dapur, Ibu sedang menulis sesuatu di atas secarik kertas.

“Ya, Bu?” tanyaku.

“Pan, tolong belikan stok buat warung, ya? Tadi Ibu udah nelepon si Koko. Dia udah nyiapin barangnya, tinggal kamu ambil aja. Ini list-nya,” Ibu menyerahkan kertas yang tadi beliau tulis kepadaku.

Aku membaca daftar belanjaan tersebut. Sebagian besar adalah makanan ringan, cokelat, dan permen. Sisanya gula, saos, dan susu.

“Ini uangnya. Nanti, kamu cek dulu jumlah barangnya, ya?”

“Oke, Bu,” aku mengangguk paham.

Aku pun bergegas, mengambil jaket dan kunci motor. Semenit kemudian, aku sudah memacu motorku ke arah Pasar Anyar.

Ibu selalu membeli stok barang dagangan di Koh Jimmy. Dia pemilik salah satu toko grosir terlengkap di Pasar Anyar. Orangnya mungil tapi mirip petasan. Gerakannya cepat, bicaranya cepat, caranya menghitung uang pun cepat—jemarinya bisa bergerak laksana alat penghitung uang di bank. Baginya, uang dan waktu adalah dua hal yang paling berharga, yang tidak pernah dia sia-siakan sedikit pun.

Pulangnya, aku menghindari rute depan stasiun agar tidak terjebak macet. Kuarahkan motorku ke Jalan Sudirman yang lengang meski aku harus memutar lebih jauh. Di tengah perjalanan, tanpa kuduga, aku bertemu dengan Anggi.

Semula, kukira dia cuma orang asing yang berdiri kebingungan di pinggir jalan. Namun, setelah kulihat rambut ikalnya, tubuh kurusnya, dan kulit putihnya, aku yakin orang itu adalah Anggi. Maka, kupelankan laju motor untuk memastikan dugaanku tersebut. Ternyata benar. Yang berdiri di seberangku itu adalah Anggi.

Aku mematikan mesin motor lalu berseru memanggilnya. “Hoi! Anggiii!”

Orang yang kupanggil menoleh dan terkejut tatkala melihatku. Aku menurunkan standar motor lantas menyeberangi jalan untuk menghampirinya. Anggi terlihat gelisah, antara tidak ingin kuhampiri sekaligus tidak bisa pergi begitu saja.

“Hei, Gi. Lo mau ke mana?” tanyaku, melihat dia mengenakan jaket dan celana jin.

“M-Mau pulang.”

“Emangnya dari mana?”

“Botani Square.”

“Rumah lo di daerah ini?”

Anggi menggeleng. “Bu-Bukan. Di Dramaga.”

“Dramaga? Waduh, jauh banget,” aku sedikit terkejut. “Terus, kenapa lo di sini?”

Anggi tidak langsung menjawab. Dia tampak ragu, meremas-remas tali tas hijau kesayangannya. “Eeerr… tadi aku salah naik angkot,” jawabnya.

Demi mendengar jawaban tersebut, aku terperangah. Nyaris saja aku tertawa walau berhasil kutahan. Di saat seperti ini, aku benar-benar tak mau menyinggung perasaannya. Dan, aku juga bersyukur karena dia menunduk sehingga tidak melihat ekspresiku tadi.

“O begitu. Kalo gitu, gue anterin lo pulang deh,” aku menawarkan.

“E-Eh, j-jangan. Tidak usah,” tolak Anggi, menggeleng.

“Gapapa. Lagipula kalo naek angkot dari sini pasti bakal ribet. Harus gonta-ganti angkot. Mending gue anterin aja.”

Anggi diam lagi. Kakinya bergerak bimbang dan matanya bergerak rikuh ke sana ke mari. Dia seperti sedang mencari solusi lain sehingga punya alasan untuk menolak tawaranku. Nyatanya, dia tidak menemukan jalan lain.

Dia pun akhirnya mengangguk. “Ma-Maaf kalau merepotkan.”

“Ah, ga ngerepotin kok. Santai aja,” kataku meyakinkannya, “Tapi, sebelum itu, kita mampir ke rumah gue dulu, ya? Anterin barang sekaligus ambil helm buat lo.”

Anggi mengangguk. Kami berdua pun menyebrang lagi. Aku menyalakan mesin motor, barulah Anggi naik ke jok belakang. Sepanjang perjalanan kami hanya membisu. Dengan suara mesin motorku yang lebih berisik ketimbang grup orkes Tanjidor, plus Anggi yang terkenal pendiam, rasanya sia-sia saja kalau kami memaksakan diri untuk ngobrol.

