LaSastra 5 2014 Segera Dimulai!


LaSastra 5 2014

LaSastra 5 2014

Dua hari lagi Lomba Bahasa dan Sastra SMAN 5 Bogor atau yang lebih dikenal sebagai LaSastra 5 akan segera diadakan!

Pada tanggal 29 & 30 Oktober 2014 nanti, sekolah-sekolah di Jadebotabek dan sekitarnya akan berlaga mengikuti pelbagai perlombaan, seperti lomba membaca puisi, menulis puisi, lomba pidato, meresensi novel, menulis reportase, dan lain sebagainya.

Tentu saja, selain lomba-lomba ada juga acara-acara lainnya seperti pertunjukan musik dari band Tangga. Ada pula bincang-bincang dengan bintang tamu, yakni Donny Dirgantoro (penulis novel 5CM) dan… saya sendiri. Hehehe.

Sepertinya saya akan menoreh sejarah tersendiri (tsah!) sebagai bintang tamu pertama di LaSastra 5 yang merupakan alumni sekaligus pernah menjadi panitia LaSastra 5 sepuluh tahun yang lalu. Cukup keren, kan? Hahaha.

Oh ya, di sana kalian juga bisa beli novel Rahasia Hujan dengan harga spesial, dapat tanda tangan saya (kalau mau hahaha), dan berkesempatan untuk dapetin merchandise kece kalau kalian beli novel Rahasia Hujan.

Jadi, jangan lupa datang ya ke acara La Sastra 5. Di mana? Tentu saja di SMAN 5 Bogor, Jl. Manunggal! See you there, guys!

Mug Rahasia Hujan eksklusif buat kamu!

Mug Rahasia Hujan eksklusif buat kamu!

 

Btw, beberapa hari yang lalu sempat mampir ke SMAN 5 Bogor buat ngegerecokin panitianya yang imut-imut. Hahaha. Adik-adik kelas saya keren-keren, ya? 😛

Bersama Ketua OSIS dan Dewan Harian OSIS SMAN 5 Bogor

  Bersama Ketua OSIS dan Dewan Harian OSIS SMAN 5 Bogor

Bersama Panitia La Sastra bagian Humas

Bersama Panitia La Sastra bagian Humas

 

@AdhamTFusama

Advertisements

Deleted Scene Rahasia Hujan #4: Konsep Nadine


Huwaaa! Maaf agak lama tidak muncul untuk posting deleted scene dari naskah Rahasia Hujan! Sekarang, saya kembali untuk posting lanjutan Amazing Thirty yang gagal masuk novel waktu proses editing!

Saya datang lagi nih untuk mem-posting deleted scene di naskah Rahasia Hujan yang gagal muncul di novel. Pada proses editing, adegan-adegan ini mengalami perubahan atau dibuang supaya cerita di novel tidak bertele-tele.

Berikut ini saya muat potongan adegan yang diubah dan dibuang. Bagi yang telah membaca, pasti bisa menebak adegan mana yang mengalami perubahan. Bagi yang belum, tenang saja, karena adegan ini tidak mengandung spoiler.

Catatan: adegan berikut berasal dari draft awal yang tidak mengalami proses editing sehingga mungkin sekali terdapat kesalahan EyD, typo, dan lain sebagainya. Harap menjadi maklum!

Selamat menikmati!

 

***

 

Beatles Hat

Beatles Hat

Nadine semula memasang tampang marah begitu tahu aku dikeluarkan dari kelas. Matanya menyemburkan api, kedua lengannya terlipat defensif di depan dada. Dia terlihat seperti bom waktu yang siap menghancurkan kantin sekolah kapan saja.

Namun, setelah kujelaskan alasan mengapa aku tidak mengerjakan PR—karena aku membantu Ibu, amarahnya perlahan-lahan mereda.

“Makanya, kalo ada PR langsung kerjain!” sembur Nadine, seraya mencubit pipiku.

Adadadadaw! I-Iya, i-iya! Ampun, aduh, sakit!”

“Dasar kamu, ya!” gerutu Nadine, gemas.

Aku merintih sambil mengusap-usap pipiku yang sakit. “Jahat banget sih kamu.”

“Biarin!” lengking Nadine.

“Hehehe. Tapi, gara-gara dikeluarin Pak Dal, aku ama Anggi jadi makin akrab, lho.”

“Oh ya? Kalian ngobrol apa aja di ruang musik?” Sisi lembut Nadine telah kembali, tanda kekesalannya sudah benar-benar reda.

“Aku certain gimana kita bisa pacaran dulu. Gara-gara comro,” jawabku, terkekeh.

Kurasa, aku boleh berbangga hati, karena aku adalah pria satu-satunya yang bisa membuat Nadine tersipu malu dan salah tingkah. “Iiih, kamu kok cerita tentang kita, sih?”

“Lho, emangnya kenapa? Kan romantis banget.”

“Itu kan cerita spesial buat kita berdua!”

“Biarin aja. Biar semua orang tahu dan iri ama kita.”

