[Cerpen] Abang


Big Brother

Source: etsy.com

Bang, aku nggak ngerti kenapa Abang pergi begitu cepat. Aku juga nggak ngerti kenapa Abang ninggalin aku begitu saja. Padahal, pagi itu Abang sudah janji padaku, “Tenang aja. Abang bakal selalu ada untukmu, kok.”

Itu kan janji terakhir Abang? Kata-kata terakhir sebelum Abang berangkat kerja. Tapi, kenapa Abang malah pergi? Kenapa Abang nggak nepatin janji?

Aku langsung lemas waktu dengar kabar kalau Abang meninggal dunia. Rasanya, kayak ada yang ngerebut paksa setengah dari jiwaku. Rasanya, kayak ada yang nyabut paksa sakelar kebahagiaan di hatiku.

Ibu histeris, Bang. Beliau kayak nggak rela Abang ninggalin kami semua. Ibu bahkan sampai pingsan dua kali. Bagi Ibu, ini semua seperti mimpi buruk di siang bolong.

Atau, Abang lihat nggak reaksi Ayah? Beliau yang selama ini selalu keras malah menangis meraung-raung saat ngelihat jasad Abang yang terbujur kaku tak bernyawa di ruang jenazah.

Tapi, anehnya, aku nggak nangis, Bang. Nggak ada air mata yang jatuh waktu aku tahu tentang kewafatanmu. Alih-alih sedih, aku malah kebingungan. Abang itu penuntun hari-hariku. Tanpa Abang, aku kayak domba yang kehilangan pengembalanya.

Aku harus gimana sekarang? Ke mana aku harus melangkah? Gimana caraku ngelanjutin hidup, Bang? Aku benar-benar nggak tahu.

Aku kehilangan sosokmu, Bang. Sangat kehilangan. Abang satu-satunya orang yang bisa bikin hidupku berarti.

Aku masih nggak percaya Abang sudah tiada. Melihat Abang terbaring di atas kasur beralaskan seprai putih dan kain batik, aku ngerasa Abang tuh cuma tidur doang dan akan segera bangun sebentar lagi.

Atau—aku setengah berharap—Abang bakal melompat bangun lalu berseru, “Surprise! April mop! Kalian ketipu! Hahaha!” Memang sih itu bakal jadi joke yang nggak lucu, tapi seenggaknya Abang masih hidup dan gelembung harapan di hatiku nggak perlu pecah begitu saja.

Nyatanya, nggak ada yang namanya April Mop di bulan Juli. Nyatanya, kelopak mata Abang tetap tertutup rapat. Selamanya.

Abang benar-benar sudah nggak ada.

Siang itu para pelayat berdatangan. Pacar Abang menangis tersedu-sedu di samping jasadmu. Keluarga, para sahabat, dan tetangga hadir semua. Mereka datang untuk berkabung, berbagi duka, sekaligus ngucapin salam terakhir buat Abang.

Kedatangan mereka yang berbondong-bondong membuatku ngerasa seakan seluruh dunia ikut menangisi kepergianmu, Bang. Berduka karena sudah nggak ada lagi sosok sehebat dirimu.

Jujur aku nggak tahan lagi, Bang. Aku nggak tahan ngelihat kucuran air mata dan ngedenger isak tangis di tengah lantunan ayat-ayat dari kitab suci. Aku ngerasa, itu semua kayak stempel pengesahan kalau Abang memang benar sudah wafat. Padahal, aku masih belum bisa nerima kenyataan ini sepenuhnya.

Makanya, aku naik saja ke kamar dan mengurung diri di sana. Maaf, Bang, bukannya aku egois dan nggak mau nemenin Abang. Tapi, aku sudah bosan mendapat ucapan “Yang sabar ya…”, “Tabah ya, Sob…”, “Abangmu udah di tempat yang lebih baik. Ikhlasin ya….”

Apa-apaan sih mereka itu? Apa mereka nggak tahu betapa hancurnya hatiku? Apa mereka nggak paham betapa aku kehilangan lentera hidupku? Apa mereka nggak bisa ngertiin aku?

Sepertinya, memang nggak ada yang bisa mahamin aku, Bang. Bahkan Ayah dan Ibu juga nggak bisa. Sedari dulu, cuma Abang yang ngertiin aku.

Ayah selalu keras padaku. Beda dengan Abang yang jadi kebanggaannya, aku ini nggak lebih dari sekadar beban buat Ayah. Ibu juga begitu. Ibu selalu ngebanding-bandingin kita berdua. Ibu sering bilang, “Coba dong kamu tiru Abangmu…”, “Abangmu itu selalu nurut sama Ibu, makanya dia bisa sukses walau masih muda…”, “Duh, kamu kok ndak seperti abangmu, sih?”

