The Day The Surprise Makes Me Stood Still


Sering kali dalam hidup kita berpapasan dengan sesuatu yang tak terduga. Entah karena kita tidak mengharapkannya, atau memang tidak memikirkannya. Itulah yang terjadi pada saya kemarin. Saat sedang asyik-asyiknya membaca resensi buku di Goodreads, saya mendapat notifikasi Twitter dari teman saya. Dia bilang, saya menjadi salah satu juara favorit Lomba Menulis Novela yang diadakan Gramediana.com.

Jantung saya mencelos membacanya. Untuk sepersekian detik saya bingung, saya menenangkan apa? Barulah saya sadar kalau saya pernah mengirimkan novela untuk mengikuti lomba itu. Saya malah sedikit lupa pernah mengirimkannya. Hahaha.

Masih setengah percaya, saya segera mengakses internet lewat komputer. Ternyata benar. Saya langsung lemas dibuatnya. Bagaimana tidak? Bagi orang yang jarang sekali memenangkan sesuatu, saya sudah kadung akrab dengan yang namanya kekalahan. Lomba terakhir yang saya menangkan barangkali Juara 3 Pidato Bahasa Inggris di SMP. Itu pun saya tidak ingat apakah saya menang atau tidak. Kalau tidak, artinya lomba terakhir yang saya menangkan adalah Juara 1 Menggambar se-Kecamatan saat SD. Itu pun gara-gara disuruh berlaku curang oleh guru sendiri. Hahahaha.

Jadi, siapalah saya yang menginginkan kemenangan itu? Bulan lalu, saya mengirimkan naskah novela ke panitia dengan semangat iseng-iseng berhadiah. Pengharapan untuk mendapat juara benar-benar hanya secuil di hati saya. Apalagi banyak teman-teman saya yang ikut serta. Tapi, rupanya Tuhan berkehendak lain.

Lagi-lagi, saya diberi hadiah yang menyenangkan oleh-Nya. Padahal, baru kemarin saya diberi hadiah berupa penerbitan novel kedua. Entah kenapa, saya sedikit ngeri karena mendapat anugerah yang bertubi-tubi seperti ini. Bukan apa-apa, saya takut terlalu terlena oleh nikmat yang diberikan sehingga lupa bersyukur. Naudzubillah.

Tapi, yah, mustahil kalau saya menolak rezeki seperti ini, kan? Dan, hanya hamdallah yang bisa saya ucapkan berkali-kali, berharap rezeki ini adalah rezeki yang baik buat saya serta keluarga. Itulah sekecil-kecilnya yang bisa saya lakukan untuk mensyukuri pemberian dari Tuhan.

Nah, berikut adalah daftar para pemenang lainnya. Nama saya nyempil di antara nama-nama keren 7 orang peraih Juara Favorit.

 

Lomba Novela

 

Eh, kenapa? Nama saya nggak ada? Ada kok. Tuh! Coba deh baca lebih teliti.

Nggak ada juga? Nggak ada nama “Adham T. Fusama” di sana?

Ya iyalah, wong yang ditulis di sana adalah nama asli saya. Bwahahahaha. #Ditabok

Terus, siapa dong nama asli saya? Hayo ditebak, biar seru! Hahahaha! #DiamukMassa

Yah, tidak perlu memusingkan nama asli saya. Lebih baik nantikan novelanya terbit, ya. Jangan lupa dibeli! Kalau perlu diborong sekalian, buat hadiah Lebaran ke sanak keluarga dan sahabat. Hehehe.

Anyway, saya jadi teringat akan sesuatu. Bagi sebagian orang, barangkali kemenangan saya ini tidaklah istimewa—apalagi saya bukan pemenang pertamanya. Tapi, saya tidak begitu peduli apakah saya juara 1 atau tidak. Bagi saya, lomba ini sedikit spesial, karena pada satu kesempatan ini, saya bisa “mengalahkan” Teteh Langit Amaravati.

