Petualangan Adham Menerbitkan Bukunya—Bagian 1: Rahasia di Balik Galau


Sebulan belakangan ini saya jadi hobi bertandang ke kantor Mokamedia di Jagakarsa, Jakarta. Itu karena naskah saya yang berjudul Rahasia di Balik Hujan rencananya akan diterbitkan oleh mereka dalam waktu dekat. Terus terang, sampai sekarang pun saya masih tidak percaya kalau naskah saya yang satu ini mendapat peruntungan untuk diterbitkan dalam waktu yang relatif singkat.

Saya masih ingat beberapa bulan sebelumnya saya patah hati gara-gara cinta, yang akhirnya membuat saya hiatus di sosial media selama beberapa bulan (ya, silakan tertawa sepuasnya 😀 ). Saya hidup bagaikan biarawan yang lebih banyak menyepi dari dunia maya ketimbang meng-update status atau membanjiri Twitter dengan kicauan-kicauan tak berarti.

Akhirnya, demi mengisi waktu luang, saya mulai menulis lagi. Dalam waktu tiga bulan saja saya berhasil merampungkan Rahasia di Balik Hujan—memecahkan rekor pribadi sebagai waktu tersingkat untuk menyelesaikan sebuah novel. Ceritanya sendiri tentang seorang murid baru bernama Anggi yang terobsesi pada si tokoh utama, Pandu, yang baik hati, ramah, dan perhatian. Obsesi ini tidak berjalan mulus sebab Pandu sudah memiliki seorang pacar, yakni Nadine.

Masa-masa dilanda galaunya cinta saya manfaatkan untuk menuangkan cerita yang bittersweet ke novel ini, meski tentu saja novel ini hanyalah fiksi belaka, sama sekali tidak ada kaitannya dengan kisah cinta saya (ini perlu dicatat). Kendati demikian, setelahnya, semua beban di hati jadi lebih enteng sebab saya sudah menumpahkan segalanya ke medium tulisan. Saya pun akhirnya bisa kembali ke ranah sosial media untuk menyapa teman-teman di sana.

Setelah menyelesaikan draf cerita, saya masuk proses pengeditan. Sembari melakukannya, saya menawarkan beberapa teman saya untuk menjadi pembaca pertama. Salah satunya adalah Umroh “Ummi Hinata” Sihaloho, yang ternyata merupakan anggota Dewan Pertimbangan Naskah di Mokamedia. Dia menyukai naskah saya itu dan menyarankan saya untuk mengirim ke sana. Saya menurut saja, siapa tahu rezeki, walau saya sudah mengirimkan naskah itu ke beberapa penerbit.

Selanjutnya adalah permainan menunggu dan meneror. Selagi menunggu kepastian dari penerbit yang satu, saya meneror penerbit yang lainnya dengan menawarkan naskah saya. Saya ingat waktu itu hari Rabu, 26 Maret 2014. Hari itu saya berniat mencetak naskah untuk saya kirimkan. Sialnya, kompleks rumah malah kebagian giliran pemadaman listrik. Padahal, saya tinggal mentransfer file naskah di komputer ke USB, di tengah proses malah mati lampu. Alhasil proses pun gagal, membuat saya uring-uringan.

Bagaimana tidak? Rencana saya menge-print naskah gagal seketika. Apalagi listrik padam sampai setengah empat sore. Hari saya semakin buruk sewaktu mendapat e-mail dari salah satu penerbit yang menolak naskah saya. Saya hanya bisa menarik napas membacanya. Satu lagi penolakan, batin saya, membuat penerbit tersebut resmi masuk ke dalam daftar “penerbit major yang kelak akan menyesal karena pernah menolak naskah saya”. Hahaha.

Namun, dengan segera saya melupakan e-mail itu. Karena sudah kebal oleh penolakan, saya tidak ambil pusing dan kembali menunggu pihak PLN berbaik hati mengalirkan listrik ke rumah. Begitu listrik menyala, saya buru-buru mengambil file lalu ngebut ke daerah Kampus Dalam, IPB Dramaga. Saya memang biasa menge-print naskah di salah satu tempat print di sana. Alasannya karena tempat print di kawasan kampus jauh lebih murah.