“Dasar tukang pamer!” Nadine memukul lenganku dengan sebal.

Aku tertawa sementara pacarku itu menggerutu.

“Eh, ngomong-ngomong, nanti mau latihan lagi, ga?” tanyaku, usai tertawa.

“Mmm, gimana kalau nanti kamu ke rumahku? Kita persiapin kostum buat Pensi nanti,” jawab Nadine.

“Duileee… pake kostum segala. Kostum apa, Neng? Batman?”

“Ih, kamu tuh, ya, semua hal dibuat ngebanyol!”

“Hehehe. Iya deh, maaf. Abis aku pikir kita cuma akan pakai baju yang kasual aja.”

“Jangan dong. Kan biar agak spesial. Siapa tahu bisa menang.”

“Ga ngaruh kali, Nadnad. Kan yang dinilai kemampuan menyanyi kita.”

“Ngaruh kali, Panpan. Kan yang dinilai performa keseluruhan. Kemampuan nyanyi, penguasaan panggung, penampilan, dan lain-lain.”

“Hmmm… benernya juga sih,” aku baru kepikiran hal tersebut. “Terus, nanti kita mau pakai baju apa?”

“Kita lihat aja nanti,” jawab Nadine, tersenyum dan mengedip kepadaku.

 

*

 

Rumah Nadine berada di Bogor Baru, kompleks elite tempat rumah-rumah gedongan berjajar bersisian. Ayah Nadine, Om Bismo, adalah manajer sebuah hotel bintang lima di Jakarta. Sementara Ibu Nadine, Tante Siska, memiliki butik kecil eksklusif. Kendati mereka orang yang berada, gaya hidup mereka tidak berlebihan. Karena itulah Nadine jauh dari tipikal anak orang kaya yang manja.

Nadine pun tidak menilai seseorang dari kekayaannya. Aku sempat minder sewaktu tahu kalau Nadine orang kaya. Aku bersyukur sebab Nadine tidak peduli. Dia bisa akrab dengan keluargaku, dan syukurnya aku pun bisa akrab dengan keluarganya.

Rumah Nadine memadukan gaya modern minimalis dengan tradisional khas keraton Yogyakarta. Desain rumahnya yang simpel berbaur harmonis dengan ukiran-ukiran di daun pintu serta tiang depan rumah. Dan, aku sangat menyukai saung ala Joglo di halaman depan rumah Nadine.

Sewaktu aku masuk ke dalam rumah Nadine, Tante Siska menyambutku. “Eh, ada Pandu. Apa kabar?”

“Baik, Tante. Tante makin cantik aja, nih. Hehehe.”

“Duh, pujian kamu basi banget, sih? Emang ga ada pujian yang lain apa?” tanggap Tante Siska, mengacak-acak rambutku.

Tante Siska adalah versi dewasa dari Nadine. Hanya saja, wajah beliau lebih lonjong ketimbang putrinya itu. Di usianya yang sudah kepala empat, beliau masih terlihat cantik dan ramping. Kecantikan khas putri Jawa sangat kental terlihat. Mungkin karena beliau memang asli Yogyakarta. Malah, bisa jadi masih ada keturunan keluarga keraton.

Nadine mengajakku untuk naik ke atas. Di sana aku duduk di sofa ruang santainya. Ruang santai itu juga digunakan Tante Siska untuk menyimpan beberapa koleksi dari butiknya. Jadi, di samping sofaku terdapat rak pakaian yang dipenuhi baju-baju bagus.

Nadine izin ganti baju dulu di kamarnya, jadi aku menunggunya sambil menonton TV. Dia kembali lima menit kemudian. Alih-alih duduk di sofa, dia malah mengambil beberapa pakaian dari rak gantung di sebelahku.

“Itu buat apa, Nad?” tanyaku terheran-heran.

“Ini akan jadi kostummu nanti.”

Jelas saja aku terperanjat. “Itu kan baju-baju untuk butik mamamu!”

“Gapapa. Ukurannya banyak yang sesuai dengan badanmu yang tegap kok.”

“Bu-Bukan masalah tegapnya, tapi… masa aku pake baju koleksi butik mamamu sih? Nanti kalo aku dibunuh Tante Siska gimana?”

Hus! Ngasal kamu! Tenang aja. Mama ga bakal marah, kok,” jawab Nadine, “Nah, coba dulu deh yang ini.” Nadine menyodorkan sebuah vest ke arahku.

“Di-Dicoba sekarang?”

“Ya iyalah sekarang, Panpan!” jawab Nadine, gemas, “Yuk, coba pake.”

“Aku keringetan. Nanti bajunya jadi kotor dan bau.”

“Bisa dicuci kok. Udah ah, dasar bawel kamu! Pake aja, kenapa sih? Susah amat!”

Layaknya suami yang takut istri, aku pun buru-buru bangkit untuk mencoba vest tersebut. Nadine membawaku ke depan cermin lalu menilai penampilanku. “Cukup bagus.”

