Petualangan Adham Menerbitkan Bukunya—Bagian 3: Laksana Menyelam Bersama A.S. Laksana


Baca kisah sebelumnya: Rahasia di Balik Penerbit.

 

Saya sama sekali tidak menyangka bisa duduk berhadap-hadapan dengan Mas A.S. Laksana—atau Mas Sulak, begitulah orang-orang biasa memanggil beliau—untuk mendiskusikan soal naskah saya. Saya sempat menyangka kalau saya sedang berhalusinasi waktu mendapat message BBM dari Mbak Fisca yang bilang Mas Sulak mau bicara dengan saya. Bagaimanapun—dan dari sudut mana pun—membayangkan sastrawan sekaliber Mas Sulak rela meluangkan waktu untuk membaca dan membicarakan naskah ecek-ecek saya itu rasanya tetap saja seperti mimpi.

Jadi, bisa dibayangkan bagaimana gugupnya saya ketika menuju ke kantor Mokamedia untuk yang ketiga kalinya. Saya terus mewanti-wanti diri saya untuk tidak terlihat konyol di hadapan beliau. Saya tidak mau Mas Sulak malah menyesal karena sudah bersedia menerima naskah saya untuk diterbitkan. Saya pun tahu, kalau Mas Sulak dan tim editornya punya agenda untuk memperbaiki naskah saya. Maka, saya datang ke Mokamedia dengan mental mau belajar, mau mendengarkan saran dan kritik, serta bersedia untuk menerima perbaikan-perbaikan.

Nyatanya, sulit sekali bersikap tidak konyol di depan beliau. Saya sempat mengalami star struck. Otak saya berteriak-teriak heboh, “OMG! OMG! OMG! DHAM! Lo ngobrol ama Mas Sulak! Sastrawan yang itu lho! Minta tanda tangan! Minta tanda tangan!” Untungnya saya tidak sampai berlaku norak seperti para Twiboy saat bertemu Cherrybelle.

Begitu sesi diskusi dimulai, tanpa basa-basi Mas Sulak mengomentari konsep naskah saya. Beberapa bagian dikritiknya karena tidak perlu, sebagian disarankan untuk diubah. Saya sempat gelagapan (inilah noraknya saya) karena saya masih dalam kondisi star struck tapi tiba-tiba langsung disuguhi komentar-komentar lugas. Juga karena banyak komentar-komentar beliau yang begitu di luar dugaan saya sebelumnya.

Kendati saya datang dengan kemauan untuk belajar dan menerima saran, tetap saja muncul sifat defensif untuk membela konsep cerita saya. Mungkin inilah yang dinamakan ego penulis. Apalagi saat penulis menganggap karyanya sebagai anak sendiri, pasti ada keinginan untuk membela si anak meski dia punya banyak kelemahan.

Hanya saja, orangtua yang baik tahu kapan harus membela si anak, kapan harus merelakan si anak untuk “diperbaiki”. Kalau si anak memang memiliki kesalahan, ikhlaskanlah dia untuk menerima perbaikan, kendati prosesnya tidak menyenangkan bahkan kadang menyakitkan. Dan saya ingin menjadi orangtua yang baik. Saya tidak mau kalau kelak anak saya menjadi anak yang buruk, yang dicemooh oleh pembaca yang kecewa. Mereka sudah mengeluarkan uang tapi malah mendapat cerita yang biasa-biasa saja.

Diskusi kami memang dipenuhi tarik-ulur. Tapi untungnya Mas Sulak mau bersabar menghadapi penulis yang masih hijau seperti saya. Pada akhirnya, kami mencapai kata mufakat. Dibantu pula dengan Mbak Fisca, saya beruntung karena sekarang saya merasa yakin anak saya bisa tumbuh menjadi anak yang baik. Apalagi di akhir diskusi, Mas Sulak bilang ke saya, “Jangan khawatir. Kami pastikan naskah kamu jadi bagus.”

Ah, luar biasa! Sepertinya saya memang tidak perlu mencemaskan naskah saya tersebut.

Diskusi kami akhrinya selesai, membuat saya sedih karena berakhir pula sesi mencuri ilmu dari Mas Sulak. Melalui obrolan singkat kami tersebut, saya mendapat banyak oleh-oleh dari beliau. Bagaimana cara mempertajam konsep, bagaimana memperjelas hubungan sebab-akibat, memperkuat chemistry antartokoh, mengeliminasi bagian-bagian yang tidak penting, dan lain sebagainya.