Mereka nggak pernah mikirin perasaanku.

Aku jadi sadar, Bang, kalau aku ini bukan anak kesayangan mereka. Mereka cuma sayang padamu. Mungkin, kalau mereka diizinkan memilih, aku yakin mereka akan lebih milih aku untuk mati lebih dulu.

Namun, kalau memang bisa begitu, rasanya aku nggak keberatan. Serius, Bang. Aku rela mati gantiin kamu. Itu karena aku sayang padamu. Itu karena Abang selalu sayang ama aku, mahamin aku. Abang beda dari yang lainnya.

Aku masih ingat Abang pernah berkata, “Ya iyalah. Kamu kan adik Abang satu-satunya. Wajar dong kalau Abang sayang.” Abang mungkin sudah lupa pernah bilang begitu. Tapi, aku akan selalu ingat, sebab ucapan itu sangat berarti bagiku.

Meskipun begitu, kayaknya aku paham kenapa orang-orang lebih menyukai Abang. Alasannya simpel:  karena Abang sempurna.

Ya, kali ini aku setuju dengan mereka, Abang memang sempurna.

Abang tampan, cerdas, ramah, periang, humoris, baik hati, sederhana, pemberani, rajin, dan pekerja keras. Abang itu tipe ladies’ man, man’s man, man about town. Nggak ada yang nggak suka dengan Abang.

Abang suka menolong dan nggak suka ngelihat ada orang yang kesusahan. Abang bahkan rela berkorban demi kebaikan orang lain. Abang tuh luar biasa. Abang begitu mulia sampai-sampai wafat pun dalam keadaan mulia.

Kata para saksi, sebenarnya Abang bisa saja menabrak nenek-nenek yang mendadaknyelonong menyeberangi jalan. Kalaupun si nenek itu tewas, Abang nggak salah. Tapi, alih-alih begitu, Abang malah membanting setang demi keselamatan si nenek. Abang jatuh terpelanting, belakang kepala menghantam aspal. Helm aviator retro kesayangan Abang pun nggak bisa menyelamatkan nyawamu.

Ini sungguh nggak adil, Bang. Benar-benar nggak adil. Padahal Abang masih muda. Baru 24 tahun. Belum ada seperempat abad nikmatin dunia. Kenapa Abang malah tega ninggalin kami begitu cepat?

Bang, akhirnya aku nangis juga. Setelah seharian nggak kunjung datang, air mata ini pun tumpah waktu mereka meletakkan jasadmu di dasar liang lahad. Melihat raga Abang ditimbun tanah, aku sadar kalau aku benar-benar akan kehilanganmu selamanya.

Kutumpahkan seluruh kesedihan yang sedari tadi numpuk di dada.Walau teman-temanku terus ngasih suntikan moral supaya aku berlapang dada, tetap saja aku nggak bisa. Aku terlalu sayang padamu, Bang. Sulit untuk bisa ikhlas di saat seperti ini.

Aku mengagumimu sejak kecil, Bang. Diam-diam menyanjungmu.

Dulu, waktu aku dikejar-kejar anjing, Abang yang ngusir mereka. Waktu aku ditodong berandalan SMA, Abang yang nolongin aku. Waktu ayah marah-marah, Abang yang ngebelain aku.Ada teman yang mengejek, Abang yang turun tangan. Setiap kali aku nangis, Abang yang ngehibur aku.

Bang… cuma kamu pahlawanku. Idolaku.

Usia kita memang terpaut jauh—beda tujuh tahun—tapi kita begitu dekat dan akrab. Abang selalu ada di setiap momen-momen terbaik dalam hidupku. Dan, Abang pula lah orang yang paling berpengaruh dalam hidupku.

Aku suka band Sigur Ros berkat Abang. Aku mahir main gitar berkat Abang. Aku bisa berenang berkat Abang. Aku bisa naik motor berkat Abang. Aku suka IPA berkat Abang. Aku bisa masuk Sekolah Menengah Analis Kimia juga berkat bantuan Abang.

Jasamu besar sekali, Bang. Abang sangat berarti bagiku. Terlalu berarti bagi hidupku. Aku nggak mau kehilangan dirimu.

Jadi… kubongkar saja makammu malam itu juga.

Kubawa mobil jip Ayah diam-diam untuk mengangkut cangkul, pacul, dan perlengkapan lainnya. Dan, dengan tanganku sendiri, kugali lagi kuburan Abang yang masih basah.