“Bagus apanya? Ga cocok ah. Aku kan item.”

“Ga juga ah. Ga seitem Mamet,” kata Nadine, kembali mengubek-ubek rak. “Nah, cobain dasi ini deh. Champagne gold.”

“Lebih mirip Pipis Gold kalo aku yang pake,” tanggapku, diiringi jeritan nestapa karena Nadine baru saja mencubitku dengan keras.

“Hmmm, ternyata kurang bagus. Coba pake jas ini.”

Aku pun mengganti vest dengan jas. Kemudian mengganti lagi dengan jas lain. Mencoba dasi yang satu, coba lagi dasi yang lain. Aku tidak tahu apa maunya Nadine. Yang jelas, selama satu jam ke depan aku seperti manekin yang digonti-ganti pakaiannya.

Pada akhirnya, aku mendapatkan jas yang Nadine inginkan. Dia tersenyum puas begitu melihatku mengenakan jas wol pas badan. “Nah, yang ini bagus.”

“Aku kelihatan jadul, Nad…”

“Retro, Pan. Bukan jadul. Retro itu klasik, jadul itu ketinggalan zaman,” ralat Nadine, melihat penampilanku. “Oke, coba kamu pake bowtie ini. Ah, perfect! Oh, tunggu! Tunggu!”

Dia menyambar sebuah velvet cap, lalu meletakkannya di kepalaku. Dia mengatur supaya jambul di depan kepalaku tidak terganggu. “Duuuh! Ini cocok banget!”

Aku ragu melihat penampilanku. “Nad, aku kelihatan kayak… personel The Beatles.”

“Ini memang The Beatles hat. Dan, memang itu tujuanku. Konsep kostum kita retro-funky 60’s, with modern twist,” kata Nadine girang memberitahukan idenya.

60’s? Lagu yang kita bawakan kan bukan lagu tahun 60-an.”

“Tapi, melodinya lucu. Kurasa lagu itu cocok banget dengan vibe era 60-an.”

Aku ingin sekali memprotes namun rasanya tidak adil. Nadine pasti sudah bersusah payah memikirkan ide ini. Akan jahat sekali jika aku menolak konsepnya. Lagipula, Nadine itu kreatif dan punya visi yang jelas. Jadi, walaupun sekarang aku menganggap idenya ini aneh, aku akan memercayainya dan mendukungnya.

“Yah, kalo menurutmu memang bagus, aku percaya deh,” anggukku.

Nadine senang sekali mendengarnya. “Makasih, ya. Aku jamin, kamu akan kelihatan ganteng nanti.” Dia kemudian merapikan kerah jasku. Kulihat ada semburat merah muda merekah di pipinya.

“Makasih, ya, udah bikin aku kelihatan ganteng,” bisikku padanya.

“Sama-sama,” balas Nadine. Dia tersenyum dan tersipu malu-malu.

 

***

 

Alasan diganti: pada awalnya, Rahasia Hujan merupakan naskah romance yang mengandung sedikit unsur thriller. Namun, dalam proses revisi, penerbit menyarankan supaya unsur thriller-nya diperkuat. Jadi, banyak adegan romansa di naskah Rahasia Hujan yang diganti dengan adegan-adegan yang berfungsi untuk memperkuat unsur thriller-nya. Salah satu yang paling signifikan adalah dibuangnya adegan-adegan di Amazing Thirty. Sayang juga sih, karena kesukaan Nadine pada dunia mode tidak sempat masuk novel.

Nantikan beberapa deleted scene Rahasia Hujan berikutnya!

 

@AdhamTFusama

 

Deleted Scene Rahasia Hujan #3: Tugas dan Kewajiban


Saya datang lagi nih untuk mem-posting deleted scene di naskah Rahasia Hujan yang gagal muncul di novel. Pada proses editing, adegan-adegan ini mengalami perubahan atau dibuang supaya cerita di novel tidak bertele-tele.

Berikut ini saya muat potongan adegan yang diubah dan dibuang. Bagi yang telah membaca, pasti bisa menebak adegan mana yang mengalami perubahan. Bagi yang belum, tenang saja, karena adegan ini tidak mengandung spoiler.

Catatan: adegan berikut berasal dari draft awal yang tidak mengalami proses editing sehingga mungkin sekali terdapat kesalahan EyD, typo, dan lain sebagainya. Harap menjadi maklum!

Selamat menikmati!

 

***

 

Pasar Anyar Bogor

Pasar Anyar Bogor

Satu hal yang menyebalkan dari Pensi Amazing Thirty adalah jadwalnya yang berdekatan dengan ujian tengah semester. Pensi diselenggarakan seminggu setelah ujian selesai. Alhasil, tugas kami pun bertambah dua-tiga kali lipat.

Contohnya aku dan Nadine. Di sekolah kami mendapat banyak tugas, pulang sekolah kami berlatih menyanyi sampai sore, di rumah kami mengerjakan PR—yang dengan sadisnya diberikan secara bertubi-tubi oleh para guru.

