[Resensi Buku] Dua Sosok Guru: Sebuah Pengalaman Belajar


Creative Writings

Judul                           : Creative Writing: Tip dan Strategi Menulis Cerpen dan Novel

Penulis                        : A.S. Laksana

Penerbit                     : Gagasmedia

Hlm. + Ukuran        : vi + 210 hlm; 14 x 21 cm

Terbit                          : 2013 (cetakan pertama, edisi revisi)

ISBN (13)                   : 978-979-780-681-1

Genre                          : Panduan menulis

 

Judul                           : Creative Writing: 72 Jurus Seni Mengarang

Penulis                        : Dra. Naning Pranoto, MA

Penerbit                     : PT. Primamedia Pustaka

Hlm. + Ukuran        : 168 hlm; 14 x 22 cm

Terbit                          : 2006 (cetakan kedua)

ISBN (13)                   : 978-979-696-224-2

Genre                          : Panduan menulis

 

DUA SOSOK GURU: SEBUAH PENGALAMAN BELAJAR

 

Saya adalah penulis autodidak yang belajar menulis sendiri, dengan banyak membaca, dan banyak mencoba. Selama bertahun-tahun, rumus menulis saya hanya itu. Sampai pada akhirnya di tahun 2006 saya dihadiahi sebuah buku oleh ayah saya, Judul buku itu adalah Creative Writing: 72 Jurus Seni Mengarang karya Naning Pranoto.

Bisa dibilang, buku tersebut membuka paradigma dan pengetahuan menulis saya. Saya seolah menemukan seorang guru. Di sana terangkum banyak sekali tip dan trik menulis, dimulai dari bagaimana cara mulai menulis hingga bagaimana cara mengedit karya. Ditambah pula beberapa contoh proses kreatif penulis kelas dunia, mulai dari Nadine Gordimer hingga Pearl S. Buck. Sungguh menginspirasi. Apalagi selama ini saya tidak kenal nama-nama mereka.

Jadi, bolehlah dikatakan kalau sejak saat itu, buku tersebut selalu menjadi panduan bagi saya. Lebih-lebih, buku tersebut tidak sekadar membahas bagaimana menulis karya fiksi namun juga menulis karya nonfiksi. Sejak membaca buku itu, saya ketagihan belajar dan mulai mencari-cari buku serupa. Akan tetapi, sayangnya, saya lebih banyak kecewa. Buku-buku panduan menulis lainnya terasa seperti buku teori kering belaka. Isinya tidak berbeda bahkan tidak memberi sesuatu yang baru.

Alhasil, selama bertahun-tahun cuma buku itu yang menjadi pegangan saya, sampai saya menemukan buku yang judulnya nyaris sama—Creative Writing—karya A.S. Laksana. Semula saya kurang begitu tertarik untuk memilikinya, berpikir “Ah paling isinya sama saja.” Tapi, lama kelamaan, minat saya untuk membeli semakin kuat karena banyak yang merekomendasikannya.

Saya akhirnya menyerah dan membeli buku tersebut. Begitu saya membaca isinya, saya seperti menemukan guru kedua. Sebagian isinya mungkin tidak jauh berbeda: bagaimana memulai menulis, saat menulis teruslah menulis tidak perlu mengedit dulu, bagaimana cara mengedit tulisan, disiplin dalam menulis, dan rajin membaca. Bedanya, buku panduan A.S. Laksana ini lebih memfokuskan diri pada teknik-teknik menulis fiksi, sehingga bahasannya lebih dalam dan mendetail.

Bedanya lagi, jika Naning Pranoto “mengajari” kita dengan pendekatan yang persuasif, dengan memberi contoh-contoh inspiratif dari penulis luar misalnya; maka pendekatan A.S. Laksana lebih lugas dan tegas. Misalnya saja pada bab mengatasi mood atau writer block—penyakit yang paling umum diderita penulis, terutama penulis pemula. Agar dapat terlepas dari kebuntuan, Naning Pranoto menyarankan supaya kita melakukan hal-hal yang kita sukai, seperti menonton, mengobrol, jalan-jalan, dll. Setelah mumet hilang, barulah kita menulis lagi (bab Lima Cara Mengatasi Kebuntuan). Beda dengan A.S. Laksana yang menganggap writer block itu hanya “alasan kemalasan” dan satu-satunya cara untuk mengatasinya adalah dengan disiplin menulis (bab Menulis Cepat).

Jadi, ibarat guru, Naning Pranoto adalah ibu guru yang baik hati dan penuh welas asih, sedangkang A.S. Laksana adalah bapak guru yang tegas dan seringkali disalahpahami sebagai guru galak atau “killer”.

Naning Pranoto membuat saya percaya bisa menulis dengan baik. A.S. Laksana membuat saya menyadari kekurangan-kekurangan saya. Saya bahkan sering kali merasa tersentil oleh kata-kata A.S. Laksana, seolah dia sendirilah yang sedang menyindir saya karena masih sering malas, tidak disiplin, dan lebih mementingkan style ketimbang substance di tulisan saya.

Tapi, memang begitulah gayanya. Tidak neko-neko, blak-blakan, dan seluruh yang disampaikan merupakan rangkuman pengalaman-pengalamannya sebagai penulis. Di lain pihak, Naning Pranoto menuangkan ilmunya tak cuma dari pengalaman pribadi melainkan juga hasil belajar dari pendidikan formal creative writing di luar negeri.

Buat saya, kombinasi keduanya begitu sempurna. Membuat saya merasa seperti memiliku dua sosok guru yang saling melengkapi. Buku keduanya jelas akan menjadi panduan saya sampai bertahun-tahun lamanya. Dan, saya yakin mereka akan tetap menjadi panduan saya meski kelak saya bertemu lagi dengan “guru-guru” baru di sepanjang perjalanan saya menjadi penulis.

 

Tanda Tangan A.S. Laksana

 

Penilaian:

Creative Writing: Tip dan Strategi Menulis Cerpen dan Novel: 4/5

Creative Writing: 72 Jurus Seni Mengarang: 4/5

@AdhamTFusama

 

Advertisements

2 thoughts on “[Resensi Buku] Dua Sosok Guru: Sebuah Pengalaman Belajar

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s