Cover Rahasia Hujan: Sebuah Novel Thriller Remaja


JRENG! JRENG! JRENG!

Akhirnya setelah menunggu beberapa minggu, dipilihlah kover resmi novel kedua saya yang bertajuk Rahasia Hujan! Ini dia penampakannya:

Rahasia Hujan

Rahasia Hujan

Gimana? Kece, kan? Hehehe.

Rahasia Hujan insya Allah akan diterbitkan dalam waktu dekat oleh Penerbit Moka Media.

Rahasia Hujan adalah novel thriller remaja, bercerita tentang Pandu yang berteman dengan murid pindahan dari Jepang bernama Anggi. Karena kebaikan hati Pandu, diam-diam Anggi menaruh hati pada teman sebangkunya itu. Padahal, Pandu sendiri sudah memiliki pacar yang cantik bernama Nadine.

Penasaran kelanjutannya? Tunggu kehadiran Rahasia Hujan di toko buku terdekat!

Jangan lupa follow @AdhamTFusama dan @mokabuku untuk update info terbaru tentang Rahasia Hujan. Psssttt. Siapa tahu ada giveaway-nya lho!

#RahasiaHujan

 

Judul: Rahasia Hujan

Penulis: Adham T. Fusama

Penerbit: Moka Media

Terbit: 2014

Genre: nonfiksi, thriller, remaja

Advertisements

Wilujeng Sumping Ramadhan 1435 H


Wilujeng Sumping Ramadhan (@zoule_lubis)

Wilujeng Sumping Ramadhan (@zoule_lubis)

Marhaban yaa Ramadhan. Bulan suci yang dinanti pun datang juga. Jaga hati dan jangan sampai dikalahkan oleh hawa nafsu. Semoga saat Ied-ul-Fitri tiba, kita benar-benar bisa meraih kemenangan yang sejati. Aamin ya rabbal ‘alamin.

 

Ramadhan

Pesta demokrasi masih berlangsung, yuk kita hentikan kampanye hitam. Jangan merendahkan diri dengan menjelek-jelekkan capres sebelah, apalagi sampai menyebar fitnah. Jangan sampai tali kebangsaan ini rusak karena tindakan dan ucapan kita yang lalai serta tidak bertanggung jawab. Lebih baik kita doakan supaya Allah SWT membuka hati kita semua agar dapat memilih pemimpin yang bisa membawa kebaikan pada bangsa ini. Aamiin.

P.S. jangan sampai taruhan pas final Piala Dunia, ya! 😀

 

***

 

@AdhamTFusama

Gambar-gambar karya @zoule_lubis

Anies Baswedan’s Great Speech: Kenapa Memilih Jokowi?


Pada tanggal 18 Juni 2014, Anies Baswedan menyampaikan pidatonya di Soehana Hall, Energy Building, SCBD, Jakarta tentang mengapa dia memilih Jokowi. Buat saya, pidato beliau adalah salah satu pidato paling menggugah yang pernah saya saksikan. Kalau boleh jujur, saya tidak ingat kapan terakhir saya mendengar pidato yang inspiratif dari figur bangsa, di luar mimbar khotbah Jumat.

Bukan sekadar berkampanye mendukung calon presiden nomor urut 2, beliau juga banyak menyampaikan tentang mindset masyarakat. Dengan bahasa yang ringan, beliau tidak menggurui melainkan mengajak kita supaya memiliki pola pikir dan cara pandang yang bijak. Berikut adalah videonya:

 

 

Ya, durasinya memang cukup panjang, yakni sekitar 34 menit. Ya, bagi teman-teman yang memiliki koneksi internet lambat seperti di rumah saya, memang perlu bersabar untuk bisa menyaksikannya.

Tapi, bagi teman-teman yang tak sabar untuk mengetahui isi pidato Pak Anies tersebut, saya mencoba mencatat seluruh pidato beliau di bawah ini. Seperti kata Pak Anies, kita harus sama-sama turun tangan dan terlibat dalam menentukan masa depan bangsa. Saya—yang merasa tidak dapat berbuat banyak—mungkin hanya bisa melakukan hal ini. Dan tidak, saya tidak dibayar untuk melakukannya, meski saya termasuk penulis yang matre. Hahaha.

Catatan: saya mencatat sembari mendengarkan pidato beliau. Saya berusaha untuk setia dalam mencatat ucapan beliau kata per kata. Tapi, tentu saja ada perbedaan antara kalimat lisan dan tulisan. Oleh karena itulah, ada bagian-bagian yang saya edit tanpa mengubah inti serta esensi kalimat beliau. Beberapa istilah bahasa Inggris juga saya terjemahkan, supaya pidato beliau dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat.

Pada beberapa bagian, saya berikan pula keterangan tanda kurung “(…)” untuk menjelaskan konteks kalimat lisan—yang disertai gesture serta gerak tubuh Pak Anies, agar dapat tersampaikan maksudnya dalam kalimat tulisan. Juga, ada beberapa bagian yang tidak saya catat—misalnya saat beliau berinteraksi dengan host, bercanda dengan penonton, dan lain-lain. Yang saya catat adalah murni bagian pidato beliau.

Oleh karena itulah, saya anjurkan teman-teman untuk sekaligus menonton videonya, agar teman-teman dapat memaknai pidato beliau dengan lebih baik. Apabila ada pemaknaan yang keliru dalam tulisan saya, mohon hubungi saya melalui Facebook atau Twitter. Ya, siapa tahu Pak Anies Baswedan sendiri yang bersedia mengoreksi (ge’er parah). Hahaha.

Selamat menyaksikan, selamat membaca, dan salam dua jari.

 

***

 

MENGAPA PILIH JOKOWI?

 

Anies Baswedan

Tidak terlalu sulit untuk mengambil pilihan ketika kita punya pilihan Prabowo dan Jokowi. Nggak sulit sama sekali. Dan, saya selalu katakan, tidak sedikit pun punya beban moral untuk bilang “Saya pilih Jokowi.” Titik. Nggak ada sulitnya.

Jadi, ini menurut saya, kita perlu turun tangan sama-sama dan syukuri perkembangan. Perbaiki kekurangan dan siap turun tangan. Kebanyakan dari kita, jika ada masalah maka kita semua mendiskusikannya, sembari mengharapkan ada perubahan, dan sambil berasumsi ada orang lain yang berbuat. Kalau tidak ada orang lain yang berbuat, kita terus memproduksi keluhan. Itu namanya urun angan. Republik nggak berubah dengan urun angan. Kita harus turun tangan.