Saking sibuknya, aku sampai-sampai sudah tidak bisa lagi berlatih futsal.

Sudah barang tentu futsal merupakan hal terakhir yang kucemaskan. Terkadang ada hal lain yang lebih mengkhawatirkan, dan membuat waktu 24 jam dalam sehari itu terasa tidak cukup. Lebih parahnya lagi, hal semacam itu sering kali datang tak terduga, juga pada waktu yang kurang tepat.

Itu pula yang terjadi padaku pagi itu. Ponselku tiba-tiba bergetar, saat Bu Soma mengajar di depan kelas. Ternyata ada pesan singkat dari Ibu, yang memintaku supaya langsung pulang ke rumah siang nanti. Aku tidak tahu alasannya. Yang jelas, sepulang sekolah, aku membatalkan latihanku bersama Nadine lalu bergegas pulang di rumah.

Begitu sampai, aku disambut Ibu yang datang tergopoh-gopoh dari dapur. Rupanya beliau mendapat permintaan katering mendadak dari Pak RT, yang berniat mengadakan syukuran karena cucunya akan dikhitan esok hari. Dan, karena tidak ada lagi yang membantu, maka cuma aku dan Ibu yang mengerjakan permintaan tersebut.

Hari itu aku membantu Ibu seharian. Aku bolak-balik ke Pasar Anyar sebanyak dua kali. Selain itu, aku mendapat beberapa tugas kecil seperti memotong cabai, tomat, dan timun. Aku juga ditugasi untuk menanak nasi, mengupas kentang, dan tugas-tugas ringan lainnya.

Aku beristirahat hanya untuk makan dan salat. Aku tidak sempat mandi meski Ibu menyuruhku. Tanpa terasa, malam akhirnya tiba. Semua lauk telah selesai dimasak, tinggal dihangatkan, dipak, dan diantarkan ke rumah Pak RT esok hari. Aku mengucapkan syukur setelah semuanya beres. Waktu di jam menunjukkan pukul sepuluh malam.

“Aduh, makasih pisan ya, jagoan Ibu. Alhamdulillah semua selesai berkat bantuan kamu. Kasep pisan anak Ibu.”

Aku memberontak kecil dan tertawa sewaktu Ibu mengalungkan lengannya ke leherku dari belakang. Beliau lantas menghadiahiku dengan kecupan di kepala.

“Ih, Ibu mah. Pandu kan bukan anak kecil lagi!” protesku.

Ibu hanya tertawa saja. “Iya deh. Makasih banyak, Sayang,” ucapnya. “Sekarang kamu tidur gih. Udah malam.”

“Oke,” anggukku, “Met malam, ya, Bu.”

 

***

 

Alasan diganti: karena cuma berupa filler maka adegan ini dibuang supaya cerita di novel tidak bertele-tele.

Nantikan beberapa deleted scene Rahasia Hujan berikutnya!

 

@AdhamTFusama

 

Saya dan La Sastra 5


Saya masih teringat dengan keputusan nekat saya untuk menjadi anggota OSIS SMAN 5 Bogor saat duduk di kelas 2 SMA (sekarang kelas 11). Itu karena saya ingin lebih membuka diri dan menikmati masa remaja yang katanya masa terindah dalam hidup. Sebelumnya, di kelas 1 SMA, saya termasuk siswa yang tertutup. Teman pun cuma kenal segelintir. Niat untuk bergabung dengan OSIS adalah salah satu keputusan paling berani yang pernah saya ambil saat SMA, dan keputusan tersebut tidak pernah saya sesali setelahnya.

Meski harus berjuang mati-matian dalam tes masuk, saya benar-benar menikmati masa SMA begitu menjadi anggota OSIS. Saya jadi banyak kawan, melatih potensi diri, belajar banyak soal organisasi, dan belajar mengadakan acara-acara sekolah, salah satunya La Sastra 5.

La Sastra 5 adalah singkatan dari Lomba Bahasa dan Sastra SMAN 5 Bogor. Sebagai siswa yang hobi menulis sejak kecil, bagi saya La Sastra 5 adalah acara paling keren yang pernah diadakan sekolah saya. Waktu itu, saya menganggap La Sastra 5 itu seperti OzFest dunia literasi. The bad ass literary event I’ve ever involved with. Hahaha.

Kalau tidak salah, La Sastra 5 pertama kali diselenggarakan tahun 2000, namun sempat vakum dan baru diadakan lagi pada saat saya menjadi anggota OSIS. Acaranya meliputi lomba resensi novel, lomba menulis puisi, lomba membaca puisi, dan lain sebagainya.

My old self: si culun yang berharap menang lomba di La Sastra 5

My old self: si culun yang berharap menang lomba di La Sastra 5

Dulu, karena saya panitia, saya tidak bisa mengikuti lomba-lomba yang ada. Padahal, saya ingin sekali ikut lomba meresensi novel meski belum pernah meresensi apa pun. Di mata saya, lomba itu sangat menantang, bahkan sulit, mungkin sama sulitnya dengan menulis skripsi.