“Nah, ini dia rumah gue,” kataku begitu kami sampai.

“Itu warungmu?” tanya Anggi.

Yup. Warung sederhana sih. Tapi, lumayan buat nambahin uang jajan. Hehehe,” jawabku, menurunkan karung dari atas motor. “Yuk, masuk dulu.”

“Ah, er, tidak usah. Aku tunggu di sini saja.”

“Eh, ga boleh! Nanti gue dimarahin nyokap. Tamu tuh harus dilayani dengan baik,” ujarku. Melihat Anggi menggeleng enggan, aku menambahkan, “Udah, gapapa. Kalo malu, lo duduk aja dulu di teras. Oke?”

Tidak punya pilihan lain, Anggi akhirnya mengikutiku masuk ke dalam. Aku sendiri mengangkut barang-barang pesanan Ibu ke dalam warung terlebih dahulu.

“Bu! Barang-barangnya Pandu taro di warung, ya?”

“Iya, makasih!” terdengar jawaban dari dalam rumah.

“Bu, ada tamu nih. Temen Pandu.”

Mendengar aku berseru begitu, Anggi terbeliak ngeri. Di matanya, aku pasti seperti baru saja mengusik singa yang sedang tertidur.

Ibu muncul beberapa detik kemudian. Dia melihat Anggi dan Anggi langsung menggeser posisi duduknya sedikit.

“Eh, temen Pandu, ya? Selamat datang!”

“Ini lho yang namanya Anggi, Bu.”

“Ooow, ini toh murid yang dari Jepang itu? Ayo, masuk dulu, yuk.”

“Ti-Tidak usah, Tante.”

“Eh, jangan begitu. Ibu bikinin teh dulu, ya?”

“J-Jangan…” tolak Anggi, terdengar seperti ratapan orang yang memohon agar tidak diracuni. Aku tertawa kecil dibuatnya.

“Gapapa. Ga ngerepotin kok. Bentar ya, Ibu buatkan dulu.”

“Ga usah, Bu. Ini Pandu juga mau pergi lagi. Mau nganterin Anggi pulang.”

“Ih, kok buru-buru amat? Jangan begitu dong ama tamu!” Ibu menegurku.

“Ti-Tidak apa-apa, Tante. Saya pulang saja.”

Ibu menarik napas kecewa. Dia paling sedih kalau ada tamu yang datang tanpa dijamu terlebih dahulu. “Ya udah kalo begitu. Omong-omong, Anggi tinggal di mana?”

“D-Dramaga, Bu.”

“Wah, lumayan jauh, ya?”

“Be-Begitulah,” jawab Anggi, mengangguk kikuk.

Jujur saja, aku geli melihat polah temanku itu. Karena kasihan melihatnya tersiksa oleh keramahtamahan kami, aku pun mengajaknya untuk segera berangkat.

“Kita berangkat yuk,” ajakku, menyerahkan helm cadangan buat Anggi. Anggi segera bangkit dan menyambar helm tersebut, kentara sekali ingin segera pergi.

Ibu, yang melihat tingkahnya, cuma tersenyum mahfum.

“Kami berangkat dulu ya, Bu,” ujarku, pamit.

“Iya. Hati-hati di jalan. Jangan ngebut-ngebut.”

“Beres, Bu,” timpalku. Semenit kemudian, aku dan Anggi kembali meluncur di jalan.

 

***

 

Alasan diganti: selain bertele-tele, adegan Pandu bertemu Anggi terkesan kebetulan. Hal ini kelak bisa jadi blunder di adegan klimaks, karena seharusnya bantuan Pandu pada Anggi tidak boleh terkesan “kebetulan”.

Namun, sayangnya, tokoh Koh Jimmy gagal masuk ke novel. Hahaha.

Nantikan deleted scene Rahasia Hujan berikutnya!

 

@AdhamTFusama

Advertisements

9 thoughts on “Deleted Scene Rahasia Hujan #1: Rumah

  1. atau ini merupakan adegan Anggi yang diam – diam kasih parfum ke Pandu. Di dalam novel kan Anggi belum tahu rumah Pandu 😀

    salam deh buat Jimmy, yang gak muncul di dalam novel *elus-elus dada Jimmy* 😀

  2. Pingback: Deleted Scene Rahasia Hujan #2: Amazing Thirty | Adhamology

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s