Jadi, ketika kita lihat politik di Indonesia, ada banyak sekali masalah. Dan, orang-orang yang kira-kira memiliki hati rasanya jarang mau masuk ke wilayah politik. Di kampus, saya pernah bertanya pada mahasiswa:

“Nanti selesai kuliah mau ke mana?

“Rencananya bisnis, Pak.”

“Nggak berminat ke politik?”

Wajahnya (si mahasiswa) itu berubah. Dia melihat rektornya kayak mau bilang “You are so wrong.” Kok bisa rektornya bertanya seperti itu?

“Kenapa bisnis? Kenapa nggak ke politik?”

“Politik itu kotor, Pak.”

Jadi saya jawab balik, “Kalau bisnis bersih, ya?”

Bersih atau kotor itu cara kita menjalani, bukan soal sektor. Sektor mana pun bisa bersih dan kotor. Tapi cara menjalaninya menunjukkan integritas yang kita miliki. That’s the answer.

Nah, orang-orang baik di Republik ini banyaknya luar biasa! Tapi jika orang baik hanya mau menjadi pembayar pajak yang baik, lalu siapa yang mengurusi uang pajak kita? That is a simple question? Siapa? Semua yang berada di ruangan ini, jika tadi siang Anda bekerja, maka Anda bayar pajak secara rutin. Dan jumlah pajaknya impresif! Makin hari porsi pajak kita dalam APBN luar biasa besar.

Pertanyaannya: siapa yang me-manage itu jika orang baik hanya mau menjadi pembayar pajak yang baik? Sayangnya, iklan-iklan yang ada adalah: jadilah warga negara yang baik dengan menjadi pembayar pajak yang baik. Tidak ada iklan yang bilang jadilah pengelola pajak yang baik. Nah, kita semua harus memikirkan ulang akan hal ini. Sebagian dari kita harus ambil keputusan, bukan saja untuk menjadi pembayar pajak tapi juga untuk menjadi pengelola uang pajak kita semua. Harus.

Nah, orang-orang yang baik-baik ini ketika mereka memilih masuk dunia politik biasanya menghadapi masalah. Misalnya, dosen baik-baik, pengajar baik-baik dan berintegritas, lalu namanya muncul sebagai caleg, maka orang-orang sekampus mendiskusikan. “Sakit apa dia sampai mau jadi caleg? Apa yang terjadi sehingga dia mau jadi caleg?” Itu mindset kita. Kita cenderung mempermasalahkan orang yang tidak bermasalah yang masuk ke dunia politik. Tapi jika orang yang bermasalah masuk politik kita justru tidak mempermasalahkan. Ini masalahnya!

Jadi, kalau ada orang yang bermasalah masuk politik, kita berpikir ya sudah seharusnya. Gitu, kan? Tapi, kalau ada orang yang tidak bermasalah lalu mau masuk ke dunia politik, justru kita tahan. That will never change our politic! That could never change!

Karena itu, kita justru harus mendorong orang-orang baik untuk masuk politik. Tidak semua orang harus masuk politik. Tapi kalau ada orang baik yang mau masuk politik, bantu! Kalau ada orang baik yang mau masuk politik, ikutlah terlibat! Kenapa? Kalau ada orang baik memilih untuk mengambil tanggung jawab mengurusi masalah politik, dia akan kalah jika orang baik lainnya memilih diam dan mendiamkan. Pasti!

Jadi, ketika ada orang baik menyatakan, “Saya siap mau ikut tanggung jawab!”, bantuin! Dukung dia! Karena the only way he will lose is all of us standing by and watching.

Dan, banyak dari kita yang cuma mengamati dia, kita saksikan sebagai subjek percobaan. Kita doakan menang. Tapi kalau kalah, kita malah bilang “Tuh kan, bener! Jangan masuk politik!” Banyak dari kita yang cuma menyaksikan. Tapi, no, no, no, no, kita harus terlibat.

Saya melihat Indonesia sekarang tumbuh luar biasa. Generasi kita—semua yang berada di ruangan ini—have benefit so much from the republic. Let’s pay back! Yuk, kita bayar balik! Dan, bayar baliknya dengan cara apa? Dengan cara menentukan arah Indonesia. Dan, kalau ada orang baik di sana, jangan diam!

Nah, hari ini, jelas-jelas ada orang baik. Namanya Jokowi. Udah jelas kan dia orang baik?

Saya kebetulan sudah kenal dengan Pak Jokowi dari dulu. Saya kenal Pak Jokowi ketika beliau masih menjadi Walikota Solo periode pertama. Dan, ketika bertemu pertama kali, I wasn’t really sure that he was a mayor—saya tidak yakin dia itu walikota (karena penampilannya yang sederhana).

Ya, Pak Jokowi mungkin nggak ingat. Waktu itu ada pernikahan keluarga—kebetulan keluarga saya di Solo—dan pak walikotanya datang, jadi saya diberitahu, “Anies, tolong sambut, walikotanya datang.” Jadi, saya ke depan dan mencari-cari mana walikotanya. I could not find him. Tapi, akhirnya, saya bertemu juga dengan Pak Jokowi. Kami pun mengobrol, berdiskusi.

Jika selama ini kita menyaksikan kemunculan calon yang mengatasnamakan rakyat, maka kali ini muncul seorang calon yang benar-benar dari rakyat Indonesia. Truly.

Jadi, kalau Pak Jokowi berdiri di mana pun, dia akan terlihat: he is one of us. Jadi ketika kita bilang “Jokowi Adalah Kita”, it is so true! Saya lihat itu sendiri ketika berkenalan pertama kali dengan Pak Jokowi. Setelah itu kami banyak berinteraksi. This guy is very interesting. Dia merupakan suatu antitesis atas apa yang terjadi selama ini. Dia menawarkan kebaruan.

Saya dari dulu, ketika ngobrol di Gerakan Turun Tangan: yang harus kita tawarkan bukan kemudaan, karena ini bukan urusan umur. Tua-muda itu bukan masalah hitungan tahun. Hitungan tahunnya boleh tinggi, tapi kalau yang dipikirkannya tetap masa depan, maka sebenarnya dia masih muda. Sebaliknya, kalau ada orang yang hitungan tahunnya kecil tapi yang diceritakannya adalah masa lalu… he is so old. Sebenarnya orang itu sudah sangat tua.

Nah, yang kita butuhkan itu kebaruan. Saya ingat di awal banyak sekali kritik. Why? Because political process. Saya katakan, jalani ini dengan cara yang benar, bersama orang-orang yang baik. Masuk dengan kepala tegak, keluar dengan kepala tegak. If you do it the right way, maka kita bisa menjalani itu dengan baik. Karena di ujung, begitu kita selesai proses konvensi, sekarang kita punya pilihan di depan kita: ada Pak Prabowo, ada Pak Jokowi. Ditunggu sampai tanggal 9 Juli pun tidak nambah calonnya.