Tapi, ada acara yang paling saya sukai di La Sastra 5, yakni bincang-bincang dengan bintang tamunya. Saya tidak tahu bagaimana rekan panitia saya melakukannya, tapi mereka berhasil mengundang sastrawan Imam Soleh dan penulis Fira Basuki.

Foto bersama Imam Soleh dan Fira Basuki. Tebak saya yang mana! :D

Foto bersama Imam Soleh dan Fira Basuki. Tebak saya yang mana! 😀

Saya masih ingat bagaimana terkesimanya saya melihat Imam Soleh membacakan puisi di atas panggung. Semangatnya menggelora, suaranya lantang menggetarkan, entakan kakinya mungkin bisa saja merobohkan panggung. Yang jelas, Imam Soleh baru saja menampilkan pembacaan puisi paling keren yang pernah saya lihat seumur hidup. Bahkan setelah beliau selesai pun rahang saya masih sulit dikatupkan. Sungguh menggetarkan.

Dan, saya juga ingat betapa cantiknya Mbak Fira Basuki. Bisa jadi dia adalah penulis paling cantik yang pernah saya kenal waktu itu. Datang dengan pakaian nyentrik, Mbak Fira menunjukkan kalau dia memang penulis yang smart and witty. Sejak saat itu, saya jadi kerajingan membaca buku-bukunya. Jendela-Jendela, Atap, Pintu, Biru, dan Rojak saya baca semua.

Ada momen sedih ketika sesi tanya jawab dengan Mbak Fira. Saya yang dengan semangat mengacungkan tangan rupanya tidak cukup untuk menarik perhatian Mbak Fira. Padahal, saya ingin menanyakan apa-apa saja yang perlu dilakukan oleh siswa culun seperti saya untuk bisa menjadi penulis hebat sepertinya. Barangkali pertanyaan tersebut tidak akan pernah saya dapatkan jawabannya dari beliau. Hahahaha.

Tanda tangan Fira Basuki

Tanda tangan Fira Basuki

Tapi, saya tidak bersedih. Saya mendapat kesempatan buat berfoto bersama Imam Soleh dan Fira Basuki, plus mendapat tanda tangan Mbak Fira yang masih saya simpan sampai sekarang. Intinya, meski La Sastra 5 tahun itu selesai, momen-momen menyenangkan tersebut tetap saya ingat sampai sekarang.

Bahkan, saya sempat punya mimpi muluk untuk cepat-cepat jadi penulis biar kelak bisa diundang ke acara La Sastra 5. Waktu saya bilang, “nanti gue pengen jadi bintang tamu di La Sastra 5, ah!” teman saya cuma tertawa kecil dan menepuk punggung saya—antara mengamini perkataan saya sekaligus menaruh rasa iba pada saya yang terlalu sering mengalami delusi. Hahaha.

Tapi, siapa yang menyangka kalau mimpi muluk tersebut ternyata bisa menjadi kenyataan?

Setelah bertahun-tahun gagal menjadi penulis, setelah daftar penerbit yang pernah menolak naskah saya bertambah panjang, setelah melewati pahit-manisnya menerbitkan novel sendiri, akhirnya saya berhasil juga menjadi penulis yang novelnya diterima penerbit besar.

Saya masih ingat waktu mendapat 10 eksemplar buku lepas yang khusus diberikan penerbit untuk penulisnya, saya langsung menyisihkan 1 eksemplar Rahasia Hujan buat perpustakaan SMAN 5 Bogor. Tahun sebelumnya saya juga menyumbangkan novel pertama saya untuk sekolah tercinta.

Guru-guru saya dan Rahasia Hujan

Guru-guru saya dan Rahasia Hujan

Kalau tidak salah, hari Jumat saya mampir ke SMA saya itu dengan niat menyumbangkan buku sekaligus silaturahmi dengan guru-guru saya di sana. Kata orang, silaturahmi membuka pintu rezeki. Hari itu, saya membuktikan kebenaran kalimat tersebut. Tak disangka, guru-guru saya begitu antusias mengetahui kalau saya menerbitkan novel. Mungkin jarang sekali alumni SMAN 5 Bogor yang menjadi penulis.

Bahkan, waktu itu Bu Maria—guru bahasa Inggris saya—sempat berceletuk, “Eh, bentar lagi kan ada La Sastra 5. Kamu aja yang dateng (jadi bintang tamu)!”

Saya kaget mendengarnya tapi cuma tertawa kecil saja. Saya, yang sudah terbiasa mengalami kegagalan dan kekecewaan, hanya bisa mengamini. I always wish and pray for the best but also prepare for the worst. Saya akan senang sekali kalau benar-benar diundang menjadi bintang tamu di La Sastra 5, kendati tidak mau terlalu banyak berharap.

