Saya dan Supernova


20160218_131457

One of my proudest achievement as an editor so far 😀

Saya masih ingat kali pertama membaca Supernova, yaitu di tahun 2003, ketika saya masih duduk di kelas 2 SMA. Waktu itu, saya main ke rumah teman saya, Rido, di daerah Pagelaran, Bogor. Rido yang tahu saya suka membaca kemudian merekomendasikan sebuah novel untuk saya. Judulnya Supernova: Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh karya Dee.

“Bagus nih. Lo pasti suka.” Begitu katanya. Saat itu, saya belum mengenal siapa itu Dewi “Dee” Lestari. Jadi, saya tidak punya ekspektasi apa-apa sewaktu meminjam buku tersebut. Namun, begitu saya baca, saya langsung terpukau! Ini benar-benar novel yang berbeda. Saya belum pernah membaca novel Indonesia seperti ini sebelumnya. Benar-benar bikin candu!

Alhasil, setelah selesai membaca KPBJ, saya segera menagih ke Rido untuk dipinjamkan lanjutannya: Akar dan Petir. Lagi-lagi, saya terpesona. Membaca seri Supernova seperti masuk dan ikut ke dalam sebuah petualangan yang mengasyikkan. Saya pun segera menjadikan Dee Lestari sebagai salah satu penulis Indonesia favorit saya. Dan, selama bertahun-tahun, gaya menulis Mbak Dee pun banyak memengaruhi gaya menulis saya. Gaya yang lugas, jernih, cerdas, dan seru. Ah, pokoknya saya jatuh cinta! Saya tak sabar untuk menantikan seri lanjutannya.

Jadi, saya pun menunggu, menunggu, menunggu, menunggu, dan menunggu. Tapi, Partikel tak kunjung datang. Saya mulai resah, jangan-jangan Mbak Dee tidak akan melanjutkan seri ini. Mungkin, karena seri ini terlalu awesome bahkan Mbak Dee pun tak tahu bagaimana cara menyudahinya. Begitulah pikir saya. Alhasil, yang bisa saya lakukan hanyalah menarik napas sedih dan kecewa.

Lanjutan yang dinanti baru datang 8 tahun kemudian (CMIIW). Terus terang, waktu itu, saya sudah kadung kecewa dengan Mbak Dee. Ibaratnya, sudah terlanjur move on dari Supernova dan lebih memilih untuk membaca buku lainnya (ceritanya sih ngambek. Hahaha). Bahkan sampai Gelombang tiba pun saya masih ngambek.

Namun, pada akhirnya, rasa CLBK itu datang menyerang. Saya, yang sudah lama kepincut dengan desain cover seri Supernova edisi republish yang keren itu, memutuskan untuk memberi Mbak Dee kesempatan satu kali lagi (emangnya siapa elo, Dham?). Saya pun membeli KPBJ, Akar, dan Petir untuk koleksi.

Lalu, saya mendapat kesempatan untuk bekerja di Bentang Pustaka. Saat itu, saya tahu kalau saya harus mengejar ketinggalan dengan membaca Partikel dan Gelombang, karena cepat atau lambat Inteligensi Embun Pagi pasti akan tiba di meja redaksi. Yah, waktu itu sih niat saya membaca Partikel dan Gelombang adalah supaya bisa lebih menikmati IEP, kalau seri pamungkas tersebut sudah terbit. Itu saja. Saya cukup tahu diri. Mustahil editor baru seperti saya diserahkan naskah sepenting IEP. Saya yakin, editor lainnya yang lebih senior-lah, seperti Mbak Dhewiberta, yang akan menangani naskah tersebut.

Saya membaca Partikel di atas kereta, waktu mudik ke Bogor. Di sana, saya seperti menemukan kembali kerinduan akan cerita-cerita Supernova yang dulu pernah mengajak saya ikut berpetualang ke dalamnya. Saya jatuh cinta lagi dan memaafkan Mbak Dee (sekali lagi, emangnya siapa elo, Dham?) yang sudah membuat saya menunggu selama bertahun-tahun. Malah, kalau saya pikir-pikir sekarang, seharusnya saya bersyukur karena Partikel pending selama 8 tahun. Kenapa? Akan saya ceritakan alasannya sebentar lagi.

Singkatnya, hari itu pun tiba. Hari di mana naskah IEP masuk ke meja redaksi … dan diserahkan ke saya. Saya sempat melongo. Lebih-lebih sewaktu diminta untuk menyunting naskah tersebut. Serius nih? Beneran? Saya nggak lagi dikerjain, kan? Maksud saya, yang benar saja! Saya kan cuma editor baru!

Tapi, setelah mengonfirmasi kalau sayalah yang betul-betul ditunjuk untuk mengedit naskah ini, saya girang sekali … sekaligus grogi bukan main. Wajar, soalnya saya harus ekstra teliti dan ekstra hati-hati dalam menangani naskah yang satu ini. Meski demikian, hal tersebut tidak serta-merta bikin saya tertekan. Saya justru merasa tertantang dan bersemangat. Apalagi sewaktu harus berkorespondensi dan berdiskusi dengan Mbak Dee!