Begitu sudah jelas keputusannya dua calon, decide early! Putuskan segera! Kenapa? Karena ini bukan oportunistik. Kalau oportunistik nunggu hasil survei. Ada tuh yang nunggu hasil survei baru memutuskan. Ada lho!

Saya melihat, hal ini begitu sederhana. Saya sempat menyampaikan hal ini di MetroTV, yakni: apa tantangan Indonesia? Kita sudah 15 tahun lebih reformasi tapi masih ada banyak hal yang mandek. Kita perlu orang yang bisa melakukan terobosan. Membongkar yang sekarang berbelit-belit. Melakukan tindakan-tindakan yang outside the box. Dan itu hanya bisa dilakukan jika dia bukan bagian dari masalah.

Kalau dia bagian dari masalah, there is no way he will fix it. Kita sudah melihat selama beberapa tahun ini. Karena itu, jangan cari orang yang merupakan bagian dari masalah. Di sini maka terlihat, Pak Jokowi is a clear choice. Dia datang membawa kebaruan.

Ada muncul pertanyaan, kalau wakilnya orang lama. Pak JK—Jusuf Kalla. Usianya 72 tahun, it’s rather old.  Tapi, kalau dihitung stamina, dia sangat energetik. Saya pun kenal Pak JK secara pribadi dan kebetulan cukup sering berinteraksi dengan dia. Dan, selama Pak JK menjadi wakil presiden (di era SBY), dia selalu diasosiasikan dengan terobosan. And that’s what we need.

Jadi, (duet Jokowi-JK) ini merupakan kombinasi yang menarik. Yang satu baru—kira-kira belum tahu lanskapnya seperti apa, di sisi lain ada yang senior—tetapi diiringi dengan terobosan. Kalau senior tapi tidak pernah terasosiasi dengan terobosan, barangkali dia akan menjadi baggage atau beban yang berat.

Di sisi lain, ada Pak Prabowo. Ya, dia juga baru. Bagian dari Orde Baru. Sementara yang satunya adalah seseorang yang sudah 15 tahun memimpin—dari mulai Menristek, Menteri Perhubungan, Mensesneg, sampai menjadi Menko Ekuin—dan sebagian yang dikritik Pak Prabowo adalah yang dikerjakan oleh wakilnya.

Saya terus terang kasihan kalau membicarakan soal “bocor”. Kenapa? Karena kelebihan 0 saja sudah dahsyat efeknya. Bagi orang yang tahu angka, 0 is a big different. Contoh, Rene (host dan moderator) punya anak 3, tambahin 0 satu saja di belakangnya, jadinya 30! That’s a big responsibility! Jadi, kalau dari 700 menjadi 7000, that’s a big different!

Tapi, menurut saya, bukan soal angka itu saja. Begini, Anda harus memiliki comprehensive understanding tentang angka. Ini penting! Kalau mau menjadi CEO sebuah perusahaan, you really need to know the size of your company. Jadi ketika mendengar laporan, you can make sense of it—Anda bisa melihatnya secara logis. Misalnya, GDP kita ini 10.500, lalu ada yang bilang bocor 7.000… you really need to make sense of it. Maksudnya, gimana bisa GDP kita bisa bocor sebanyak itu? Ditambah lagi, APBN-nya cuma 1.800. Lho, terus, bocornya yang mana? Kebayang, kan?

Ini, menurut saya, it uncovered the other side. Bahwa sebenarnya di balik retorika itu adakah pengetahuan yang mendalam? That’s the question.

Kembali ke masalah sebelumnya, saya lihat yang satu menawarkan kebaruan, yang satu lagi justru bagian dari yang lama. Lima tahun ke depan adalah 5 tahun yang mendasar buat Indonesia. Bukan cuma karena new first term (presiden baru), tapi juga karena mulai tahun depan kita masuk di ASEAN Economic Community. We’re part of that community. Transisi 5 tahun ini menentukan. Dan, kekuatan untuk kita bisa berhadapan dengan ASEAN, bukan di Deplu, bukan di Departemen Perdagangan, tapi di kekuatan manusia Indonesia di dalam negeri. That’s the answer.

Nah, di sini kemudian saya melihat perbedaan yang lebih jauh lagi. Pak Jokowi selalu mengatakan manusia Indonesia merupakan kunci. Saya juga kebetulan mempromosikan hal itu. I’m promoting that so much. Dan, selama ini saya juga mengatakan pada teman-teman di Gerakan Turun Tangan: yang kita bawa bukan cita-cita meraih sesuatu. Yang kita bawa adalah misi. Dan, misi itu adalah untuk di-deliver, untuk dicapai. That’s the mission. Dan, kalau kita tidak mendapatkan amanat untuk mencapainya, maka misi itu bisa kita titipkan pada orang lain (Jokowi) untuk menjalankannya.

That’s mission! Kalau cita-cita, Anda tidak bisa menitipkannya pada orang lain. Cita-cita untuk Anda raih sendiri, untuk diri Anda sendiri.

Nah, Pak Jokowi membicarakan tentang manusia sementara Pak Prabowo lebih banyak membicarakan soal sumber daya alam. Dan, saya selalu mengingatkan—ini bukan cuma saya katakan sekarang saja—kalau kita berbicara dengan retorika yang nasionalistis tapi yang dibicarakan hanya sumber daya alam, maka sebenarnya kita meneruskan tradisi berpikir kaum kolonial.

Kenapa? Karena kaum kolonial itu datang ke Indonesia sama sekali tidak memikirkan manusianya. Yang mereka pikirkan adalah extraction of resources—menyerap sumber daya alam.  Anda lihat peta rel kereta api di Jawa? Peta itu mencerminkan pusat-pusat eksploitasi sumber daya alam.

Di Sumatera Barat ke mana rel kereta apinya menuju? Ke Sawahlunto, karena ada batu bara. Di Sumatera Selatan ada kereta api ke Tanjung Enim (karena di situ ada batu bara juga). Semua tempat-tempat yang ada sumber daya alam di situ dilakukan pembangunan infrastruktur, tapi tidak dipikirkan manusianya.

Indonesia membutuhkan presiden yang memikirkan manusianya bukan cuma sumber daya alamnya. Jadi, menurut saya, dari situ saja sudah terbayang seperti apa fokusnya.