Tapi, Alhamdulillah, kali ini saya tidak perlu kecewa. Suatu sore saya mendapat telepon yang mengaku siswa SMAN 5 sekaligus panitia La Sastra 5, menanyakan apakah saya mau jadi bintang tamu di sana. Jelas saya terkejut tapi tetap berusaha kalem biar bisa jaga image di hadapan adik kelas. Hahahaha. Saya menjawab, saya bersedia jadi bintang tamu. Setelah telepon ditutup, barulah saya berjingkrak-jingkrak kegirangan.

La Sastra 5 tahun 2014

La Sastra 5 tahun 2014

Saya sendiri masih tak percaya kalau mimpi kecil saya dulu bisa terealisasi… dan cuma butuh waktu sepuluh-sebelas tahun kemudian. Apalagi, pada saat La Sastra 5 nanti, saya akan hadir bersama nama-nama hebat lainnya seperti Donny Dhirgantoro, band Tangga, dan Babe Cabiita.

Saya akan menjadi bintang tamu di acara La Sastra 5 tahun 2014 pada hari Rabu, 29 Oktober 2014 setelah makan siang. Bagi teman-teman yang mau hadir, saya datang kehadirannya, ya!

Saya yakin, La Sastra 5 tahun ini akan sangat hebat.

 

@AdhamTFusama

 

Deleted Scene Rahasia Hujan #2: Amazing Thirty


Hei ho! Saya datang lagi untuk mem-posting deleted scene di naskah Rahasia Hujan yang gagal muncul di novel. Pada proses editing, adegan-adegan ini mengalami perubahan atau dibuang supaya cerita di novel tidak bertele-tele.

Berikut ini saya muat adegan yang diubah sekaligus dibuang. Karena terjadi perubahan di bab ini, maka kelak banyak bab yang akhirnya terpaksa dibabat, tidak jadi dimuat. Bagi yang telah membaca, pasti bisa menebak adegan mana yang mengalami perubahan. Bagi yang belum, tenang saja, karena adegan ini tidak mengandung spoiler.

Catatan: adegan berikut berasal dari draft awal yang tidak mengalami proses editing sehingga mungkin sekali terdapat kesalahan EyD, typo, dan lain sebagainya. Harap menjadi maklum!

Selamat menikmati!

 

***

 

Mading. Source: ladeva.files.wordpress.com/

Mading. Source: ladeva.files.wordpress.com/

Siang itu aku menemani Nadine di ruang ekskul mading. Di sana dia tengah berembuk dengan Elang, rekannya sesama anggota ekskul. Mereka sedang mendesain layout untuk mading bulan ini. Mengonsep desain dan konten mading memang tugas mereka sebagai tim kreatif.

Aku memilih duduk di meja lain, tidak mau mengganggu keduanya yang sedang seru berdiskusi di depan laptop Elang. Aku sendiri menghibur diri dengan membaca-baca materi mentah yang akan dimuat di mading. Ada puisi, ada tip dan trik, dan ada pula liputan singkat tentang kemenangan tim basket BOPER bulan lalu.

Setelah bosan membaca-baca, aku mengambil gitar yang tadi kupinjam dari ruang ekskul musik. Aku memainkan musik sederhana setelah menyetem senar-senarnya. Kuihat Nadine dan Elang akhirnya selesai berdiskusi.

“Yang ini oke, Lang. Tinggal lo poles dikit terus kita masukin materi ke dalamnya. Tolong kirim ke e-mail gue, ya? Thanks banget.”

“Udah beres ngonsepnya?” tanyaku sewaktu Nadine datang menghampiri.

Alhamdulillah beres.” Nadine kemudian duduk di sampingku dengan senyum merekah, tanda dia puas dengan kualitas kerjanya.

“Syukurlah,” aku senang sekali melihat pacarku dipenuhi cahaya kegembiraan. “Oh iya, Nad, coba deh kamu tebak kemaren aku dari mana?”

Kening Nadine tertekuk saat melihatku nyengir penuh arti. “Kenapa sih harus tebak-tebakan segala? Ga biasanya.”

“Ya, sesekali boleh, kan?”

“Ih, sok misterius deh. Apaan sih?”

“Udah, coba tebak aja,” desakku, agak tak sabaran.

“Dasar aneh kamu,” dengusnya. Kendati demikian, dia mau juga berpikir sejenak, mencari petunjuk untuk menjawab pertanyaanku. “Ummm, Perpustakaan daerah?”

Aku tergelak. “Hahaha. Perpustakaan daerah? Yah, itu tempat yang ga terduga buat kudatangi sih. Tapi, bukan itu. Kemaren aku ke rumah Anggi.”

“O ya? Kok bisa?”

“Jadi, kemaren tuh aku ketemu dia di pinggir jalan. Dia kayak orang linglung gitu. Rupanya dia nyoba jalan-jalan sendiri naik angkot ke Botani. Eh, pas pulang dia nyasar, salah naek angkot, dan akhirnya terdampar di Sudirman.”

“Ya ampun, kasian banget,” air muka Nadine mengiba.

“Makanya aku tawarin diri buat nganterin dia pulang deh.”

“Terus, rumahnya di mana?”

