20 Tahun Menulis: Sebuah Refleksi


#20TahunMenulis

#20TahunMenulis

Alhamdulillah, hari ini bertambah lagi satu tahun usia saya di dunia. Usia yang masih muda tentu saja. Hehehe.

Beberapa malam yang lalu, saya sempat berkontemplasi di kamar, merenung apa yang telah saya capai di usia saya yang sudah dua puluh tahun lebih sedikit ini. Saya merasa, masih sedikit sekali prestasi-prestasi yang saya raih. Padahal teman-teman saya sudah banyak yang menjadi seorang profesional atau bahkan sudah sukses.

Saya jadi tergelitik dengan hal tersebut. Saya pun bertanya-tanya, sudahkan saya menjadi seorang profesional dan sukses?

 

Sudahkan saya menjadi seorang profesional?

 

Profesional di bidang apa? Karena passion saya adalah menulis, barangkali jawabannya adalah profesional di bidang tulis-menulis. Sudahkah saya menjadi seorang penulis profesional?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, “profesional” artinya: 1) bersangkutan dengan profesi; 2) memerlukan kepandaian khusus untuk menjalankannya; 3) mengharuskan adanya pembayaran untuk melakukannya (lawan amatir).

Jika menilik dari definisi di atas, bolehlah saya mengatakan kalau saya seorang penulis profesional. Apalagi belakangan ini saya merasa sudah memasuki etape di mana saya berkarya untuk mendapatkan uang juga, bukan sekadar untuk kesenangan belaka. Hahaha.

Keinginan berkelimpahan harta pasti ada dan saya tanggapi hal itu secara positif. Bukan karena saya matre atau semacamnya, tapi saya memiliki rencana-rencana masa depan yang tak dapat dimungkiri kalau uang merupakan salah satu komponen yang dapat membantu saya untuk meraihnya.

 

10,000 Hours to Perfection

10,000 Hours to Perfection

Kembali ke soal profesional, ada yang bilang kalau untuk menjadi seorang profesional, dibutuhkan “jam terbang” 10.000 jam. Sudahkah saya memiliki jam terbang yang cukup untuk menjadi penulis profesional?

Saya mencoba berhitung kasar. Tahun ini, saya sudah menulis selama 20 tahun. Saya masih ingat pertama kali saya jatuh cinta dengan dunia tulis menulis, waktu saya berusia tujuh tahun. Sejak saat itu, saya selalu belajar menulis berbagai macam karya tulis. Mulai dari komik, cerpen, puisi, novel, skenario, artikel, dan lain sebagainya.

Saya menulis tidak mengenal libur. Tapi, tidak pula berarti saya menulis setiap hari. Ada hari-hari di mana saya “meliburkan” diri, belajar untuk ujian, mengerjakan tugas kantor, dan ada juga hari-hari di mana saya hiatus menulis hingga beberapa bulan.

Jadi, bolehlah kita kalkulasikan secara kasar dan anggap saya menulis 16 hari dalam sebulan (bukan 30 hari). Dan, dalam sehari, rata-rata saya menulis 4 jam. Dengan demikian, perhitungan kasarnya adalah sebagai berikut:

 

20 (tahun) x 12 (bulan) x 16 (hari) x 4 (jam sehari) = 15.360 jam.

 

Di luar dugaan, jam terbang saya sebagai penulis sudah melebihi 10.000 jam. Terus terang saya terkejut. Ternyata saya sudah bisa menyatakan diri saya sebagai penulis profesional. Namun, entah kenapa, saya tidak merasa seperti demikian. Saya masih merasa seperti penulis pelajar. Karya saya saja belum banyak. Buku yang sudah terbit “baru” satu judul (meski Insya Allah dua judul lagi akan segera terbit dalam waktu dekat).

Terlebih, 20 tahun untuk menjadi “profesional” bukan waktu yang sebentar. Sebuah perusahaan mungkin sudah menjadi perusahaan yang mapan, profitable, dan sukses dalam waktu dua dekade. Nah, barangkali itulah alasan mengapa saya menyangsikan “profesionalisme” saya. Boleh jadi saya seorang profesional… tapi apakah saya sudah menjadi profesional yang sukses?

 

Sudahkan saya sukses?

 

Lantas, apa itu “sukses”? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, “sukses” didefinisikan sebagai: berhasil; beruntung.

Lalu, apakah saya sudah sukses? Jika pertanyaannya sukses jadi penulis yang menerbitkan karya, maka jawabannya ya. Namun, jika pertanyaannya sukses menjadi penulis terkenal dan memiliki karya best seller, maka jawabannya belum (atau sedang dalam proses).

Tapi, “sukses” sendiri memiliki makna yang luas kendati definisinya singkat. Sayangnya, tidak ada rumus pasti untuk menakar kesuksesan, pun tidak ada yang tahu ukuran kesuksesan. Seberapa banyak jam terbang yang diperlukan untuk menjadi sukses? Seberapa banyak uang yang perlu dimiliki untuk dinyatakan sebagai orang sukses? Tidak ada yang tahu jawabannya.

Saya mungkin sudah meraih beberapa kesuksesan. Beberapa sudah terlihat hasilnya, beberapa masih menunggu. Jadi, apabila saya ditanya apakah saya sudah sukses, secara keseluruhan, mungkin saya jawab belum.

Bukan berarti saya tidak bersyukur. Saya justru bangga dengan apa yang telah saya raih selama ini, lewat kerja keras dan passion. Kesuksesan-kesuksesan yang sudah didapat sangat saya syukuri. Hanya saja, masih ada impian, cita-cita, serta kesuksesan lainnya yang ingin saya kejar.

Karena itulah, layaknya manusia yang ingin hidup semaksimal mungkin, saya masih ingin terus berlari dan berlari. Saya masih ingin terjatuh lalu bangkit lagi, mengejar mimpi-mimpi yang ada di depan mata. Sesekali, saya juga ingin berhenti sejenak, melihat ke sekeliling, meresapi dan mensyukuri apa yang telah saya raih, dibuat takjub oleh sudah seberapa jauh saya berlari, kemudian berlari lagi sampai saya sudah tidak sanggup berlari.

Saya masih ingin terus belajar dan mengajar, terus terinspirasi juga menginspirasi. Semoga di tahun ini saya mampu mencapai kilometer-kilometer yang baru, membuka pintu-pintu yang baru, menggapai asa-asa yang baru.

Hari ini saya berulang tahun dan saya ingin memberi tepukan di bahu pada diri sendiri atas pencapaian-pencapaian selama ini. Selamat, dan syukurilah semuanya.

 

Life... by George Bernard Shaw

Life… by George Bernard Shaw

 

@AdhamTFusama #20TahunMenulis

 

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s