Perubahan Itu Ada di Tangan Kita! #SayNoToGolput


Bertolt Brecht

Buta Politik

Beberapa hari yang lalu saya sempat membaca artikel berbahasa Inggris tentang pemilu, kondisi bangsa, dan kritik kedua kandidat yang diusung menjadi presiden. Artikelnya sangat bagus. Narasumbernya adalah seorang akademisi cerdas yang—dari jawaban-jawabannya—tahu serta mengerti dengan keadaan bangsa saat ini. Akan tetapi, semua berubah ketika negara api menyerang di akhir wawancara dia ditanya akan memilih siapa untuk menjadi presiden. Sambil tertawa, dia menjawab kalau dia golput karena di matanya tidak ada kandidat yang pantas untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapi bangsa ini.

Seketika, saya langsung merasa telah menyia-nyiakan waktu saya untuk membaca artikel tersebut. Semua jawaban-jawaban keren dan bernas yang dia berikan sebelumnya langsung berubah menjadi omong-kosong belaka. Oh ya, dia memang tahu dan mengerti dengan keadaan bangsa, tapi ternyata dia tidak mau tahu dengan bangsa ini. Ibarat melihat ada kebakaran, dia tahu apa penyebab kebakaran di depan matanya, juga tahu bagaimana cara-cara yang bisa diambil untuk memadamkannya. Tapi, dia memilih untuk tidak melakukannya. Dia memilih untuk diam dan mengamati saja.

Kemudian, di salah satu media sosial, salah satu teman saya memposting gambar satiris yang menyindir kalau siapa pun presidennya, tidak akan ada banyak pengaruh pada kehidupan pribadi. Saya lebih kaget lagi ketika mendapati kalau ternyata banyak juga teman saya yang memilih untuk golput.

Seriously guys? Hari gini masih golput?

 

Golput atau “Golongan Putih” biasa diasosiasikan sebagai golongan orang-orang yang tidak menggunakan hak suaranya saat pemilu. Pada masa Orde Baru, golput merupakan bentuk perlawanan pada rezim. Toh, pada zaman itu, kita memberikan suara atau tidak hasilnya sama saja. Tetap Soeharto yang akan naik sebagai presidennya.

Tapi, sekarang zaman sudah beda. Reformasi sudah berjalan lebih dari 15 tahun. Oke lah, di awal-awal masa reformasi, kita masih cemen sehingga sistem reformasi kita masih berantakan. Tapi, masa sih kita pengen cemen terus-terusan?

Jadi, buat saya pribadi, sekarang golput itu bukan lagi bentuk perlawanan melainkan bentuk ketidakpedulian. Bagi saya, orang yang masih bisa bilang “siapa pun presidennya, hidup gue nggak bakal banyak berubah” itu adalah orang egois yang cuma memikirkan dirinya sendiri. Terlebih, apa orang-orang seperti mereka tidak sadar kalau setiap pemimpin memberi pengaruh pada rakyatnya?

Contoh saja, seorang pemimpin memutuskan untuk menaikkan harga BBM. Harga bensin naik, ongkos kendaraan umum naik, ongkos distribusi naik, harga-harga keperluan sehari-hari naik, dan gaji kita pun semakin sebentar mampir ke rekening dan dompet. Itu baru BBM, belum hal-hal yang lainnya.

Dulu, saya juga sempat skeptis seperti itu. Di saat orang-orang pada berteriak protes harga premium naik menjadi Rp 6.500, saya sempat berkata dengan sombongnya “Ah, baru juga naik dua ribu. Nggak ada pengaruhnya.” Ternyata saya salah besar. Tuhan “menyentil” kesombongan saya itu dengan menangguhkan rezeki saya. Alhasil, sekarang saya ingin sekali menangis meraung-raung karena uang saya seringkali hanya pas-pasan untuk membeli bensin 2 liter. Dulu, saya bisa membeli 2 liter bensin dengan uang Rp 9.000. Sekarang, mana bisa?

Masih tidak ada pengaruhnya dengan kehidupan kita? Look closer, guys!

Kalau kita memilih pemimpin yang salah, bukan mustahil harga BBM akan naik lagi. Dan, sebagai seorang penulis—percaya atau tidak—harga BBM juga berpengaruh pada saya. Harga bensin naik, ongkos cetak naik, ongkos distribusi naik, harga buku naik, minat baca dan minat beli masyarakat turun, dan nasib penulis seperti saya pun semakin memprihatinkan. Sekarang saja, di mana harga buku saya cuma Rp 30.000-an, sudah banyak orang-orang yang minta buku secara gratisan! Apa kata dunia, kalau harga buku saya naik misalnya sampai Rp 90.000-an?

Itu cuma contoh kecil saja. Masih banyak contoh-contoh lainnya. Yang jelas, kebijakan-kebijakan pemimpin pasti ada pengaruhnya terhadap masyarakat luas. Kebijakan yang salah dari pemimpin yang salah cuma akan menyengsarakan kita semua.

Dan, kalian tidak akan bisa mencegah “pemimpin yang salah” melakukan kebijakan yang salah, kalau kalian membiarkannya untuk menjadi pemimpin. Mana bisa kita menciptakan perubahan kalau kalian tidak terlibat untuk mengusahakannya? Mana bisa kita menciptakan perubahan kalau kita cuma menonton saja, cuma berharap dan berdoa tapi tidak melakukan apa-apa?