“Dramaga Petir. Dari jalan raya Dramaga ke sonoan lagi, di kaki Gunung Salak.”

“Ih, jauh banget.”

“Emang,” aku mengangguk setuju. “Tapi, kamu harus lihat rumahnya. Gede banget!”

“Segede apa?”

“Segede vila-vila mewah di Puncak. Arsitektur rumahnya gaya Belanda. Udah beneran kayak rumah para Meunir dan Noni Belanda deh.”

“Masa sih?” Mata Nadine memancarkan kesangsian yang mendalam.

“Beneran. Kalo kamu ga percaya, kapan-kapan aku ajak kamu ke sana deh. Kamu pasti takjub,” jawabku. “Kemaren Anggi juga cerita, katanya, rumah itu emang bekas vila. Namun, karena jauh dari tempat wisata dan jarang ada yang nyewa, akhirnya bangunan itu dijual deh. Nah, yang beli orangtuanya Anggi.”

“Ternyata dia orang kaya, ya?”

“Kalo itu aku ga tahu. Yang jelas, mereka itu keluarga genius,” kataku, “Bokapnya aja lulusan S2 di Kyodai.”

Ekspresi di wajah Nadine sama seperti yang tertera di wajahku sewaktu tahu hal tersebut kemarin. “Keren banget. Pantesan dia pinter.”

Baru saja aku hendak menimpali, Elang keburu menginterupsi.

“Nad, gue udah ngirim hasil akhir layout ke e-mail lo. Udah masuk belum?” tanyanya, sedikit banyak berhasil mengagetkan kami. Selama beberapa menit yang lalu, kami lupa akan keberadaan Elang, yang khusyuk bekerja dalam diam.

“Oh, oke. Sebentar gue cek,” jawab Nadine, mengambil tab dari tasnya. Dia pun mengecek e-mail yang dimaksud. “Sip, udah masuk, Lang. Aduuuh, ini keren bangeeet. Elang, gue cinta deh ama lo.”

“Aduh, Nad, gue mau bilang hal yang sama ke elo tapi gue ngeri si Pandu ngamuk-ngamuk ke gue.” Mendengar ucapan Elang tersebut, tawaku kontan meledak.

“Ah, si Pandu mah cuekin aja,” Nadine menanggapi. “Sekali lagi, makasih ya, Lang.”

Nadine kemudian beralih kepadaku, masih mengotak-atik tab di tangannya. “Eh, Say, kamu mau tahu sesuatu ga?”

“Apaan tuh?” tanyaku, usai tertawa.

“Tadi pagi aku dapat kiriman info dari anak OSIS. Mereka minta supaya dimasukin ke mading bulan ini. Masih confidential sih, jadi kamu jangan bilang ke siapa-siapa, ya? Dan, jangan kasih tahu ke si Mamet! Begitu-begitu, dia biang gosip, lho.”

“Hahaha. Oke deh. Aku janji deh ga bakal ngasih tahu siapa-siapa. Terus, info apa yang mau kamu kasih tahu? Kayaknya seru nih.”

“Nih, coba deh kamu lihat,” jawab Nadine, menunjukkan sebuah gambar di tab-nya.

Aku mengambil tab Nadine untuk melihat gambar itu lebih dekat. Ternyata bukan gambar melainkan poster.

Amazing Thirty. Pentas Seni HUT 30 Tahun SMAN Bogor Persada,” aku membaca judul posternya. Jelas saja aku terkejut sekaligus bersemangat. “Wow Pensi! Asyik!”

“Bulan depan, pas ulang tahun sekolah kita. Banyak lombanya, lho.”

Nadine benar. Di bawah informasi tanggal dan hari, ada daftar perlombaan yang bisa diikuti oleh para siswa. Lomba modern dance, lomba olah vokal, lomba pidato bahasa Inggris, lomba menggambar, lomba melukis, lomba menulis puisi, lomba resensi film, lomba resensi novel, lomba desain grafis, dan lain sebagainya.

“Kata Yandi—Ketua OSIS—semua siswa wajib ikut minimal satu lomba.”

“O ya? Terus, kamu mau ngikut lomba apa?” tanyaku.

Nadine mengangkat bahu. “Belum tahu.”

“Ini lomba olah vokal maksudnya lomba nyanyi, kan? Untuk solo atau grup?”

“Bebas. Solo boleh, duo boleh, grup juga boleh.”

“Kalo gitu, kita ikutan yuk?” ajakku tiba-tiba, diiringi cengiran.

Nadine otomatis terkejut. Dia terperangah seolah aku baru saja mengucapkan kata-kata yang sangat tidak sopan. “Kita?” dia mengonfirmasi, berharap tadi dia salah dengar.

“Iya. Kita berdua ikutan lomba olah vokal. Aku main gitar kamu yang nyanyi.”

“Ciyeee! Duet romantis nih, ye,” goda Elang yang sama sekali tidak dihiraukan oleh Nadine. Pacarku itu terlalu shock untuk menanggapi keisengan Elang.