Nah, ini kalau bicara soal fokus. Kalau bicara soal style, menurut saya Pak Jokowi itu hidupnya sangat sederhana. Kalau ditanya apakah dia mampu hidup lebih dari sekarang? O yes he can afford it—dia mampu. Tapi style-nya (tetap sederhana). Tadi ada yang bercerita soal Pak Jokowi pernah tinggal di Kampung Melayu. Ada pejabat yang kalau disuruh jalan sendirian ke pasar, kikuknya nggak keruan. Dia tidak tahu what to do. Harus ngomong apa? Interaksinya apa?

Kenapa demikian? Karena selama ini dia bukan bagian dari interaksi dengan rakyat. Nah, sekarang kita bicara style yang tidak bisa ditiru. You have to experience it, you have to do it. Anda harus mengalami dan melakukannya. Karena Pak Jokowi itu tumbuh bersama rakyat, pasti terbiasa berinteraksi dengan mereka. Dan, nggak ada beban untuk melakukan itu.

Dan, yang menarik adalah cara Pak Jokowi menghadapi masalah, dia tuliskan pada buku catatan [Pak Anies menggunakan alat bantu buku catatan untuk menyampaikan maksud beliau]. Sementara yang banyak terjadi pada pemimpin kita adalah” kalau ada kritik atas suatu masalah, dianggap “that criticism is about me”. Sementara Pak Jokowi tidak. Jika ada masalah, dia diskusikan bersama-sama.

Ini mindset yang penting sekali.

Nah, kenapa (Jokowi) harus jadi presiden? Ya, yang nomor satu karena sudah dicalonkan. Tapi, yang tidak kalah penting, tadi saya sudah pertanyakan di depan (sebelum acara): apa yang berubah dari Jakarta?

Teman-teman, ketika ada orang baik, yang terpercaya, menjadi pemimpin di sebuah wilayah, apa yang terjadi di wilayah itu? Muncul perasaan kalau ada orang yang bertanggung jawab yang sedang bekerja di sana.

Apakah orang itu akan menyelesaikan sebuah masalah? Tidak. Apakah orang itu akan menyelesaikan masalah dalam waktu sesingkat-singkatnya? Tidak. Tapi ketika ada problem-problem baru, maka rakyat tidak mengeluh karena dia tahu pemimpinnya sedang bekerja.

Republik ini membutuhkan suasana itu. Lihat saja, pada saat Jakarta banjir. Memangnya sewaktu Pak Jokowi datang lantas banjir berhenti? Tidak. Tapi coba lihat di Twitter, apakah gubernurnya menjadi sasaran complain? Tidak. Karena orang tahu, he’s working out there. He’s working to fix the problem—dia bekerja untuk memperbaiki masalah.

Lihat lagi di Bandung. Kang Emil (Ridwan Kamil) terpilih menjadi Walikota Bandung. Apa yang terjadi? Masyarakat merasa, “Nih ada orang benar yang mau bekerja buat kita.” Orang baik itu ada di sana untuk membereskan masalah. Ketika masih ada masalah, ngomong sama Kang Emil.

Pak Jokowi juga begitu. Indonesia membutuhkan suasana baru. Hadirkan pemimpin baru itu. Itu yang menurut saya penting.

Jadi, nanti ketika ada yang bicara tentang Revolusi Mental, this is what we have been said all along. Ini yang selama ini kita katakan! Mengubah perspektif, dari pesimis menjadi optimis. Kita punya semua syarat untuk optimis. Karena itu perlu hadir orang yang bisa dijadikan contoh. Bisa dijadikan teladan dan membuat kita punya suasana yang baru. Dan, Jokowi memberikan itu.

Dulu, waktu saya kecil, orangtua saya memberikan buku-buku biografi tokoh-tokoh Indonesia, macam Sjahrir, Hatta, Nasir, Soekarno, dan lain-lain. Setelah dibaca, saya berpikir, mereka tuh apa sih profesinya? Politikus, kan? Tapi orangtua menjadikan mereka sebagai teladan di rumah-rumahnya. Nah, hari ini coba lihat TV, ada nggak orangtua yang bilang, “Nak, tiru ya mereka (para politikus).”? Ada nggak sekarang yang seperti itu? It’s a problem!

Karena itu, hadirkan yang terbaik, hadirkan orang bersih di puncak, dan biarkan dia menular, memunculkan ratusan, ribuan, jutaan orang baik di Indonesia.

 

LALU, APA YANG HARUS KITA LAKUKAN SEKARANG?

 

What do we do? What do we need to do? Apa yang harus kita kerjakan?

Pak Jokowi, pergi ke mana pun, adalah magnet. Makanya sekarang dia sedang sibuk berkeliling. Dan di mana pun dia berkunjung, orang-orang ramai mendatanginya. Tapi jangan kita lupa, yang dibutuhkan Pak Jokowi bukan orang yang berombongan dan beramai-ramai mendekati dia. Yang dibutuhkan sekarang adalah banyak sekali relawan, di mana pun juga. Yang harus dijadikan fokus bukanlah untuk mendatangkan Jokowi. Yang harus dijadikan fokus adalah memenangkan Jokowi.

Jadi, cara memenangkan Jokowi itu bukan dengan cara mendatangkan Jokowi. Kasihan betul Pak Jokowi harus keliling ke mana-mana. Perjalanan kita masih panjang. Yang perlu dikerjakan: ingat tanggal 9 Juli, kampanyekan untuk meyakinkan orang lain. Kita bisa melakukannya sendiri. Ada “10 Alasan Memilih Jokowi”, teman-teman bisa print out itu, lalu saat teman-teman naik kendaraan umum, tinggalkan print out itu sambil tersenyum. Nggak usah kampanye lisan karena itu sensitif.

Intinya, Anda lihat apa yang bisa Anda kerjakan untuk membantu mengenalkan, menjelaskan, dan kita tunjukkan bahwa semua orang yang mendukung Jokowi-JK juga merupakan perwakilan Jokowi-JK. Artinya kata-kata kita, ekspresi kita, tulisan kita is on their behalf—kita mewakili mereka.

Di situ sebabnya relawan-relawan Jokowi itu betul-betul relawan. Kenapa saya katakan demikian? Karena untuk menulis fitnah diperlukan motif yang luar biasa (seperti uang). Karena itu, relawan-relawan di sini bukan tipe-tipe yang bisa menghasilkan fitnah. Anda adalah orang-orang baik, nggak mungkin menghasilkan fitnah. Kita bisa ekspresikan ketidaksetujuan tapi tidak menghasilkan fitnah.