Saya berkenalan dengan Teh Langit jauh sebelum dia menggunakan nama pena kece tersebut. Dulu dia masih menggunakan nama pena Sky-whatever. Hahaha. Perkenalan kami terjadi 3-4 tahun yang lalu di sebuah situs komunitas kepenulisan. Dulu, saya yang sedikit lebih muda (sekarang masih tetap muda dan awet muda) begitu percaya diri dengan kemampuan menulis saya. Cerpen-cerpen saya banyak menuai pujian dari teman-teman saya.

Teh Langit adalah orang pertama yang bersikap brengsek dengan memberi kritikan pedas pada karya-karya yang saya posting di situs tersebut. Semua kelemahan tulisan saya dibeberkan sampai ke dasarnya, mulai dari typo, EYD yang berantakan, plot yang buruk, logika cerita yang meleset, hingga keamatiran saya yang lebih mementingkan style over substance dalam cerita.

Intinya, Teh Langit itu orang yang lancang. Belum juga kenalan sudah ngoceh soal kesalahan-kesalahan orang lain. Awalnya, sudah tentu ada rasa panas dan kesal di dalam hati. Baru kali ini ada orang yang tidak memuji karya saya. Tapi… baru kali ini juga ada orang yang mau bersusah-payah membedah karya saya hingga ke tulang-tulangnya.

Dari yang marah karena dikritik seperti itu, saya malah jadi kerajingan berlatih menulis. Bahkan dalam beberapa kesempatan, saya sengaja menulis hanya supaya bisa dibilang “bagus” oleh Teh Langit. Dari sanalah hubungan kami kemudian terjalin. Entah bagaimana menamakan hubungan kami tersebut. Sesekali rekan, seringkali guru-murid, lebih sering lagi sebagai partner cela-celaan, dan yang pasti nggak ada mesra-mesraan.

Kendati hubungan kami cukup dekat, nyatanya sampai sekarang jarang sekali saya mendapat pujian dari dia. Tapi, ah, mungkin memang kalibernya juga berbeda. Saya cuma penulis debutan, sementara Teh Langit sudah meraih titel salah satu Selected Ubud Writer di event UWRF 2013.

Singkatnya, dibandingkan dengan Teh Langit, saya masih jauuuh di belakangnya. Tak peduli seberapa cepat saya berlari, Teh Langit selalu ada di depan. Jadi, sewaktu Teh Langit ikut mengirim novelanya ke Lomba Menulis Novela—bahkan novelanya juga ber-genre thriller—saya bersedia bertaruh kalau Teh Langit akan mendapatkan satu kursi juara.

Menanggapi kurangnya rasa percaya diri saya itu, Teh Langit cuma bilang “Setiap naskah punya jodohnya masing-masing. Siapa tahu kali ini justru naskah lo yang ketemu jodohnya.” Saya sih cuma terkikik menanggapinya. “Pft, yeah right. Dengan lo sebagai salah satu peserta, kans gue sama aja dengan nol, Teh. Hahaha.”

Hanya saja, kali ini Teh Langit benar lagi. Setiap naskah memang punya jodoh (penerbit) masing-masing. Kemarin, naskah saya lah yang bertemu dengan jodohnya, membuat saya terkaget-kaget. Terlebih saat tahu kalau nama Teh Langit justru tidak ada di sana.

Itulah alasan kenapa momen kemarin begitu spesial bagi saya. Bukan karena hadiahnya, melainkan pada kesempatan kali ini, bolehlah kiranya saya mengatakan kalau pada akhirnya saya bisa melampaui “guru” saya tersebut pada lomba menulis.

Kepada Teteh Langit Amaravati, kali ini, izinkan saya terbang meninggalkanmu di belakang. Pada kesempatan lain, mungkin saya akan kembali mengagumi punggungmu dari belakang.

 
@AdhamTFusama

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s