[Resensi Buku] Bunga di Atas Batu – Aesna


20140706_195209

Judul                           : Bunga di Atas Batu

Penulis                        : Aesna

Penerbit                     : Moka Media

Hlm. + Ukuran        : iii + 129 hlm; 12,7 x 19 cm

Terbit                         : 2014 (cetakan pertama)

ISBN                            : 979-795-842-6

Genre                          : Novel remaja

 

KALA CINTA TUMBUH DI TEMPAT YANG SALAH

 

 

Ada yang menarik dari talk show 4 Penulis 4 Cerita Cinta yang diadakan Moka Media awal Juli lalu. Aesna—salah satu penulis yang diundang menjadi narasumber—menceritakan makna yang terkandung dalam judul novelnya.

Dia menganalogikan kisah cinta yang dituangkan dalam novelnya itu sebagai bunga yang tumbuh di atas batu, alih-alih di tanah yang subur dan gembur. Cinta tersebut tumbuh di tempat yang tidak semestinya. Layaknya cinta Bara yang malah mekar untuk Iris, sahabatnya sejak kecil.

Alhasil, Bara pun mengalami pergolakan batin, bingung dalam memilih sikap. Dia ingin Iris menjadi lebih dari sekadar sahabat, tapi di lain pihak dia tidak ingin persahabatan mereka selama ini malah hancur hanya gara-gara sebuah penolakan. Istilah anak muda sekarang: friendzone. Dilema itulah yang Bara alami.

Nyaris sepanjang cerita saya terus menerus dibuat geregetan. Sayangnya, bukan tipe geregetan yang menyenangkan melainkan lebih berupa luapan frustrasi. Saya mengharapkan ada dinamika cinta tarik-ulur, malu-malu kucing, atau jinak-jinak merpati dalam hubungan antara Bara dan Iris.

Nyatanya, penggarapan karakter bahkan chemistry antara keduanya malah miskin sekali. Saya tidak merasakan mereka sebagai sahabat sedari kecil yang sama-sama kesepian karena kedua orangtua mereka sibuk bukan main. Saya menganggap mereka seperti dua orang asing yang kebetulan punya kegalauan yang sama dan hobi bertemu di rumah pohon.

Dan, hei, bahkan rumah pohonnya sendiri tidak lebih dari sekadar setting tempelan yang kemudian terlupakan. Ini amat sangat disayangkan sebab saya tidak ingat kapan terakhir kali membaca novel Indonesia yang punya setting rumah pohon.

Entah apa yang menyebabkan novel ini terasa tidak tergali. Barangkali karena novelnya yang tipis, sehingga nyaris semua bagian dan adegan di novel ini terasa bagaikan pulasan angin lalu saja. Barangkali karena kisahnya yang seakan ditempel asal-asalan alih-alih dirajut dengan cantik.

Adegan yang seharusnya memperkaya emosi atau memberi dampak pada cerita—misalkan kematian sang ibu—justru tidak berkesan sama sekali. Ternyata tidak selamanya novel yang tipis itu efektif dalam menuturkan isinya. Yang jelas, mengharapkan adanya koneksi antara Bara dan Iris sama sulitnya dengan memaksakan dua kabel pendek untuk saling tersambung.

Dan, untuk novel setipis ini, penggarapan editingnya pun terasa kurang. Masih banyak saya temukan kesalahan penulisan kata yang tercecer di sana-sini membuat saya gemas (“hembus”, “nafas”, “kesini”, “apapun”). Saya jadi sempat bertanya-tanya, ada apa dengan editornya?

Tapi, terlepas dari itu semua, bukan berarti Bunga di Atas Batu tidak layak baca. Ada beberapa bagian yang mengasyikkan, seperti latar belakang Hilman memacari Iris, pertengkaran Bara dan Hilman, serta surat untuk Iris. Rasanya, ketimbang dijadikan novel yang canggung dalam bercerita serta tanggung dalam jumlah halaman, cerita ini lebih bernas jika dijadikan novela dengan memaksimalkan adegan-adegan tersebut.

Dan, epilog-nya adalah sebuah penutup yang membuat saya yakin kalau Aesna bisa menulis. Kebetulan saya menyukai open ending dan Aesna menggarap penutup novelnya ini dengan cukup manis.

Jika Bunga di Atas Batu adalah perumpamaan cinta yang tumbuh di tempat yang tidak tepat, saya rasa Aesna cukup berhasil mengisahkannya meski dengan terburu-buru. Akan tetapi, setelah Aesna mengungkapkan pemaknaan judul novelnya itu di acara talk show, saya sempat memikirkan sebuah analogi lain.

Saya memaknai bunga di atas batu sebagai representasi kekuatan cinta yang bisa tumbuh di lingkungan serta situasi sesulit apa pun, hingga mekarnya sanggup membawa keindahan. Sebuah anomali yang tampaknya gagal bersemi di novel ini.

Tapi, ah, itu kan hanya ekspektasi saja. Yang jelas, saya sepertinya akan menantikan karya-karya Aesna selanjutnya. Dia memiliki potensi sebagai penulis muda berbakat dan tampaknya gemar melahap banyak buku-buku yang bagus.

 

Aesna dan saya

Aesna dan saya

Penilaian: 2/5

@AdhamTFusama

 

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s