Selain campaign, ajak juga (orang-orang) di lingkungan kita. Jangan diam! Targetkan saja misalnya 1 hari 10 orang milih Jokowi. Dan jangan khawatir karena mendukung Pak Jokowi, Anda tidak punya beban moral untuk menjelaskan kenapa Pak Jokowi (pantas menjadi presiden). Karena itulah, biasanya pendukung Pak Jokowi nggak sembunyi-sembunyi. Sementara ada pendukung yang tidak berani berterus terang, takut ditanya soal masa lalu.

Jadi, teman-teman lakukan itu.

Dan, yang kedua, usia bangsa ini masih panjang. Bukan sampai tanggal 9 Juli saja. Begitu banyak kampanye yang dilakukan justru merobek rasa kebangsaan kita. Coba bayangkan, tenun kebangsaan ini dirajut dari etnis yang bervariasi, agama bervariasi, bahasa yang bervariasi. Dan itu tidak boleh robek hanya karena urusan pilpres.

Karena itu, pendukung Jokowi dan JK adalah orang yang berkampanye dan menjaga suasana kebangsaan Indonesia.

Lalu, yang ketiga, di hari pemilihan tanggal 9 Juli, jangan sungkan untuk mengajak tetangga nyoblos. It’s perfectly finenggak masalah. Selesai nyoblos, lihat hasil perhitungan suaranya. Yang bisa mengamankan suara adalah pendukung-pendukung tulusnya Pak Jokowi. Jangan sampai suaranya ada yang hilang. Segala macam kemungkinan bisa terjadi. Dan hal tersebut bisa dicegah jika ada orang yang mengawasi. Kita semua harus turun tangan. Jangan hanya nyoblos lalu nunggu hasilnya di TV. Harus ada yang mau terlibat.

Dan, jika kita melakukan itu, beban moral Pak Jokowi semakin besar. Kenapa? Karena dia didukung oleh orang-orang yang mengatakan “Saya melakukan ini karena saya percaya pada Anda. Saya melakukan ini bukan karena Rupiah, karena harga diri saya tidak bisa dirupiahkan. Anda tidak bisa bayar saya. Tapi saya melakukan ini karena saya percaya pada Anda.”

Sehingga, when he is in power, he’s in-charge, dia memiliki otortitas, maka dia akan bekerja untuk kita.

Apakah semua keputusannya akan membahagiakan? Belum tentu. Kita seringkali kalau kecewa dengan politikus kemudian patah arang. Sementara kita sehari-hari juga kecewa. Kecewa sama pacar, kecewa sama istri, sama suami, bahkan kecewa pada Anies Baswedan.

Tapi, begini teman-teman, dalam mengambil keputusan itu minimal ada empat opsi. Pertama, keputusan yang benar dan baik. Kalau ambil keputusan itu, aman deh, nobody disagree with you. Keputusan yang kedua adalah keputusan yang tidak benar dan tidak baik. Itu harus dihindari. Everyone disagree with you. Nah, yang jadi judgement itu di sini: keputusan yang benar tapi tidak baik. Atau, keputusan yang baik tapi tidak benar.

Sehari-hari kita mengalaminya, kan? Dan pemimpin juga harus mengalami itu. Judgement atau penilaian kita dan dia mungkin beda, tapi satu hal yang pasti: bahwa kalau dia naik bukan karena Rupiah maka dia ambil keputusan bukan karena Rupiah. Dan itu yang kita kerjakan sekarang.

Thank you.

 

***

 

People Power, You Can't Stop It!

People Power, You Can’t Stop It!

Ingat! Tanggal #9Juli nanti #SayNoToGolput dan #TegasPilih2

#Salam2Jari

Share is care!

@AdhamTFusama

[Cerpen] Abang


Big Brother

Source: etsy.com

Bang, aku nggak ngerti kenapa Abang pergi begitu cepat. Aku juga nggak ngerti kenapa Abang ninggalin aku begitu saja. Padahal, pagi itu Abang sudah janji padaku, “Tenang aja. Abang bakal selalu ada untukmu, kok.”

Itu kan janji terakhir Abang? Kata-kata terakhir sebelum Abang berangkat kerja. Tapi, kenapa Abang malah pergi? Kenapa Abang nggak nepatin janji?

Aku langsung lemas waktu dengar kabar kalau Abang meninggal dunia. Rasanya, kayak ada yang ngerebut paksa setengah dari jiwaku. Rasanya, kayak ada yang nyabut paksa sakelar kebahagiaan di hatiku.

Ibu histeris, Bang. Beliau kayak nggak rela Abang ninggalin kami semua. Ibu bahkan sampai pingsan dua kali. Bagi Ibu, ini semua seperti mimpi buruk di siang bolong.

Atau, Abang lihat nggak reaksi Ayah? Beliau yang selama ini selalu keras malah menangis meraung-raung saat ngelihat jasad Abang yang terbujur kaku tak bernyawa di ruang jenazah.

Tapi, anehnya, aku nggak nangis, Bang. Nggak ada air mata yang jatuh waktu aku tahu tentang kewafatanmu. Alih-alih sedih, aku malah kebingungan. Abang itu penuntun hari-hariku. Tanpa Abang, aku kayak domba yang kehilangan pengembalanya.

Aku harus gimana sekarang? Ke mana aku harus melangkah? Gimana caraku ngelanjutin hidup, Bang? Aku benar-benar nggak tahu.

Aku kehilangan sosokmu, Bang. Sangat kehilangan. Abang satu-satunya orang yang bisa bikin hidupku berarti.

Aku masih nggak percaya Abang sudah tiada. Melihat Abang terbaring di atas kasur beralaskan seprai putih dan kain batik, aku ngerasa Abang tuh cuma tidur doang dan akan segera bangun sebentar lagi.

Atau—aku setengah berharap—Abang bakal melompat bangun lalu berseru, “Surprise! April mop! Kalian ketipu! Hahaha!” Memang sih itu bakal jadi joke yang nggak lucu, tapi seenggaknya Abang masih hidup dan gelembung harapan di hatiku nggak perlu pecah begitu saja.

Nyatanya, nggak ada yang namanya April Mop di bulan Juli. Nyatanya, kelopak mata Abang tetap tertutup rapat. Selamanya.

Abang benar-benar sudah nggak ada.

Siang itu para pelayat berdatangan. Pacar Abang menangis tersedu-sedu di samping jasadmu. Keluarga, para sahabat, dan tetangga hadir semua. Mereka datang untuk berkabung, berbagi duka, sekaligus ngucapin salam terakhir buat Abang.

