[Resensi Film] Tabula Rasa (2014) – Adriyanto Dewo


Tabula Rasa

Tabula Rasa

TABULA RASA: MERACIK RASA, MENIKMATI KEBERSAMAAN

 

Berkat bakatnya dalam bermain bola, Hans direkrut oleh tim sepakbola di Jakarta. Maka merantaulah pemuda asal Serui, Papua, ini ke ibukota dengan sejuta harapan dan mimpi indah. Namun, kenyataan tidaklah seindah mimpi. Gara-gara cedera kaki, Hans didepak dari timnya dan hidup menggelandang di Jakarta.

Hidupnya begitu mengenaskan hingga dia terpaksa tinggal di rumah kardus sebelah rel kereta dan rela memungut beras supaya bisa makan. Tak tahan, Hans berniat bunuh diri. Tapi untungnya dia ditolong oleh Mak pemilik rumah makan Padang. Iba dengan kondisi Hans, Mak memberinya makan gulai kepala ikan yang langsung disantap dengan penuh syukur.

Tak tega membiarkan Hans menggelandang lagi, Mak akhirnya meminta Hans untuk bantu-bantu dengan bayaran makan dan tempat tinggal. Keputusan Mak membuat Natsir dan Uda Parmanto—pekerja di rumah makan Mak—keberatan. Pasalnya, rumah makan mereka sedang kesulitan ekonomi karena sepi pengunjung plus harga bahan-bahan masakan semakin melambung. Mana sanggup mereka membayar Hans. Dari sanalah konflik film kuliner pertama di Indonesia ini bermula.

Film ini memang tentang hubungan antarmanusia—dan makanan yang menyatukan mereka. Jadi, tak heran apabila film ini menyoroti para tokoh-tokohnya. Untungnya, keempat tokoh sentralnya bermain bagus semua. Inilah salah satu kelebihan utama film ini.

Jimmy Kobogau sebagai Hans yang malang tapi mau bekerja keras dan berusaha diakui. Dewi Irawan sebagai Mak yang berhati mulia namun bisa juga keras dan tegas, memadukan kekuatan serta kerapuhan seorang wanita tengah baya dengan kesederhanaannya yang enak disaksikan. Yayu Unru sebagai Uda Parmanto yang selalu resah, berkhianat, tapi kita sebagai penonton tidak diberi kesempatan untuk membencinya. Lalu Ozzol Ramdan sebagai Natsir si pencari suasana dengan rentetan punchline-nya yang tajam tapi jenaka.

 

“Dapur kita aneh. Lebih banyak bertengkarnya ketimbang masaknya.” – Natsir

 

Sungguh sedap sekali menyaksikan chemistry para tokohnya yang sangat kuat, sehingga interaksi mereka mengalir secara alami. Keempatnya menambah kedalaman rasa dalam film ini. Hebatnya lagi, mereka asyik memasak dan melontarkan dialog-dialog Minang dengan fasih (berkat latihan berbulan-bulan sebelum syuting).

Selain akting, film ini juga terbantu dengan sinematografinya yang apik, memberi kehangatan di adegan-adegan memasak, dan memberi kesejukan pada adegan-adegan di luar ruangan. Skenarionya pun ringan, mengalir, enak untuk diikuti.

Sayangnya, ceritanya tidak memiliki lonjakan yang berarti. Drama perpecahannya kurang pedas dan klimaksnya pun terasa sedikit hambar. Barangkali karena terlalu banyak bumbu-bumbu yang ditebar tapi tidak diolah dengan mantap sehingga banyak hal yang tidak tergali. Alhasil klimaks dan penutupnya pun kurang berhasil dibangun dengan gurih.

Meskipun begitu, Tabula Rasa tetaplah sebuah tontonan yang bagus. Terasa sekali film ini dibuat dengan hati dan cinta, dengan keinginan untuk menyajikan sebuah hiburan yang sarat nilai moral tanpa harus menggurui, kaya dengan kearifan lokal, serta tentu saja ingin mempromosikan kuliner nusantara yang lezat. Film ini akan membuat kita semakin mensyukuri nikmatnya makan saat bersama, dan nikmatnya kebersamaan saat makan. Seperti kata tagline-nya: makanan adalah itikad baik untuk bertemu.

Yang jelas, ini adalah film Indonesia pertama yang membuat saya lapar dan punya keinginan untuk makan rendang setelah menontonnya. Bravo untuk Tabula Rasa.

