Behind the Screen: Menyingkap Rahasia Hujan


Alhamdulillah novel kedua saya yang berjudul Rahasia Hujan telah beredar di seluruh toko buku di Indonesia (terakhir mendapat kabar dari teman saya kalau Rahasia Hujan juga sudah membanjiri toko buku di Ambon). Beberapa acara launching dan promosi juga sudah dilakukan (dan akan terus dilakukan!). Alhamdulillah, sejauh ini saya banyak mendapat feedback positif dari teman-teman yang sudah membaca Rahasia Hujan. Terima kasih banyak!

Dulu, saya sudah pernah menceritakan tentang bagaimana naskah Rahasia Hujan bisa bertemu dengan jodoh penerbitnya. Sekarang saya akan ceritakan tentang behind the screen dan proses penulisan Rahasia Hujan. Siapa tahu ada yang penasaran. Hehehe.

Nah! Ini dia behind the screen Rahasia Hujan!

Behind the screen. Ba dum tss!

Behind the screen. Ba dum tss!

.

.

.

Okaaay… that’s not funny at all. Sorry. Hahaha.

Ini dia behind the screen yang sebenarnya!

 

Judul sebelum Rahasia Hujan

Judul sebelum Rahasia Hujan. Dat Font!

THE TITLE

Judul “Rahasia Hujan” akhirnya dipilih sebagai judul novel ini setelah beberapa kali proses pergantian judul. Saat pertama kali menulis, saya menggunakan judul “Teru-Teru Bozu”. Tapi, saya merasa kurang sreg sebab judulnya terlalu Jepang dan terlalu generik.

Judul “Rahasia di Balik Hujan” akhirnya saya pakai sampai proses penulisan selesai. Dengan judul ini jugalah saya ajukan naskah saya ke penerbit. Judul “Rahasia di Balik Hujan” bahkan sempat ditetapkan sebagai judul final sebelum naskah naik cetak. Tapi kemudian, Mas Sulak menyarankan judul “Rahasia Hujan” sebagai judul final supaya lebih catchy dan gampang diingat.

FYI: Saya juga sempat menggunakan judul “Rahasia, Hujan, dan Teru-Teru Bozu” sewaktu mengirimkan naskah saya ke penerbit lain… yang kemudian ditolak. Hahaha.

 

THE CHARACTERS

Saya akan bahas empat karakter utama dalam novel Rahasia Hujan, yakni Pandu, Anggi, Nadine, dan Mamet.

 

Pandu

Ini dia konsep awal sang tokoh utama yang saya catat sebelum saya mulai menulis novel Rahasia Hujan:

Konsep: 16 tahun. Ketua kelas sekaligus satu-satunya teman dekat Anggi. Pacar Nadine. Siswa yang aktif, baik, sopan, cerdik, supel, periang, disukai banyak orang. Salah satu anggota ekstrakulikuler musik. Pandai bermain gitar dan bernyanyi. Hobi main futsal. Anak yatim, membantu ibunya menjaga toko.

Before and after: Ada sedikit perbedaan antara Pandu saat di konsep dan Pandu saat di naskah. Dikarenakan tidak terlalu penting dalam perkembangan cerita, maka kesukaan dan kepandaian Pandu bermain gitar tidak terlalu ditonjolkan di novel. Bahkan, saya tidak sempat menyebut-nyebut Pandu sebagai anggota ekskul musik.

Kegemaran main futsalnya juga tidak ditonjolkan. Di naskah awal, ada adegan dia bermain futsal namun dalam proses editing, adegan tersebut diganti menjadi menonton futsal (sebab sepertinya aneh kalau Pandu dan Mamet bisa asyik mengobrol padahal seharusnya mereka fokus bermain futsal). Malah, yang lebih menonjol justru adegan Pandu bermain basket.