Kedatangan mereka yang berbondong-bondong membuatku ngerasa seakan seluruh dunia ikut menangisi kepergianmu, Bang. Berduka karena sudah nggak ada lagi sosok sehebat dirimu.

Jujur aku nggak tahan lagi, Bang. Aku nggak tahan ngelihat kucuran air mata dan ngedenger isak tangis di tengah lantunan ayat-ayat dari kitab suci. Aku ngerasa, itu semua kayak stempel pengesahan kalau Abang memang benar sudah wafat. Padahal, aku masih belum bisa nerima kenyataan ini sepenuhnya.

Makanya, aku naik saja ke kamar dan mengurung diri di sana. Maaf, Bang, bukannya aku egois dan nggak mau nemenin Abang. Tapi, aku sudah bosan mendapat ucapan “Yang sabar ya…”, “Tabah ya, Sob…”, “Abangmu udah di tempat yang lebih baik. Ikhlasin ya….”

Apa-apaan sih mereka itu? Apa mereka nggak tahu betapa hancurnya hatiku? Apa mereka nggak paham betapa aku kehilangan lentera hidupku? Apa mereka nggak bisa ngertiin aku?

Sepertinya, memang nggak ada yang bisa mahamin aku, Bang. Bahkan Ayah dan Ibu juga nggak bisa. Sedari dulu, cuma Abang yang ngertiin aku.

Ayah selalu keras padaku. Beda dengan Abang yang jadi kebanggaannya, aku ini nggak lebih dari sekadar beban buat Ayah. Ibu juga begitu. Ibu selalu ngebanding-bandingin kita berdua. Ibu sering bilang, “Coba dong kamu tiru Abangmu…”, “Abangmu itu selalu nurut sama Ibu, makanya dia bisa sukses walau masih muda…”, “Duh, kamu kok ndak seperti abangmu, sih?”

Mereka nggak pernah mikirin perasaanku.

Aku jadi sadar, Bang, kalau aku ini bukan anak kesayangan mereka. Mereka cuma sayang padamu. Mungkin, kalau mereka diizinkan memilih, aku yakin mereka akan lebih milih aku untuk mati lebih dulu.

Namun, kalau memang bisa begitu, rasanya aku nggak keberatan. Serius, Bang. Aku rela mati gantiin kamu. Itu karena aku sayang padamu. Itu karena Abang selalu sayang ama aku, mahamin aku. Abang beda dari yang lainnya.

Aku masih ingat Abang pernah berkata, “Ya iyalah. Kamu kan adik Abang satu-satunya. Wajar dong kalau Abang sayang.” Abang mungkin sudah lupa pernah bilang begitu. Tapi, aku akan selalu ingat, sebab ucapan itu sangat berarti bagiku.

Meskipun begitu, kayaknya aku paham kenapa orang-orang lebih menyukai Abang. Alasannya simpel:  karena Abang sempurna.

Ya, kali ini aku setuju dengan mereka, Abang memang sempurna.

Abang tampan, cerdas, ramah, periang, humoris, baik hati, sederhana, pemberani, rajin, dan pekerja keras. Abang itu tipe ladies’ man, man’s man, man about town. Nggak ada yang nggak suka dengan Abang.

Abang suka menolong dan nggak suka ngelihat ada orang yang kesusahan. Abang bahkan rela berkorban demi kebaikan orang lain. Abang tuh luar biasa. Abang begitu mulia sampai-sampai wafat pun dalam keadaan mulia.

Kata para saksi, sebenarnya Abang bisa saja menabrak nenek-nenek yang mendadaknyelonong menyeberangi jalan. Kalaupun si nenek itu tewas, Abang nggak salah. Tapi, alih-alih begitu, Abang malah membanting setang demi keselamatan si nenek. Abang jatuh terpelanting, belakang kepala menghantam aspal. Helm aviator retro kesayangan Abang pun nggak bisa menyelamatkan nyawamu.

Ini sungguh nggak adil, Bang. Benar-benar nggak adil. Padahal Abang masih muda. Baru 24 tahun. Belum ada seperempat abad nikmatin dunia. Kenapa Abang malah tega ninggalin kami begitu cepat?

Bang, akhirnya aku nangis juga. Setelah seharian nggak kunjung datang, air mata ini pun tumpah waktu mereka meletakkan jasadmu di dasar liang lahad. Melihat raga Abang ditimbun tanah, aku sadar kalau aku benar-benar akan kehilanganmu selamanya.

Kutumpahkan seluruh kesedihan yang sedari tadi numpuk di dada.Walau teman-temanku terus ngasih suntikan moral supaya aku berlapang dada, tetap saja aku nggak bisa. Aku terlalu sayang padamu, Bang. Sulit untuk bisa ikhlas di saat seperti ini.

Aku mengagumimu sejak kecil, Bang. Diam-diam menyanjungmu.

Dulu, waktu aku dikejar-kejar anjing, Abang yang ngusir mereka. Waktu aku ditodong berandalan SMA, Abang yang nolongin aku. Waktu ayah marah-marah, Abang yang ngebelain aku.Ada teman yang mengejek, Abang yang turun tangan. Setiap kali aku nangis, Abang yang ngehibur aku.

Bang… cuma kamu pahlawanku. Idolaku.

Usia kita memang terpaut jauh—beda tujuh tahun—tapi kita begitu dekat dan akrab. Abang selalu ada di setiap momen-momen terbaik dalam hidupku. Dan, Abang pula lah orang yang paling berpengaruh dalam hidupku.

Aku suka band Sigur Ros berkat Abang. Aku mahir main gitar berkat Abang. Aku bisa berenang berkat Abang. Aku bisa naik motor berkat Abang. Aku suka IPA berkat Abang. Aku bisa masuk Sekolah Menengah Analis Kimia juga berkat bantuan Abang.

Jasamu besar sekali, Bang. Abang sangat berarti bagiku. Terlalu berarti bagi hidupku. Aku nggak mau kehilangan dirimu.

Jadi… kubongkar saja makammu malam itu juga.

Kubawa mobil jip Ayah diam-diam untuk mengangkut cangkul, pacul, dan perlengkapan lainnya. Dan, dengan tanganku sendiri, kugali lagi kuburan Abang yang masih basah.

Aku akan menyelamatkanmu, Bang. Tenang saja. Aku mungkin bukan pembongkar makam yang andal—macul tanah saja aku nggak becus—tapi, aku nggak akan nyerah. Aku nggak peduli kalau tanganku lecet-lecet atau badanku kehabisan tenaga asalkan aku bisa ngeluarin Abang dari sana. Abang nggak seharusnya berada di dalam sana.