Saya berhasil sampai sebelum tempatnya tutup. Naskah selesai di-print, saya pulang, dan hujan pun turun. Saya sampai rumah dalam keadaan lepek dan muka kusut, mirip kucing yang kesal karena dibanjur air. Untungnya hardcopy naskah tidak kebasahan.

 

Angry Wet Cat

 

Baru saja masuk ke dalam rumah, smartphone saya berdering, memberitahu kalau ada e-mail yang masuk. Lagi-lagi e-mail dari penerbit, kali ini dari Mokamedia. Lagi-lagi penolakan naskah, begitu pikir saya.

Namun, saya salah. Saya sampai terbelalak dan perlu membaca isi surel itu dua-tiga kali untuk memastikan kalau saya tidak salah baca. Bagaimanapun juga, saya tidak mau ke-ge’er-an. Tetapi, berkali-kali dibaca pun isinya tetap sama.

 

Email Moka

 

Saya tidak percaya! Ada juga penerbit yang cukup gila menerima naskah saya! Keselak apa editornya sampai sudi mengirimkan kabar suka seperti itu? Apalagi, baru bulan lalu saya mengirimkan naskah itu kepada mereka, dan saya sudah mendapat jawabannya? Mimpi apa saya kemarin? Padahal, biasanya saya perlu menunggu sampai 4-5 bulan. Bahkan pernah saya menunggu 9 bulan tapi tidak hamil-hamil juga hanya untuk mendapat kabar penolakan nan pahit. Ini beneran? Bukan penipuan, kan?

Saya perlu menenangkan diri, tidak mau loncat-loncat seperti ABG dengan hormon yang sedang menggelegak. Hanya saja, saya tidak bisa menahan senyum gembira di wajah. Sambil mesem-mesem jelek, saya membalas e-mail tersebut, bilang saya siap datang kapan saja. Kalau perlu, besok pun saya sambangi kantor Mokamedia karena sudah tidak sabar untuk mengetahui nasib naskah saya yang sebenarnya.

Ya, bisa saja kan saat saya sudah sampai di sana lalu editornya bilang “Naskah kamu jelek, kami tolak ya!” lantas dia tertawa kencang seperti bos mafia di film-film Hongkong? Oke, itu memang pikiran buruk saya, tapi siapa tahu, kan?

Meski demikian, tetap saja, malam itu saya tak ubahnya remaja yang sedang jatuh hati. Ke mana-mana senyam-senyum sendirian, membuat adik-adik saya memberi tatapan was-was dan curiga. E-mail itu saya buka-buka lagi, saya baca-baca lagi, bikin saya ketawa-ketawa lagi. Saya membacanya di kamar, di toilet, di ruang makan, di rumah tetangga, di mana-mana. Rasanya, surel itu menjadi candu sehari bagi saya.

Apa pun yang terjadi keesokan harinya, setidaknya malam itu saya sedang bahagia….

 

Bersambung.

Berikutnya: petualangan saya ke kantor Mokamedia (Plus foto-foto narsis bareng editor). 

@AdhamTFusama

 

Advertisements

5 thoughts on “Petualangan Adham Menerbitkan Bukunya—Bagian 1: Rahasia di Balik Galau

  1. Terharu banget ngebacanya. Iya bisa ngerasain gimana senangnya, karena akhirnya waktu yang ditunggu sekian lama datang juga. Walaupun kamu udah pernah nerbitin novel juga (DSC), tapi klo diterbitin sama penerbit lain rasanya pasti beda ya? hehe.
    Salut sama kerja kerasnya, yang satu itu emang kamu jago banget. Jadi inget sama agnesmonikah wkwkwkwk…
    Ditunggu lanjutan petualangan bareng moka-nya ya!
    Btw, ini blog baru? ganti blog?

  2. Pengin banget suatu saat akan dapat e-mail serupa, tapi aku harus nyadar juga kalau kemampuan nulisku masih jelek banget. Bismillah aja lah, moga aku bisa konsisten belajar nulis dan nggak mudah putus asa. Mohon doamu, ya, Mas. 😉

  3. Pingback: Behind the Screen: Menyingkap Rahasia Hujan | Adhamology

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s