Kepribadian Pandu juga mengalami pergeseran. Saat menulis, saya ingin menonjolkan kebaikan hati dan kesederhanaanya. Dengan demikian, dampak klimaks cerita ini bisa lebih terasa. Pada draft awal, Bang Ewin Suherman—salah satu pembaca awal—mengatakan kalau tokoh Pandu terlalu Mary Sue, alias terlalu baik. Di draft awal, saya memang menulis Pandu sebagai tokoh yang lebih saleh. Dia enggan menyontek dan rajin beribadah. Berkat saran Bang Ewin, saya mengubah tokoh Pandu menjadi lebih remaja masa kini. Ada badung-badungnya juga.

Dan, lagi-lagi tokoh Pandu mengalami perbaikan sewaktu proses revisi. Atas saran Mbak Dyah Rinni, tokoh Pandu dibuat lebih heroik, terutama di bagian klimaks. Meskipun demikian, dia juga tidak kehilangan sisi rapuhnya. Dia tetap manusiawi, bukan seorang pahlawan yang berjalan keren ke arah kamera dengan adegan ledakan di belakangnya. Dia tetap remaja adorable yang (semoga) bisa disukai pembaca, atau setidaknya mendapat simpati dari mereka.

About the name: Nama “Pandu” saya pilih karena saya ingin karakter yang baik hati, gagah, dapat diandalkan, dan sederhana. Saya rasa nama “Pandu” sangatlah cocok dengan image tersebut.

 

Anggi

Tokoh Anggi merupakan yang paling banyak mengalami perubahan, penyesuain, bahkan pergantian latar belakang. Berikut konsep awalnya:

Konsep: 16 tahun. Siswa pindahan yang sempat tinggal di Jepang selama 2 tahun. Anak yang pemalu, pendiam, dan sulit bergaul.

Before and after: Meskipun banyak mengalami penyesuaian, namun sifat introver dan pemalu Anggi tidak ada perubahan. Dia tetap menjadi tokoh yang misterius. Hanya saja, awalnya saya tidak mengonsep Anggi suka menggambar. Kegemarannya tersebut baru ada sewaktu saya menulis untuk memberi tambahan bumbu misteri.

Gaya bicara Anggi yang kasual-semiformal pun baru saya putuskan sewaktu menulis. Saya ingin Anggi memiliki kesan sopan, pintar, dan “tidak biasa” ketimbang remaja-remaja SMA kebanyakan. Gaya bicaranya yang semula agak ke-Jepang-Jepang-an tidak dipakai karena saya tidak ingin novel ini terlalu Jepang sehingga menutupi “kearifan lokal” kota Bogor (chauvinist mode on!). Hahaha.

About the name: Sebenarnya ada alasan mengapa saya memilih nama “Anggi”. Tapi, karena ada perubahan cerita dan tidak ingin membocorkan ending-nya, saya biarkan saja tetap rahasia. Mwehehehe.

 

Nadine

Dibandingkan tokoh-tokoh lainnya, Nadine adalah yang paling sedikit mengalami perubahan konsep. Ini dia konsep awal Nadine:

Konsep: 16 tahun. Pacar Pandu. Siswi cantik yang sederhana. Rambutnya bob pendek dengan ujung mencuat ke depan. Parasnya ayu seperti putri-putri keraton. Anggun, bersahaja, pintar, dan santun. Tidak terlalu popular tapi dikagumi banyak orang.

Before and after: Ya, semula saya memang ingin Nadine tidak begitu populer. Tapi, semua berubah sejak negara api menyerang sewaktu saya putuskan Nadine untuk terlibat dalam ekskul majalah dinding.

Semula, saya malah mengonsep Nadine punya hobi dan ketertarikan di dunia mode karena ibunya punya butik. Namun, hal tersebut tidak terealisasi sebab tidak ada pengaruhnya ke cerita. Adegan-adegan yang berkaitan dengan Nadine dan fashion pun dipangkas dalam proses revisi.

Tapi, selain itu, tidak banyak perubahan konsep yang dialami Nadine, termasuk soal hubungannya dengan Pandu. Sejak awal saya memang mengonsep hubungan mereka sebagai hubungan yang menyenangkan. Tidak diganggu oleh galau-galau yang menyebalkan atau cemburu-cemburu yang bikin gatal. Saya menganggap Nadine dan Pandu lebih dari sekadar pacaran tapi sudah jadi soul mate yang sudah saling percaya dan memahami satu sama lain.