Hujan turun, Bang. Dari yang semula cuma gerimis menjadi hujan deras yang diiringi gelegar petir susul-menyusul. Barangkali Tuhan marah karena aku berniat untuk ngerebutmu dari sisi-Nya. Tapi, biarlah, aku nggak peduli. Justru berkat hujan pekerjaanku jadi sedikit lebih ringan. Tanah yang becek lebih gampang buat digali. Lagian, di tengah badai seperti ini, nggak akan ada orang yang bakal mergokin aku ngebongkar makam, kan? Jadi, kuanggap saja hujan lebat ini sebagai anugerah yang terselubung.

Aku pun terus menggali, menggali, dan menggali. Setelah satu jam, akhirnya aku berhasil menemukanmu, Bang. Betapa senangnya aku waktu ngelihat kafan putihmu. Kita bertemu lagi, Bang. Air mata bahagia kontan menetes, bergabung dengan air hujan yang turun membasahi wajah.

Dengan susah payah, kuangkat jasadmu ke atas tanah, lantas kugotong ke dalam mobil. Maaf ya, Bang, tubuhmu kuletakkan di jok belakang. Mungkin agak nggak nyaman, tapi kita harus pergi dari sini sesegera mungkin. Setelah kusimpan kembali cangkul dan pacul ke dalam mobil, kita siap berangkat, Bang.

Tujuan selanjutnya: vila di Puncak.

Ide gila ini muncul waktu aku menyendiri di kamar tadi siang. Aku nggak bisa bayangin betapa menderitanya hidupku tanpamu, Bang. Jadi, kuputuskan saja untuk ngeluarin Abang dari dalam kubur. Aku pun segera menyusun rencana.

Aku teringat vila tempat kita berlibur pada malam tahun baru yang lalu. Tempatnya nyaman, tenang, damai, sepi, dan jauh dari keramaian. Aku pun langsung menelepon dan mem-booking vila tersebut. Jadi, ke sanalah kita sekarang.

Setelah urusan vila beres, kubuat daftar barang-barang yang perlu dibawa. Pacul, cangkul, pakaian, peralatan mandi, handuk, parfum, bedak, beberapa perlengkapan kosmetik Ibu, dan lain sebagainya. Sorenya, setelah prosesi pemakaman, aku mampir ke toko kimia langganan para siswa di sekolahku untuk membeli dua jeriken formalin.

Hehehe. Aku nggak mungkin membiarkan tubuh Abang membusuk, kan?

Aku senang sekali karena kita bisa berkumpul lagi seperti dulu. Aku sudah bisa ngebayangin kita berpetualang berdua, pergi ke banyak kota, dan mungkin tinggal di suatu tempat yang aman dan nyaman, di mana nggak bakal ada lagi yang bisa ngeganggukebersamaan kita. Di sana, aku akan merawatmu selamanya.

Ah, hujan sudah reda, Bang. Bogor cerah banget malam ini. Aku ganti pakaian dulu ya di SPBU. Nggak mungkin aku tetap pakai kaus basah dan celana jeans berlumpur seperti ini. Dan, sekali lagi, maaf ya, Bang. Aku juga harus nutupin Abang dengan kain hitam. Bisa berabe kalau orang-orang tahu ada pocong di dalam mobil. Hahaha.

Tapi, nggak usah khawatir. Semuanya lancar kok. Setibanya di tujuan, aku langsung ambil kunci vila sambil basa-basi sebentar dengan pengelolanya. Kuparkirkan mobil ke dalam garasi, kuangkut seluruh barang bawaan, dan kubawa Abang ke dalam kamar setelah memastikan nggak ada orang yang ngelihat.

Aku menarik napas lega, bersyukur karena semua berjalan sesuai rencana. “Kita berhasil, Bang,” kataku, tersenyum gembira.

Dengan segera, kubuka kafanmu. Abang nggak cocok pakai kain norak seperti ini. Dan, lagi-lagi, air mata haru nggak sanggup kubendung saat aku bisa melihat kembali wajahmu di hadapanku. Dengan lembut, kusentuh dan kuelus pipimu yang dingin. “Bang, aku kangen…” Suaraku bergetar menahan luapan rindu.

Dengan hati-hati, kugendong Abang ke kamar mandi, lalu kubersihkan badanmu dari tanah dan lumpur. Setelah kering dan bersih, kubawa kembali Abang ke tempat tidur. Melihat tubuhmu yang terbaring polos di sana membuatku sedikit sedih, Bang. Kulitmu pucat kelabu, bibirmu membiru, jemarimu tertekuk kaku, dan ada seulas warna hitam di bagian matamu. Aku kayak nggak ngenalin kamu.

Tapi, tenang saja, Bang. Aku akan memperbaikinya.

Dengan telaten, kuoleskan body lotion supaya kulit Abang tidak kering dan pecah-pecah. Kubawa telapak tanganku, yang telah dibalur krim putih, untuk menjelajahi sekujur tubuhmu. Leher, lengan, siku, dada, jemari, perut, kaki, tumit, punggung, dan bagian tubuh lainnya. Kupastikan nggak ada satu bagian pun yang terlewati.

Selanjutnya kugunakan make up milik Ibu guna menyamarkan kulit pucat Abang agar tidak begitu kentara. Cleanser, fondation, tanning cream, bedak, blush on,hingga lipstick kupakai semua untuk mengembalikan rona serta cahaya kehidupan di kulitmu. Terakhir, kusemprotkan parfum Bennetton Sport favoritmu.

Untuk sementara, begini saja dulu ya, Bang. Formalinnya kusuntikkan saja esok hari, karena malam ini sudah terlalu larut. Tapi, jangan khawatir, Bang. Udara dan suhu Puncak yang dingin akan menghambat proses dekomposisi.

Kendati demikian, meskipun belum kuawetkan, Abang sudah ganteng lagi kok. Lihatlah! Abang sempurna seperti sedia kala, seperti nggak pernah mengalami kecelakaan motor. Abang tampak hidup.

Jujur, aku suka dengan gaya rambut spike Abang. Dan, aku tahu kalau ada banyak orang yang kesengsem dengan cambang dan jenggot tipismu. Abang jadi kelihatan maskulin. Gagah. Aku juga iri dengan badan Abang yang atletis. Aku nggak pernah bisa main bola basket seperti Abang. Tapi, aku selalu suka ngelihat Abang bermain basket, apalagi kalau sudah memasang tampang serius saat bertanding. Abang keren.

Perasaan rindu di dada ini muncul lagi. Kali ini begitu menggebu-gebu sampai aku nggak bisa menahan diri.