Aku akan menyelamatkanmu, Bang. Tenang saja. Aku mungkin bukan pembongkar makam yang andal—macul tanah saja aku nggak becus—tapi, aku nggak akan nyerah. Aku nggak peduli kalau tanganku lecet-lecet atau badanku kehabisan tenaga asalkan aku bisa ngeluarin Abang dari sana. Abang nggak seharusnya berada di dalam sana.

Hujan turun, Bang. Dari yang semula cuma gerimis menjadi hujan deras yang diiringi gelegar petir susul-menyusul. Barangkali Tuhan marah karena aku berniat untuk ngerebutmu dari sisi-Nya. Tapi, biarlah, aku nggak peduli. Justru berkat hujan pekerjaanku jadi sedikit lebih ringan. Tanah yang becek lebih gampang buat digali. Lagian, di tengah badai seperti ini, nggak akan ada orang yang bakal mergokin aku ngebongkar makam, kan? Jadi, kuanggap saja hujan lebat ini sebagai anugerah yang terselubung.

Aku pun terus menggali, menggali, dan menggali. Setelah satu jam, akhirnya aku berhasil menemukanmu, Bang. Betapa senangnya aku waktu ngelihat kafan putihmu. Kita bertemu lagi, Bang. Air mata bahagia kontan menetes, bergabung dengan air hujan yang turun membasahi wajah.

Dengan susah payah, kuangkat jasadmu ke atas tanah, lantas kugotong ke dalam mobil. Maaf ya, Bang, tubuhmu kuletakkan di jok belakang. Mungkin agak nggak nyaman, tapi kita harus pergi dari sini sesegera mungkin. Setelah kusimpan kembali cangkul dan pacul ke dalam mobil, kita siap berangkat, Bang.

Tujuan selanjutnya: vila di Puncak.

Ide gila ini muncul waktu aku menyendiri di kamar tadi siang. Aku nggak bisa bayangin betapa menderitanya hidupku tanpamu, Bang. Jadi, kuputuskan saja untuk ngeluarin Abang dari dalam kubur. Aku pun segera menyusun rencana.

Aku teringat vila tempat kita berlibur pada malam tahun baru yang lalu. Tempatnya nyaman, tenang, damai, sepi, dan jauh dari keramaian. Aku pun langsung menelepon dan mem-booking vila tersebut. Jadi, ke sanalah kita sekarang.

Setelah urusan vila beres, kubuat daftar barang-barang yang perlu dibawa. Pacul, cangkul, pakaian, peralatan mandi, handuk, parfum, bedak, beberapa perlengkapan kosmetik Ibu, dan lain sebagainya. Sorenya, setelah prosesi pemakaman, aku mampir ke toko kimia langganan para siswa di sekolahku untuk membeli dua jeriken formalin.

Hehehe. Aku nggak mungkin membiarkan tubuh Abang membusuk, kan?

Aku senang sekali karena kita bisa berkumpul lagi seperti dulu. Aku sudah bisa ngebayangin kita berpetualang berdua, pergi ke banyak kota, dan mungkin tinggal di suatu tempat yang aman dan nyaman, di mana nggak bakal ada lagi yang bisa ngeganggukebersamaan kita. Di sana, aku akan merawatmu selamanya.

Ah, hujan sudah reda, Bang. Bogor cerah banget malam ini. Aku ganti pakaian dulu ya di SPBU. Nggak mungkin aku tetap pakai kaus basah dan celana jeans berlumpur seperti ini. Dan, sekali lagi, maaf ya, Bang. Aku juga harus nutupin Abang dengan kain hitam. Bisa berabe kalau orang-orang tahu ada pocong di dalam mobil. Hahaha.

Tapi, nggak usah khawatir. Semuanya lancar kok. Setibanya di tujuan, aku langsung ambil kunci vila sambil basa-basi sebentar dengan pengelolanya. Kuparkirkan mobil ke dalam garasi, kuangkut seluruh barang bawaan, dan kubawa Abang ke dalam kamar setelah memastikan nggak ada orang yang ngelihat.

Aku menarik napas lega, bersyukur karena semua berjalan sesuai rencana. “Kita berhasil, Bang,” kataku, tersenyum gembira.

Dengan segera, kubuka kafanmu. Abang nggak cocok pakai kain norak seperti ini. Dan, lagi-lagi, air mata haru nggak sanggup kubendung saat aku bisa melihat kembali wajahmu di hadapanku. Dengan lembut, kusentuh dan kuelus pipimu yang dingin. “Bang, aku kangen…” Suaraku bergetar menahan luapan rindu.