About the name: Nama “Nadine” pernah saya gunakan sebagai nama salah satu tokoh di novel saya yang tak pernah dipublikasikan. Karena saya suka dengan nama tersebut, akhirnya nama “Nadine” saya pakai lagi. Alhamdulillah, kali ini nama tersebut bisa eksis di novel yang berhasil dipublikasikan. 😀

 

Mamet

Sama seperti Nadine, tokoh Mamet juga tidak banyak mengalami perubahan konsep:

Konsep: 16 tahun. Sahabat dekat Pandu. Class clown yang sangat jenaka, kocak, dan periang. Rambutnya kribo. Meski sering dianggap remeh karena kekocakannya, dia adalah orang yang sangat jeli dan bijak.

Before and after: Mamet memang tidak mengalami perubahan konsep tapi dia justru mengalami penambahan konsep. Kegemaran Mamet akan film sama sekali tidak saya pikirkan sebelumnya. Hal tersebut baru saya tambahkan sewaktu merevisi naskah untuk memperdalam misteri.

Why so afro: Oke, saya akui, saya suka sekali dengan rambut afro! It’s so bizarre and fluffy and fuzzy and, ironically, I can’t have a hairdo like that! Makanya, karena tidak bisa merealisasikan rambut kribo di dunia nyata, saya realisasikan saja di dalam novel. Terlebih, sudah lama saya ingin punya tokoh afro dan baru sekarang bisa kesampaian.

Dan, saya rasa rambut kribo ini cocok dengan Mamet. Rambut afro itu lucu namun berkarakter. Jadi, mirip dengan Mamet yang memang kocak sekaligus berkepribadian. Kocak sebagai class clown, tapi bukan sekadar tokoh konyol-konyolan. Dia punya keberanian dan rasa kesetiakawanan yang kuat.

Penggunaan rambut kribo ini semakin sempurna sewaktu ada masa perubahan yang dialami Mamet di akhir cerita. Jadi, buat saya, kribo Mamet tidak cuma kribo tapi ada filosofi di baliknya. #Halaah! 😀

About the name: Semula saya mau menggunakan nama “Memet”. Namun karena tidak ingin nama itu diplesetkan, saya ganti jadi “Mamet”. Alasan saya pilih “Memet” / “Mamet”? Saya tidak tahu. Spontan muncul begitu saja di pikiran saya. Hahaha.

 

S**t like this really happen

S**t like this really happen

THE PLOT

Barangkali sudah banyak yang tahu kalau saya menulis Rahasia Hujan dalam keadaan galau. Jadi, wajar jika naskah awal Rahasia Hujan kental sekali aroma romance-nya. Akan tetapi, sewaktu berdiskusi dengan editor, saya disarankan untuk memperkental unsur thriller-nya. Maka, banyak adegan yang saya ganti, termasuk adegan duet Pandu dan Nadine saat pensi.

Penasaran dengan delete scenes tersebut? Kalau begitu, tungguin ya, sebab saya berniat akan memposting adegan-adegan yang dibuang tersebut di blog ini!

 

Demikianlah Behind the Screen Rahasia Hujan. Buat yang masih penasaran, sila beli novelnya yang sudah tersedia di toko-toko buku terdekat. Atau, dapatkan diskon 15% plus tanda tangan penulis jika memesannya di @mokabogor. Jangan lupa beli, ya! Mumpung masih awal bulan! Hehehe.

Terima kasih!

 

Rahasia Hujan: Good Friends, Good Time, Good Book

Rahasia Hujan: Good Friends, Good Time, Good Book

@AdhamTFusama

Advertisements

6 thoughts on “Behind the Screen: Menyingkap Rahasia Hujan

  1. Pingback: Delete Scene Rahasia Hujan #1: Rumah | Adhamology

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s