Bang, boleh aku memelukmu? Aku ingin seperti dulu;meletakkan kepalaku di dada bidangmu, melingkarkan tanganku di pinggangmu, menghirup subtilnya aroma tubuhmu, lalu mengecupmu dan memadu kasih denganmu.

Dulu, kalau aku sudah manja seperti ini, Abang pasti cuma senyam-senyum saja, kemudian balas merangkulku. Aaah… rasanya seperti berada di surga. Apalagi kalau sudah ditemani dengan alunan lagu-lagudari Sigur Ros. Seluruh lara yang ada seolah sirna.

Di tempat tidur kita hanya berdua. Berangkulan. Menikmati kesyahduan dan kemesraan yang sudah terajut sejak lama.

Abang selalu bisa membuatku menjadi orang paling bahagia di dunia.

Dan sekarang, sudah kudapati kembali kebahagiaan tersebut. Kita akan bersama selamanya. Abang akan selalu ada buatku… seperti janji terakhirmu.  Percayalah, itu sudah cukup buatku. Aku nggak akan minta apa-apa lagi.

“Aku mencintaimu, Bang. Selalu. Selamanya…”

Aku pun mencintaimu, Dik

Senyumku terkembang.

Terima kasih sudah hadir dalam malam-malamku, Bang. Tetaplah berada di sampingku. Temani aku pejamkan mata ini di dalam dekapmu. Buai aku hingga kuarungi mimpi-mimpi yang indah.

 

Þú rótar í tilfinningum í hrærivél (Engkau mengaduk-aduk perasaan)
Allt úti um allt
(Membuatnya tak keruan)
En það varst þú sem alltaf varst (Tapi hanya kamu yang selalu)
til staðar fyrir mann (ada untukku)
og það varst þú sem aldrei dæmdir
(Dan hanya kamu yang tidak pernah menghakimi)
Sannur vinur manns
(Sahabat sejatiku)

[Ara Batur – Sigur Ros]

Aku bahagia, Bang. Sangat bahagia.

 

***

 

Bogor, Februari 2014 (diikutsertakan untuk lomba cerpen horor remaja)

Edit Juni 2014

@AdhamTFusama

[Resep Ngaco] Nasi Hainam dan Ayam Peking


Gara-gara #Kamisan kemarin saya terpaksa browsing resep-resep martabak di internet. Dan, gara-gara itu pula, saya jadi kepengin untuk memasak sesuatu. Tentu saja karena saya awam sekali dalam memasak, saya mencari resep-resep yang mudah. Kebetulan pula, belakangan ini saya sedang ngidam makan nasi hainam. Saya pun langsung mencari-cari resepnya dan—di luar dugaan—bahan-bahan serta cara pembuatannya mudah sekali!

Gak percaya? Cobain aja!

 

Disclaimer: Berbeda dengan resep martabak di #Kamisan, resep-resep di bawah sudah saya coba, jadi kalau gagal jangan salahkan saya. Salahkan saja rumput yang bergoyang.

 

Disclaimer: gambar ini saya ambil dari Google :v

Disclaimer: gambar ini saya ambil dari Google :v

Cara membuat Nasi Hainam

Bahan:

  • 400 gram beras. Yang ini sudah jelas, ya? Namanya juga hidangan Nasi Hainam, masa pakai ketan hitam?
  • 550 ml kaldu ayam
  • 2 siung bawang putih, tonjok keprek atau dimemarkan
  • 2 cm jahe, tonjok memarkan juga
  • 3 sdm minyak goreng
  • 2 sdm minyak wijen
  • 2,5 sdt garam

Cara bikin:

  • Cuci beras sampai bersih, jangan pakai detergen, cukup pakai air saja.
  • Masukkan nasi ke mangkuk rice cooker. Tambahkan kaldu. Sisihkan terlebih dahulu.
  • Panaskan campuran minyak goreng, minyak muka, dan minyak wijen.
  • Tumis bawang putih dan jahe yang sudah dikeprek sampai semerbak harum mewangi.
  • Campurkan hasil tumisan—termasuk minyaknya—ke dalam beras.
  • Tanakkan nasi menggunakan rice cooker.
  • Ngupil sambil menunggu nasi matang.

 

Gampang banget, kan?

Nah, sembari menunggu nasinya matang, daripada kalian membuang waktu dengan ngupil lebih baik siapkan lauknya, yakni ayam peking.

 

Cara membuat Ayam Peking

Bahan dan bumbu:

  • 1 ekor ayam kampus ukuran sedang
  • 250 ml air
  • 175 ml madu (“Basah, basah seluruh tubuuuh… ah, ah, aaah, mandi maduuu…”)
  • 1 sdt garam
  • 1 sdt jahe parut. Parutnya pakai grater ya, jangan pakai gigi

Bahan untuk saus:

  • 125 ml air hangat
  • 6 sdm gula pasir
  • 6 sdm kecap manis
  • 2,5 sdm minyak wijen
  • 1 sdt garam.

Cara membuat ayam peking:

  • Mandiin dulu ayamnya, alias dicuci dulu. Habis itu dikeringkan dengan lap bersih.
  • Letakkan ayam di atas baskom, siram dengan air mendidih, nikmati prosesi ini sambil membayangkan orang yang pernah menyakitimu. Yeeesss! Setelah itu, keringkan kembali ayamnya.
  • Campur madu, air, garam, dan jahe. Aduk rata. Oleskan campuran madu ke si ayam. Lakukan pijat-pijat lembut supaya bumbu meresap ke daging. Jangan bayangkan sedang berada di panti pijat plus-plus, ya! Ulangi 3-4 kali.
  • Diamkan ayam minimal 2 jam di dalam lemari es. Atau, kalau mau didiamkan seharian juga boleh.
  • Setelah didiamkan sampai dia bete sama kamu dan minta putus, letakkan ayam di loyang dan masukkan ke dalam oven selama 45 menit dengan suhu 140 derajat celsius.
  • Setelah 45 menit, balik ayamnya, panggang lagi selama 45 menit.
  • Hidangkan.

Cara membuat saus:

  • Mixed all the freaking ingredients. Done!
  • Yes! It looks like a freaking tar but it tastes freaking good, so shut the freak up!

 

Sajikan nasi, ayam, dan sausnya. Hidangan pun siap dinikmati. Porsi untuk 6 orang, kecuali ada yang rakus dan nambah sampai 3 kali.

So, daripada bosan makan nasi uduk tidak ada salahnya mencoba nasi hainam yang satu ini. Selamat mencoba!

 

@AdhamTFusama