“Aku kan ga bisa nyanyi!” ujar Nadine dengan rona merah memenuhi wajahnya.

“Siapa bilang? Kamu kan hobi karaoke.”

“I-Iya sih, tapi kan itu beda. Karaoke mah untuk senang-senang doang, bukan untuk lomba!” Nadine masih mencari alasan dan pembenaran untuk menolak ajakanku.

“Ya kalo gitu kita ikut untuk bersenang-senang aja, ga usah niatin buat menang.”

Kali ini ucapanku bagaikan skak mati. Nadine ingin membantah tapi tak bisa. Mulutnya, yang baru saja akan memuntahkan protes, tertutup kembali. Akhirnya, karena tidak bisa membalas, dia mengeluarkan jurus yang paling sering dilancarkan wanita untuk membuat pria merasa bersalah: mengerucutkan bibir dan merajuk.

Aku tertawa geli melihatnya. Apalagi Nadine melipat kedua tangannya di depan dada. “Ayolah, Nadnad. Buat have fun aja. Toh seluruh siswa wajib ikut. Karena kamu belum punya rencana, mending ikut lomba nyanyi bareng aku. Biar romantis.”

“Iiih! Apaan sih romantis-romantis segala? Dasar rese kamu!” Nadine menjambret kembali tab-nya dari tanganku. Wajahnya mengeruh kesal. Kendati demikian, ujung-ujung bibirnya malah berkedut-kedut, ingin tersenyum tapi dipaksakan supaya tidak tersenyum.

“Jadi, itu artinya ‘iya’, kan?” cengirku, terkikik setengah menggoda.

Akhirnya pertahanan Nadine runtuh juga. Dia tak kuasa lagi menahan senyum dan tawa gelinya melihat cengiranku. Dengan perpaduan antara marah-mau-benci-cinta, dia mengiyakan ajakanku dengan nada sok ketus. “Ya udah, iya! Dasar nyebelin.”

“Hehehe. Asyik. Gitu dong,” kekehku, “I love you.”

I love you too,” balas Nadine, masih dengan mode senang-tapi-dongkol kepadaku.

“Urgh, tolong hentikan, kalian berdua. Pertengkaran kalian bikin kehidupan jomblo gue terasa semakin getir,” tanggap Elang yang menutup laptopnya lalu keluar dari ruangan.

Melihat tingkah Elang tersebut aku dan Nadine terperangah sejenak sebelum akhirnya tertawa berdua.

 

*

 

Tiga hari kemudian, mading bulanan yang memuat info Pensi Amazing Thirty ditempel di selasar utama. Plus, pada saat upacara bendera, Bu Laksmi—wakil kepala sekolah—juga mengumumkan perihal Pensi tersebut kepada para siswa. Pengumuman itu disambut beragam. Ada yang antusias, ada juga yang merasa terbebani karena harus ikut lomba. Informasi lebih lanjut disampaikan oleh pengurus OSIS yang datang ke kelas-kelas.

“Hei, Gi, lo mau ikut lomba apa?”

“Aku tidak tahu,” jawabnya sambil menggeleng, “Mungkin tidak ikut.”

“Kan semua murid wajib ikut. Gimana kalo lo ikut lomba gambar aja?” saranku.

“Tidak tahu lah. Aku tidak percaya diri.”

“Ayo dong. Pede sedikit. Lo kan jago. Dan, gambar lo juga keren kok.”

Anggi terdiam, seperti sedang menimbang-nimbang. “Akan kupikirkan lagi deh.”

“Kalo gue bilang sih, mending lo ikut. Gue dukung deh.”

“Terima kasih,” ucapnya. “Omong-omong, kamu sendiri mau ikut lomba apa?”

“Aku dan Nadine sudah janjian buat ikut lomba nyanyi.”

“Kalian berdua?”

“Iya. Lomba nyanyi kan boleh solo, duet, atau grup. Jadi, aku ajak Nadine buat ikutan. Aku yang maen gitar dia yang nyanyi. Hehehe.”

“Curang dong.”

“Lho? Kok curang sih?”

“Nama lombanya kan lomba menyanyi. Yang menyanyi cuma Nadine, sementara kamu cuma main gitar. Itu curang kan namanya?”

Barulah aku menyadari logika seperti itu. Aku pun tertawa setuju kendati tetap membela diri. “Ga curang dong. Kan aturannya ngebolehin ada yang nyanyi ada yang main alat musik. Hehehe.”

 

***

 

Alasan diganti: pada awalnya, Rahasia Hujan merupakan naskah romance yang mengandung sedikit unsur thriller. Namun, dalam proses revisi, penerbit menyarankan supaya unsur thriller-nya diperkuat. Jadi, banyak adegan romansa di naskah Rahasia Hujan yang diganti dengan adegan-adegan yang berfungsi untuk memperkuat unsur thriller-nya. Salah satu yang paling signifikan adalah dibuangnya adegan-adegan di Amazing Thirty.

Nantikan beberapa deleted scene Rahasia Hujan berikutnya!

 

@AdhamTFusama