[Cerpen] Bisikan Sahabat


Abaddon by thomasmansencal.com

Abaddon by thomasmansencal.com

Di dalam bus kota itu dia duduk termenung. Wajahnya kuyu, pucat, dan tanpa semangat hidup. Tubuh kurusnya laksana ranting kering di padang nan tandus. Gelapnya malam itu tak sepekat hatinya yang dirudung duka dan lara.

Hari yang berat. Teramat berat. Pagi tadi, habis sudah dia dimarahi atasannya dan disalahkan oleh nyaris seluruh rekan kerjanya. Dia pun terancam dipecat akibat kegagalannya dalam menjalankan proyek bulan lalu. Sumbangsihnya selama 10 tahun nyatanya tak berguna. Dia hanya pecundang. Naik pangkat saja baru satu kali sepanjang pengabdiannya selama satu dekade.

Alangkahnya malunya dia. Alangkah gundahnya dia. Padahal ada anak istri yang harus ditanggung olehnya. Belum lagi sakit kepala dan insomnia yang mendera sebulan belakangan ini sukses membuat hidupnya terasa semakin berat.

Pria itu menarik napas berat. Dunia benar-benar tidak adil. Kenapa hanya kemalangan dan kesedihan yang selalu dia dapatkan? Kenapa tidak pernah ada kebahagiaan yang datang menghampiri?

Kenapa?

Lalu, bisikan itu kembali merasuki telinga. Bisikan yang sama seperti di dalam mimpi-mimpinya.

 

Jadilah abdiku, maka akan kuberikan seluruh dunia. Mintalah padaku, maka untukmu apa yang berhak kau dapatkan.

 

Hatinya bergetar. Fragmen-fragmen mimpinya selama ini terbayang kembali.

Haruskah dia mendengarkan mimpi-mimpinya itu? Hanya itukah satu-satunya jalan baginya? Apa dia sudah gila?

 

Jadilah abdiku, Fidi, maka aku akan menjadi sahabatmu.

 

Sahabat? Benarkah dia memiliki sahabat? Sahabat sejati yang menolong dan menemaninya melewati suka dan duka?

 

Mintalah padaku….  maka aku akan menjadi sahabatmu.

 

Haruskah dia meminta pada sahabatnya itu? Dia tak tahu. Dia belum memutuskannya. Dilemparnya pandangan ke luar jendela, ke jalanan yang gelap, ke arah sosok hitam di tepi jalan yang menatap balik ke arahnya.

Fidi kontan bergidik. Begitu dia menengok untuk yang kedua kalinya, sosok yang senantiasa hadir di mimpinya itu telah raib begitu saja.

 

Sacrificium sanguinem filius tuus.

 

*

 

Malam kesatu:

 

Ketahuilah wahai manusia, [bahwa] aku berbicara melalui mimpi-mimpimu, juga datang melalui mimpi-mimpimu. Aku telah mendengar isak tangismu, juga jerit hatimu, juga ratap batinmu.

Maka dengarkanlah aku, wahai engkau manusia. Dengarkanlah sabdaku ini, supaya engkau tidak termasuk ke dalam golongan orang-orang yang menyesal.

 

Malam ketiga:

 

Inilah sabdaku, wahai manusia. Inilah hukum alam bagi kalian semua:

[Bahwa] Dunia ini [diliputi] kelam, [dipenuhi] keji, dan tidak adil. Manusia kuat menjajah manusia yang lemah, manusia yang kuat menindas manusia yang lemah, manusia memakan manusia.

 

Malam kelima:

 

Dan telah kudengar pula tangis nestapamu. Tangis dari engkau yang lemah, tangis dari engkau yang ingin kuat, tangis dari engkau yang ingin berkuasa bukan dikuasai. Engkau yang telah sekian lama mendambakan kekuasaan dan harta berlimpah. Engkau yang telah memimpikan gilang gemilang dunia di setiap bunga-bunga tidurmu.