 

Sheila Timothy & Adham T. Fusama

Sheila Timothy & Adham T. Fusama

Tabula Rasa (2014)

Sutradara: Adriyanto Dewo

Produser: Sheila Timothy

Penulis: Tumpal Tampubolon

Pemain: Jimmy Kobogau, Dewi Irawan, Yayu Unru, Ozzol Ramdan

Durasi: 107 menit

Produksi: Lifelike Picture, Indonesia

Penilaian: 3,5/5

 

Bersama Jimmy dan Vino G. Bastian

Bersama Jimmy dan Vino G. Bastian

@AdhamTFusama

Hot Fight Launching: Rahasia Hujan vs Dua Masa di Mata Fe


Setelah sukses mengadakan acara launching novel Rahasia Hujan di Depok awal bulan lalu, sekarang giliran Bandung!

Akang Teteh nu bageur, jangan lupa datang ya ke acara HOT FIGHT LAUNCHING: Rahasia Hujan vs Dua Masa di Mata Fe.

Hot Fight Launching: Dua Masa di Mata Fe & Rahasia Hujan

Yup! Selain ngobrolin Rahasia Hujan, Akang Teteh juga bisa ngobrol-ngobrol bareng penulis Dua Masa di Mata Fe, Teh Dyah Prameswarie! Seru banget deh pastinya!

Tapi, tenang aja, walau acaranya berjudul “Hot Fight Launching” tapi saya enggak bakal berantem ama Teh Dyah kok!

Soalnya pasti langsung kalah! :v

Hehehehe.

Oh iya, dapetin juga goodie bags dan banyak hadiah menarik lainnya di acara launching nanti!

Jadi, jangan lupa tandai kalender Akang Teteh sekalian! Kami tunggu Akang Teteh di BIP minggu depan! 😀

 

@AdhamTFusama

Peluncuran Novel Rahasia Hujan


Rahasia Hujan, buku-buku Moka Media, dan merchandise

Rahasia Hujan, buku-buku Moka Media, dan merchandise

Sabtu, 6 September 2014 yang lalu, saya beserta teman-teman dari Moka Media telah menggelar peluncuran novel Rahasia Hujan. Ini adalah acara launching novel pertama yang pernah saya lakukan dan sudah barang tentu menjadi salah satu momen paling spesial dalam hidup saya selama ini.

Padahal awalnya saya hanya berencana menggelar acara kumpul-kumpul dengan teman-teman dekat saja dalam rangka menyambut terbitnya Rahasia Hujan. Yang punya ide itu pun adalah teman saya, Zul, yang bekerja di Rumah Makan Ayam Semmes, Margonda, Depok. Dia menyuruh saya untuk adakan acara kecil untuk merayakan terbitnya novel kedua saya di rumah makan tersebut.

Saat ide itu saya ceritakan ke teman-teman penerbit, tanpa disangka malah disambut baik oleh mereka. Malah, mereka bilang, “Sekalian saja jadikan acara launching di sana.” Singkat kata, acara yang semula dirancang sebagai ajang makan dan kumpul biasa akhirnya berubah menjadi acara yang direncanakan dengan matang. Kami menyiapkan rundown acara, MC, bikin mug merchandise, buku, hadiah, banner, dll.

Karena ini adalah launching pertama yang pernah saya lakukan, saya berusaha membantu sebisa mungkin supaya acara bisa sukses. Saya undang teman-teman yang ada di daerah Jadebotabek untuk datang. Bahkan, beberapa hari sebelum Hari-H, saya sempat meneror mereka semua lewat BBM dan WhatsApp.

Hari-H tiba dan saya sudah datang ke lokasi sesaat setelah rumah makan buka. Perasaan tegang, gugup, gelisah, sampai bahagia bercampur aduk. Saya baru sedikit tenang begitu teman-teman dari penerbit datang. Full team lho! Dari editor saya, Mbak Fisca; editor pembicara, Bang Dedik; Mbak Dyah Rinni; Sapuroh; cover designer Rahasia Hujan, Kang Fahmi; tim promosi Zacky dan Asti. Sayang Dea tidak hadir karena ke Jogja, dan saya mengharapkan Mas Sulak juga bisa hadir tapi beliau sedang sibuk. Hahaha.

Tapi tidak apalah! Saya tetap senang sekali karena akhirnya banyak yang datang. Keluarga, teman-teman dekat, teman-teman penulis Moka seperti Bang Medz (Oen Makin Konyol) dan Ahmad Alkadri (segera terbit novel Spora), hingga orang yang baru pertama kali saya jumpai pada hari itu karena sebelumnya hanya kenal lewat dunia maya.

Tanya jawab penulis dan editor

Tanya jawab penulis dan editor

Pukul satu lewat, acara pun dimulai. Bertindak sebagai MC adalah Rhillaeza Mareta, penyiar radio Ras FM Jakarta. Saya sudah pernah berkenalan dengan Reta di acara Moka sebelumnya. Berkat pembawaan Reta yang asyik, rasa gugup dan lain-lainnya hilang begitu saja.