Bahkan sampai saya pulang, saya masih memikirkan dan menyerap hasil diskusi kami hari itu. Berdiskusi dengan Mas Sulak seperti diajak menyelam ke dasar laut. Saya, seperti layaknya penulis debutan lainnya, masih suka berenang-renang di permukaan, merasa sudah cukup senang bermain-main di sana. Padahal, saat kita mau menyelami sampai ke dasarnya, ada banyak hal yang bisa kita temukan. Ada banyak ilmu baru yang bisa kita dapatkan. Ada banyak inspirasi tak terduga yang bisa kita raih.

Nah, itulah yang Mas Sulak lakukan. Dengan membawa saya menyelam ke dasar, beliau ingin saya lebih memahami naskah saya. Membumikan cerita sehingga cerita saya itu tidak sekadar terapung-apung di permukaan. Dengan begitu, konsep yang saya usung pun bisa lebih tajam dan jelas.

Awalnya memang saya sedikit gelagapan dibawa menyelam seperti itu. Tapi dengan sabar, Mas Sulak membujuk saya untuk terus turun. Hasilnya luar biasa. Saya berdecak kagum begitu menemukan pemandangan baru yang menakjubkan, yang hanya bisa saya dapati jika saya menyelam ke bawah sana.

Sungguh sebuah pengalaman yang menyegarkan. Meski singkat tapi saya benar-benar senang. Semoga di lain kesempatan saya diajak menyelam lagi oleh Mas Sulak. Masih belum puas rasanya jika cuma berdiskusi 1-2 jam saja. Apalagi kalau sudah ketagihan. Hahaha.

Tak apalah. Usai bertemu dengan Mas Sulak, saya masih bisa bersenang-senang dengan editor lainnya. Malah, sebelum saya memulai sesi diskusi dengan beliau, saya sempat menyaksikan keisengan para editor Mokamedia. Dikomandoi Mas Dedik sebagai dalangnya, beberapa editor menjahili Dea yang sedang tertidur pulas. Kencang sekali tawa mereka begitu Dea masuk ke dalam perangkap, meminum kopinya yang sudah dicampur saos cabe.

Saya sampai terheran-heran, Dea itu beneran salah satu selected writer UWRF? Kok polos banget sih?

 

The Ultimate Selfie

The Ultimate Selfie. LOL. 😀

Seru-seruan berlanjut. Sebelum saya pamit, saya mengajak para editor untuk selfie bareng, berupaya untuk mengalahkan Oscar selfie yang tersohor itu. Moga-moga selfie kami juga mendapat banyak retweet. Hahaha.

 

Book Signing

Book Signing

Terakhir, saya memanjakan hasrat norak dalam diri dengan meminta tanda tangan Mas Sulak. Kebetulan saya membawa bukunya yang berjudul Creative Writing: Tip dan Strategi Menulis Cerpen dan Novel. Maka, komplit sudah oleh-oleh yang bisa saya bawa pulang.

 

OMG! OMG!

OMG! OMG!

Sekarang, saya tinggal menunggu novel saya diterbitkan. Dan, menurut kabar terakhir, judul novel saya itu diganti, dari yang semula berjudul RAHASIA DI BALIK HUJAN menjadi RAHASIA HUJAN. Saya sih tidak keberatan. Lucunya, Rahasia Hujan sebenarnya merupakan judul awal yang saya pakai. Saya mengganti judulnya menjadi Rahasia di Balik Hujan sewaktu mengirimkan naskah itu ke Mokamedia.

Jadi, nantikan novel kedua saya, Rahasia Hujan, di toko-toko buku terdekat! Jangan lupa untuk diborong, ya! Hahaha! Terima kasih untuk dukungan teman-teman semua! #BungkukkanBadan

 

***

 

P.S.: Jangan lupa kunjungi @mokabuku atau page Facebok Moka Media untuk mendapatkan info-info terkini soal novel saya, #RahasiaHujan. Atau, silakan mampir juga ke @AdhamTFusama.

 

Advertisements

2 thoughts on “Petualangan Adham Menerbitkan Bukunya—Bagian 3: Laksana Menyelam Bersama A.S. Laksana

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s