OH MY GOD! CAN YOU BELIEVE IT?

Oke, maaf, saya harus lebay di sini! Soalnya, saya yang cuma fans ini malah mendiskusikan soal naskah Supernova IEP dengan penulisnya langsung? How crazy is that? That’s beyond my wildest dream!

Bekerja bersama Mbak Dee pun sangat menyenangkan. Kendati sudah memiliki nama besar, Mbak Dee adalah tipe penulis yang masih mau mendengarkan saran serta masukan dari orang lain. Dari pengalaman saya sebagai editor di beberapa penerbit, masih ada lho penulis yang keukeuh naskahnya tidak mau diedit, karena khawatir si editor akan “menghilangkan nyawa” dari tulisannya tersebut.

Nah, Mbak Dee berbeda! Meski Supernova IEP adalah karya dan anaknya yang paling dia sayangi (rasanya wajar-wajar saja kalau Mbak Dee keberatan naskahnya diotak-atik, sebab dialah yang paling tahu tentang Supernova itu sendiri), Mbak Dee tetap membuka pintu bagi saran-saran perbaikan, yang kiranya bisa memperbagus karyanya tersebut.

Iya, termasuk mendengar saran-saran sepele dari saya.

Saya rasa, itu adalah salah satu kualitas dari Mbak Dee yang perlu diteladani oleh penulis-penulis muda lainnya, termasuk saya.

Yang jelas, proses mengedit Supernova sangat menyenangkan. Saya betul-betul berterima kasih pada Mbak Dee serta kawan-kawan di Bentang Pustaka yang mau membantu, membimbing, memercayakan, serta memberi kesempatan pada editor amatiran seperti saya ini untuk menangani naskah IEP. Pengalaman berharga ini tidak akan saya lupakan!

Ssekarang, saya bersyukur karena Partikel sempat delay selama 8 tahun. Karena dengan begitu, saya berkesempatan untuk ambil bagian dalam perjalanan pamungkas Supernova. Kalau saja Partikel dan Gelombang diterbitkan satu tahun lebih cepat, mustahil saya bisa mendapat kesempatan gila seperti ini! Bahkan, saking gilanya, maka saya akan tertawa terbahak-bahak kalau ada yang berkata: “Percaya nggak, kalau ada remaja SMA cupu—yang dulu baca Supernova KPBJ sambil tengkurep di kasurnya—sekarang malah ikut membidani terbitnya Supernova IEP?”

I mean, it sounds so surreal. But, apparently, life itself is so surreal.

Tanpa saya sadari, tampaknya saya telah terjebak dan tak bisa lepas dari jejaring Supernova sejak tahun 2003. Malah, berkat campur tangan semesta, saya berkesempatan untuk menjadi salah satu pengunjung pertama wahana IEP. Dan, percayalah, wahana tersebut sangat menyenangkan.

Bagi teman-teman yang juga ingin merasakan serunya wahana IEP, jangan lupa, besok wahana akan dibuka secara umum.

Selamat menikmati pengalaman serta perjalanan terakhir Supernova.

Sharing Kepenulisan Fiksi Gratis


writing

Jadi ini semua bermula ketika saya berjumpa dengan Mbak Trinity, yang datang untuk mengisi acara di kantor Bentang Pustaka. Kami sempat mengobrol singkat, sebelum Mbak Trinity naik ke atas panggung bersama Mbak Claudia Kaunang. Mbak Trinity bertanya-tanya soal diri saya. Selain sebagai editor, saya juga seorang novelis.

Mbak Trinity berceletuk, “Wah, gue pengen tuh bisa nulis novel. Apa aja sih tip dan trik menulis novel?” Saya jawab apa yang saya tahu (baca: karena saya penulis otodidak, maka yang saya jawab cuma pengalaman-pengalaman menulis saya saja).

Mbak Trinity melanjutkan, “Kenapa lo enggak buka kelas menulis?” Saya tertawa waktu itu, mengira Mbak Trinity cuma bercanda atau menyindir. “Ah, ilmunya masih cetek, Mbak. Apalagi saya belum punya nama,” jawab saya, ketahuan sekali punya inferiority complex. Saya melanjutkan, “Lagipula, sudah banyak kok penulis-penulis senior yang sudah bikin kelas serupa.”

“Siapa aja?” tanya Mbak Trinity.

Saya menyebut beberapa nama, termasuk seorang sastrawan.

“Ah, dia jelek,” tanggap Mbak Trinity, blak-blakan. “Udah, mending lo aja yang bikin kelas menulis.”

