#Kamisan: My Wishy-Washy Thoughts: Politic, Black Campaign and Maturity Process


Wishy-washy: not having or showing strong ideas or beliefs about something; weak and not able or not willing to act (Merriam-Webster dictionary)

 

Wishy Washy

Sejak pemilu legislatif selesai, kondisi politik di Indonesia semakin “seru”. Pesta demokrasi untuk menentukan pemimpin baru negeri ini terasa panas karena hanya ada dua kandidat yang maju menjadi kandidat presiden selanjutnya. Sontak, Indonesia pun seolah terbagi menjadi 3 kubu: kubu pendukung capres A, kubu pendukung capres B, dan kubu yang netral / belum menentukan pilihan / golput / apatis / tidak peduli. Kubu pendukung capres A dan B lah yang membuat kondisi politik di Indonesia menjadi ngeri-ngeri sedap.

Karena hanya ada dua kubu yang berseteru, maka kedua pendukung pun berlomba-lomba mengampanyekan prestasi dan kehebatan capres mereka, serta sesekali (atau malah seringkali) berusaha menjegal capres lawan dengan bersenjatakan negative and black campaign. Nyaris tiap hari saya dapat temui postingan orang-orang yang tanpa ragu menyebar fitnah dan kata-kata kotor untuk menjatuhkan capres lawan. Bahkan, saking kotornya, sampai-sampai saya tidak percaya kalau mereka adalah saudara sebangsa yang barangkali tinggal bersisian dengan rumah saya.

Saya sendiri adalah salah satu pendukung kubu capres yang ada. Ini sebenarnya merupakan hal baru bagi saya. Pada pemilu-pemilu sebelumnya, saya memang menjadi pendukung capres tertentu tapi tidak secara terang-terangan. Pilihan saya tetap menjadi rahasia saya. Namun, anehnya, tahun ini saya tidak bisa bersikap seperti itu. Mungkin karena saya merasa ada sedikit harapan bagi kemajuan dan perubahan Indonesia sehingga ada keinginan untuk ikut berpartisipasi menjaga api harapan tersebut tetap hidup. Terdengar seperti pemikiran naïf barangkali, tapi silakan Anda berpikir seperti itu.

Sebagai pendukung salah satu kubu, saya memang sering menjadi juru kampanye dadakan yang tidak dibayar, dengan memposting berita-berita tentang capres pilihan saya itu. Saya berusaha menghindari black campaign. Saya tidak pernah menjelek-jelekkan capres lawan dengan kata-kata kotor, sebutan-sebutan kurang ajar, atau menyebar fitnah yang berkaitan dengan SARA. Saya yakin, saya telah bersikap demikian. Tapi, apakah saya benar-benar bersih dari black campaign? Untuk pertanyaan yang satu ini, saya ragu untuk menjawabnya.

Secara sadar, saya berusaha mencegah diri saya dari kampanye hitam. Hanya saja, saya—sadar maupun tidak sadar—pernah memposting atau share berita yang isinya “menyerang” atau “menyakiti hati” kubu lawan. Seringkali saya temui berita-berita yang gurih-gurih enyoy (bahasa apa ini?) tentang capres oposisi sehingga tangan ini gatal untuk mengklik tombol share.

Beberapa hari yang lalu, saya sempat tertampar oleh artikel-artikel yang mengkritisi negative and black campaign. Dan, dari sana pula saya menyadari kalau saya ternyata belum dewasa dalam berpolitik. Tak hanya dalam berpolitik sih sebenarnya, dalam hal lain pun saya sering merasa kalau saya belum dewasa. Saya akui masih memiliki jiwa kekanak-kanakan. Sebagai penulis, saya memang sengaja memelihara jiwa tersebut agar tetap bisa berpikir imajinatif, kreatif, dan memiliki rasa penasaran seperti anak kecil.

 

Tampar aku, Mas! Tampar!

Tampar aku, Mas! Tampar!

Tampaknya, saya masih harus berusaha menyeimbangkan kadar keduanya. Saya masih mesti belajar kapan saya harus bersikap dewasa, serta kapan saya boleh mengeluarkan jiwa kekanak-kanakan saya. Hal tersebut tidak mudah. Yang jelas, sampai saat tulisan ini diposting, bolehlah dikatakan kalau saya masih plin-plan dalam bersikap.

Tidak apalah. Saya tanggapi secara positif saja. Artinya saya masih punya kesempatan untuk belajar dan memperbaiki diri. Saya patut bersyukur untuk itu. Semoga usaha untuk mendewasakan diri ini tidak berakhir dengan kata syukur saja, tapi benar-benar saya implementasikan ke depannya.

Terakhir, karena masih dalam rangka pesta demokrasi: semoga usaha untuk memajukan Indonesia ini bukan sekadar wacana wishy-washy belaka, tapi benar-benar dapat diwujudkan secara nyata. Peace.

 

@AdhamTFusama

Tentang #Kamisan

Advertisements

3 thoughts on “#Kamisan: My Wishy-Washy Thoughts: Politic, Black Campaign and Maturity Process

  1. Saya sendiri juga njleb-njleb sedep ya ama topik-nya Ka Nia :)). Saya juga masih jadi orang yg wishy washy-nya kronis. Nah saya liat anak-anak muda sekarang udah berani dalam menyampaikan pendapat mereka, akan apa yang mereka yakini. Di satu sisi, saya salut sama orang-orang yang berani untuk bersuara seperti itu :). Tapi memang saya juga sepakat kita enggak sepatutnya asal koar aja. Saya sendiri punya prinsip nyatakan apa yang memang faktanya, Meski saya sudah ada kecenderungan utk memlih salah satu calon presiden, saya usahakan saya menyatakan apa yg memang sudah saya ketahui dan apa yg benar, dan sy pilih berhati-hati. Tapi kemudian saya juga sempat ketampar sama tweet salah seorang yg saya follow soal menjadi orang yg abu-abu. Alias orang yg cuma bisanya menyembunyikan dirinya, enggak berani keliatan “kotor”. Ternyata untuk bs berpolitik secara baik dan dewasa butuh perjuangan jg yak. Melatih kesabaran, keberanian bersuara, dan mesti cerdas jg. Peace jugak yak XD

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s