Percaya deh! Sekarang suara kalian ada pengaruhnya. Suara kalian ciptakan perbedaan. Siapa pun yang kalian pilih nanti, bukan Soeharto lagi yang akan naik jadi Presidennya. Siapa pun pemimpin yang kalian pilih, pilihan kalianlah yang punya kesempatan untuk bekerja membawa perubahan. Apalagi sekarang kandidatnya cuma dua. Satu suara dari kita pasti berpengaruh dan menentukan arah masa depan bangsa.

 

Ah, tapi gue skeptis, Dham. Presiden A cuma bisa wacana, presiden B kerja belum kelar udah mau jadi presiden. Kayaknya ngecewain dua-duanya.

Ya elah, bro. Masih muda aja lo udah skeptis dan pesimis. Di dunia ini, mana ada manusia yang sempurna? Kandidat calon presiden juga tidak sempurna. Mereka punya kelemahan dan kelebihan masing-masing. Tinggal lo pilih aja yang menurut lo lebih berpotensi membawa negara ini ke arah kemajuan yang lebih baik.

Lalu kalau soal kecewa, semua orang pasti akan kecewa, dikecewakan, dan mengecewakan orang lain. Kecewa itu biasa. Tapi, masa kita takut dengan kecewa?

Berani taruhan, lo pasti pernah dikecewain pacar. Namun, apa cuma gara-gara dikecewain pacar lantas kita putus asa dan tidak percaya lagi pada kekuatan cinta? #Tsaah *Fitrop mode on*

Jawabannya tidak, kan?

Oke, serius lagi nih. Kita boleh kok merasa kecewa dengan kandidat yang ada. Tapi setidaknya kita berani untuk melawan rasa takut akan kekecewaan tersebut dengan memilih. Memilih untuk kemajuan Indonesia, sekecil apa pun kemajuan itu. Itu lebih baik ketimbang tidak berbuat apa-apa, cuma mau nonton doang, serta kelak cuma bisa ngomong dan ngeluh soal keadaan bangsa. Apa bedanya kita dengan si akademisi yang jawabannya cerdas tapi ternyata omong-kosong belaka?

Kelak mungkin kita juga akan dikecewakan oleh pemimpin pilihan kita. Wajar dan boleh-boleh saja. Toh pemimpin kita juga manusia yang tidak mungkin mampu menyenangkan semua pihak. Namun, jangan sampai hal itu membuat kita patah arang dan putus asa sehingga berhenti untuk berusaha memberikan sedikit sumbangsih untuk kemajuan negeri, sekecil apa pun itu. Kecewa itu biasa. Berani kecewa itu luar biasa.

 

Iya deh, iya. Nanti gue nyoblos. Tapi gue masih belum nentuin siapa yang mau gue pilih. Pas di TPS gue itung kancing aja deh.

Oi! Ini buat masa depan bangsa, lho! Masa mau main-main? Apa lo mau kalo masa depan lo juga hasil pilihan main-main? Misalnya, mau nggak kalo jodoh lo kelak itu hasil pilihan main-main? Hasil itung-itung kancing? Nggak, kan?

Jangan sampai kita salah pilih presiden. Pilih presiden tuh bukan kayak pilih pacar, yang kalau nggak cocok bisa diputusin bulan depan! Memangnya kalian mau menderita sampai 5 tahun ke depan? Tidak, kan?

 

Jadi, pilihlah presiden yang punya visi misi yang jelas, bukan sekadar punya wacana belaka. Pilih presiden yang track record-nya jelas bukan yang pencitraan belaka. Pilih presiden yang amanah, yang benar-benar pro-rakyat, benar-benar dari rakyat, bukan yang cuma mengatasnamakan rakyat. Pilih presiden yang siap memimpin demi bekerja untuk rakyat bukan yang cuma ingin kekuasaan. Pilih presiden yang memang mau bekerja bukan yang bilang mau bekerja tapi hanya retorika belaka.

Yang terpenting: pilih sesuai hati nurani. Jangan mendustakan nurani. Jangan sampai ada beban moral sewaktu memilih. Dan, jangan pula sampai terpengaruh oleh fitnah, kampanye hitam, atau bahkan kampanye-kampanye di timeline Facebook maupun Twitter saya. Hahaha. Yang jelas, tanggal 9 Juli 2014 nanti, datang ke TPS, gunakan suara kita semua, dan jangan lupa berdoa sebelum memilih. Ingat, golput bukan jawaban!

Dan, karena saya seorang Muslim, izinkan saya mengutip firman Tuhan, yang saya rasa sangat cocok untuk situasi saat ini:

 

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kamu, kecuali kamu itu sendiri yang mengubah apa-apa yang ada pada diri mereka.” Q.S. Ar-Raad: 11

 

Perubahan itu ada di tangan kita. Insya Allah niat baik kita untuk mengubah nasib bangsa ke arah yang lebih baik tidak akan sia-sia. Akan selalu ada harapan buat Indonesia, buat kita semua. Remember, hope is a good thing, maybe the best of things, and no good thing ever dies. – The Shawshank Redemption.

 

@AdhamTFusama

Kandidat

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s