Dengan hati-hati, kugendong Abang ke kamar mandi, lalu kubersihkan badanmu dari tanah dan lumpur. Setelah kering dan bersih, kubawa kembali Abang ke tempat tidur. Melihat tubuhmu yang terbaring polos di sana membuatku sedikit sedih, Bang. Kulitmu pucat kelabu, bibirmu membiru, jemarimu tertekuk kaku, dan ada seulas warna hitam di bagian matamu. Aku kayak nggak ngenalin kamu.

Tapi, tenang saja, Bang. Aku akan memperbaikinya.

Dengan telaten, kuoleskan body lotion supaya kulit Abang tidak kering dan pecah-pecah. Kubawa telapak tanganku, yang telah dibalur krim putih, untuk menjelajahi sekujur tubuhmu. Leher, lengan, siku, dada, jemari, perut, kaki, tumit, punggung, dan bagian tubuh lainnya. Kupastikan nggak ada satu bagian pun yang terlewati.

Selanjutnya kugunakan make up milik Ibu guna menyamarkan kulit pucat Abang agar tidak begitu kentara. Cleanser, fondation, tanning cream, bedak, blush on,hingga lipstick kupakai semua untuk mengembalikan rona serta cahaya kehidupan di kulitmu. Terakhir, kusemprotkan parfum Bennetton Sport favoritmu.

Untuk sementara, begini saja dulu ya, Bang. Formalinnya kusuntikkan saja esok hari, karena malam ini sudah terlalu larut. Tapi, jangan khawatir, Bang. Udara dan suhu Puncak yang dingin akan menghambat proses dekomposisi.

Kendati demikian, meskipun belum kuawetkan, Abang sudah ganteng lagi kok. Lihatlah! Abang sempurna seperti sedia kala, seperti nggak pernah mengalami kecelakaan motor. Abang tampak hidup.

Jujur, aku suka dengan gaya rambut spike Abang. Dan, aku tahu kalau ada banyak orang yang kesengsem dengan cambang dan jenggot tipismu. Abang jadi kelihatan maskulin. Gagah. Aku juga iri dengan badan Abang yang atletis. Aku nggak pernah bisa main bola basket seperti Abang. Tapi, aku selalu suka ngelihat Abang bermain basket, apalagi kalau sudah memasang tampang serius saat bertanding. Abang keren.

Perasaan rindu di dada ini muncul lagi. Kali ini begitu menggebu-gebu sampai aku nggak bisa menahan diri.

Bang, boleh aku memelukmu? Aku ingin seperti dulu;meletakkan kepalaku di dada bidangmu, melingkarkan tanganku di pinggangmu, menghirup subtilnya aroma tubuhmu, lalu mengecupmu dan memadu kasih denganmu.

Dulu, kalau aku sudah manja seperti ini, Abang pasti cuma senyam-senyum saja, kemudian balas merangkulku. Aaah… rasanya seperti berada di surga. Apalagi kalau sudah ditemani dengan alunan lagu-lagudari Sigur Ros. Seluruh lara yang ada seolah sirna.

Di tempat tidur kita hanya berdua. Berangkulan. Menikmati kesyahduan dan kemesraan yang sudah terajut sejak lama.

Abang selalu bisa membuatku menjadi orang paling bahagia di dunia.

Dan sekarang, sudah kudapati kembali kebahagiaan tersebut. Kita akan bersama selamanya. Abang akan selalu ada buatku… seperti janji terakhirmu.  Percayalah, itu sudah cukup buatku. Aku nggak akan minta apa-apa lagi.

“Aku mencintaimu, Bang. Selalu. Selamanya…”

Aku pun mencintaimu, Dik

Senyumku terkembang.

Terima kasih sudah hadir dalam malam-malamku, Bang. Tetaplah berada di sampingku. Temani aku pejamkan mata ini di dalam dekapmu. Buai aku hingga kuarungi mimpi-mimpi yang indah.

 

Þú rótar í tilfinningum í hrærivél (Engkau mengaduk-aduk perasaan)
Allt úti um allt
(Membuatnya tak keruan)
En það varst þú sem alltaf varst (Tapi hanya kamu yang selalu)
til staðar fyrir mann (ada untukku)
og það varst þú sem aldrei dæmdir
(Dan hanya kamu yang tidak pernah menghakimi)
Sannur vinur manns
(Sahabat sejatiku)

[Ara Batur – Sigur Ros]

Aku bahagia, Bang. Sangat bahagia.

 

***

 

Bogor, Februari 2014 (diikutsertakan untuk lomba cerpen horor remaja)

Edit Juni 2014

@AdhamTFusama

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s