[Resensi Buku] Cinta Emang Bego – Nikma T.S.


20140716_171038

Judul: Cinta Emang Bego

Penulis: Nikma T.S.

Penerbit: Moka Media

Hlm. + Ukuran: iv + 176 hlm; 12,7 x 19 cm

Terbit: 2014 (cetakan pertama)

ISBN: 979-795-826-4

Genre: Novel remaja

 

Penilaian: 2/5

 

GENIT-GENITAN ALA SISWI SMA

 

Ya, barangkali banyak kening-kening yang berkerut saat tahu saya membaca novel seperti ini. Dan, ya, saya katakan saja sedari awal kalau novel seperti ini bukan jenis novel favorit saya. Tapi toh tetap saya baca juga karena saya sedang ingin mendapat hiburan ringan di tengah riset novel baru yang sedikit melelahkan.

Memang hanya itu tujuan saya membaca buku ini: mencari hiburan. Menilai dari sampul depannya, saya optimis akan mendapat bacaan yang lucu, ringan, dan tidak perlu susah-susah berpikir. Sewaktu membaca halaman pertama, saya sempat tertawa. Ini awal yang bagus, pikir saya. Sepertinya novel ini punya komedi yang menyegarkan.

Nyatanya, itu adalah tawa pertama sekaligus tawa terakhir saya. Lembar-lembar berikutnya memang sesekali mampu menarik senyum samar di ujung bibir, namun secara keseluruhan saya tidak mendapat penghiburan yang saya harapkan. Beberapa humornya tergolong usang, sementara gaya ceplas-ceplosnya terasa mengganggu.

Novel ini bercerita tentang Lintang yang jatuh cinta pada Febri yang tampan. Tak hanya Lintang, rupanya Virna—sahabat Lintang—pun kesengsem pada Febri yang dikatakan seperti personel boyband asal Korea Selatan. “Persaingan” untuk mendapatkan cinta Febri pun dimulai.

Premis ceritanya mungkin terdengar sangat biasa, bahkan klise, sebab premis seperti ini sudah berjuta-juta kali diceritakan. Terakhir, persaingan cinta seperti ini menjadi sangat fenomenal karena pemainnya adalah vampir kerlap-kerlip, serigala jadi-jadian, dan remaja putri galau. Sebagai pembeda, Nikma menjadikan tokoh Febri sebagai satpam sekolah.

Ya, betul, ini cerita tentang dua remaja putri yang tergila-gila pada satpam di sekolah mereka. Dan, ketimbang disebut sebagai kisah cinta, cerita di sini lebih cocok bila disebut sebagai kisah genit-genitan, yang malah nyaris menjurus ke arah uniform fetishism.

Bagaimana tidak? Yang disorot penulis hanyalah kemolekan luar Febri saja, yang gagah berseragam dan berbibir seksi, tanpa pendalaman karakter. Tidak pula ada adegan yang menyoroti kalau Febri memiliki sifat-sifat pemberani, seperti laiknya para satpam di kompleks rumah saya, yang berkat jasa mereka saya bisa tidur tenang setiap malamnya.

Sepanjang cerita saya hanya disuguhkan tentang betapa berisiknya siswi-siswi SMA kalau sudah kesengsem dengan pria tampan. Membaca buku ini seperti melihat tiga ABG putri yang berboncengan mengendarai sepeda motor matic di jalan raya, mengebut tanpa helm, cekakak-cekikik seolah dunia milik mereka, dan merasa tidak ada yang bisa mencelakai mereka karena dunia adalah milik mereka. Istilah gaulnya “cabe-cabean”.

Melihat mereka niscaya menimbulkan kedongkolan di hati. Ingin rasanya kita menggampar mereka, berharap mereka bisa lebih mawas diri, tapi tidak ada yang bisa kita lakukan karena percuma saja menasihati mereka. Satu-satunya hal yang bisa bikin mereka kapok adalah jika mereka terkena masalah secara langsung. Untungnya, di akhir cerita, Nikma membuat Lintang kapok pada ulahnya sendiri. Ini merupakan poin plus yang patut diapresiasikan.

Sayangnya, pembaca sudah bisa menebak apa yang akan terjadi sejak paruh awal buku. Dan dampaknya pun tidak terlalu signifikan. Tidak terasa kalau Lintang benar-benar menyesal dan si pelaku pun tidak mendapat ganjaran yang setimpal. Semuanya terasa ringan-ringan saja. Memang demikianlah kodrat buku ini: menjadi hiburan ringan, yang bisa menjadi teman saat jeda iklan di televisi sambil menunggu Ganteng-Ganteng Serigala dimulai kembali.

Dan, ah, saya pun seharusnya meresensi novel ini dengan ringan-ringan saja. Kenapa pula saya jadi terlalu serius seperti ini? Mungkin—saya sebenarnya enggan mengatakan hal ini—saya sudah terlalu tua untuk membaca novel semacam ini. Entahlah….

 

@AdhamTFusama

Advertisements

Maafkan Kami, Ramadhan


Maafkan kami, Ramadhan,

di tengah keriuhan saat kami belajar demokrasi demi negeri,

kami melupakanmu.

 

Maafkan kami, Ramadhan,

di tengah malam justru sorakan pada tim kesayangan yang kami dirikan,

dan kami melupakanmu.

 

Jika ada rida dari-Nya, ya Ramadhan,

izinkanlah kami untuk kembali mengingatmu,

tuk mengais secuil lailatul qadr di sisa-sisa harimu.

 

Itiqaf

 

Selamat bersemadi di masjid mencari rida Tuhan. Selamat beritikaf.

#Kamisan: Pulang


“Sayang, aku pulang dulu, ya,” kata Siska menenteng koper yang akan dibawa ke kampung halamannya.

“Hati-hati di jalan,” angguk sang kekasih, mengecup bibirnya. “Salam buat orangtuamu, ya?”

“Oke,” kekeh Siska, “Aku bakal kangen nih.”

“Aku juga. Sampai ketemu setelah Lebaran.”

“Iya,” angguk Siska membuka pintu, “See you and love you.”

See you and love you too…” balas Vina, melambaikan tangannya ke Siska yang keluar menghampiri taksi yang telah menunggu.

Holding Hands

@AdhamTFusama

Tentang #Kamisan