 

Malam ketujuh:

 

Maka, dengarlah ini, hai jiwa yang mendamba, telah kubawakan kabar gembira untukmu. Maka janganlah engkau berduka. Dan jangan pula engkau bermuram durja.

Aku datang untuk mengulurkan tangan. [Lalu] Maukah engkau menyambut uluran tanganku?

 

Malam kesembilan:

 

Jadilah abdiku, maka akan kuberikan seluruh dunia. Mintalah padaku, maka untukmu apa yang berhak kau dapatkan.

Jadilah abdiku, Fidi, maka aku akan menjadi sahabatmu. Jadilah abdi Abaddon yang agung, raja dari segala raja. Sembahlah aku.

 

Malam kesebelas:

 

Katakanlah “Ego filium meum sanguinem consecrem”, maka [itu artinya] engkau menerima uluran tanganku.

Katakanlah “Ego filium meum sanguinem consecrem”, maka akan kuangkat engkau menjadi abdiku.

 

Malam ketiga belas:

 

Sacrificium sanguinem filius tuus.

Sacrificium sanguinem filius tuus.

Sacrificium sanguinem filius tuus.

*

“Ayah… tolong… jangan,” ratap bocah itu lagi, sembari merota berusaha melepaskan diri. Usahanya sia-sia. Tak peduli seberapa hebat dia memohon, menangis, serta menjerit, dia tetap terikat di batang pohon cemara. Sang ayah mengabaikannya.

Fidi masih saja mengucurkan darah sapi ke tanah, mengelilingi pohon cemara dan api unggun. Kalimat ego filium meum sanguinem consecrem tak henti-hentinya dia lantunkan.

Malam ini adalah malam perubahan baginya. Malam di mana sang Majikan akan datang untuk mengabulkan mimpinya, mengubah masa depannya. Dia telah siap. Siap menjadi manusia yang baru, yang kaya, berkuasa, dan dihormati.

Senyum bahagia tak kunjung pudar dari wajah Fidi. Tinggal satu ritual lagi.

“Tidak ada karunia tanpa pengorbanan, Nak,” jawab Fidi, mengeluarkan pisau.

Bocah itu terbelalak ngeri. “A-Ayah! Sadarlah!”

 

Engkaulah Abraham-ku, Avram-ku, Ibrahim-ku. Di malam pertama bulan sabit, itulah Malam Pengabulan-mu, maka tunaikanlah kewajibanmu.

 

Itulah sabda terakhir yang Fidi terima.

 

Sacrificium sanguinem filius tuus—persembahkanlah darah putramu.

 

Ego filium meum sanguinem consecrem—kupersembahkan darah putraku,” Fidi mengacungkan pisau ke udara.

JANGAAAAAN!”

“MAKA ABADDON, TERIMALAH PENGORBANANKU!”

Dengan sekali tikam, robeklah leher putranya itu. Darah langsung menyembur, membasahi tubuh dan tanah. Bak hewan potong, tubuh si bocah berkelojotan sebelum dia meregang nyawa.

Fidi tersenyum. Tugas terakhir telah ia tunaikan. “Datanglah, tuanku,” bisiknya penuh harap selagi menunggu.

 

Jadilah abdiku, maka akan kuberikan seluruh dunia.

Dunia telah kau tempati, telah kau miliki, tak perlu lagi kuberi.

 

Fidi menunggu.

 

Mintalah padaku, maka untukmu apa yang berhak kau dapatkan.

Hidup sebagai abdi iblis, itulah yang berhak kau dapatkan setelah kau bunuh putramu.

 

Dia terus menunggu.

 

Jadilah abdiku, maka aku akan menjadi sahabatmu…

 

Dan menunggu.

 

Dan engkau telah jadi sahabat juga abdiku…

 

… namun tak ada yang datang.

 

Abdi Abaddon, sang raja neraka.

 

***

 

Bogor, awal 2014

Edit: Mei 2014

@AdhamTFusama

 

Advertisements

9 thoughts on “[Cerpen] Bisikan Sahabat

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s