Saya lagi-lagi cuma tertawa. Tapi, Mbak Trinity malah menatap saya dengan pandangan mencela, seakan mau bilang “Alah, cemen lo. Gitu aja gak berani.” Yah, itu memang hanya kesan yang saya dapatkan sih, tidak tahu apa yang betul-betul Mbak Trinity pikirkan saat itu. Dan, saya pun tidak sempat menanyakannya sebab Mbak Trinity sudah dipanggil untuk naik ke panggung. Tinggallah saya yang cuma bisa terdiam, memikirkan dalam-dalam ucapana Mbak Trinity.

Saya mulai menilai diri sendiri. Apa saya bisa? Apa ada yang mau? Apa ini? Apa itu? Apa gajian sudah mendekat? #eh

Pokoknya, saya jadi galau deh gara-gara Mbak Trinity. Tapi, pada akhirnya saya bilang ke diri sendiri. “Oke deh! Siapa takut! Cuma bikin kelas menulis doang!”

Lalu, bisikan busuk di hati saya bertanya, memangnya bisa?

“Bisa!” jawab saya.

Terus, siapa yang mau ikut ke kelas menulis lo?

“Ya, siapa saja yang mau!”

Caranya?

“GRATIS! Gue gratisin tuh kelas menulis! Yang mau datang, silakan, yang nggak mau datang juga silakan!”

Pede banget lo sok-sok bikin sharing kepenulisan.

“Udah, enggak usah bawel lagi! Jalan aja!”

Shameless!

*

Jadi, yah, kurang lebih begitulah. Setelah memikirkan masak-masak, saya coba untuk memulai sharing kepenulisan! Bismillah!

Berikut konsep sharing kepenulisannya!

  • Sharing kepenulisan ini untuk tulisan fiksi berupa prosa (cerpen atau novel).
  • Akan ada 4 sesi. Setiap sesi akan dilaksanakan setiap hari Minggu sore.
  • Sesi mengonsep cerita (6 September), sesi memulai tulisan (13 September), sesi mengedit dan trik menerbitkan (20 September), dan sesi diskusi (27 September).
  • Setiap sesi berlangsung lebih kurang 2 jam.
  • Tempat masih tentatif, tapi insya Allah masih di kawasan kota Yogyakarta.
  • Info lebih lanjut akan disampaikan lewat Facebook atau Twitter.

So, bagi yang mau ikut, silakan daftar saja ke e-mail saya adhamology@gmail.com dengan subjek [SHARING KEPENULISAN]. Cantumkan nama lengkap, nomor yang bisa dihubungi, dan alamat media sosial (Twitter, IG, FB). Atau, nanti langsung datang saja ke venue. Tidak ada yang melarang kok.

Lalu, apa yang harus dipersiapkan? Ya, paling tidak buku dan alat tulis. Bawa notebook/laptop juga boleh. Bawa pacar, mantan, lalu, dan snack juga boleh. Tidak dilarang kok, kecuali bawa yang bahaya-bahaya, seperti senjata, narkotik, atau kenangan masa lalu bersama si dia.

Yah, mungkin itu dulu. Kalau ada yang mau tanya-tanya, silakan mampir ke Facebook saya, atau mention dan follow Twitter saya @AdhamTFusama.

See you at September!

*

Oh, FYI, saya belum bikin nama kelas sharing kepenulisan ini, karena bingung mau dinamain apa. Ada yang mau nyumbang ide? 😀

Info ini juga boleh banget kok di-share. Tolong bantuin ya, kakak-kakak kece dan dedek-dedek emesh. 😀

[RESENSI] UPAYA ALKADRI MENGINFEKSI PEMBACA


Resensi saya untuk novel Spora karya Ahmad Alkadri

A Dham Good Book

Spora - Alkadri (Moka Media, 2014) Spora – Alkadri (Moka Media, 2014)

Barangkali, saya adalah salah satu orang yang paling bersemangat dengan Spora sejak pertama kali mendengarnya, juga sejak pertama kali bertemu dengan penulisnya. Setelah bertemu dengan Ahmad Alkadri, penulisnya, saya segera mencari tahu tentang dia. Makin semangatlah saya sewaktu tahu dia penulis asal Bogor dan menggunakan kota tempat tinggal kami itu sebagai setting di novelnya. Gairah saya juga semakin tinggi begitu membaca cuplikan bab pertamanya yang sempat di-share Alkadri di media sosial. Terus terang, premisnya sangat menarik.

Bercerita tentang Alif yang menemukan satpam sekolahnya tewas tanpa kepala, seolah kepalanya meledak. Tapi, tentu saja si satpam bukan satu-satunya yang mati. Alif kembali menjadi orang pertama yang menemukan teman-teman sekolahnya tewas mengenaskan dengan cara yang sama.

Premis yang menarik, bukan? Maka, sewaktu mendapatkan Spora, saya punya harapan yang tinggi pada novel debut Alkadri tersebut. Sayang, seperti juga spora di dalam cerita—yang menjadi semakin lemah di…

View original post 654 more words