Acara dimulai dengan mengupas Rahasia Hujan, baik saat proses penulisannya yang diwarnai galau patah hati, hingga proses penerbitannya yang terbilang cepat, kerjasama dengan editor dan penerbit yang sangat menyenangkan, serta pengalaman mempromosikan buku secara jor-joran.

Diskusi dengan penulis Rahasia Hujan & Editor Moka

Diskusi dengan penulis Rahasia Hujan & Editor Moka

Tak hanya bincang-bincang soal Rahasia Hujan saja, pada acara ini juga ada diskusi dengan editor-editor Moka Media, yakni Mbak Fisca dan Bang Dedik. Mereka memberi bocoran bagaimana cara supaya naskah novel kita bisa diterbitkan oleh Moka Media. Sesuai motonya, Moka Media senang menerbitkan yang terbaik. Dan, agar tulisan kita bisa baik, maka banyak-banyaklah membaca dan jangan malas menulis.

Tanpa terasa, dua jam berlalu begitu saja. Talkshow berlangsung mengasyikkan berkat partisipasi para hadirin yang antusias mengikuti acara. Usai diskusi dan tanya jawab, diadakan sesi foto bersama, penandatanganan novel Rahasia Hujan, dan pengundiang merchandise. Pada kesempatan ini, lima orang penanya mendapatkan goodie bag berisi paket buku dari Moka Media, dan dua orang pembeli Rahasia Hujan mendapat mug eksklusif.

Terima kasih untuk teman-teman sekalian!

Terima kasih untuk teman-teman sekalian!

Alhamdulillah, acara berjalan lancar dan sukses. Terima kasih buat Allah SWT, tim Moka Media, teman, juga keluarga yang telah menyukseskan acara ini. Terima kasih telah membuat saya orang paling bahagia di hari itu. 😀

 

Borong Rahasia Hujan bisa menyebabkan kebahagiaan

Borong Rahasia Hujan bisa menyebabkan kebahagiaan

@AdhamTFusama

 

Mug Eksklusif #RahasiaHujan Buat Kamu!


Peluncuran novel Rahasia Hujan

Peluncuran novel Rahasia Hujan

So, guys, sebentar lagi acara peluncuran novel kedua saya yang berjudul Rahasia Hujan terbitan Moka Media akan diselenggarakan.

Buat kamu yang akan datang ke acara hari Sabtu nanti, dijamin ga bakal nyesel deh! Soalnya banyak banget yang bisa kamu dapetin di acara itu nanti!

  • Talkshow dengan penulis kece badai? Cek!
  • Diskusi dengan editor-editor Moka Media? Cek!
  • Dapetin paket buku dari Moka Media? Cek!
  • Diskon 15% untuk pembelian Rahasia Hujan saat acara? Cek!
  • Dapetin mug eksklusif Rahasia Hujan yang cuma bisa kamu dapetin pas acara? Cek! Cek! Dan cek!
Mug Eksklusif Rahasia Hujan

Mug Eksklusif Rahasia Hujan

Gimana? Keren banget kan mug-nya?

Dan, sembari mengikuti acara dan dapetin banyak gift, kamu bisa sekaligus menikmati menu-menu sedap di Rumah Makan Ayam Semmes!

Makanya, jangan lupa buat dateng ya di acara launching nanti! See you there! :*

[RESENSI] CERITA TENTANG HAPPY YANG TIDAK HAPPY


Resensi saya untuk buku Before Happiness karya Abbas Aditya!

A Dham Good Book

Before Happiness - Abbas Aditya Before Happiness – Abbas Aditya

Orangtua Amalia Happy memberi nama anak mereka demikian berharap kehidupannya bisa happy. Namun nyatanya, Happy sedang tidak happy dan itu semua gara-gara Sadha akan menikah dengan Yuna.

Padahal, Sadha adalah teman masa kecilnya, yang begitu dia suka tapi tak pernah ada keberanian untuk mengutarakan rasa cintanya. Alih-alih, dia malah mengiyakan permintaan Sadha untuk mencomblanginya dengan Yuna—sahabat kuliahnya. Saat hubungan Sadha-Yuna langgeng hingga mau naik ke jenjang pernikahan, maka galaulah Happy.

Siapa yang salah? Kalau menilai dari kronologis di atas, salah Happy sendiri sampai dia merasakan pahit-getirnya cinta seperti itu. Happy adalah tipe perempuan galau yang barangkali akan saya benci di kehidupan nyata. Merasa dunianya muram dan tak adil padahal itu adalah konsekuensi dari kelakuannya sendiri.

Tapi… saya tidak bisa membenci Happy. Dewasa ini, siapa sih yang tidak pernah merasakan gengsi untuk menyatakan cinta, atau sedih gara-gara orang yang kita suka malah cinta dengan orang…

View original post 419 more words